Sarah Vleryn menghindari makan malam perjodohan karena ia tidak tahu dengan siapa akan dijodohkan.
Tapi ternyata, pria yang di jodohkan dengan nya mengejarnya di luar resto tempat keluarga mereka bertemu.
"Sarah Vleryn! Berhenti disana." Rovano, pria tinggi dan tampan itu mendekat.
"Kau salah orang," ucap Sarah cepat.
"Aku tahu kau gadis yang harusnya di jodohkan denganku, tapi kau beralasan sedang sakit!" Ucap Rovano.
Tatapan tajam pria itu membuat Sarah terdiam, ia menelan ludahnya dengan berat. Ia tidak bisa menyangkal karena ucapan Rovano benar.
"Menikahlah denganku selama tiga tahun, lalu setelah itu kita bisa bercerai," lanjut Rovano.
Sarah tergelak, ia tidak mengira pria ini akan menawarkan pernikahan kontrak padanya.
"Apa kau bilang?"
"Aku, Rovano Jovian menawarkan pernikahan kontrak pada mu Sarah Vleryn." Ulang Rovano.
"Tunggu, Jovian? Kau... adik Ryan Jovian, Mantan kekasih ku?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmJiyeon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bakar?
Rovano pulang malam ini dan membiarkan Dion serta karyawannya yang lain untuk menginterogasi Alaric, ia tidak mau membuang tenaganya yang berharga. Menggertak Ryan seperti itu sudah cukup baginya, sekarang yang ada di pikirannya adalah ia harus bertemu dengan Sarah.
Gadis itu pasti sedang membutuhkan kehadirannya, Rovano tidak mau Sarah merasa sedih seperti malam itu. Apalagi tidak ada dirinya di sampingnya, itu terasa sangat memuakkan, seakan dirinya tidak becus sebagai seorang pasangan.
Perjalanan menggunakan pesawat akan memakan waktu sekitar lima jam, kemungkinan Rovano tiba di bandara sekitar jam dua belas malam dan tiba di kediaman Sarah sekitar jam satu malam, mungkin Nico akan memarahinya karena ia berkunjung selarut itu tapi ini demi Sarah.
...•••••••...
Sarah mengendarai mobilnya sendirian menuju rumah barunya bersama Rovano, ia muak diam terus di rumahnya, lagi pula ayah dan ibunya juga tidak pulang hari ini, maka Sarah sendirian di rumah.
Maka tidak ada bedanya Sarah di rumah orang tuanya sendirian, maupun di rumah barunya.
Mungkin dengan begini juga ia tidak akan bertemu Ryan besok jika pria itu berulah lagi dan datang kembali ke rumahnya. Sarah menyesal tidak melakukan hal ini sejak kemarin.
Rovano, aku tidur di rumah kita.
Sarah mengirimi Rovano pesan, walaupun mungkin Rovano sedang sibuk atau mungkin pria itu sudah tidur karena ini sudah jam sepuluh malam. Setidaknya, Sarah sudah mengabari calon suaminya yang sangat sempurna itu.
Begitu sampai, Sarah segera merapikan sebagian rumah terutama kamar yang sudah di tinggal beberapa hari. Gadis itu juga menata beberapa barang yang ia bawa, toh nantinya ia akan tinggal di sini.
Begitu membuka laci paling bawah lemari kecil yang ada di samping ranjang, Sarah menemukan amplop coklat.
Ia membukanya, lalu tertegun melihat kontrak pernikahan yang ia buat dengan Rovano kala itu.
Sarah kemudian duduk di pinggir ranjang, menatap wajahnya yang terpantul pada cermin, tanpa sadar ia menyimpan barang-barangnya di kamar Rovano.
Padahal dalam kontrak tercantum dengan jelas, jika ia dan Rovano sudah sepakat untuk tidur di kamar yang terpisah ketika menikah.
Gadis itu menghela napasnya, ia membaca baris tulisan tangan Rovano yang mengatakan 'Jika Sarah Vleryn jatuh cinta pada Rovano Jovian, maka perceraian akan batal.'
Sarah tidak sadar kalau tindakannya selama ini sudah mengarah pada cinta, apakah ini artinya ia tidak akan bercerai dengan Rovano setelah menikah? Apakah mereka akan melakukan pernikahan yang bahagia?
Sebenarnya apa yang Sarah lakukan sekarang? Apa dia sungguh sudah jatuh cinta sedalam itu pada Rovano?
Sarah segera menyimpan kembali kertas kontrak itu pada tempatnya, ia segera tidur karena pikirannya berisik, memikirkan banyak hal yang membuatnya lelah seharian ini.
Setelah beberapa jam ia terlelap, pintu kamar tiba-tiba terbuka namun Sarah sudah nyenyak dalam tidurnya dan suara itu tidak terlalu mengganggunya.
Ternyata itu Rovano, pria itu sudah kembali, ia segera membersihkan dirinya lalu berganti pakaian, sepertinya besok Rovano akan mengambil libur satu hari.
Rovano memperhatikan ada beberapa hal yang berbeda di dalam kamarnya, pernak-pernik Sarah semakin banyak dan juga gadis itu menyimpan satu koper lagi yang sepertinya belum sempat terbuka.
Pria itu tersenyum, usaha nya kali ini tidak akan sia-sia, ia akan meyakinkan Sarah agar gadis itu jatuh cinta padanya.
Pria itu naik ke atas kasur, ia mencium kening Sarah lalu merapikan anak rambut gadis itu, kemudian berbaring di sampingnya sambil memeluknya. Tanpa di sangka, Sarah berpindah posisi, berbalik padanya dan memeluk Rovano erat.
