NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. Mengubur Hidup - Hidup

"Hamba tidak berani memberikan kesimpulan sebelum pemeriksaan selesai, Yang Mulia.” Jawab Penasihat Qian Bei dengan hati-hati.

Raja menatapnya tajam.

“Aku tidak bertanya tentang keberanianmu. Aku bertanya tentang pendapatmu.” lanjutnya sambil menghela nafas. Qian Bei membungkuk lebih dalam.

“Berdasarkan keadaan yang ditemukan, surat ini patut dicurigai sebagai bukti hubungan yang tidak pantas. Namun, jika tulisan tangan Permaisuri ternyata berbeda, penyelidikan harus diperluas. Hamba hanya berharap Yang Mulia tidak terburu-buru mengambil keputusan yang dapat mengguncang kestabilan istana.”

Kata-kata itu terdengar seperti nasihat seorang pejabat setia.

Tetapi jauh di balik sikap tunduknya, Qian Bei mengetahui bahwa bahaya terbesar bukanlah surat yang telah ia siapkan, melainkan kemungkinan bahwa Wang Laoyin akan terus melawan.

Perempuan itu terlalu cerdas untuk menyerah hanya karena sebuah tuduhan. Ia harus dibuat kehilangan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk membela dirinya: kedudukan, pengikut, akses terhadap dokumen istana, dan kepercayaan Raja. Qian Bei mengangkat wajah sedikit.

“Yang Mulia, demi menjaga kehormatan kerajaan, hamba menyarankan agar seluruh surat pribadi Permaisuri yang tersimpan di arsip istana turut diperiksa. Jika memang tidak ada hubungan terlarang, pemeriksaan itu justru akan membersihkan namanya.” Ucap Qian Bei dengan bijaksana.

Raja terdiam. Saran itu terdengar masuk akal. Dan justru karena terdengar masuk akal, ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang diarahkan menuju perangkap berikutnya.

“Lakukan,” perintahnya.

“Periksa semua dokumen yang berkaitan dengan Shen Rui dan Permaisuri. Aku ingin mengetahui siapa yang berbohong.” Tegasnya kemudian

Qian Bei berlutut dengan patuh.

"Titah Yang Mulia akan hamba laksanakan.” Ia menundukkan kepala hingga dahinya hampir menyentuh lantai marmer.

Lalu bangkit dan berbalik menuju pintu, sebuah senyum yang sangat tipis melintas di bibirnya. Pemeriksaan arsip istana tidak akan menyelamatkan Wang Laoyin.

Sebab beberapa dokumen yang akan ditemukan nanti telah lebih dahulu dipersiapkan untuk menguatkan tuduhan. Beberapa lembar surat lama akan diberi makna baru, beberapa catatan akan menghilang, dan beberapa saksi akan mengingat hal-hal yang tidak pernah mereka lihat. Qian Bei tidak perlu membuktikan seluruh kebohongan itu benar. Ia hanya perlu membuatnya terlihat cukup benar untuk dipercaya.

Di dalam Paviliun Fengyi, Wang Laoyin berdiri seorang diri di dekat jendela. Dari sana, ia dapat melihat halaman dalam yang dipenuhi pohon prem. Kelopak-kelopak putih berguguran ditiup angin, berputar perlahan sebelum jatuh di atas batu-batu taman. Pemandangan itu dahulu memberinya ketenangan. Kini, setiap kelopak yang gugur terasa seperti lambang sesuatu yang sedang direnggut dari kehidupannya.

Jari-jarinya masih gemetar, bukan karena takut, melainkan karena ia harus menahan diri agar tidak menghancurkan semua benda di dalam ruangan. Surat itu telah menghina dirinya. Kematian Shen Rui telah menyeret namanya ke dalam noda. Dan ketidakpercayaan Raja telah melukai bagian dirinya yang selama ini ia jaga lebih erat daripada mahkota. Namun, di antara seluruh penderitaan itu, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Bagaimana seseorang dapat meniru tulisan tangannya dengan begitu meyakinkan?

Orang itu harus pernah melihat banyak surat yang ditulisnya. Orang itu harus mengetahui kebiasaannya, bentuk hurufnya, bahkan cara ia menuliskan namanya. Itu bukan pekerjaan seorang penyusup biasa. Itu pekerjaan seseorang yang memiliki akses terhadap kehidupan pribadinya, seseorang yang mengenal lingkungan istana dari dekat.

Seseorang yang mungkin selama ini berdiri tidak jauh darinya. Wang Laoyin memandang ke arah meja tulis di sudut kamar. Di atas meja itu terdapat beberapa kuas, batu tinta, dan gulungan kertas yang belum selesai ia gunakan. Ia berjalan mendekat, mengambil selembar kertas kosong, lalu menuliskan namanya dengan kuas.

Wang Laoyin.

Kemudian ia mengingat kembali surat palsu yang dibacanya di aula. Perbedaan itu jelas baginya. Namun, ia tidak memiliki surat asli yang dapat ia bandingkan di hadapan para pejabat. Arsip pribadinya berada di bawah pengawasan istana. Jika seseorang telah menyusun fitnah ini, orang itu mungkin juga telah mengatur agar bukti yang dapat membersihkan namanya tidak pernah sampai ke tangan yang tepat. Sebuah tawa pendek keluar dari bibirnya. Tawa yang pahit, kering, dan nyaris tidak terdengar seperti tawa seorang manusia.

