"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebloskan Dia!
Sinar matahari pagi yang lembut menyusup malu-malu di balik celah tirai kamar hotel, membiaskan pendar keemasan di atas sprei putih yang sedikit kusut. Suasana di dalam kamar begitu tenang dan hangat, kontras dengan udara dingin pegunungan yang masih menyisa di luar sana.
Levara perlahan terbangun. Pelupuk matanya terasa agak berat, dan seluruh tubuhnya dihinggapi rasa pegal yang tak biasa. Namun, rasa hangat yang mengalir di dadanya membuat wanita itu enggan bergeming. Ia mendapati dirinya tersandar di dada tegap Dante. Lengan kokoh suaminya melingkar protektif di pinggangnya, menjaga Levara dalam dekapan yang begitu lekat dan aman sepanjang malam.
Saat Levara mencoba bergerak sedikit, rasa nyeri yang mendadak muncul di area kewanitaannya membuat wanita itu mengadu pelan.
"Aww ...," ringis Levara lirih, jemarinya meremas selimut.
Gerakan dan nada ringisan itu seketika membuat Dante terbangun. Iris mata tajam Dante terbuka cepat, langsung beralih menatap Levara dengan raut cemas yang amat jelas.
"Levara? Kamu tidak apa-apa?" tanya Dante dengan suara bass-nya yang dalam dan parau khas bangun tidur. Tangannya refleks mengusap kening dan pipi Levara, memeriksa kondisinya.
Levara mendongak, menyunggingkan senyum tipis seraya menutupi rasa canggungnya. "Nggak apa-apa, Dante ... cuma sedikit pegal dan agak sakit."
Raut wajah Dante seketika dipenuhi rasa bersalah yang mendalam. Ia menghembuskan napas berat, menatap Levara dengan pandangan menyesal.
"Maafkan aku, Leva ...," bisik Dante seraya mengecup pelan kening istrinya. "Seharusnya aku tidak membiarkan emosi dan hasrat menguasai kita semalam. Dalam situasi yang sedang berbahaya seperti sekarang, dengan luka masa lalu dan ancaman musuh yang belum selesai ... aku justru membuatmu kesakitan."
Levara menatap Dante lekat-lekat. Pria yang biasanya begitu dominan, dingin, dan tegas itu kini tampak sangat berhati-hati dan khawatir hanya karena ringisan kecil darinya.
Levara meraih tangan Dante yang berada di pipinya, mengusapnya dengan lembut.
"Dante, dengarkan aku," ucap Levara penuh penegasan dan kelembutan. "Kamu tidak perlu minta maaf. Aku sama sekali tidak keberatan. Semalam itu indah, dan aku melakukannya karena aku mencintaimu."
"Tapi tubuhmu sakit, Leva ...,"
"Rasa sakit ini tidak ada artinya dibanding rasa bahagia karena akhirnya kita saling memiliki secara utuh," potong Levara seraya mengecup singkat telapak tangan Dante. "Jangan pernah merasa bersalah untuk hal yang kita lakukan atas dasar cinta."
Dante terdiam sejenak, menatap iris mata Levara yang jujur dan tanpa keraguan. Perlahan, raut cemas di wajah tegap itu mencair, berganti dengan senyuman hangat yang jarang sekali ia perlihatkan.
Dante menarik Levara kembali ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih, sayang ... Terima kasih karena sudah menerima seluruh ketidaksempurnaanku ini."
Levara tersenyum, hatinya pun bergetar mendengar panggilan sayang dari pria itu. Pertemuan keduanya terkesan sangat singkat. Namun, Levara merasakan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
.
.
.
.
Setelah memulihkan tenaga dan bersiap-siap di penginapan, Dante dan Levara melanjutkan perjalanan menembus jalanan berliku menuju sudut paling terpencil di kota kecil tersebut. Suasana di sekitar kian sepi, hanya dikelilingi pepohonan rindang dan kabut tipis pegunungan yang lambat laun memudar disapu sinar matahari pagi.
Sedan hitam berlapis baja milik kediaman Velmore melaju pelan, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah kayu sederhana yang tampak terisolasi dari peradaban. Pagar bambu di sekelilingnya sudah mulai lapuk dan ditumbuhi tanaman liar, mencerminkan betapa penghuninya sengaja menutup diri dari dunia luar.
Mesin mobil dimatikan. Dante memandu kursi rodanya keluar menggunakan jalur ramp khusus, sementara Levara berdiri di sampingnya. Langkah Levara mendadak terhenti di dekat gerbang. Ada keraguan berat yang mendadak melingkupi dadanya. Tangan wanita itu bergetar tipis tatkala memandangi teras rumah yang sepi.
"Dante ...," bisik Levara lirih, menatap suaminya dengan iris mata yang dipenuhi kecemasan. "Bagaimana kalau kita salah? Bagaimana kalau wanita di dalam sana sudah tidak ingin mengingat apa pun lagi?"
Dante mengulurkan tangannya, meremas lembut jemari Levara untuk menyalurkan kekuatan. "Kamu sudah melangkah sejauh ini, Levara. Kita tidak akan tahu sebelum membuktikannya sendiri."
Levara menghembuskan napas panjang, menguatkan tekadnya. Namun sebelum mereka sempat mengetuk pintu, langkah kaki pelan terdengar berdecit di atas papan kayu teras. Seorang wanita tua berkulit keriput dengan kacamata tebal dan selendang lusuh melangkah keluar membawa baskom kecil.
Begitu matanya bertubruk pandang dengan mobil hitam besar dan sosok Dante di atas kursi roda, wanita tua itu membeku seketika. Raut wajahnya berubah pucat pasi. Baskom di tangannya hampir saja merosot jatuh.
