NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.

​Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.

​Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7: Ancaman di Balik Koridor Kantor

Kabar pertunangan resmi antara Reynand Aristha dan Aira Anindita menyebar bagaikan api menyambar jerami kering di seluruh penjuru Aristha Tower. Pagi itu, saat Aira melangkah menyusuri koridor utama menuju area meja kerjanya, suasana yang diterimanya jauh berbeda dari hari sebelumnya.

​Tidak ada lagi tatapan meremehkan yang terang-terangan, melainkan tatapan segan, cemas, dan bisik-bisik penuh rasa ingin tahu dari para pegawai. Aira berusaha keras tetap bersikap profesional, mengabaikan tatapan mata yang terus mengikutinya.

​Saat Aira masuk ke ruang arsip lantai empat puluh dua untuk mengambil dokumen laporan keuangan kuartal ketiga, suasana ruangan yang sepi mendadak terasa mencekam. Pintu ruang arsip di belakangnya tertutup rapat dengan dentung pelan.

​"Jadi, begini cara seorang asisten pribadi merangkak naik ke puncak?"

​Aira berbalik dengan tenang. Di dekat deretan rak besi tebal, Devan Aristha berdiri bersedekap dada. Senyum sinis terpatri di wajah pria itu, memancarkan aura permusuhan yang tak lagi disembunyikan.

​"Pak Devan," sapa Aira datar tanpa menunjukkan rasa takut. "Jika Ada perlu bicara dengan Pak Reynand, beliau sudah ada di ruangannya."

​Devan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Aira terpaksa mundur satu langkah mendekati meja arsip.

​"Jangan berlagak polos, Aira," desis Devan pelan, suaranya penuh intrik. "Saya tahu betul siapa Reynand. Pria dingin seperti dia tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita biasa seperti kamu dalam waktu semalam. Pernikahan ini hanya sandiwara untuk menyelamatkan saham perusahaan dan posisinya, bukan?"

​Aira menatap mata Devan dengan tegap, mempertahankan raut wajah dingin yang ia latih sejak awal. "Hubungan saya dan Pak Reynand adalah urusan pribadi kami. Jika Anda meragukannya, Anda bisa menanyakannya langsung pada Nyonya Besar Aristha yang kemarin malam menyambut saya dengan baik."

​Mata Devan mengeras mendengar sebutan Nyonya Besar. "Kamu pikir kamu cerdas? Jangan bangga dulu menjadi perisai Reynand. Begitu masalah ini reda dan saham kembali stabil, Reynand akan membuangmu seperti sampah. Dia tidak punya hati."

​Devan lalu menunduk sedikit, berbisik tepat di samping telinga Aira. "Atau... bagaimana kalau kamu bekerja sama dengan saya? Sebutkan berapa angka yang diberikan Reynand padamu. Saya bisa memberikan dua kali lipat, asalkan kamu menyerahkan dokumen rahasia proyek ekspansi Aristha Corp di meja kerjanya."

​Aira terkehid tipis, menatap Devan dengan tatapan penuh kepastian dan harga diri.

​"Maaf, Pak Devan. Kesetiaan saya tidak untuk dijual," jawab Aira tegas. "Dan jika Anda tidak segera menyingkir dari jalan saya, saya pastikan rekaman CCTV di sudut ruangan ini sampai ke tangan Pak Reynand dalam waktu lima menit."

​Devan melirik ke arah sudut atas ruangan tempat kamera pengawas terpasang dengan lampu merah menyala. Wajahnya menggelap penuh amarah. Ia mundur dua langkah dan mengepalkan tangannya.

​"Kamu membuat keputusan yang salah, Aira," ancam Devan dingin. "Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan di sisi pria es itu."

​Devan berbalik dan keluar dari ruang arsip dengan langkah gontai penuh kekesalan.

​Aira menghela napas panjang, meredakan debaran jantungnya yang sempat terpacu. Ia memeluk map dokumen keuangan di dadanya erat-erat sebelum melangkah kembali ke ruang kerja utama.

​Saat Aira masuk ke ruangan Reynand, sang CEO sedang berdiri di depan jendela kaca besar seraya menelepon. Begitu melihat Aira masuk dengan wajah sedikit pucat, Reynand langsung mengakhiri sambungan teleponnya.

​"Ada apa?" tanya Reynand singkat namun tajam, menyadari perubahan raut wajah Aira.

​"Tidak ada apa-apa, Pak," jawab Aira seraya meletakkan dokumen di atas meja kerja Reynand. "Hanya bertemu dengan Pak Devan di ruang arsip."

​Alis Reynand bertaut rapat. Tangannya yang memegang pena berhenti bergerak. "Apa yang dia katakan padamu?"

​Aira menatap Reynand sejenak. Ia mengingat pesan Reynand tentang profesionalitas dan tidak ingin memperkeruh suasana kantor dengan aduan kecil.

​"Beliau hanya mencoba menggoyahkan posisi saya," jawab Aira tenang. "Tapi Anda tidak perlu khawatir. Saya tahu persis batas peran saya dan di mana kesetiaan saya berada."

​Reynand menatap Aira cukup lama, meneliti setiap inci ekspresi wanita di hadapannya. Kilatan protektif yang samar melintas di mata kelam sang CEO, meski bibirnya tetap terkunci rapat tanpa sepatah kata pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!