NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 — PERINTAH DARI RUANG PENGAWASAN

Arga Pratama membaca pesan anonim itu untuk ketiga kalinya.

Tanyakan kepada Mira Kinasih siapa yang memerintahkan penghentian pemeriksaan REV-17.

Di atas meja pusat dokumentasi, salinan formulir TRF-28/ARX masih terbuka. Catatan tersebut menyebutkan bahwa pemeriksaan lampiran keselamatan dihentikan atas instruksi unit pengawasan. Laporan keselamatan awal tidak dikembalikan ke paket evaluasi.

Namun, tidak ada nama individu yang tercantum sebagai pemberi perintah.

Hanya kode GW-04.

Arga memasukkan ponselnya ke saku.

“Nadia, kita perlu meminta keterangan resmi dari Mira.”

Nadia mengangguk.

“Aku akan menghubunginya melalui tim audit. Tapi kita harus menunjukkan dokumen yang sudah diverifikasi, bukan gambar anonim.”

“Benar. Dan kita harus memberinya kesempatan menjelaskan perannya.”

Ratih menutup map yang berada di hadapannya.

“Jangan lupa, Mira sebelumnya mengatakan bahwa ia hanya menangani pelaksanaan administrasi. Kita belum punya bukti bahwa dia yang memutuskan penghentian pemeriksaan.”

Arga mengangguk.

“Aku tidak akan menuduhnya. Aku hanya ingin mengetahui siapa yang memberikan instruksi dan melalui jalur apa instruksi itu disampaikan.”

Mereka sepakat mengajukan permintaan pemeriksaan lanjutan.

Sebelum meninggalkan ruangan, Arga kembali melihat kode GW-04.

Kode itu telah muncul berkali-kali dalam penyelidikan mereka. Tetapi semakin banyak dokumen yang mereka temukan, semakin jelas bahwa kode tersebut bukan jawaban akhir.

Kode itu hanyalah pintu menuju seseorang yang identitasnya masih belum diketahui.

Dua hari kemudian, tim audit mengatur pertemuan resmi dengan Mira Kinasih.

Pertemuan berlangsung di ruang pemeriksaan dokumentasi. Nadia hadir sebagai pendamping teknis, sedangkan Ratih membantu menjelaskan riwayat arsip yang sedang diperiksa.

Mira datang membawa sebuah map tipis. Penampilannya tenang, tetapi ia tampak memahami bahwa pertemuan itu akan membahas sesuatu yang serius.

“Terima kasih sudah bersedia datang,” kata Arga.

Mira mengangguk.

“Saya sudah menerima pemberitahuan mengenai pemeriksaan REV-17. Saya akan menjelaskan apa yang saya ingat dan apa yang dapat saya dukung dengan dokumen.”

Arga meletakkan salinan formulir TRF-28/ARX di atas meja.

“Kami menemukan catatan pemeriksaan lampiran REV-17. Di dalamnya tertulis bahwa pemeriksaan dihentikan atas instruksi unit pengawasan dan laporan keselamatan awal tidak dikembalikan ke paket evaluasi.”

Mira membaca halaman tersebut dengan saksama.

Wajahnya berubah ketika sampai pada catatan di bagian bawah.

“Saya pernah melihat format dokumen seperti ini,” katanya. “Tetapi saya perlu memeriksa nomor registrasi dan sumber salinannya sebelum memastikan bahwa ini dokumen yang pernah saya tangani.”

“Itu alasan kami mengundang Anda,” jawab Arga. “Kami ingin memastikan keaslian dan konteksnya.”

Mira memeriksa nomor dokumen sekali lagi.

“TRF-28/ARX. Saya mengenali jenis formulir pemindahan ini. Namun, saya tidak bisa memastikan bahwa salinan ini lengkap.”

Nadia menunjukkan catatan indeks yang menyebutkan pemindahan buku penerimaan khusus untuk pencocokan REV-17.

“Apakah Anda ingat proses pencocokan tersebut?”

Mira terdiam beberapa saat.

“Saya ingat ada pemeriksaan administrasi terhadap sejumlah lampiran setelah laporan akhir diterbitkan. Ada perbedaan antara daftar awal dan daftar akhir. Tugas unit kami adalah memastikan status dokumen dicatat.”

“Siapa yang meminta pemeriksaan itu dihentikan?” tanya Arga.

Mira tidak langsung menjawab.

