NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Nama yang Tidak Boleh Diucapkan

Gu Chen membaca catatan Gu Yuan untuk ketiga kalinya.

JANGAN CARI NAMA PERTAMAMU.

JANGAN PERCAYA KEPADA ORANG YANG MEMBESARKANMU.

DAN APA PUN YANG TERJADI, JANGAN BIARKAN DIRIMU YANG LAMA BERTEMU DENGAN DIRIMU YANG SEKARANG.

“Bagus,” gumamnya. “Ayahku ternyata punya bakat menulis pesan yang membuat orang ingin membenturkan kepalanya ke tembok.”

Lin Yue duduk di sampingnya sambil memeriksa kedua gelang kayu di atas meja.

“Setidaknya dia meninggalkan petunjuk.”

“Petunjuk?” Gu Chen menunjuk catatan tersebut. “Ini bukan petunjuk. Ini daftar cara membuat seseorang kehilangan akal.”

“Kalau kau sudah selesai mengeluh, mungkin kita bisa memikirkan maksudnya.”

“Aku sedang berpikir.”

“Kau sedang mengeluh.”

“Bagiku, keduanya adalah bagian dari proses berpikir.”

Lin Yue menghela napas. Ia sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Gu Chen mengubah setiap percakapan serius menjadi perdebatan yang tidak perlu. Anehnya, kebiasaan itu justru membuatnya sedikit lega. Selama Gu Chen masih bisa mengeluh, setidaknya ia belum sepenuhnya kehilangan dirinya sendiri.

Namun, ketika Lin Yue mengangkat gelang kayu yang memiliki sembilan garis, ekspresinya berubah.

“Gu Chen, lihat ini.”

Pada permukaan gelang tersebut, sebuah garis baru perlahan muncul. Garis itu membentuk lingkaran kecil, lalu berhenti sebelum menutup sempurna.

Gu Chen mengambil gelang itu.

Begitu jari-jarinya menyentuh permukaannya, sebuah tulisan muncul di udara.

\[OBJEK TERDETEKSI: GELANG PENGIKAT IDENTITAS.\]

\[FUNGSI: MEMISAHKAN INGATAN DARI PEMILIKNYA.\]

\[STATUS: SEGEL TELAH RUSAK.\]

Gu Chen mengangkat alis.

“Memisahkan ingatan dari pemiliknya?”

Bai, yang berdiri dekat pintu, segera mendekat.

“Jangan memakainya.”

Gu Chen menatapnya.

“Kau bahkan belum tahu apakah aku berniat memakainya.”

“Aku mengenal ekspresi wajahmu.”

“Ekspresi wajahku tampan. Kau perlu lebih spesifik.”

“Ekspresi wajah seseorang yang hendak melakukan sesuatu yang bodoh karena menganggap dirinya lebih pintar daripada semua orang.”

Lin Yue mengangguk setuju.

Gu Chen menatap keduanya bergantian.

“Luar biasa. Aku dikelilingi dua orang yang tidak menghargai kecerdasanku.”

Bai mengambil gelang itu dari tangannya, lalu meletakkannya kembali di atas meja.

“Gelang ini bukan benda biasa. Pada zaman Dinasti Wuming, gelang seperti ini digunakan untuk memisahkan ingatan seseorang dari identitasnya. Dengan begitu, seseorang dapat hidup tanpa mengingat siapa dirinya sebenarnya.”

Gu Chen terdiam.

“Seperti diriku sekarang?”

“Mungkin.”

“Dan gelang kedua?”

Bai menunjuk gelang yang memiliki sembilan garis dan satu lingkaran kosong.

“Itu berbeda. Lingkaran kosong menandakan bahwa identitas pemiliknya tidak lagi memiliki tempat dalam catatan sejarah.”

Gu Chen menatap kedua benda itu.

“Jadi, salah satunya digunakan untuk menghapus ingatan, sedangkan yang lain untuk menghapus keberadaan?”

“Bukan menghapus keberadaan. Menghapus hubungan antara seseorang dan identitasnya. Perbedaannya sangat besar.”

“Bagi orang yang mengalaminya, aku ragu perbedaan itu terasa menyenangkan.”

