Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
Pagi itu warung Arabelle sedang ramai pelanggan. Aroma nasi kuning dan bubur ayam memenuhi udara.
Arabelle bahkan baru saja melayani seorang pelanggan ketika tiba-tiba dua pria bertubuh besar muncul dari belakangnya.
Keduanya mengenakan jas hitam rapi serta kacamata hitam. Wajah datar dan aura mengintimidasi yang membuat pelanggan langsung menyingkir.
"Eh?" Sebelum Arabelle sempat bereaksi,
"Permisi, Nona."
Kedua pria itu langsung mengangkat tubuhnya.
"Aaa!" Kaki Arabelle menggantung di udara.
"Nona, mohon jangan memberontak."
"Turunkan aku!" Teriak Ara kesal.
"Tidak bisa."
"Aku bisa jalan sendiri!"
Tetapi kedua pengawal itu tetap berjalan. Para pelanggan hanya bisa melongo. Sementara Arabelle meronta-ronta seperti anak kucing yang sedang dibawa ke dokter hewan.
"Hei! Hei! Kalian menculik orang di siang bolong!"
"Tidak, Nona."
"Ini penculikan!"
"Ini penjemputan."
"Itu sama saja!"
Kedua pengawal tetap tidak peduli. Mereka membawa Arabelle menuju sebuah mobil mewah hitam yang terparkir tidak jauh dari warung. Melihat mobil itu, Arabelle langsung tahu siapa dalangnya.
"Tidak..."
Saat tubuhnya diturunkan tepat di depan pintu belakang mobil, kaca jendela perlahan turun. Dua wajah yang sangat dikenalnya muncul. Dua pria tampan dengan wajah nyaris identik. Dingin dan datar, ekspresi yang membuat Arabelle langsung ingin kabur.
"Kakak!"
Kenzo menatap datar. "Masuk."
Arabelle langsung menggeleng keras. "Tidak!"
"Pulang."
"Tidak mau!"
"Kita tidak sedang bernegosiasi."
"Aku juga tidak sedang mau pulang!"
Kenzo mulai memijat pelipis. Sudah diduga, sementara Kenzi menatap adiknya dengan wajah sedikit lebih lembut.
"Ara..."
"Tidak!"
"Kami cuma khawatir."
"Aku baik-baik saja!"
Kenzo menyilangkan tangan. "Sudah sebulan."
"Baru sebulan!"
"Bagi kami itu lama."
Arabelle hampir melompat kesal. "Ini belum setahun!"
Kenzo tetap diam.
"Daddy kasih waktu Ara satu tahun!"
Kenzo masih diam.
"Satu tahun!" Ulang Ara kesal.
Kenzo mulai kehilangan kesabaran.
"Ara."
"Tidak!"
"Masuk mobil."
"Tidak mau!"
"Masuk."
"Tidak."
"Ara."
"Tidak!"
Kenzo menatap adiknya tajam, lalu berkata pelan, "masuk mobil atau aku seret."
Arabelle langsung membelalakkan mata. "Kakak jahat!"
"Aku serius."
"Kakak sangat jahat!"
"Aku tetap serius, ikut pulang!"
Arabelle mendengus kesal, lalu menunjuk Kenzo.
"Sesuai kesepakatan sama Daddy dan Mommy, Ara boleh tinggal di luar selama setahun."
Kenzo tidak menjawab.
"Ara baru satu bulan di luar rumah. Ara pasti bisa membuktikan kalau Ara mampu mandiri." Tatapan Arabelle mulai melembut.
"Ara nggak mau dianggap anak kecil terus."
Untuk sesaat suasana menjadi hening. Kenzo memang terlihat keras. Namun, sebenarnya ia hanya terlalu khawatir, begitu pula Kenzi.
Arabelle lalu mengalihkan targetnya, "Kak Kenzi..." Nada suaranya berubah manja.
Kenzi langsung merasa firasat buruk.
"Kak..." Tatapan puppy eye andalan Arabelle keluar. Senjata paling mematikan milik Arabelle, dan selalu berhasil.
"Kakak nggak percaya sama Ara?"
Kenzi langsung goyah. "Tentu Kakak percaya."
"Kakak yakin Ara bisa mandiri kan?"