“Saya tidak bisa menyebutkan nama berdasarkan ingatan yang tidak lengkap. Pada waktu itu, instruksi tertentu memang dikirim melalui kode unit. Tetapi kode unit tidak selalu menunjukkan orang yang membuat keputusan.”

Arga mengangguk.

“Apakah Anda sendiri pernah menerima instruksi untuk menghentikan pemeriksaan REV-17?”

Mira menarik napas perlahan.

“Saya ingat ada pemberitahuan bahwa pemeriksaan lampiran harus ditunda sampai ada konfirmasi dari pihak yang berwenang. Namun, saya tidak bisa memastikan apakah pemberitahuan itu sama dengan catatan penghentian yang Anda tunjukkan.”

“Apakah Anda memiliki salinan pemberitahuan tersebut?”

“Tidak di arsip pribadi saya. Jika masih ada, seharusnya berada dalam catatan korespondensi unit.”

Nadia mencatat keterangannya.

“Apakah Anda mengetahui mengapa laporan keselamatan awal tidak dikembalikan ke paket evaluasi?”

Mira menggeleng.

“Saya tidak mengetahui alasan teknisnya. Saya juga tidak memiliki kewenangan untuk menentukan dokumen apa yang harus digunakan oleh komite. Tugas administrasi saya adalah mencatat perpindahan dan status berkas berdasarkan instruksi yang diterima.”

Arga memperhatikan jawabannya.

Mira tidak menyangkal bahwa pemeriksaan administrasi pernah berlangsung. Namun, ia juga tidak mengakui sebagai pemberi perintah penghentian.

Keterangan itu belum menyelesaikan persoalan, tetapi memberikan jalur penyelidikan baru.

“Bisakah Anda membantu tim audit menemukan catatan korespondensi yang Anda sebutkan?” tanya Arga.

“Bisa. Saya akan mengajukan daftar arsip yang perlu diperiksa. Tetapi saya tidak dapat menjamin bahwa semuanya masih tersimpan.”

“Cukup. Kami hanya membutuhkan pencarian resmi dan keterangan yang bisa diverifikasi.”

Mira mengangguk.

Sebelum pertemuan berakhir, ia meminta salinan daftar nomor dokumen yang sedang diperiksa agar dapat mencocokkannya dengan arsip lama.

Arga menyetujui permintaan itu melalui prosedur tim audit.

Ia tidak ingin informasi yang diberikan Mira terlepas dari konteksnya. Setiap keterangan harus tercatat dengan jelas, termasuk bagian yang belum dapat dipastikan.

Setelah Mira pergi, Nadia menatap Arga.

“Dia mengakui pernah ada penundaan pemeriksaan, tetapi tidak memastikan bahwa dialah yang menghentikannya.”

“Benar,” jawab Arga.

“Menurutmu, dia menyembunyikan sesuatu?”

Arga menggeleng.

“Aku tidak tahu. Dia mungkin memang tidak mengingat detailnya. Bisa juga ada catatan yang belum kita temukan. Kita tidak boleh menentukan jawabannya hanya dari sikap seseorang.”

Ratih membuka kembali formulir TRF-28/ARX.

“Yang penting sekarang adalah menemukan korespondensi unit. Jika ada instruksi tertulis, kita bisa membandingkan tanggal, nomor registrasi, dan jalur pengirimannya.”

Arga mengangguk.

“Dan kita harus mengetahui apakah instruksi itu menyatakan pemeriksaan dihentikan, ditunda, atau dipindahkan ke unit lain. Ketiga hal itu berbeda.”

Nadia tersenyum tipis.

“Baiklah. Aku akan meminta tim audit mencari semua variasi istilah tersebut dalam arsip korespondensi.”

Mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing.

Arga merasa bahwa penyelidikan mulai bergerak dari sekadar menemukan dokumen menuju memahami keputusan administratif yang terjadi pada masa itu.

Namun, ia belum mendapatkan jawaban tentang orang yang memberikan instruksi.

Dan tanpa bukti yang menghubungkan kode unit dengan identitas individu, ia masih belum bisa menentukan siapa yang bertanggung jawab.

Sore itu, Arga kembali ke arena latihan.

Rendy dan Dimas sedang mempersiapkan presentasi teknis untuk babak final.

“Kami sudah membagi tugas,” kata Dimas. “Rendy menjelaskan rancangan sistem, aku menangani data pengujian, dan kamu menjelaskan metode diagnosis.”

Arga memeriksa susunan presentasi.

“Bagus. Pastikan setiap kesimpulan memiliki data pendukung.”

Rendy tertawa.

“Lagi-lagi soal bukti.”