Bai tidak membantah.

Gu Chen memasukkan kedua gelang ke dalam kantong terpisah. Ia tidak berniat menggunakannya sekarang, tetapi meninggalkannya di menara yang penuh rahasia terasa seperti keputusan yang lebih bodoh.

Kemudian ia mengangkat lonceng hitam dari dalam tasnya.

Permukaannya semakin retak. Tidak ada suara yang keluar, tetapi setiap kali Gu Chen memandangnya terlalu lama, ia merasakan sesuatu sedang mengawasinya dari balik celah-celah kecil tersebut.

“Bai, kau mengatakan bahwa lonceng ini bisa memulihkan identitas yang dihapus.”

“Benar.”

“Bisakah lonceng ini memberitahuku siapa diriku dahulu?”

Bai memandang lonceng itu dengan ekspresi serius.

“Bisa.”

Gu Chen menunggu kelanjutannya.

Bai menggeleng.

“Tetapi aku tidak menyarankanmu melakukannya.”

“Tentu saja. Aku mulai curiga bahwa pekerjaanmu sebenarnya adalah melarang orang melakukan segala sesuatu.”

“Karena kebanyakan orang tidak memahami harga yang harus dibayar.”

“Dan kau memahaminya?”

Bai terdiam.

Gu Chen tersenyum tipis.

“Begitu rupanya.”

Sebelum Bai sempat menjawab, terdengar suara langkah dari tangga menara.

Mereka bertiga langsung menoleh.

Seseorang sedang berjalan turun dari lantai atas.

Langkahnya lambat dan teratur. Tidak terdengar suara pakaian bergesekan, tidak pula suara napas. Seolah orang itu tidak membutuhkan udara untuk hidup.

Bai segera menghunus pedangnya.

“Jangan bergerak.”

Gu Chen berdiri dan mengambil pisaunya.

“Siapa yang datang?”

Bai tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada bayangan di ujung tangga.

Beberapa detik kemudian, seorang lelaki tua muncul.

Ia mengenakan jubah abu-abu dengan lambang sembilan garis di dada. Rambutnya putih, wajahnya dipenuhi keriput, dan tangan kanannya memegang sebuah tongkat kayu.

Yang paling aneh adalah matanya.

Mata kirinya tertutup kain hitam, sedangkan mata kanannya berwarna keemasan.

Lelaki tua itu berhenti di anak tangga terakhir.

“Penjaga Arsip Kesepuluh,” katanya kepada Bai. “Kau seharusnya sudah mati.”

Bai mengangkat pedangnya sedikit lebih tinggi.

“Dan kau seharusnya tidak pernah keluar dari tempat penyimpanan.”

Lelaki tua itu tertawa pelan.

“Begitu banyak hal yang seharusnya terjadi, tetapi tidak terjadi. Dunia ini memang penuh dengan kekecewaan.”

Kemudian ia menatap Gu Chen.

Senyumnya perlahan menghilang.

“Jadi, inilah anak itu.”

Gu Chen mengangkat pisaunya.

“Kalau kau ingin mengatakan sesuatu tentang masa laluku, silakan antre. Sudah ada terlalu banyak orang yang menganggap hidupku sebagai milik mereka.”

Lelaki tua itu tidak menunjukkan kemarahan.

Sebaliknya, ia justru mengangguk seolah menghargai jawaban tersebut.

“Bagus. Setidaknya kau belum sepenuhnya menjadi dirinya.”

“Dirinya siapa?”

Lelaki tua itu menunjuk wajah Gu Chen.

“Orang yang namanya tidak boleh diucapkan.”

Bai bergerak lebih dahulu.

Pedangnya melesat ke arah lelaki tua itu, menghasilkan kilatan putih yang membelah udara. Namun, sebelum bilahnya menyentuh sasaran, tubuh lelaki tua tersebut menghilang.

Bai segera berbalik.

Terlambat.

Tongkat kayu menghantam dadanya dan melemparkannya ke dinding. Batu hitam retak akibat benturan itu.

“Bai!” seru Lin Yue.

Gu Chen mengayunkan pisaunya dari samping. Lelaki tua tersebut memiringkan tubuh, menghindari serangan itu dengan gerakan sederhana.