Loh, bukankah dia sudah tidur? Dia tau aku datang? Pikir Rovano.
Sarah yang semula tidur lelap seketika merasa ada yang aneh, ia pikir dirinya sedang memeluk boneka yang ia bawa tapi sejak kapan boneka nya berubah bentuk?
Lalu terasa agak keras dan seperti otot? Kemudian ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di dekat perutnya, apa ini? Rasanya aneh, kenapa sedikit kenyal dan sepertinya bentuknya...
Sarah seketika membuka matanya, ia terkejut mendapati Rovano sedang memeluknya sambil memperhatikannya.
Sarah yang terkejut seketika mendorong Rovano untuk menjauh sedikit sementara pria itu hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah Sarah yang sepertinya terkejut karena gadis itu menyentuh sesuatu di bagian bawah tubuh Rovano.
"Aku bermimpi?!" Sarah berseru panik, "Astaga, sejak kapan boneka ku menjadi Rovano?!"
Rovano tertawa lepas, ia kemudian segera menarik Sarah kembali untuk memeluknya, ia mengusap punggung gadis itu yang masih mencerna apa yang baru saja terjadi padanya.
"Tidak, kau tidak bermimpi sayang, ini aku, Rovano," bisik Rovano, "aku pulang lebih cepat."
Sarah memeluknya erat kemudian Rovano merasakan dadanya basah, Sarah menangis di sana. Pria itu menghela napasnya sambil menenangkan Sarah, membiarkan gadis itu puas menangis.
Keheningan malam menjadi saksi, bahwa Rovano sedang menjadi pasangan yang sempurna untuk Sarah.
"Kau tidak bilang akan pulang malam ini, a-aku benar-benar lelah hari ini dengan perlakuan kakakmu, dia terus menggangguku hingga aku menodongnya dengan sebuah garpu," ucap Sarah sedikit sesenggukan setelah tangisnya selesai.
Rovano mengusap air mata yang tersisa pada kedua pipi Sarah, "aku akan memberinya pelajaran, dia sudah keterlaluan mengusikmu, hn? Sekarang sudah ya, jangan menangis lagi Sarah."
Sarah mengangguk, "lalu aku merindukanmu, kau mengabaikan beberapa pesanku juga itu membuatku kesal," ucapnya kemudian, sedikit malu-malu.
"Hn? kau apa?" tanya Rovano dengan nada yang sedikit menggoda.
Sarah kemudian sadar akan sesuatu, gadis itu merasa jadi tsundere sekarang, ia sedikit malu untuk mengatakannya namun Rovano masih menunggu jawabannya.
"A-aku merindukanmu," ucap Sarah pelan.
"Hn, aku juga," sahut Rovano, kemudian pria itu mengusap pelan puncak kepala Sarah dan mengeratkan pelukannya pada gadis itu.
Saat ini hubungan mereka sudah lebih dari cukup, lebih dari sempurna, tidak ada sedikitpun tindakan yang palsu.
Rovano tau itu, Sarah melakukan semuanya sesuai dengan isi hati gadis itu sendiri. Tidak ada pura-pura seperti kesepakatan awal mereka, keduanya sudah sama-sama terjatuh dalam kata cinta.
"Besok aku akan membakar kontraknya ya, anggap saja kontrak itu tidak pernah ada," ucap Rovano.
Sarah seketika tertawa lepas, gadis itu langsung mengingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Rovano.
Ketika salju pertama turun dengan lebat dan Sarah menyangka Rovano itu gelandangan, kemudian dengan polosnya Rovano menawarkan pernikahan kontrak padanya yang berakhir dengan akting mereka yang patut di acungi jempol.
Namun sekarang, mereka berdua sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan masing-masing, Sarah pun tidak menyangkal isi hatinya seperti sebelumnya.
Ternyata ia memang sudah jatuh cinta pada Rovano yang terus menerus memperlakukannya dengan sikap tulus, hatinya telah luluh sepenuhnya.
"Aku masih tidak menyangka, dua manusia arogan ini bisa saling mencintai pada akhirnya dalam waktu yang sangat cepat," ucap Sarah.
Rovano mendengus kesal, "itu semua karena kau begitu menggoda."
Sarah langsung mengecup bibir Rovano, "benarkah?" godanya.
Rovano segera membalas ciuman itu dengan kecupan dan lumatan yang lebih intens, kemudian pria itu menggigit leher Sarah hingga gadis itu mengerang dan memukul dada Rovano.
"Ish! Sakit tau!" Sarah menggerutu.
"Kau tidak kasihan padaku yang harus menahan diri ini sampai minggu depan?" ucap Rovano dengan lemas.
Pria itu kemudian bangkit, ia menyalakan lampu dan mengambil berkas kontrak yang berada di laci sebelah kasur mereka. Untuk sejenak ia terdiam, tatapan nya pada Sarah cukup dalam karena ia takut, kalau semua ini hanyalah ilusi.
Sarah sudah setuju kan? Sarah sudah mencintai Rovano kan?
"Bersabarlah, kunci hubungan yang awet adalah kesabaran. Walau kesabaranku sebenarnya setipis tisu, sih," ucap Sarah.
"Aku akan membakarnya sekarang, kita harus menghilangkan jejak atau akan ada orang yang salah paham," ucap Rovano.
Sarah terduduk memegangi tangan Rovano, "tunggu sebentar, aku ingin memotretnya untuk kenang-kenangan kalau kita pada awalnya tidak saling menyukai."
Alis Rovano berkedut, mendengarnya cukup mengesalkan, "aku tidak tuh, sejak awal aku memang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Astaga Rovano! Kau ini jujur sekali! Hahaha."
"Sarah, kau mencintai ku, kan?"