“Jadi, beginilah cara kalian membunuhku,” bisiknya, geram dan getir.

“Bukan dengan pedang, melainkan dengan membuat semua orang percaya bahwa aku pantas dihancurkan.” Ia meremas kertas yang baru ditulisnya. Matanya perlahan memerah.

“Aku tidak akan menyerah.”Bisiknya pada dirinya sendiri.

Angin menerpa jendela, membuat tirai sutra bergetar seperti sayap burung yang terperangkap. Wang Laoyin menatap bayangannya sendiri pada kaca, melihat seorang perempuan yang masih mengenakan jubah Permaisuri, tetapi mulai diperlakukan seperti penjahat. Ia belum mengetahui bahwa surat palsu itu hanyalah satu bagian kecil dari rencana besar yang telah disusun untuk menggulingkannya. Ia belum mengetahui bahwa orang-orang yang kelak akan bersumpah atas namanya telah lebih dahulu dipaksa memilih antara kebenaran dan keselamatan keluarga mereka. Dan ia sama sekali belum mengetahui bahwa di dalam tubuhnya, kehidupan kecil yang tidak pernah ia rencanakan sedang mulai tumbuh. Kehidupan yang kelak akan menjadi alasan bagi musuh-musuhnya untuk memburunya lebih jauh, sekaligus menjadi harapan terakhir bagi namanya untuk dipulihkan.

Wang Laoyin meletakkan telapak tangan di atas dadanya, menarik napas panjang, lalu mengangkat wajahnya. Di luar jendela, matahari akhirnya muncul di balik awan. Cahayanya menyentuh ujung atap Paviliun Fengyi, tetapi tidak mampu menghangatkan ruangan tempat seorang permaisuri sedang kehilangan kepercayaan kepada seluruh dunia. Ia menatap cahaya itu dengan mata yang dingin.

“Siapa pun dirimu,” ucapnya lirih, seolah berbicara kepada musuh yang bersembunyi di balik dinding istana.

“Kau boleh merampas kedudukanku. Kau boleh merusak namaku. Kau bahkan boleh membuat Raja sendiri meragukanku.” Ia berhenti sejenak.

“Tetapi selama aku masih bernapas, aku tidak akan mengakui dosa yang tidak pernah kulakukan.”

Jauh di luar Paviliun Fengyi, lonceng istana kembali berdentang. Dan pada saat yang sama, di sebuah ruangan tertutup di Paviliun Zhaoyang, Selir Lan Zifey menerima kabar bahwa surat palsu telah sampai kepada kepada Raja. Perempuan itu sedang duduk di depan cermin perunggu, mengenakan jubah sutra merah muda dengan sulaman bunga peoni. Rambutnya dihiasi tusuk konde emas, sementara wajahnya yang cantik tampak lembut di bawah cahaya lentera. Pantulan di cermin itu begitu sempurna.

Mendengar laporan itu, ia tidak langsung tersenyum.

Ia hanya mengangkat cangkir teh ke bibirnya dan meniup permukaannya perlahan, lalu bertanya, “Apakah Permaisuri membantahnya?”

“Benar, Yang Mulia. Permaisuri mengatakan bahwa surat itu palsu.” Jawab Kasim muda yang selalu setia padanya itu.

“Tentu saja ia akan mengatakan demikian.” Lan Zifey menyesap tehnya.

“Apakah kita perlu melakukan sesuatu lagi?”

Perempuan itu meletakkan cangkirnya. Senyum kecil muncul di bibirnya, begitu lembut hingga siapa pun yang melihatnya mungkin mengira ia sedang memikirkan sesuatu yang menyenangkan.

“Belum,” jawabnya pendek, lalu tersenyum kecil.

“Biarkan ia berteriak. Biarkan ia menuntut pemeriksaan. Semakin keras ia membela dirinya, semakin banyak orang yang akan menganggapnya sedang menutupi sesuatu.”

Ia bangkit, berjalan menuju jendela, dan memandang halaman istana yang mulai dipenuhi cahaya. Wajahnya yang cantik itu bersinar tertimpa cahaya. Cerah secerah hatinya.

“Hanya saja Pejabat Qian harus memastikan satu hal.” lanjutnya lagi

“Apa itu, Yang Mulia?”

Lan Zifey menoleh. Kelembutan pada wajahnya menghilang, digantikan tatapan tajam yang dingin dan kejam.

“Jangan biarkan satu pun bukti yang dapat menyelamatkan Wang Laoyin tetap utuh.” Ia kembali memandang keluar jendela.

“Karena mulai hari ini, kita tidak lagi sekadar menjatuhkan seorang Permaisuri.” Jemarinya menyentuh ukiran bunga pada bingkai jendela, sesungging senyum tipis tersurat jelas di sana.

“Kita sedang mengubur namanya hidup-hidup.”

Di Istana Weishan, kebohongan telah memperoleh tempat di atas meja kerajaan.

Dan kebenaran, untuk sementara waktu, hanya mampu berdiri di balik pintu yang terkunci.

(Bersambung, yaaaaaah....yuk gas ke bab berikut)

1
Eka Burjo
oke lanjut
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Suesant SW: siap lanjutttt
total 1 replies
Eka Burjo
lanjut
Eka Burjo
akhirnya selesai juga maratonku🤭
Suesant SW: mkasih bnyak dah marathon😄😄😄
total 1 replies
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
ˡᵃⁿᵃ✰͜͡𝐯𐝃
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Rara
sediiih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!