Kemudian ia menyentuh dahi Gu Chen menggunakan ujung tongkatnya.

Sekejap kemudian, Gu Chen merasakan dunia terbalik.

Ia tidak lagi berada di aula menara.

Ia berdiri di tengah sebuah kota yang terbakar.

Langit berwarna merah. Bangunan-bangunan runtuh, sementara manusia berlarian menyelamatkan diri. Di kejauhan, sebuah menara raksasa berdiri di tengah kobaran api.

Gu Chen menunduk.

Tangannya berlumuran darah.

Di depannya tergeletak seorang lelaki yang wajahnya sama persis dengan wajahnya sendiri.

Rambut lelaki itu putih panjang. Mata kirinya memiliki lingkaran hitam. Sebilah pedang menembus dadanya.

Lelaki tersebut masih hidup.

Ia memandang Gu Chen dan tersenyum lemah.

“Akhirnya kau datang.”

Gu Chen mundur.

“Apa ini?”

“Kenanganmu.”

“Bohong.”

“Kalau begitu, mengapa kau takut?”

Gu Chen menggenggam pisaunya.

“Aku tidak takut.”

Lelaki berambut putih itu tertawa kecil, lalu batuk darah.

“Kau selalu mengatakan hal yang sama.”

Ia berusaha mengangkat tangan, tetapi gagal. Gu Chen melihat bahwa jari-jarinya gemetar.

“Dengarkan aku. Ketika kau kembali ke kehidupanmu sekarang, jangan percaya kepada siapa pun yang mengatakan bahwa aku adalah musuhmu.”

“Siapa kau?”

Lelaki itu menatapnya.

“Aku adalah orang yang membunuhmu.”

Gu Chen membeku.

“Apa?”

“Aku membunuhmu, dan kau membunuhku. Kita telah melakukan itu berkali-kali.”

Kota yang terbakar mulai bergetar.

Dari langit, sembilan garis hitam turun dan menancap di tanah. Di antara garis-garis itu muncul sosok-sosok tanpa wajah yang membawa rantai.

Lelaki berambut putih memandang mereka dengan kebencian.

“Mereka akan datang untuk mengambil namamu.”

Gu Chen menatapnya.

“Nama apa?”

Lelaki itu membuka mulut.

Namun, sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun, seluruh kota mendadak sunyi.

Sebuah suara muncul dari langit.

\[PERINGATAN: INFORMASI TERLARANG TERDETEKSI.\]

\[MEMULAI PENGHAPUSAN KENANGAN.\]

Api membeku di udara.

Manusia berhenti bergerak.

Bahkan darah yang mengalir dari tubuh lelaki berambut putih berubah menjadi butiran merah yang melayang tanpa arah.

Gu Chen berusaha bergerak, tetapi tubuhnya tidak dapat digerakkan.

Lelaki di hadapannya menatapnya dengan putus asa.

“Jangan biarkan mereka mengambil namamu lagi!”

Sebuah tangan raksasa muncul dari langit dan meraih kepala Gu Chen.

Sebelum tangan itu menyentuhnya, lelaki berambut putih mengumpulkan sisa tenaganya, mencabut pedang dari dadanya, lalu melemparkannya ke arah Gu Chen.

Pedang itu menembus dada Gu Chen.

Rasa sakit yang luar biasa meledak di seluruh tubuhnya.

Namun, bersamaan dengan itu, sebuah nama hampir muncul di benaknya.

Sebuah nama yang terasa lebih tua daripada dunia.

Sebuah nama yang pernah menjadi miliknya.

Lalu semuanya hancur.

Gu Chen tersentak kembali ke aula menara.

Ia jatuh berlutut, terengah-engah. Darah mengalir dari hidungnya, sementara dadanya terasa seolah baru saja ditembus pedang.

Lin Yue segera berdiri di depannya, mengarahkan busur kepada lelaki tua itu.

“Jangan mendekat!”

Lelaki tua tersebut menurunkan tongkatnya.

“Tenanglah, gadis kecil. Jika aku ingin membunuhnya, dia sudah mati.”