“Kalau kita mengatakan sistem stabil, kita harus menunjukkan hasil pengukurannya. Kalau kita mengatakan ada gangguan, kita harus menunjukkan kapan dan bagaimana gangguan itu muncul.”

Dimas mengangguk.

“Itu sebabnya juri menyukai pendekatan kita. Kita tidak hanya mengatakan apa yang kita temukan, tetapi menjelaskan bagaimana kita mengetahuinya.”

Mereka melanjutkan latihan presentasi.

Ketika tiba giliran Rendy, ia menjelaskan sistem pemantauan dengan sangat baik. Namun, pada bagian analisis suhu, ia menggunakan satu grafik yang belum mencantumkan kondisi pengujian.

Arga menghentikannya.

“Grafik ini diambil pada kondisi beban berapa?”

Rendy melihat layar.

“Beban menengah.”

“Apakah sudah dicantumkan?”

Rendy memeriksa dokumen.

“Belum.”

“Tambahkan keterangannya. Kalau tidak, juri tidak bisa membandingkan grafik ini dengan hasil pengujian lain.”

Rendy mengangguk dan segera memperbaikinya.

“Baik, Pak Guru.”

Arga tertawa.

“Kalau kamu tidak mau diperiksa, jangan mengajakku bekerja satu tim.”

Mereka menyelesaikan presentasi dengan lebih baik.

Di tengah persiapan itu, Arga menerima pesan dari Nadia.

Tim audit menemukan indeks korespondensi yang berhubungan dengan REV-17.

Namun, isi suratnya belum tersedia.

Pada kolom pengirim, tertulis kode unit pengawasan.

Pada kolom penerima, tercantum sekretariat administrasi.

Dan pada kolom lampiran, terdapat referensi yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

AUTH-03/REV.

Arga membaca kode itu beberapa kali.

AUTH-03 adalah dokumen kewenangan yang sebelumnya muncul dalam penyelidikan mereka tentang jalur pengawasan eksternal ARX-9.

Kini, kode tersebut muncul kembali dalam korespondensi yang berkaitan dengan REV-17.

Ia segera menghubungi Nadia.

“Apakah ada keterangan tambahan mengenai AUTH-03/REV?”

“Belum. Indeks hanya menunjukkan bahwa dokumen kewenangan itu dijadikan referensi dalam korespondensi. Kami belum tahu apakah salinannya benar-benar dilampirkan.”

“Apakah ada nomor registrasi surat?”

“Ada, tetapi catatan pengirimannya belum lengkap.”

Arga menuliskan kode itu di buku catatannya.

Jika AUTH-03 memang dirujuk dalam instruksi mengenai REV-17, dokumen kewenangan tersebut mungkin dapat menjelaskan siapa yang memiliki hak untuk memerintahkan penghentian pemeriksaan.

Namun, mereka belum tahu apakah rujukan itu berkaitan dengan keputusan yang sedang mereka telusuri atau hanya prosedur administrasi biasa.

Arga meminta Nadia agar tidak membuat kesimpulan sebelum surat dan lampirannya ditemukan.

Setelah panggilan berakhir, ia kembali berlatih bersama Rendy dan Dimas.

Final semakin dekat.

Ia tidak akan membiarkan penyelidikan membuat timnya kehilangan kesempatan yang telah mereka perjuangkan.

Malam itu, Arga menerima pemberitahuan resmi dari tim audit.

Catatan korespondensi REV-17 telah ditemukan dalam indeks arsip, tetapi surat aslinya masih belum ditemukan.

Tim audit juga menemukan bahwa AUTH-03/REV tercatat sebagai lampiran rujukan dalam surat tersebut.

Namun, daftar lampiran tidak menyatakan bahwa dokumen AUTH-03 benar-benar disertakan.

Arga membaca pemberitahuan itu dengan saksama.

Ada perbedaan penting antara dokumen yang dirujuk dan dokumen yang benar-benar dilampirkan.

Jika surat tersebut hanya menyebut AUTH-03 sebagai dasar kewenangan, mereka masih harus memeriksa apakah kewenangan itu berlaku untuk menghentikan pemeriksaan lampiran keselamatan.

Ia membalas pemberitahuan tim audit dengan permintaan agar dua hal diperiksa.

Pertama, keaslian surat dan daftar lampirannya.

Kedua, cakupan kewenangan yang tercantum dalam AUTH-03 pada tanggal surat tersebut dibuat.

Setelah mengirimkan permintaan itu, Arga menyimpan ponselnya.

