Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Wisnu perlahan melangkah mendekat ke arah Arumi yang menundukkan kepalanya demi menyembunyikan air mata yang tak lagi sanggup ia bendung. Sementara itu, Zaky hanya berdiri terpaku. Nalurinya berteriak ingin menyergap dan menghentikan langkahnya Wisnu, namun tubuhnya kaku. Kali ini Zaky benar-benar pasrah. Di matanya, harapan untuk memiliki Arumi telah sirna sepenuhnya.
Arumi tersentak hebat tatkala Wisnu dengan penuh keberanian meraih dan menggenggam jemarinya.
"Rum, aku kan sudah janji bahwa aku akan menikahimu... dan aku tidak mungkin mundur!" ujar Wisnu tegas.
Deg!
Zaky tersentak kaget. Buku jarinya mengepal hingga memutih. Namun, ia sadar tak boleh merusak acara ini dengan membuat keributan. Dengan sisa ketegaran yang ada, Zaky memalingkan wajah, menyusut sudut matanya yang basah, lalu berbalik melangkah pelan menuju mobilnya. Ia benar-benar tak sanggup lagi menyaksikan pemandangan yang menyayat hati itu.
Namun, belum sempat Zaky menyentuh gagang pintu mobil, langkah cepat Wisnu memotong arah. Wisnu menarik lembut lengan Arumi, membawanya mendekati Zaky, lalu melepaskan dorongan kecil hingga tubuh Arumi oleng. Refleks yang cepat membuat Zaky menangkap tubuh Arumi sebelum terjatuh, membawa wanita itu ke dalam dekapan hangatnya.
"Kamu tidak apa-apa, Rum?" tanya Zaky cemas, matanya menatap lekat wajah Arumi yang penuh derai air mata.
Wisnu menatap dua insan di hadapannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos membasahi pipi. Kedua bahunya bergetar hebat.
"Bodoh... Kau begitu bodoh, Arumi!" seru Wisnu dengan suara serak menahan gejolak di dadanya. "Mana bisa aku menikahi wanita yang cintanya sama sekali bukan untukku?! Aku... aku juga terlalu memaksakan diri untuk bisa memilikimu selama ini. Andai saja kebenaran ini tidak terkuak hari ini, mungkin aku akan menyesal seumur hidupku karena menikahi wanita yang hatinya sudah sepenuhnya milik orang lain!"
Wisnu menyapu air matanya, menatap Arumi penuh keikhlasan. "Kamu memiliki cinta yang begitu besar, Rum... Tapi cinta yang luar biasa itu bukan untukku, melainkan untuk Tuan Zaky."
Semua orang yang berada di pekarangan itu terpaku. Azzam, Azzura, serta kedua orang tua Arumi benar-benar syok melihat keputusan berani dan jiwa besar yang ditunjukkan oleh Wisnu. Di dalam dekapan Zaky, Arumi tak kuasa lagi menahan keharuan, tangisnya pecah seketika, meremas kemeja pria yang selalu bertahta di hatinya itu.
Wisnu kemudian berbalik, menatap lurus ke arah Pak Darmawan dan Bu Aminah dengan raut wajah penuh kesungguhan.
"Pak Darmawan, Bu Aminah... tolong restui Arumi dengan Tuan Zaky," tutur Wisnu lembut namun sarat penekanan. "Jangan sampai Bapak dan Ibu menyesal di kemudian hari karena telah memisahkan dua insan yang saling mencintai setengah mati ini."
Ibu Laila, ibunda Wisnu, melangkah mendekat. Tangan senjanya mengusap lembut bahu sang putra yang tengah berjuang melawan rasa sakit atas keputusannya sendiri.
"Ibu bangga sama kamu, Nu..." bisik Bu Laila dengan senyum haru membuncah. "Sifatmu bijaksana sekali, mirip sekali dengan mendiang Ayahmu."
Wisnu menoleh dan menyunggingkan senyum tulus untuk ibunya. "Terima kasih, Bu... Sampai kapan pun, Wisnu cuma ingin menjadi jadi putra yang selalu bikin Ibu bangga."
Wisnu pun merengkuh ibunya dalam pelukan yang sangat erat. Di sudut lain, Azzam dan Azzura tak sanggup lagi menahan air mata haru. Kedua remaja itu menatap sosok Wisnu dengan rasa hormat yang teramat dalam atas kebesaran hati sang Kepala Desa.
Melihat pengorbanan luar biasa dan kebesaran hati Wisnu, pertahanan Pak Darmawan akhirnya runtuh sepenuhnya. Ia sadar, tidak ada gunanya lagi memaksakan kehendak. Di depan matanya sendiri, putri semata wayangnya menangis dalam dekapan pria yang selama belasan tahun ini memegang kunci hatinya. Meskipun Zaky pernah mengecewakannya di masa lalu, walau kini terbukti bukan atas kemauannya sendiri. Pak Darmawan tak lagi sanggup melihat Arumi menderita dan tersiksa oleh perasaannya sendiri.
Pak Darmawan melangkah mendekat. Ia menepuk bahunya Wisnu penuh rasa hormat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Zaky.
"Nak Wisnu... mendiang Ayahmu pasti sangat bangga memiliki putra yang berhati mulia sebaik dirimu. Semoga Allah segera memberikanmu jodoh yang jauh lebih baik dari Arumi," ujar Pak Darmawan tulus dengan suara bergetar.
Ia lalu menatap lurus ke dalam bola matanya Zaky. "Dan kamu, Zaky... Kali ini, saya sebagai ayah kandung Arumi, merestui hubungan kalian berdua. Segeralah kalian menikah!"
Mendengar kata restu terucap dari bibir Pak Darmawan, Azzam dan Azzura seketika berjingkrak kegirangan sambil berpelukan. "Yeeey! Bu Arumi jadi ibu kita!" sorak si kembar bahagia. Di sudut lain, Nyonya Maya mengusap air matanya dan tersenyum lega, mengucapkan rasa syukur yang teramat dalam.
Zaky membalikkan tubuhnya, menatap Arumi lekat-lekat. Ia mengikis jarak, meraih kedua tangan Arumi dan menggenggamnya erat. Sorot matanya dipenuhi cahaya kerinduan dan harapan yang akhirnya terwujud.
"Arumi... apakah kau mau menikah denganku? Apakah kau mau menjadi ibu untuk anak-anakku, Azzam dan Azzura?" tanya Zaky dengan suara lembut yang penuh penekanan tulus.
Tanpa perlu berpikir panjang, setelah menggenggam restu penuh dari Bapak dan Ibunya, Arumi menyunggingkan senyum terindah yang pernah ada di wajahnya. Air mata bahagianya menetes perlahan.
"Iya... aku mau menikah denganmu, Zaky!" jawab Arumi tegas dan mantap.
Tanpa mampu menahan gejolak rasa haru lagi, Zaky merengkuh tubuh Arumi ke dalam pelukannya. Keduanya saling memeluk erat di hadapan seluruh keluarga, menumpahkan semua rasa sakit, rindu, dan penantian panjang yang kini terbayar tuntas.
'Aku merasa seperti sedang bermimpi... Apakah ini yang dinamakan jodoh yang tertunda?' batin Arumi menangis bahagia di dada bidang Zaky, seakan tak percaya pada keajaiban hari ini.
Sementara Zaky merasakan keajaiban yang sama. Di saat rasa putus asanya mencapai puncak dan berpikir tak akan pernah bisa memiliki Arumi, takdir justru berputar indah. Wisnu dengan sangat berbesar hati membatalkan lamarannya dan merelakan Arumi untuknya.
Zaky melepaskan pelukannya perlahan, lalu melangkah menghampiri Wisnu. Pria gagah itu menepuk kedua bahunya Wisnu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Wisnu... terima kasih banyak. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan dan kebesaran hatimu ini dengan apa," ucap Zaky penuh rasa haru dan hormat.
Wisnu tersenyum tulus, menyapu sisa air mata di pipinya. "Ini semua tidak ada apa-apanya dibanding rasa balas budiku terhadap Tuan Zaky... Andai saja Tuan tidak menolongku dan mendonorkan darah pada saat kecelakaan di Washington waktu itu, mungkin saat ini saya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Saya tidak akan sanggup meninggalkan ibu seorang diri... Bahagialah bersama Arumi, Tuan. Dia wanita yang luar biasa."
Di bawah naungan langit pagi desa yang hangat, duka belasan tahun itu akhirnya memudar, tergantikan oleh benih-benih kebahagiaan baru yang siap bermekaran.
Bersambung...
mungkin dulu yudi miskin makanya citra ninggalin yudi?
achh penasaran bgt
mana si citra udah meninggal lg jd ga bisa nanya
berarti dulu si citra jebak zaky untuk tanggung jawab sm anak yg di kandung, kasian zaky 🥹
Wisnu Ama indah?
apakabar tu berdua
cieeeee
pak Arya
Ama pelakor jaman sekarang
udah pada rada lain yaa
🤣
bisa jadi perang dunia ke 2 ini
kalau nemuin lipstik di jas nya 😱