“Kalau begitu, apa yang kau lakukan kepadanya?”

“Aku menunjukkan sedikit kebenaran.”

Gu Chen mengangkat wajah.

“Sedikit kebenaran?”

Ia berdiri dengan susah payah, lalu mengarahkan pisaunya kepada lelaki tua itu.

“Kau baru saja membuatku melihat seseorang yang wajahnya sama denganku, mengatakan bahwa kami saling membunuh, lalu mengirimkan pedang ke dadaku. Jika itu definisimu tentang sedikit kebenaran, aku tidak ingin tahu seperti apa kebohonganmu.”

Lelaki tua itu mengamati Gu Chen selama beberapa saat.

Kemudian ia mengangguk.

“Reaksimu lebih baik daripada yang kuduga.”

“Terima kasih. Sekarang, jawab pertanyaanku.”

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena nama itu tidak boleh diucapkan di tempat ini.”

Gu Chen tertawa dingin.

“Nama lagi. Selalu nama. Apakah kalian semua tidak memiliki kata-kata lain?”

Lelaki tua itu tidak menjawab sindiran tersebut.

Ia justru mengeluarkan sebuah benda dari balik jubahnya.

Sebuah kepingan logam berbentuk lingkaran, dengan sembilan garis dan satu lubang kecil di tengah.

Ketika benda itu muncul, lonceng hitam di tangan Gu Chen bergetar.

Bai yang baru saja bangkit dari lantai langsung memucat.

“Jangan keluarkan benda itu!”

Lelaki tua itu menatapnya.

“Kau masih mengenalinya.”

“Tentu saja aku mengenalinya. Itu adalah kunci menuju Arsip Kesebelas.”

“Bukan,” kata lelaki tua itu. “Ini adalah kunci untuk membuka sesuatu yang jauh lebih tua.”

Ia mengangkat kepingan logam tersebut.

“Arsip Kesebelas hanyalah pintu yang muncul setelah kesalahan itu terjadi. Yang akan kubuka adalah tempat asal kesalahan tersebut.”

Gu Chen menatap benda itu.

“Tempat asal apa?”

Lelaki tua itu tersenyum tipis.

“Tempat kelahiran Papan Kesepuluh.”

Keheningan menyelimuti aula.

Bai perlahan berdiri, meskipun salah satu tangannya masih menekan dadanya yang terluka.

“Tempat itu tidak seharusnya bisa ditemukan.”

“Benar.”

“Bahkan para pemain pertama tidak dapat memasuki tempat tersebut.”

“Benar.”

“Lalu bagaimana kau mendapat kuncinya?”

Lelaki tua itu memandang Gu Chen.

“Karena orang yang menciptakan tempat itu memberikan kuncinya kepadaku.”

Gu Chen merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

“Siapa yang menciptakannya?”

Lelaki tua itu tidak langsung menjawab.

Ia mengamati wajah Gu Chen, seolah sedang mencari kemiripan antara dirinya dan seseorang yang telah lama hilang.

Kemudian ia berkata, “Ayahmu.”

Gu Chen terdiam.

“Gu Yuan menciptakan Papan Kesepuluh?”

“Bukan Gu Yuan yang kau kenal sekarang.”

Lelaki tua itu memasukkan kembali kepingan logam ke dalam jubahnya.

“Orang yang menciptakan Papan Kesepuluh adalah ayahmu sebelum sejarah diubah. Sebelum namanya dihapus. Sebelum ia membunuh dirinya sendiri untuk memastikan kau dapat hidup.”

Gu Chen merasa semua jawaban yang baru saja diperolehnya kembali berubah menjadi pertanyaan.

“Jadi, Gu Yuan menciptakan tempat yang menyimpan hal-hal yang tidak seharusnya ada, lalu dirinya sendiri menjadi salah satu hal yang disimpan di sana?”

“Kurang lebih.”

“Dan aku?”

Lelaki tua itu menatapnya dengan serius.

“Kau adalah alasan tempat itu harus diciptakan.”

Bai akhirnya berbicara.

“Siapa kau sebenarnya?”

Lelaki tua itu mengalihkan pandangannya kepadanya.

“Namaku tidak penting.”

“Bohong. Tidak ada orang yang bisa melewati pertahanan menara ini tanpa memiliki identitas yang tercatat.”

“Kalau begitu, anggap saja aku seseorang yang pernah menjaga keluarga Gu.”

Bai menggeleng.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Karena semua anggota keluarga Gu yang menjaga Arsip Kesepuluh telah dihapus dari sejarah.”

Lelaki tua itu tersenyum samar.

“Kalau begitu, mungkin aku memang tidak pernah ada.”

Ia mengetukkan tongkatnya ke lantai.

Suara itu terdengar sederhana, tetapi seluruh lembaran di dinding langsung berputar. Ribuan nama muncul dan menghilang dalam sekejap.

Di antara semuanya, satu nama tampak jelas.

GU CHEN.

Di bawahnya tertulis:

IDENTITAS SAAT INI: BIDAK YANG DIHAPUS.

IDENTITAS SEBELUMNYA: PEMAIN PERTAMA.

STATUS: BERTENTANGAN.

Gu Chen menatap tulisan itu tanpa berkedip.

Bai segera berteriak, “Jangan membaca baris berikutnya!”

Namun, tulisan baru sudah muncul.

CATATAN TAMBAHAN:

PEMAIN PERTAMA BUKANLAH ORANG YANG MENGENDALIKAN PERMAINAN.

PEMAIN PERTAMA ADALAH ORANG YANG PERTAMA KALI MENOLAK MENJADI BAGIAN DARI PERMAINAN.

Gu Chen merasakan sesuatu di dalam dirinya bergerak.

Sebuah ingatan.

Sebuah perasaan yang sangat tua.

Kebencian terhadap papan raksasa, terhadap sembilan sosok tanpa wajah, terhadap aturan yang menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang harus mati.

Kemudian ia mendengar suara lelaki berambut putih dari dalam ingatannya.

Jika kau ingin menghentikan mereka, kau harus melakukan sesuatu yang tidak pernah berani mereka lakukan.

Hancurkan papan yang membuatmu ada.

Tulisan di dinding mendadak berubah.

\[IDENTITAS PERTAMA SEDANG MENCARI JALAN KEMBALI.\]

\[PEMBATASAN MULAI MELEMAH.\]

\[PERINGATAN: DUA PEMILIK IDENTITAS YANG SAMA TIDAK DAPAT HIDUP DALAM SATU DUNIA.\]

Gu Chen memegangi kepalanya.

Ia mulai memahami arti peringatan terakhir dalam catatan Gu Yuan.

Jangan biarkan dirimu yang lama bertemu dengan dirimu yang sekarang.

Bukan karena mereka akan saling membunuh.

Melainkan karena dunia tidak mampu menerima keberadaan keduanya sekaligus.

Jika identitas pertamanya kembali sepenuhnya, mungkin Gu Chen yang sekarang akan menghilang.

Dan jika Gu Chen yang sekarang tetap hidup, mungkin identitas pertamanya akan mencoba mengambil kembali tubuh yang pernah menjadi miliknya.

“Bai,” katanya dengan suara serak.

“Apa?”

“Bagaimana caranya menghentikan proses ini?”

Bai menatap tulisan di dinding.

Untuk pertama kalinya sejak Gu Chen mengenalnya, lelaki itu tampak benar-benar tidak memiliki jawaban.

“Aku tidak tahu.”

Gu Chen menoleh kepada lelaki tua itu.

“Kalau begitu, kau pasti tahu.”

Lelaki tua tersebut menggeleng.

“Aku hanya tahu satu cara untuk memperlambatnya.”

“Apa?”

“Kau harus menemukan ayahmu yang sebenarnya.”

Gu Chen mengerutkan kening.

“Bukankah Gu Yuan ada di kota ini?”

“Yang ada di menara ini hanyalah ingatannya. Tubuhnya berada di tempat lain.”

“Di mana?”

Lelaki tua itu menatap ke arah utara, seolah dapat melihat melewati dinding dan pegunungan yang memisahkan mereka dari dunia luar.