"N-Nyonya ... Helena?" panggil Levara ragu, mengambil satu langkah maju.
Wanita tua itu tersentak. Mata di balik kacamata tebal itu membelalak ketakutan. Tanpa menjawab, Helena langsung membalikkan badan dan bergegas melangkah masuk, hendak menutup serta mengunci pintu kayu rumahnya rapat-rapat.
"Nyonya Helena, tunggu! Tolong jangan pergi!" seru Levara panik.
Tanpa memedulikan rasa pegal di tubuhnya, Levara berlari kecil menaiki tangga teras dan menahan daun pintu kayu itu sebelum terkunci sepenuhnya.
"Pergi! Saya tidak tahu apa-apa! Tolong jangan ganggu hidup saya lagi!" teriak Helena dari balik pintu dengan suara bergetar ketakutan setengah mati, berusaha mendorong pintu itu agar tertutup.
"Nyonya Helena, saya mohon ... dengarkan saya sebentar saja!" Levara memohon dengan suara parau, menahan pintu itu dengan kedua telapak tangannya. Air mata mulai mendesak keluar di pelupuk matanya. "Saya Levara, Nyonya ... Saya putri dari Edlan!"
Gerakan dorongan pintu di dalam seketika terhenti. Keheningan mencekam merayap di antara mereka selama beberapa detik.
Perlahan, pintu kayu itu terbuka sedikit. Helena memunculkan separuh wajahnya, menatap Levara dengan pandangan tak percaya dan mata yang mulai berkaca-kaca.
"L-Levara?" bisik Helena parau. "Anak kecil Edlan ... yang dulu suka menunggu di ruang kerja Ayahmu?"
"Iya, Nyonya Helena ... Ini saya, Levara," tangis Levara pecah. Ia tidak melepas pegangannya pada pintu, menatap wanita tua itu dengan tatapan penuh keharuan dan keteguhan.
Helena menggelengkan kepala seraya mundur setapak, air mata perlahan mengalir menelusuri kerutan di pipinya. "Pergilah, Levara ... Tolong pergilah. Dua puluh satu tahun saya mengubur hidup saya di sini karena ketakutan pada David Veyron. Pria itu iblis ... dia tidak ragu membunuh siapa pun!"
"Saya tahu Nyonya takut. Saya pun sangat ketakutan selama bertahun-tahun ini, Nyonya!" sahut Levara, suaranya bergetar hebat namun tegas. "Tapi tolong ... lihat berapa banyak lagi korban yang harus jatuh akibat kejahatan Keluarga Veyron? Sampai hari ini, anak-anak perempuan dan para wanita yang tak berdaya di luar sana terus terancam oleh kekuasaan keluarga Veyron!"
Helena terpaku di tempatnya berdiri, mendengarkan setiap patah kata Levara dengan dada yang berombak naik turun.
"Ayah saya, Edlan, mempertaruhkan nyawanya dan menahan ancaman demi membela para korban itu, Nyonya Helena," lanjut Levara seraya menyapu air matanya. "Apakah kita akan membiarkan pengorbanan Ayah sia-sia begitu saja? Apakah kita akan membiarkan anak-anak perempuan lainnya bernasib sama seperti para korban masa lalu hanya karena kita memilih diam dan bersembunyi?"
Dante yang telah memandu kursi rodanya naik ke teras mendekati Levara, menatap Helena dengan aura kepemimpinan yang dingin dan mantap. "Nyonya Helena, kami berada di sini bukan untuk menumbalkan Nyonya, melainkan untuk menyelesaikan apa yang ditinggalkan Tuan Edlan. Seluruh kekuatan Velmore ada di belakang kami untuk melindungi Nyonya."
Kalimat demi kalimat dari Levara dan Dante bagaikan hantaman keras yang meruntuhkan dinding ketakutan Helena selama puluhan tahun. Rasa bersalah yang terendam rapat di dasar hatinya seketika membuncah keluar.
Helena menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar, lalu tangisnya pecah berkeping-keping. "Maafkan saya, Levara ... Maafkan saya karena begitu pengecut ...,"
Helena membuka pintu rumahnya lebar-lebar, menyeka air matanya dan menatap Levara penuh haru. "Masuklah ... Kalian benar. Sudah cukup ketakutan ini membungkam saya. Sudah saatnya kejahatan itu dihentikan."
Setelah mereka duduk di ruang tamu kayu yang sederhana, Helena berjalan ke sudut ruangan dengan langkah pelan. Ia membuka sebuah lemari tua yang terkunci rapat, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu kuno berukiran halus.
Helena meletakkan kotak itu di atas meja tepat di hadapan Levara dan Dante.
"Dua hari sebelum penculikan itu terjadi, Edlan tahu nyawanya sedang dipertaruhkan," tutur Helena dengan suara yang kini terdengar mantap. "Beliau menemui saya secara sembunyi-sembunyi dan menyerahkan kotak ini."
Dante memajukan duduknya di kursi roda. "Apa isinya, Nyonya?"
"Ini adalah sebuah flashdisk cadangan," jawab Helena. "Di dalamnya tersimpan rekaman suara asli perintah eksekusi dari David Veyron, salinan bukti transaksi uang pembungkam skandal pelecehan, serta jaringan pihak-pihak yang terlibat."
Helena menatap Levara dalam-dalam, menggeser kotak kayu itu hingga menyentuh jemari Levara.
"Edlan berpesan pada saya ... 'Simpan ini sampai putri saya atau penerus Velmore datang dengan keberanian untuk meruntuhkan Veyron.' Hari ini, saya serahkan kunci ini kepada kalian. Ikat dan jebloskan David Veyron dengan bukti ini, Levara!"
malemgara2 mikirin leva😭😭