"Iya..." Jawab Kenzi.
"Kakak baik banget."
Kenzi mulai luluh.
"Kalau begitu—"
"Tidak." Suara dingin Kenzo langsung memotong.
Kenzi refleks menoleh dan menatap wajah Kenzo kesal.
"Kau jangan luluh."
"Aku tidak luluh." Bantah Kenzi.
"Kau jelas luluh."
"Aku hanya mendengarkan."
"Kau selalu kalah kalau dia pakai wajah itu."
"Itu tidak benar." Protes Kenzi.
"Sebulan lalu dia minta mobil baru."
"Itu beda."
"Sebelumnya dia minta liburan."
"Itu juga beda."
"Dia selalu menghabiskan uangmu."
"Itu..." Kenzi langsung terdiam.
Kenzo mendengus. "Lihat?"
Sementara Arabelle diam-diam menahan tawa. Kedua kakaknya mulai berdebat. Dan seperti biasa, mereka lupa kalau penyebabnya sedang berdiri tepat di depan mereka.
"Aku hanya ingin dia bahagia."
"Dan aku ingin dia aman." Ketus Kenzo.
"Kau terlalu protektif."
"Setidaknya aku masih berpikir."
"Kau menyebut aku tidak berpikir?"
"Kadang."
"Kau cari masalah?"
"Kau yang cari masalah."
Arabelle menggeleng pelan. Tidak ada yang berubah. Bahkan, setelah dewasa, kedua kakaknya masih bisa berdebat seperti anak SD.
Beberapa menit kemudian. Keduanya akhirnya menghela napas bersamaan. Kenzo menatap Arabelle.
"Ara..."
Arabelle langsung tersenyum. "Itu berarti boleh?"
"Kami mengalah."
"Yes!"
"Tapi ada syarat."
Senyum Arabelle langsung menghilang. "Syarat?"
"Kau harus sering memberi kabar."
Arabelle mengangguk cepat. "Siap!"
"Video call setiap malam."
"Siap!"
"Lokasi harus aktif."
"Siap!"
"Kalau ada masalah, langsung hubungi kami."
"Siap!"
Kenzo menyipitkan mata. "Kau terlalu cepat setuju."
"Karena Ara memang anak baik."
Kenzo dan Kenzi langsung menatapnya tanpa ekspresi. Arabelle tertawa canggung.
"Oke, mungkin tidak terlalu baik."
Kenzi akhirnya mengusap puncak kepala adiknya.
"Jaga dirimu..."
Arabelle tersenyum hangat. "Iya."
"Kami serius."
"Ara juga serius."
Kenzo menutup pintu mobil. "Kami akan datang lagi."
"Jangan sering-sering."
"Kami tidak janji."
Arabelle langsung mengeluh. Saat mobil itu akhirnya pergi meninggalkan lokasi, Arabelle menghela napas panjang.
Arabelle melambaikan tangan saat mobil yang membawa Kenzo dan Kenzi menghilang di tikungan jalan.
"Fiuh..." Gadis itu menghela napas lega. Misinya mempertahankan kebebasan berhasil. Setidaknya untuk hari ini. Arabelle segera berjalan kembali menuju warungnya sambil bersenandung pelan.
Namun, semakin dekat, langkahnya semakin melambat. Senyumnya perlahan menghilang.
"Apa-apaan itu?"
Di depan warungnya terlihat dua pria yang sangat dikenalnya. Ujang dan salah satu anak buahnya. Kedua preman pasar itu sedang mengobrak-abrik warung miliknya. Bahkan, salah satu dari mereka sengaja menjatuhkan termos berisi teh hangat.
Sebuah toples kerupuk dilempar hingga pecah. Kesabaran Arabelle langsung habis.
"Hei!" Suara nyaringnya membuat kedua preman itu menoleh.
Ujang menyeringai. "Oh, pemilik warungnya datang."
Arabelle berjalan mendekat, tatapannya tajam.
"Kalian sedang apa?"
"Apa nggak kelihatan?"
"Kelihatan..." Arabelle tersenyum tipis. "Lagi cari masalah rupanya."
Anak buah Ujang tertawa mengejek. "Gadis kecil mau ngapain?"
