Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Keesokan harinya, Jingga baru saja menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit ketika beberapa mobil berhenti di dekat pintu keluar. Ia terkejut melihat Rangga turun bersama ayahnya, dan beberapa orang keluarga besar Cendana.
Jingga menghela napas panjang. Ia baru ingin pulang, tetapi keluarga Cendana rupanya datang membawa urusan lain.
“Kamu puas sekarang?” Rangga langsung membentak.
Jingga mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Jangan berpura-pura bodoh! Berita perselingkuhan itu sudah menghancurkan reputasi keluarga kami. Saham perusahaan ikut goyah, dan kamu masih berani berdiri di sini seolah tidak terjadi apa-apa?”
Jingga menatap mantan suaminya itu dengan dingin. “Aku tidak tahu siapa yang menyebarkan berita itu. Jangan datang ke tempat kerjaku untuk menuduhku.”
“Siapa lagi kalau bukan kau?” sergah salah seorang paman. “Kamu punya bukti, kamu punya alasan untuk membenci Rangga, dan kamu baru saja bercerai!”
“Kalau kalian punya bukti, tunjukkan. Kalau tidak, berhentilah menuduhku!”
Seorang bibi mencibir. “Setelah hidup nyaman sebagai istri Rangga, sekarang kamu ingin menghancurkan keluarga yang pernah menerimamu!”
Jingga tertawa hambar. “Hidup nyaman? Kalian bahkan tidak tahu bagaimana aku diperlakukan di rumah itu. Jangan berbicara seolah kalian pernah peduli pada penderitaanku.”
“Jaga ucapanmu!” bentak Rangga sambil melangkah mendekat.
“Jangan mengancamku lagi, Rangga! Sekarang aku bukan istrimu.”
“Kamu memang sudah bukan istriku, tetapi kamu tidak berhak mempermalukan keluargaku!”
“Lalu kamu berhak mempermalukanku selama bertahun-tahun?” Jingga menatapnya tanpa gentar. “Kamu berselingkuh, Rangga. Kamu menyakitiku. Sekarang kamu marah karena orang lain mengetahui perbuatanmu sendiri. Betapa mudahnya kamu menyalahkan semua orang kecuali dirimu!”
Wajah Rangga memerah. Ia hendak membalas, tetapi ayahnya menahan lengannya.
“Cukup! Jangan membuat keributan lebih besar!” Ujar Tuan Arman.
Namun, seorang sepupu perempuan justru menunjuk Jingga. “Kalau memang bukan kamu, buktikan! Berikan semua rekaman yang kamu punya kepada kami!”
“Rekaman itu adalah bukti yang melindungiku dari kebohongan kalian. Aku tidak berkewajiban menyerahkannya hanya karena kalian memerintahku.”
“Dasar tidak tahu diri!” seru bibi Rangga.
Jingga hendak melewati mereka, tetapi Rangga kembali menghalangi jalannya.
“Kamu tidak akan pergi sebelum mengakui apa yang sudah kamu lakukan!”
“Pak Rangga, cukup!“
Suara tegas terdengar dari pintu utama. Seorang pria berjas rapi berjalan mendekat bersama petugas keamanan. Tatapannya menyapu keluarga Cendana sebelum berhenti pada Jingga yang dikepung.
Pria itu adalah Samudera. Sebagai penerus keluarga pemilik rumah sakit, kehadirannya cukup dikenal oleh jajaran manajemen dan para staf.
“Dokter Samudera,” lirih Jingga. Entah mengapa, kehadiran pria itu menghadirkan kelegaan yang tak mampu ia sembunyikan.
Di sisi lain, mata Rangga seketika menyipit tajam. Rahangnya mengeras saat mendengar Jingga menyebut nama Samudera dengan nada yang terdengar begitu lega.
“Ini lingkungan rumah sakit, bukan tempat untuk mengintimidasi staf kami!“ Ujar Samudera tegas.
Rangga mendengus. “Ini urusan keluarga! Jangan ikut campur.”
Samudera berdiri di antara Rangga dan Jingga. “Ketika Anda mengepung dan membentak seorang staf di lingkungan rumah sakit milik keluarga saya, ini sudah menjadi urusan kami. Silakan selesaikan persoalan Anda melalui jalur yang semestinya.”
“Kamu tahu siapa keluarga kami?” tantang seorang paman.
Samudera menatap paman Rangga tanpa gentar. “Saya tahu, kalian dari keluarga Cendana. Namun, nama besar keluarga Cendana tidak memberi siapa pun hak untuk merendahkan orang lain. Saya tidak akan membiarkan rumah sakit ini dijadikan tempat untuk mengintimidasi karyawan.”
Ia memberi isyarat kepada petugas keamanan. “Pastikan mereka tidak menghalangi jalan keluar.”
Keluarga Cendana terdiam. Mereka menyadari bahwa Samudera bukan sekadar dokter atau pegawai rumah sakit, melainkan putra pemilik institusi tempat mereka berdiri. Membuat keributan lebih jauh hanya akan mempermalukan diri mereka sendiri.
Jingga menatap Rangga untuk terakhir kali. “Aku tidak menyebarkan berita itu. Kalau kamu begitu yakin aku pelakunya, cari bukti. Jangan terus menjadikan aku sasaran setiap kali hidupmu berantakan.”
Wanita itu kemudian berjalan meninggalkan gerbang bersama Samudera.
“Terima kasih sudah membantu,” ucap Jingga setelah mereka menjauh.
Samudera mengangguk. “Kamu bekerja di rumah sakit ini. Selama mereka mengganggumu di lingkungan kami, kamu berhak mendapatkan perlindungan. Kalau mereka kembali, segera beri tahu pihak keamanan.”
Jingga menghela napas lega. “Saya akan mengurusnya, Dok.”
Di belakang mereka, Rangga masih berdiri dengan wajah penuh amarah. Ia menatap Jingga yang berjalan berdampingan dengan Samudera. Rahangnya mengeras ketika melihat pria itu melindungi Jingga tanpa sedikit pun gentar menghadapi keluarga Cendana.
Siapa sebenarnya Samudera bagi Jingga?
Rangga kini tahu pria itu adalah putra pemilik rumah sakit, tetapi ia tidak pernah menyangka Samudera akan turun tangan secara langsung hanya demi membela mantan istrinya.
Apakah mereka sudah saling mengenal sejak lama? Atau jangan-jangan, selama ini ada sesuatu di antara mereka yang tidak pernah diketahuinya?
Tatapan Rangga mengikuti Jingga hingga perempuan itu menghilang di balik pintu.
“Jangan-jangan ...” gumamnya, mengepalkan tangan. “Kamu sudah punya pria lain, Jingga?”
Dadanya terasa panas oleh amarah yang sulit dijelaskan. Ia sendiri telah mengkhianati Jingga, tetapi melihat mantan istrinya mendapat perlindungan dari pria lain justru membangkitkan kecemburuan yang tak ingin diakuinya.
Rangga mengeluarkan ponselnya, menatap layar beberapa saat sebelum menghubungi seseorang.
“Aku ingin kamu mencari tahu tentang Samudera,” perintahnya dingin ketika panggilan tersambung. “Cari tahu sedekat apa dia dengan Jingga. Aku ingin tahu hubungan mereka yang sebenarnya.”
Ia memutus panggilan dengan tatapan menggelap.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu