Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Terjebak Hujan Di Timbangan
Hari kedua kerja di lapangan, jam dua siang, langit mendadak gelap.
Padahal pagi tadi cerah banget, Nadia sampai pakai topi sesuai pesan Arif kemarin, rambut kuda nya dimasukin ke dalam topi.
Arif lihat dari jendela ruang timbangan lapangan.
"Wah, mau hujan deras ini. Tutup buku timbangan dulu, nanti basah," kata Arif.
Nadia cepat tutup buku timbangan yang baru ia tulis, masukin ke dalam plastik.
Belum sampai lima menit, hujan turun. Bukan hujan biasa, hujan deras sekali, plus angin kencang.
Atap ruang timbangan lapangan yang sudah tua, langsung bocor di tiga titik. Air netes-netes ke meja, ke lantai.
"Ya ampun, bocor," kata Nadia, panik, geser buku-buku biar gak kena air.
Arif ambil ember kecil, taruh di bawah bocoran yang paling deras.
"Ruangan ini emang bocor kalau hujan deras. Sudah lapor tiga kali, belum dibenerin," kata Arif.
Hujan makin deras, angin makin kencang, listrik mati. Kipas angin besar berhenti, ruangan jadi gelap dan panas, hanya cahaya dari luar yang redup.
Pintu ruang timbangan lapangan yang dari seng, ketutup angin keras, gak bisa dibuka dari dalam, macet lagi, kayak pintu gudang arsip kemarin.
Nadia coba dorong pintu, gak bisa.
"Macet lagi," kata Nadia, lihat Arif, ingat kejadian gudang arsip.
Arif coba dorong juga, pakai tenaga, pintu tetap gak bisa. Kunci seng nya bengkok kena angin.
"Ya, macet lagi. Kita kejebak lagi," kata Arif, ketawa kecil, coba bikin Nadia gak takut.
Nadia juga ketawa kecil, padahal hatinya deg-degan.
"Dua kali kejebak, di tempat yang bocor terus," kata Nadia.
Mereka berdua duduk di kursi yang masih kering, di pojok ruangan, dekat jendela kecil. Dari jendela, kelihatan hujan deras di luar, pohon sawit goyang-goyang kena angin.
Suara hujan keras di atap seng, berisik banget, jadi harus ngomong agak keras biar kedengaran.
"Kamu takut?" tanya Arif.
Nadia geleng, rambut kuda nya keluar dari topi karena topinya dilepas, basah kena air bocoran.
"Gak. Dulu waktu di gudang arsip takut, karena gelap dan sepi. Sekarang gak takut, karena ada kamu. Dan terang, masih siang," jawab Nadia, tatap mata Arif langsung, gak tunduk lagi.
Arif senang dengar jawaban itu.
"Bagus. Berarti kamu udah berani," kata Arif.
Mereka diam sebentar, dengerin hujan.
Nadia lihat baju Arif basah kena bocoran.
"Baju kamu basah," kata Nadia.
Arif lihat bajunya, memang basah di bahu.
"Gak apa-apa, nanti kering sendiri. Baju kamu juga basah di ujung rambut," kata Arif, lihat ujung rambut kuda Nadia yang basah netes air.
Nadia pegang rambut kuda nya, peras airnya.
"Iya, bocornya pas di atas aku tadi," kata Nadia.
Arif ambil handuk kecil dari tasnya, handuk yang biasa buat lap keringat di lapangan.
"Pakai ini, lap rambut kamu," kata Arif, kasih handuk itu.
Nadia terima, lap ujung rambut kuda nya. Handuk itu wangi, wangi sabun Arif.
"Wangi," kata Nadia pelan.
"Wangi apa?" tanya Arif.
"Wangi kamu," jawab Nadia, pipinya merah, langsung tunduk, malu ngomong gitu.
Arif juga kaget, pipinya merah.
"Oh," kata Arif, gak tahu mau jawab apa, jadi diam, senyum-senyum sendiri.
Hujan masih deras, tidak berhenti, malah makin deras. Air di lantai sudah agak banyak.
Nadia kedinginan, karena bajunya agak basah dan kipas mati jadi lembab.