“Di tempat kelahiran Papan Kesepuluh.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Dan untuk mencapai tempat itu, kau harus terlebih dahulu menemukan orang yang membunuhmu dalam kehidupan pertamamu.”

Gu Chen menatapnya.

“Bukankah kau baru saja mengatakan bahwa aku membunuh seseorang?”

“Aku mengatakan bahwa kalian saling membunuh.”

Lelaki tua itu tersenyum tipis.

“Namun, ada satu hal yang belum kau ketahui. Dalam kehidupan pertamamu, kau tidak pernah mati karena pedang.”

Ia menunjuk dada Gu Chen.

“Kau mati karena seseorang mencabut namamu dari dunia.”

Gu Chen menunduk menatap dadanya.

Tidak ada luka di sana.

Tetapi untuk sesaat, ia merasakan ruang kosong yang sangat dalam di balik tulang rusuknya, seolah sesuatu pernah tinggal di sana dan kemudian diambil paksa.

Lelaki tua itu berbalik menuju tangga.

“Ketika kau menemukan orang itu, tanyakan kepadanya mengapa ia membiarkanmu hidup kembali.”

Gu Chen segera melangkah maju.

“Tunggu! Aku belum tahu namamu!”

Lelaki tua itu berhenti, tetapi tidak menoleh.

“Jika kau benar-benar ingin mengetahui namaku, lihat gelang yang kau bawa.”

Gu Chen menatap kedua gelang kayu di tangannya.

Sembilan garis.

Sembilan garis dengan lingkaran kosong.

Ia membalik gelang kedua.

Pada bagian dalamnya, terdapat sebuah tulisan kecil yang sebelumnya tidak terlihat.

PEMILIK: GU YUAN.

Di bawahnya terdapat nama lain, ditulis dengan tinta merah yang hampir memudar.

PENJAGA TERAKHIR: BAI.

Gu Chen perlahan mengangkat kepala.

“Bai?”

Namun, lelaki tua itu sudah menghilang.

Bai yang berdiri di sampingnya menatap gelang tersebut dengan wajah pucat.

“Tidak mungkin,” bisiknya.

Gu Chen menoleh.

“Apa?”

Bai menatapnya, lalu memandang tempat lelaki tua itu berdiri tadi.

“Nama itu milikku.”

“Bukankah kau mengatakan bahwa kau tidak tahu siapa dirimu sebelum menjadi penjaga Arsip Kesepuluh?”

“Aku memang tidak tahu.”

Bai menggenggam tangannya sendiri.

“Tetapi sekarang aku mengerti satu hal.”

“Apa?”

Bai mengangkat wajah.

“Orang yang baru saja kita temui bukanlah orang asing.”

Ia menelan ludah.

“Dia adalah diriku sebelum aku dihapus dari sejarah.”

Jauh di balik batas Kota Wuming, sembilan sosok tanpa wajah duduk mengelilingi sebuah papan hitam.

Salah satu sosok mengangkat kepala.

“Identitas pertama mulai bergerak.”

Sosok lainnya mengetukkan jarinya ke meja.

“Kalau begitu, kita harus menghapus bidak yang sekarang.”

Namun, sebelum ia sempat menggerakkan tangan, seluruh papan mendadak retak.

Dari bawah papan terdengar suara seseorang tertawa.

Suara yang tidak asing bagi mereka.

Suara yang telah lama mereka coba hapus.

“Sudah kubilang,” kata suara itu. “Kalian seharusnya tidak membiarkanku hidup.”

Kemudian sebuah tulisan muncul di atas papan.

\[PEMAIN PERTAMA TELAH MENOLAK OTORITAS PARA PEMAIN.\]

\[SEMUA PERINTAH PENGHAPUSAN DITANGGUHKAN.\]

\[STATUS PERMAINAN: TIDAK LAGI TERKENDALI.\]

Dan di sudut papan, sebuah bidak baru muncul.

Bidak itu tidak berwarna hitam maupun putih.

Warnanya menyerupai darah yang telah mengering.

Pada permukaannya terukir dua nama.

GU CHEN.

GU YUAN.

Keduanya berada pada satu bidak yang sama.

Bersambung ke Bab 19 — Satu Bidak, Dua Jiwa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!