Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Suasana di dalam ruangan VVIP itu mendadak membeku.
Christian perlahan melonggarkan rengkuhannya, namun tangannya masih siaga menahan lengan Bella agar gadis itu tidak kembali kehilangan keseimbangan. Dengan wibawa yang tenang namun penuh otoritas, Christian menegakkan tubuhnya, menatap keponakannya yang berdiri kaku di ambang pintu dengan sorot mata tajam menyelidik.
Bella terkesiap. Wajahnya merona merah padam, buru-buru ia mundur selangkah dan merapikan bajunya dengan tangan gemetar. "K-Kak Nathan...?" gumamnya lirih, merasa canggung dan bingung melihat kemunculan kakaknya yang tiba-tiba di larut malam seperti ini.
Nathan tidak langsung menjawab. Matanya bergantian menatap Christian dan Bella dengan tatapan kosong. Pikirannya yang sejak dari rumah sudah kacau balau akibat rahasia busuk sang ayah kini semakin dihantam kebingungan melihat keintiman di antara paman dan adiknya. Ada kilatan posesif yang tidak biasa dari cara Christian memandang Bella, sesuatu yang baru disadari Nathan malam ini.
"Kenapa kamu ada di sini jam segini, Nathan?" tanya Christian dingin, memecah keheningan yang menyesakkan. Suara bariton pria itu terdengar datar namun menyiratkan ketidaksukaan atas kehadiran yang merusak momen tersebut.
Nathan mengerjap, berusaha mengumpulkan kesadarannya dan menepis segala kekacauan di kepalanya. Ia menelan ludah susah payah, lalu memaksakan seulas senyum kaku yang terlihat sangat mengenaskan.
"Aku... aku cuma mau lihat keadaan Bella, Om," jawab Nathan dengan suara serak, menghindari tatapan mengintimidasi pamannya. Ia melangkah masuk pelan-pelan, matanya menatap Bella yang masih berdiri menunduk di samping ranjang. "Bella... gimana keadaanmu? Udah enakan?"
Bella menatap kakaknya dengan sebelah alis terangkat, merasa heran dengan perubahan sikap Nathan yang tidak biasa. Biasanya, pemuda itu akan datang dengan omelan ketus atau ekspresi dingin. Namun malam ini, mata Nathan terlihat merah, sembab, dan dipenuhi oleh kelelahan batin yang luar biasa.
"U-sudah mendingan, Kak..." jawab Bella ragu-ragu. Ia menatap Nathan lekat-lekat. "Kak Nathan sendiri kenapa? Mata Kakak... merah banget. Kakak habis nangis?"
Mendengar pertanyaan polos itu, dada Nathan terasa dihantam palu godam. Bayangan kata-kata ayahnya kembali berputar di kepalanya—bagaimana ayahnya dengan kejam memanfaatkan ayah kandung Bella, bagaimana keluarganya hidup di atas penderitaan orang lain, dan bagaimana ia sendiri selama ini menjadi algojo yang menyiksa adiknya.
Nathan menggigit bibirnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah, berusaha keras menahan isak tangis yang mendesak hendak keluar. Ia menggeleng pelan. "Mana mungkin aku nangis... aku nggak apa-apa. Tadi kelilipan debu di jalan waktu nyetir."
Christian menyipitkan matanya, mengamati setiap gerak-gerik mencurigakan dari keponakannya. Sebagai seorang dokter dan pria yang sangat jeli, Christian tahu persis kapan seseorang sedang berbohong atau menutupi luka batin yang berat.
"Kalau kamu hanya datang untuk melontarkan omong kosong dan menunjukkan wajah berantakanmu di sini, lebih baik kamu pulang, Nathan," ujar Christian tanpa basa-basi, berdiri melindungi sedikit ruang di depan Bella. "Arabella butuh istirahat."
Biasanya, Nathan akan langsung tersulut emosinya dan mendebat perkataan sang paman habis-habisan. Namun malam ini, Nathan hanya diam terpaku. Harga diri dan egonya seolah runtuh tak bersisa. Ia menatap Bella dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah yang teramat pekat—sebuah tatapan penuh permohonan maaf yang tidak sanggup ia ucapkan lewat kata-kata.
"Om benar..." cicit Nathan lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku cuma mau pastikan dia baik-baik saja... Aku bakal pulang sekarang."
Bella tertegun. Ia semakin merasa ada sesuatu yang sangat aneh dengan kakaknya malam ini. Belum sempat Bella membuka mulut untuk menahan atau bertanya lebih jauh, Nathan sudah memutar tubuhnya dan melangkah pergi dengan tergesa-gesa, seolah lari dari rasa bersalah yang terus mengejarnya.
Klek.
Pintu kembali tertutup rapat.
Keheningan malam kembali menyelimuti ruang rawat tersebut. Christian menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah Bella yang masih menatap ke arah pintu dengan kening berkerut bingung.
"Jangan dipikirkan," ucap Christian lembut, meraih tangan Bella dan menuntunnya kembali ke atas ranjang. "Istirahatlah. Kakakmu itu sedang ada banyak beban pikiran di rumah."
