Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Malam terasa berat dan hangat, aroma tanah basah mengapung di udara bagai bisikan purba yang mencengkeram dinding-dinding. Dedaunan pohon menyapu jendela dengan irama yang mengganggu, dan kelembapan menyusup lewat celah-celah bagai firasat. Kipas angin berputar lambat di langit-langit, mengaduk hawa panas pekat di kamar tanpa membawa kelegaan.
Zaira duduk di tepi ranjang, punggung membungkuk, kedua kaki dirapatkan. Ponsel bergetar di antara jemarinya yang berkeringat, licin, seakan meramalkan beban pesan yang hendak ia kirim.
Layar menerangi wajahnya dengan cahaya kebiruan yang menegaskan lingkar hitam yang dalam bagai luka, dan pucat kekuningan pada kulitnya yang lelah.
Ia menarik napas dalam. Udaranya pekat, sarat kesunyian dan kecemasan, mencakar paru-parunya. Ini bukan kepasrahan. Ini bukan kekalahan. Ini adalah awal dari perlawanannya. Sebuah pertempuran tanpa pedang, tanpa perisai, tapi dengan seluruh tubuh yang menegang.
Ia mengetik cepat, merasakan tiap huruf sebagai detak yang memburu di dada, tiap kata sebagai sebuah pengakuan:
"Aku setuju menemuinya. Tapi bukan untuk menjadi simpanannya."
Ia membaca ulang pesan itu. Ia ragu. Getar samar merambati lengan bawahnya, seakan tubuhnya tahu lebih dulu darinya apa yang akan datang. Jarinya menyentuh tombol kirim, dan sejenak, kamar itu seolah menahan napas bersamanya.
Kirim.
Bunyi lirih pesan yang meluncur menggema bagai ledakan tumpul di dadanya. Getaran singkat mengguncangnya: tiga titik muncul.
Tatiana membalas nyaris seketika:
"Sudah kuduga kamu tidak bodoh! Serahkan padaku. Nanti kukabari."
Zaira mengatupkan bibir, raut jijik mengubah paras wajahnya. Cairan pahit naik perlahan ke tenggorokannya, getir, membakar. Ponsel jatuh dari tangannya ke atas ranjang dengan bunyi tumpul. Ia mematikannya dengan satu tepukan, seakan dengan begitu ia bisa memutus diri dari kengerian yang menantinya.
Ia tetap di sana, tak bergerak, bahu merosot, tangan gemetar di atas pangkuan. Kipas angin terus berputar, tak peduli pada badainya, dan di luar langit melontarkan raungan jauh. Janji hujan membebani udara bagai sebuah vonis.
Sementara Zaira berjuang menahan napasnya, menahan dorongan untuk berteriak, di seberang kota, di sebuah bar yang diterangi lampu neon merah muda dan biru, Tatiana tertawa dengan bibir bernoda anggur.
Ia duduk dengan kaki bersilang di sofa beludru merah, rok pendeknya berkilau di bawah cahaya bagai sebuah perangkap. Tawa gugup, nyaris histeris, keluar dari kerongkongannya dan beradu dengan musik lirih yang mengapung bagai asap di tempat itu. Ia membuka percakapan lain. Kuku-kukunya yang tertata rapi, baru saja dirawat, menari di atas papan ketik sementara ia menulis:
"Beres, Sergio. Dia setuju. Siapkan semuanya."
Di sudut gelap dan pengap sebuah rumah reyot, Sergio menerima pesan itu. Ruangan berbau rokok apak, keringat lama, dan keputusasaan. Bohlam tergantung telanjang dari langit-langit, cahaya kuningnya berkedip disertai dengung yang tak henti. Sergio menggosok-gosok kedua tangannya, jemari bernoda nikotin. Ia melempar rokok setengah habis ke lantai, tempat berbagai puntung telah membentuk hamparan kotor.
"Sempurna," gumamnya sambil menyunggingkan senyum miring, matanya berkilat penuh keserakahan.
Ia mengangkat telepon rumahnya, sebuah perangkat kuno berplastik menguning dengan tepi lengket, lalu memutar nomor perlahan, menikmati tiap angka.
Satu, dua, tiga nada dering.
Suara berat Leonardo menjawab dari seberang:
"Ada apa?"
"Kabar baik, Bos," jawab Sergio sambil menegakkan duduknya, kursi berderit di bawah bobotnya. "Gadis itu setuju menemuinya."
Keheningan yang sarat aliran listrik melintasi saluran telepon. Bahkan cahaya seakan padam sedetik.
"Dengan sukarela?" tanya Leonardo, suaranya bagai bisikan serak, sarat keterkejutan yang tertahan.
"Ya, Tuan."
Leonardo tersenyum. Sebuah senyum lambat, dingin, seperti pemangsa. Ia sendirian di ruang kerjanya, dikelilingi rak berisi buku-buku bersampul kulit gelap, dan lampu kristal hijau yang melemparkan bayangan panjang di atas permadani Persia. Bersandar di kursi bersandaran tinggi, ia menautkan jemari di atas meja kayu ek yang licin.
Es dalam gelas wiskinya berdenting lembut ketika ia mengangkatnya.
"Bawa dia ke hotelku," perintahnya dengan tenang, seolah memesan meja di restoran.
Sergio menutup telepon dengan puas. Ia sudah menyusun rinciannya: tempat, waktu, kerahasiaan. Ia tak boleh gagal.
Pagi berikutnya menyingsing suram, terwarna kelabu. Awan menggantung rendah seolah mengancam runtuh. Angin menyeret debu subuh, dan tetes-tetes hujan yang mulai jatuh terasa hangat, nyaris tak terasa.
Zaira berjalan menuju kampus dengan bahu menegang, seakan beban langit tergantung di atasnya. Udara berbau badai yang tertahan, sesuatu yang hendak pecah. Tiap langkah adalah pertempuran. Tanah terasa lebih kokoh, lebih jauh.
Orang-orang di sekelilingnya, ceria, tergesa, acuh, mendorongnya tanpa melihatnya.
Ketika ia menerima pesan Tatiana, matanya menyusurinya berkali-kali sebelum bereaksi. Sebuah alamat. Sebuah hotel. Elegan tapi tersembunyi.
"Hari ini jam 7 malam. Jangan sampai tidak datang."
Diikuti kedipan mata yang seakan mengejeknya.
Zaira merasa perutnya melilit bagai bunga yang terbakar dari dalam. Ia memasukkan ponsel ke ranselnya dengan tangan kaku. Bibirnya bergetar. Napasnya bagai tali yang melilit leher.
"Kamu bisa melakukannya," gumamnya pada diri sendiri, lebih sebagai permohonan ketimbang penegasan.
Ia mencoba mencatat. Huruf-huruf di buku bergerak-gerak. Suara dosen terdengar seperti dari dasar sumur.
Pena bergetar di antara jemarinya. Setetes keringat mengalir di punggungnya meski udara sejuk.
Jam-jam merangkak bagai binatang lelah. Jam dinding seolah mengejeknya di tiap detak logamnya. Tiap kali ia mengerjap, angka bergerak maju sedetik lagi, dan jantungnya mengerut semilimeter lagi.
Hari berakhir terbungkus cahaya kelabu berat, dan Zaira tak lagi tahu apakah ia gemetar karena dingin atau takut. Ia hanya tahu bahwa saat itu kian dekat, dan bahwa ia tak bisa mundur lagi.