Ujang melangkah maju. "Kami cuma memberi pelajaran."
Arabelle meletakkan tasnya di atas kursi yang masih utuh. Kemudian menggulung lengan bajunya.
"Bagus..."
Ujang mengernyit. "Bagus?"
"Iya." Arabelle meregangkan lehernya ke kanan dan kiri.
"Kebetulan aku juga sedang butuh latihan."
Kedua preman itu saling pandang, lalu tertawa keras. Seolah baru mendengar lelucon paling lucu sedunia. Namun, tawa mereka tidak berlangsung lama. Arabelle melesat maju, tinju kanannya menghantam perut anak buah Ujang.
"Ugh!" Pria itu langsung tertekuk. Belum sempat bangkit, sebuah tendangan mendarat tepat di dadanya. Tubuh besar itu terlempar dan menabrak meja.
Ujang melotot. "Kau—"
Pria itu mencoba menyerang tetapi Arabelle lebih cepat. Sejak kecil ia dilatih oleh Alex Vasillo. Belum lagi kedua kakek buyutnya yang selalu mengajarinya berbagai teknik pertahanan diri. Meski sering dimanja keluarga, bukan berarti Arabelle lemah.
Ujang mengayunkan pukulan, Arabelle menghindar dengan mudah. Satu langkah ke samping, tangannya menangkap pergelangan pria itu.
"Aa!" Ujang menjerit, lengannya dipelintir ke belakang. Arabelle menekan sedikit lagi. Wajah Ujang langsung pucat.
"Sakit! Sakit!"
"Nggak kelihatan."
"Ampun!"
"Nggak dengar."
"Ampun, Nona!"
Barulah Arabelle melepaskannya. Ujang langsung jatuh terduduk. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia benar-benar tidak menyangka gadis cantik di depannya memiliki tenaga dan kemampuan seperti itu.
Arabelle menyilangkan tangan.
"Kalian pikir aku gampang ditindas?"
Kedua preman itu buru-buru menggeleng. "Tidak!"
"Kalian merusak warungku. Kalian mengganggu usahaku."
Mereka semakin menunduk.
"Kalian mau ganti rugi atau aku telepon polisi?"
Ujang mengangkat kepala. "Polisi?"
Arabelle tersenyum manis. Senyum yang entah kenapa membuat bulu kuduk mereka berdiri.
"Iya."
Ujang langsung berdiri. "Kami ganti rugi!"
"Bagus..."
"Kami juga bereskan semuanya!"
"Lebih bagus."
"Kami minta maaf!"
Arabelle tersenyum puas. "Nah, begitu dong."
Selama satu jam berikutnya, kedua preman itu bekerja membersihkan warung di bawah pengawasan Arabelle.
Menjelang siang, suasana di depan warung Arabelle kembali ramai. Para siswa mulai keluar masuk membeli minuman dan camilan. Arabelle yang sedang menyusun botol minuman di etalase tampak tenang.
Sampai suara bising itu terdengar, Arabelle langsung menoleh. Sekelompok remaja dengan motor modifikasi melaju kencang di jalan depan sekolah. Mereka tertawa-tawa sambil saling menyalip.
"Astaga, lagi-lagi mereka."
Beberapa pedagang langsung menggeleng kesal. Kelompok anak motor itu memang sering membuat ulah. Salah satu ban motor menggilas kaleng bekas yang tergeletak di jalan. Kaleng itu melesat ke udara.
"Aduh!" Arabelle memegangi kepalanya.
Kaleng penyok itu tepat menghantam kepalanya. Para siswa yang melihat langsung meringis.
"Itu sakit."
"Tentu sakit!"
Arabelle menatap kesal ke arah anak-anak motor itu. Sayangnya mereka bahkan tidak menyadari apa yang terjadi. Mereka terus melaju sambil tertawa. Kesabaran Arabelle langsung habis.
"Hei!"
Tidak ada yang menoleh.
"Hei kalian!"
Masih tidak ada respons, Arabelle semakin kesal.
"Berhenti!" Tetap saja tidak ada yang peduli. Salah satu anak motor bahkan membunyikan klakson keras-keras.
Arabelle mendengus. "Oke." Ia membungkuk, mengambil sebuah batu kecil di pinggir jalan.
Beberapa pedagang yang melihat langsung punya firasat buruk.
"Ara..."
Namun, gadis itu sudah terlanjur mengayunkan tangan.
"Rasakan itu!"
Batu itu meluncur cepat. Sayangnya target yang bergerak membuat lemparannya meleset. Tepat saat itu sebuah mobil mewah hitam berhenti di pinggir jalan.
Prang!
Batu yang Ara lempar melesat mengenai kaca mobil mewah milik orang lain. Di dalam mobil, suasana semula tenang.
Nathan Pradipta Anderson sedang membaca beberapa dokumen kerja di tablet miliknya ketika suara kaca pecah tiba-tiba mengagetkan semua orang.
Mobil langsung berhenti, Sopir refleks menginjak rem. Sementara salah satu pengawal yang duduk di kursi depan segera menoleh.
"Tuan!"
Nathan mengangkat kepala perlahan. Tatapannya jatuh pada kaca samping yang kini berlubang besar. Beberapa serpihan kaca masih berjatuhan ke jok mobil. Suasana langsung berubah dingin. Pengawal itu menelan ludah.
Selama bertahun-tahun bekerja untuk Nathan, ia tahu betul tanda-tanda bosnya sedang tidak senang.
"Tuan," ujar pengawal itu hati-hati, "seseorang melempar kaca mobil kita."
Nathan menatap lubang di kaca mobilnya. Lalu melirik batu yang tergeletak di dalam mobil. Rahangnya mengeras, bukan karena harga kaca mobil itu. Melainkan karena keberanian seseorang yang melempar benda ke mobilnya di siang bolong.
Nathan meletakkan tabletnya perlahan. "Turun."
Pengawal itu langsung tegak. "Tuan?"
"Dan urus." Suara Nathan terdengar datar.
Namun, justru itulah yang membuat kedua pengawalnya merinding.
"Baik, Tuan." Kedua pengawal segera keluar dari mobil. Sementara, Nathan tetap duduk di tempatnya. Tatapan tajamnya menyapu kerumunan orang di luar.
Matanya berhenti pada seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari sana. Gadis itu terlihat cantik, mengenakan celemek warung. Saat ini sedang menatap mobilnya dengan wajah pucat.
Nathan menyipitkan mata, ada sesuatu yang mencurigakan. Sementara di luar Arabelle hampir pingsan saat melihat dua pengawal berjas hitam keluar dari mobil.
"Astaga..." Arabelle langsung menutup wajahnya.
"Habis sudah..."
Salah satu pengawal mengangkat batu dari dalam mobil. Lalu memperlihatkannya kepada orang-orang sekitar.
"Siapa yang melempar ini?"
Tidak ada yang menjawab.
"Siapa pelakunya?"
Arabelle mulai mempertimbangkan untuk kabur. Tapi itu hanya berlangsung tiga detik. Arabelle langsung mengurungkan niatnya. Dengan langkah pelan, ia mengangkat tangan.
"Itu..."
Semua mata langsung menoleh padanya.
Arabelle tersenyum kaku. "Sepertinya aku pelakunya..."
Kedua pengawal itu menatapnya. Di dalam mobil, Nathan juga melihat gadis yang mengaku bersalah itu. Untuk beberapa detik, pria itu hanya memperhatikannya. Biasanya orang-orang akan kabur atau mencari alasan. Namun, gadis ini malah maju dan mengaku.
Salah satu pengawal mendekati Arabelle. "Anda yang melempar batu ini?"
Arabelle mengangguk pelan. "Iya."
"Sengaja?"
"Tidak!" Jawabannya terlalu cepat.
Bahkan, beberapa siswa sampai menoleh. Arabelle menghela napas.
"Aku sedang mencoba melempar seseorang."
Kedua pengawal mengernyit. "Lalu mengenai mobil?"
"Iya."
"Jadi memang sengaja melempar?"
Arabelle terdiam.
"Oke, kalau dijelaskan seperti itu memang terdengar buruk."
Pengawal itu menatapnya datar.
Bibir Nathan tersungging, dan lalu menyimpan tablet yang ada di tangannya, pria itu turun dari mobil tersebut.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