Bella menurut dalam diam, membiarkan tubuhnya berbaring di atas ranjang. Namun pikirannya dipenuhi tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam keluarga Allegra di luar sana.
*
Sementara itu di dalam mobilnya yang terparkir di basement rumah sakit, Nathan memukul setir mobil dengan kedua tangannya berkali-kali, meluapkan rasa frustrasi, benci, dan hancur berkeping-keping dalam kesendiriannya yang pekat.
Suara hantaman tangan Nathan pada setir mobil di lantai basement rumah sakit yang sunyi itu memantul pelan, menyuarakan frustrasi hebat yang menyesakkan dadanya. Pemuda itu menyandarkan keningnya pada setir kemudi, membiarkan napasnya terengah-engah di tengah kabin mobil yang gelap.
Pikirannya tiba-tiba terbayang pada pemandangan beberapa menit lalu—bagaimana paman mereka, Christian Gerald, berdiri terlalu dekat dengan Bella, dan bagaimana cara pria paruh baya itu menatap serta mendekap adiknya dengan gestur protektif yang begitu intens.
Kening Nathan berkerut dalam di balik kegelapan kabin. Kecurigaan aneh tiba-tiba melintas di kepalanya. Tunggu... Kenapa Om Christian terlihat begitu peduli pada Bella? Kenapa gerak-geriknya rasanya lebih dari sekadar seorang paman kepada keponakannya?
Bayangan saat Christian mengejar Bella di tengah malam, bagaimana pria itu memarahi orang tuanya karena perlakuannya pada Bella, hingga tatapan tajam dan posesif yang dilemparkan sang paman padanya tadi malam, berputar cepat di kepala Nathan. Sebuah pikiran gila sempat mendesak naik: Jangan-jangan... Om Christian punya perasaan lebih ke Bella?
Namun, sedetik kemudian, Nathan langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menepis asumsi liar tersebut dengan cibiran sinis pada dirinya sendiri.
Gila ya kamu, Nathan? Mana mungkin! batinnya merutuk. Om Christian itu usianya dua puluh dua tahun lebih tua dari Bella. Pria matang berwibawa sekelas dia, yang statusnya paman kita sendiri, nggak mungkin punya perasaan murahan kayak gitu. Dan lagi... Bella? Gadis bodoh dan kekanak-kanakan itu? Mana mungkin dia tertarik sama om-om seumur Om Christian?
Nathan mengembuskan napas panjang, mencoba menyingkirkan kecurigaan tak masuk akal itu dari benaknya. Masalah yang harus dihadapinya saat ini sudah terlampau rumit dan menghancurkan kewarasannya—kebohongan sang ayah, pengorbanan ayah kandung Bella, dan rasa bersalahnya yang teramat pekat pada adiknya sendiri. Tidak ada ruang lagi di kepalanya untuk memikirkan spekulasi konyol tentang hubungan terlarang antara Bella dan pamannya.
"Sialan..." gumam Nathan lemah, menyeka sisa air mata di pipinya, lalu menyalakan mesin mobil untuk segera meninggalkan rumah sakit.
*
Sementara itu, di dalam kamar rawat VVIP, keheningan malam kembali merajut jarak di antara Christian dan Bella. Setelah kepergian Nathan yang terburu-buru, Christian meminta Bella kembali berbaring di atas ranjang untuk melanjutkan istirahatnya.
Pria itu berdiri di sisi ranjang, merapikan selimut yang menutupi tubuh Bella hingga sebatas dada dengan gerakan yang sangat telaten.
"Tidurlah, Arabella," bisik Christian lembut, jemarinya tanpa sadar merapikan helaian rambut hitam Bella yang sedikit menutupi dahi. Sentuhan itu terasa begitu hangat, membuat Bella terpaku menatap manik mata cokelat gelap sang paman yang memancarkan keteduhan luar biasa.
"Om..." panggil Bella lirih, suaranya terdengar ragu-ragu. "Apa Kak Nathan baik-baik saja? Aku lihat dia tadi... seperti sedang menahan tangis."
Christian terdiam sejenak. Sebagai seorang pengamat yang tajam, ia pun menyadari ada hal besar yang sedang disembunyikan oleh keponakannya itu. Namun, ia tidak ingin membuat Bella semakin terbebani pikiran di tengah pemulihannya.
"Dia hanya sedang menghadapi tekanan berat di rumah dan kampusnya," jawab Christian tenang, menyembunyikan analisis aslinya. "Jangan khawatirkan dia. Fokuslah pada penyembuhanmu sendiri."
Bella mengangguk pelan, kepatuhan terpancar jelas dari manik matanya. Ia merasa jauh lebih tenang sekarang, terutama setelah mengetahui bahwa bayang-bayang kelam skandal dan ancaman Vero telah disingkirkan oleh pria yang berdiri di hadapannya ini.
"Terima kasih, Om..." ucap Bella tulus, matanya mengerjap perlahan melawan rasa kantuk yang mulai menyerang akibat pengaruh obat. "Terima kasih karena selalu ada buat Bella..."
Christian tersenyum tipis—sebuah senyuman hangat yang hanya ia tunjukkan khusus untuk gadis itu. "Sudah kewajibanku, Arabella. Sekarang, pejamkan matamu."
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang