NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 26

Part 26

"Apa sih, Pak?" Tina menatap tak nyaman ke arah Alfan yang sempat terkekeh. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk membuat Tina tahu perasaannya, walau akan terdengar konyol di telinganya, namun setidaknya Alfan sudah berusaha menyampaikannya.

"Memang benar kok, kamu itu indah lebih dari apapun."

"Bapak lagi sakit ya? Kita pulang aja yuk, Pak! Bapak aneh." Tina memang merasa aneh dengan tingkah bosnya yang jauh dari biasanya, membuatnya semakin tak nyaman berada di sampingnya.

"Kamu menganggap saya aneh?" tanya Alfan tak percaya sembari menunjuk ke arah wajahnya, merasa bingung saja apa yang salah dengan kalimatnya.

"Ya iya lah, Pak. Bapak bilang saya indah? Padahal tadi sore Bapak bilang kalau dandanan saya sangat-sangat aneh, Bapak mau menghina saya apa bagaimana?"

"Ya, saya sadar itu. Tapi sebenarnya dandanan kamu tidak aneh, saya cuma malu saja kalau mengatakan kamu cantik." Alfan menjawab jujur, namun Tina masih merasa bila ucapan bosnya masih terdengar mencurigakan, seolah tidak bisa dipastikan ketulusannya.

"Bapak mau mengerjai saya ya? Jangan kaya gini dong, Pak, caranya. Sudah tahu saya sedang sedih." Tina memanyunkan bibirnya, merasa tak suka dengan cara bosnya mempermainkannya. Sedangkan Alfan justru terdiam, ia merasa bila niatnya untuk mengatakan perasaannya harus diurungkan, ia lupa bila Tina baru saja terluka oleh ibu kandungnya sendiri, rasanya terlalu egois bila memberitahukan semuanya sekarang.

"Kalau iya, kenapa? Kamu hampir ketipu ya?" tanya Alfan sembari tersenyum, berusaha terlihat ingin menggoda dengan kalimat-kalimat yang tentu saja tak akan membuat Tina suka mendengarnya.

"Memang susah kalau berbicara dengan lelaki sempurna seperti saya, berbicara manis sedikit saja, pasti akan banyak perempuan yang langsung takluk ke dalam jebakan saya." Alfan berujar penuh percaya diri, membuat Tina geram dengan tingkah lakunya, padahal Tina sempat merasa bahagia mendengar ucapan bosnya, untungnya semua cuma bohongan yang lelaki itu ciptakan, setidaknya Tina merasa tidak perlu lagi berharap akan ada lelaki yang benar-benar tulus menyukainya.

"Bapak itu terlalu percaya diri, saya bahkan hampir muntah mendengar ucapan Bapak tadi." Tina memanyunkan bibirnya, berusaha terlihat baik-baik saja meski ia sendiri tidak tahu kenapa hatinya merasa kecewa.

"Oh ya?" tanya Alfan tak yakin, yang langsung Tina angguki dengan tegas, membuat Alfan terdiam, sesulit itu kah membuat Tina menyukainya.

"Iya, Pak. Kita turun sekarang ya, Pak?" Tina tidak mau berlama-lama berdua dengan bosnya, entah kenapa ia merasa bila tidak seharusnya ia berada di sana seolah hatinya akan diarahkan untuk mencintai Alfan. Sebuah rasa yang ingin Tina hindari, ia hanya takut terjatuh lagi, terlebih lagi pada lelaki kaya seperti Alfan.

"Kenapa? Kita kan belum lama di sini. Nikmati suasananya saja dulu!" Alfan menyenderkan tubuhnya, mulai menikmati suasana di sana.

"Bukannya tadi Bapak tidak mau naik ya? Kok sekarang jadi Bapak yang betah di sini?"

"Saya bukannya betah ya, tapi kan ini sudah dibayar, ya sayang lah uangnya."

"Saya ganti, Pak. Kita pulang aja ya, saya capek. Apalagi besok kita berangkatnya pagi, nanti kalau kita telat bagaimana?"

"Ya tinggal beli tiket lagi."

"Pak, tiket pesawat itu jauh lebih mahal dari tiket ini, ya kali Bapak lebih memilih di sini dari pada istirahat buat perjalanan besok?"

"Iya-iya, kita pulang." Alfan menjawab terpaksa meski sebenarnya ia masih ingin bersama dengan Tina di sana.

***

Setelah sampai di hotel, Tina langsung tidur di ranjangnya, tanpa mau peduli lagi dengan bosnya. Hari ini banyak hal yang sudah terjadi, membuat Tina tidak bisa lagi menahan semuanyanya kecuali dengan cara menyendiri. Karena hari ini, Tina bertemu lagi dengan mama kandungnya, seorang wanita yang sempat dirindukannya.

Tidak ada rasa bahagia saat Tina melihat mamanya itu berada di hadapannya, kecuali rasa sakit saat mengingat betapa kejamnya wanita itu meninggalkannya. Padahal saat itu Tina sudah memohon, menangis, dan berteriak, namun tak mampu membuat mamanya tetap mempertahankannya.

Sekarang, Tina harus menerima fakta akan hidup mamanya yang jauh lebih baik bila dibandingkan dengannya. Mamanya begitu berkucukapan dan hidup bahagia dengan keluarganya, seolah tidak ada yang bisa membuatnya menyesal sudah melakukan kejahatan.

Tina kembali menangis, air matanya tumpah begitu saja saat tubuhnya terbaring di ranjangnya. Sedangkan Alfan yang melihatnya itu hanya terdiam, ia pikir caranya untuk menghibur Tina sangat salah, Tina masih sedih memikirkan mamanya. Alfan turut merasa menyesal, ia sendiri bingung harus berbuat apa kecuali mendiamkan Tina menghabiskan kesedihannya.

Setelah tak terdengar isakan tangis Tina, Alfan meletakkan ponselnya lalu menghampiri wanita itu yang ternyata sudah terlelap dengan tenangnya. Sedangkan wajahnya tampak lusuh dengan bekas air mata hampir memenuhi wajahnya, kulitnya memerah dan sembab oleh tangis, Alfan hanya bisa melihatnya dengan tatapan miris. Sebagai lelaki, ia merasa tidak bisa berbuat banyak untuk menenangkan perasaan Tina, Alfan merasa sangat menyesalinya.

"Maafkan saya, sebagai lelaki, saya justru memperburuk perasaan kamu. Saya cuma berniat menghibur kamu, tapi saya selalu kesulitan menunjukkan rasa itu dan pada akhirnya kamu semakin kesal dengan saya." Alfan tersenyum miris, merasa lelah juga dengan sikapnya ke Tina yang selalu saja berbeda dengan keinginan hatinya.

Alfan juga ingin memperlihatkan perasaannya, namun rasanya begitu sulit melakukannya. Setiap kali Alfan ingin terlihat baik dan mengkhawatirkan Tina, asistennya itu justru berpikir bila sikapnya terlalu aneh dan pada akhirnya yang terjadi justru sebaliknya, Alfan bersikap dan berbicara kasar, membuat Tina kesal.

"Saya harap, suatu saat nanti saya bisa menyatakan perasaan saya ke kamu, saat itu tiba kamu tidak boleh menertawai saya apalagi bilang saya aneh. Saya itu mencintai kamu sudah lama, sejak kita berteman di sekolah yang sama, jadi berhenti menganggap sikap saya aneh, kamu yang terlalu menutup diri dari banyak kemungkinan. Dasar, kurang peka." Alfan menatap kesal ke arah Tina, meski tak benar-benar ia merasa seperti itu, karena pada dasarnya ia hanya ingin Tina mengerti perasaannya.

Sebelum pergi, Alfan sempat terdiam di tempatnya, dengan keraguan ia mendekatkan wajahnya ke arah Tina lalu mengecup lama keningnya. Di dalam hati, Alfan berdoa agar Tina selalu bahagia dan bisa mencintainya.

"Terima kasih sudah kembali hadir di hidup saya, Tomtom." Alfan membelai puncak kepala Tina, bibirnya tersenyum lalu mendirikan tubuhnya dan kembali ke ranjangnya.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!