Ia merasa penyelidikan telah mencapai persimpangan baru.

Selama ini, mereka mencari orang yang menerima laporan keselamatan awal dan alasan laporan itu tidak dimasukkan ke paket evaluasi akhir.

Sekarang, mereka menemukan rujukan terhadap dokumen kewenangan yang mungkin menjelaskan siapa yang berhak mengeluarkan instruksi.

Namun, kewenangan administratif tidak otomatis membuktikan bahwa orang yang memilikinya menyalahgunakan wewenang.

Arga harus memastikan isi instruksi, batas kewenangan, dan identitas pemberi perintah.

Keesokan paginya, tepat sebelum sesi latihan final dimulai, sebuah amplop diserahkan kepada panitia untuk diteruskan kepada Arga.

Tidak ada nama pengirim di bagian depan.

Di dalamnya terdapat satu lembar salinan dokumen lama dan secarik kertas dengan tulisan tangan.

Arga tidak langsung membaca isi dokumen itu sendirian. Ia memotret amplop dan isinya sebagai catatan penerimaan, lalu menghubungi Nadia untuk meminta arahan mengenai penyerahan bahan tersebut kepada tim audit.

Setelah itu, ia memeriksa lembar yang disertakan.

Judulnya berbunyi:

DAFTAR PENERIMA INSTRUKSI ADMINISTRATIF — REV-17.

Di dalam daftar itu terdapat beberapa kode unit dan kolom penerima.

Sebagian besar nama tidak terbaca.

Namun, satu baris masih jelas.

Salinan instruksi — koordinator administrasi pengawasan.

Pada kolom nama, tertulis Mira Kinasih.

Arga mengerutkan kening.

Mira memang pernah menjabat sebagai Koordinator Administrasi Pengawasan. Keberadaan namanya dalam daftar penerima tidak mengejutkan jika dokumen tersebut berkaitan dengan tugas administrasinya.

Tetapi di bagian bawah daftar terdapat satu baris tambahan.

Pemberi instruksi — kewenangan eksternal, referensi AUTH-03.

Kolom nama kosong.

Tidak ada tanda tangan yang dapat dikenali.

Tidak ada identitas individu yang bisa dipastikan.

Hanya sebuah kode yang sama dengan kode dalam korespondensi yang sedang mereka telusuri.

Arga menatap dokumen tersebut cukup lama.

Jika daftar itu asli, berarti instruksi REV-17 mungkin berasal dari jalur kewenangan eksternal, sementara Mira tercatat sebagai penerima salinan.

Namun, dokumen itu belum membuktikan bahwa Mira menerima instruksi untuk menghentikan pemeriksaan, bukan sekadar menerima pemberitahuan administrasi.

Arga segera menyerahkan salinan tersebut kepada tim audit untuk pemeriksaan keaslian dan pencocokan arsip.

Ia tidak ingin dokumen anonim menjadi alasan untuk menuduh seseorang.

Setelah menyelesaikan penyerahan, ia kembali ke arena latihan.

Rendy melambaikan tangan dari sisi kendaraan.

“Arga! Kita mulai sekarang!”

Arga memasukkan buku catatannya ke dalam tas.

“Aku datang.”

Ia berjalan menuju timnya, tetapi pikirannya masih tertuju pada daftar penerima instruksi itu.

Mira tercatat sebagai penerima salinan.

Pemberi instruksi tercatat menggunakan jalur kewenangan eksternal.

Namun, nama orang yang mengeluarkan perintah tetap kosong.

Dan selama identitas itu belum diketahui, Arga belum bisa memastikan siapa yang memutuskan bahwa laporan keselamatan awal tidak perlu diteruskan ke sekretariat rapat.

Sebelum memulai latihan, ia membuka buku catatannya dan menulis satu kalimat terakhir.

AUTH-03/REV — PEMBERI INSTRUKSI BELUM TERIDENTIFIKASI. DAFTAR PENERIMA ANONIM MENUNJUKKAN MIRA SEBAGAI PENERIMA SALINAN, BUKAN BUKTI SEBAGAI PEMBERI PERINTAH.

Arga menutup buku tersebut.

Ia akan terus mencari jawabannya.

Tetapi kali ini, ia tidak hanya membutuhkan nama.

Ia membutuhkan bukti yang menunjukkan siapa yang memiliki kewenangan, siapa yang menggunakannya, dan siapa yang akhirnya membuat laporan keselamatan awal tidak sampai ke meja evaluasi.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!