Arif lihat Nadia peluk diri sendiri kedinginan.
"Kamu kedinginan ya? Sini, dekat sini, agak hangat," kata Arif, geser kursinya agak dekat ke Nadia, tapi tetap jaga jarak satu meter, takut nanti difoto lagi.
Nadia geser kursinya juga, dekat ke Arif, sekarang jarak cuma setengah meter.
"Gak apa-apa difoto lagi?" tanya Nadia, ingat trauma foto gudang arsip yang bikin satu pabrik heboh.
Arif senyum.
"Gak apa-apa. Kalau difoto lagi, biarin. Kan kita cuma kejebak hujan, bukan ngapa-ngapain. Kemarin aja kita berani bilang yang sebenarnya di depan meeting masa sekarang takut lagi?" jawab Arif.
Nadia mengangguk, berani.
"Iya, bener. Aku gak takut lagi difoto," kata Nadia.
Jam tiga lewat dua puluh, hujan agak reda, angin berhenti, pintu seng bisa didorong lagi, gak macet.
Arif dorong pintu, bisa kebuka.
"Bisa kebuka sekarang," kata Arif.
Nadia berdiri, mau keluar, tapi lihat lantai becek, licin.
"Hati-hati licin," kata Arif, ulurkan tangan, mau bantu Nadia jalan.
Nadia lihat tangan Arif, ragu sebentar, ingat kalau pegang tangan nanti jadi gosip lagi, tapi akhirnya ia pegang tangan Arif sebentar, buat tahanan biar gak jatuh.
Tangan Nadia dingin, tangan Arif hangat.
Mereka pegangan cuma dua detik, lalu lepas, jalan keluar dari ruangan yang bocor itu.
Di luar, hujan sudah jadi rintik, udara segar, bau tanah basah.
Nadia lepas topinya, rambut kuda nya basah, tapi ia ketawa, senang bisa keluar.
"Akhirnya keluar," kata Nadia.
"Ya, kejebak kedua kalinya, selamat," kata Arif, ikut ketawa.
Mereka jalan bareng ke kantor utama, mau lapor ke Pak Hendra kalau ruang timbangan lapangan bocor dan pintu macet lagi.
Di jalan, ketemu Mbak Sari yang lagi bawa payung dari gudang umum.
Mbak Sari lihat mereka berdua basah-basahan, jalan bareng dari arah lapangan, mau foto lagi, tapi ingat kemarin dimarahin Arif di meeting jadi gak jadi foto, cuma senyum.
"Nadia dan Pak Arif, hujan-hujanan ya?" sapa Mbak Sari, ramah, beda sama kemarin-kemarin yang ketus.
"Iya Mbak, kejebak hujan di timbangan, atap bocor," jawab Nadia, senyum balik.
Mbak Sari angguk, jalan duluan.
Nadia lihat Mbak Sari sudah ramah lagi, senang.
"Lihat, Mbak Sari udah gak jutek lagi," bisik Nadia ke Arif.
"Iya, karena kamu udah berani," bisik Arif balik.
Sampai di kantor utama, mereka lapor ke Pak Hendra.
Pak Hendra janji besok akan benerin atap dan pintu ruang timbangan lapangan.
Sore jam lima, mereka pulang ke mess masing-masing, masih pakai baju agak basah.
Di mess putri, Nadia tulis lagi di buku catatannya: "Hari kedua di lapangan, kejebak hujan lagi, pintu macet lagi, tapi kali ini aku gak takut. Ada Arif. Pegang tangan dua detik. Wangi handuknya."
Di mess putra, Arif tulis di notes HP: "Kejebak hujan kedua kalinya sama Nadia. Di ruangan bocor yang sama. Tapi kali ini dia panggil aku Arif, pegang tangan aku, bilang wangi. Dia sudah gak takut lagi."
Dua kali kejebak, dua kali pintu macet, tapi yang kedua rasanya beda, karena yang kejebak sudah bukan dua orang yang takut difoto, tapi dua orang yang sudah berani kalau difoto lagi.
Dan besok, Pak Hendra akan suruh mereka lembur berduaan di lapangan sampai jam delapan malam, karena harus kejar laporan bulanan.
Bersambung
---