NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah awal mimpi Clara

Hari demi hari Clara jalani dengan langkah yang semakin ringan. Ia mulai terbiasa dengan rutinitas barunya yaitu menulis, dan sesekali ikut lomba yang diadakan kampus. Namanya mulai dikenal di mading fakultas, tulisannya beberapa kali dipajang, dan dosen pun mulai memperhatikan potensinya.

Hubungannya dengan Thalia juga semakin dekat. Bukan lagi sekadar teman duduk sebangku taman, tapi benar-benar sahabat. Beberapa kali Thalia bahkan memaksa Clara menginap di rumahnya, degan alasan takut tidur sendiri karena orangtua Thalia sering bepergian.

Siang itu Clara duduk di bawah pohon trembesi, laptop terbuka di pangkuannya. Jarinya sibuk mengetik.

“Hayo lagi ngapain?” suara Thalia tiba-tiba muncul dari samping.

Clara terkejut dan menoleh cepat. “Jangan bikin kaget gitu, Thal,” protesnya, tapi senyum sudah mengembang di wajahnya.

Thalia terkekeh puas lalu duduk di sampingnya. “Nih, aku bawain roti.” Ia menyerahkan paper bag kecil.

Clara menerimanya dengan senang hati. Sekarang ia tidak lagi canggung menerima perhatian. Baginya, itu bukan belas kasihan melainkan kepedulian.

“Makasih, Thalia yang cantik,” ucap Clara sambil membuka bungkus roti.

Thalia langsung mendongak dengan gaya sombong. “Iya lah, aku emang cantik. Adik tingkat aja sering nyapa.”

Clara terkekeh geli. “Pede banget.”

“Ngomong-ngomong,” lanjut Thalia tiba-tiba, “kamu ikut lomba?”

“Iya,” jawab Clara sambil mengangguk.

“Lomba bikin novel?”

“Kompetisi esai. Yang diadakan Forrer Pharmaceutical Indonesia."

Kening Thalia langsung berkerut. “Perusahaan farmasi bikin Kompetisi esai buat apaan?”

“Katanya sih buat Visi mereka dan tulisannya bakal dipasang di lobby perusahaan.”

“Terus kamu dapet info dari mana?”

Clara tertawa kecil. “Thal, kamu tuh kayak emak-emak tau nggak.”

Wajah Thalia langsung cemberut. “Habisnya kamu kalau ditanya jawabnya singkat.”

Clara membuka ponselnya dan memperlihatkan brosur digital yang dikirimkan lewat chat.

Nama pengirimnya terlihat jelas: Natan.

Thalia menyipitkan mata. “Ini siapa, Clar? Cowokmu?”

Clara menggeleng.

“Sepupumu?”

Geleng lagi.

“Tetanggamu?”

“Bukan.”

Thalia makin mendekat. “Jangan-jangan… suamimu?”

Clara melongo, lalu memukul lengan Thalia pelan. “Beasiswaku bisa dicabut kalau ketahuan punya suami, tau nggak!”

“Jadi itu beneran suami?” Thalia berbisik dramatis.

“Bukan, Thalia!” Clara mendesah. “Natan itu kakak kelasku waktu SMA.”

“Ohh…” Thalia mengangguk-angguk, seolah mencatat sesuatu di kepalanya.

Tiba-tiba ponsel Clara bergetar.

Nama Natan muncul di layar.

Thalia langsung menatap dengan senyum penuh arti.

Clara buru-buru mengangkat.

“Beneran, Kak?” suaranya berubah cerah.

Ia berdiri tanpa sadar.

“Iya… baik. Terima kasih banyak, Kak Natan.”

Telepon terputus.

Clara terdiam beberapa detik.

Lalu ia menoleh pada Thalia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Ada apa?” Thalia panik.

Clara menelan ludah. Bibirnya bergetar.

“Aku menang, Thal,” suaranya pecah. “Aku menang.”

Tangis bahagia meledak begitu saja saat ia memeluk Thalia.

Thalia tersenyum bangga dan memeluknya erat. “Selamat, Clara…”

Setelah beberapa saat, Thalia mengangkat wajahnya. “Emangnya hadiahnya apaan sampai bikin kamu nangis kayak gini? Jangan bilang cuma buku.”

Clara tertawa kecil di sela isaknya. “Tadi aku kasih lihat brosurnya, kamu malah sibuk interogasi.”

Ia membuka ponsel dan menunjukkan detail hadiah.

Juara 1:

Dana pengembangan karya 150.000.000 Rupiah

Program residensi penulis dua minggu di Prancis

Kontrak penerbitan naskah

Thalia melongo. “Ini bukan penipuan kan Clar?”

Clara menggeleng sambil tersenyum lebar. “Kata kak Natan, ini cabang perusahaan besar dari Swiss. Jadi enggak mungkin bohong.”

Thalia langsung berdiri dengan dramatis. “Ayo kita rayakan!”

Clara ikut berdiri, membereskan tasnya. “Aku yang traktir.”

“Cair nih cair!” Thalia menyenggol lengannya. “Aku mau makan bakso.”

“Kemarin baru bakso. Yang mahalan dikit dong,” goda Clara dengan gaya sok kaya.

Thalia pura-pura terkejut. “Sombong banget, baru dapet 150 juta!”

Mereka tertawa bersama, langkah mereka ringan menuju ke parkiran.

Kini Clara dan Thalia duduk berhadapan di sebuah warung soto sederhana di pinggir jalan. Meja kayunya sedikit lengket, kipas angin tua berdecit pelan di langit-langit, dan aroma kuah kaldu yang hangat memenuhi udara.

“Aku seneng banget hari ini, Thal,” ucap Clara sambil menopang dagunya dengan kedua tangan. Matanya berbinar-binar yang sudah lama tak terlihat.

Thalia tersenyum lebar. Melihat Clara seperti ini jauh lebih membahagiakan daripada kemenangan lomba itu sendiri.

“Karena menang kompetisi… atau karena yang namanya Natan?” godanya sambil menaik-turunkan alis.

Clara mendecakkan lidah. “Karena kompetisi lah, Thal. Aku senang karena bisa ketemu penerbit. Itu mimpiku.”

“Hmm…” Thalia pura-pura meneliti wajah Clara. “Baiklah, saya percaya… untuk sekarang.”

Clara tertawa kecil.

“Semoga ini jadi pintu pertama buat kamu jadi penulis hebat, Clar,” doa Thalia tulus, tak lagi bercanda.

“Aamiin. Makasih ya, Thal… sudah mau jadi sahabatku,” balas Clara, suaranya lembut.

“Sahabat apaan yang gak cerita soal si Natan-Natan itu,” sungut Thalia pura-pura cemburu.

Clara kembali tertawa. “Iya iya, nanti aku ceritain.”

Pesanan soto mereka datang. Uap panas mengepul, aroma bawang goreng dan seledri menyeruak. Mereka makan dengan lahap. Di sela suapan, Thalia kembali bercerita tentang dosen yang perfeksionis dan tugas praktikum yang melelahkan, membuat Clara beberapa kali tertawa sampai hampir tersedak.

Sementara itu, di gedung tinggi milik Adithama Elektronik, Natan sedang dalam suasana hati yang jauh lebih baik dari biasanya. Sejak siang ia beberapa kali tersenyum sendiri setelah mengabari Clara tentang kemenangan lomba itu.

Andre, asistennya, bahkan sempat menatapnya heran.

“Pak… ada kabar baik?” tanya Andre hati-hati.

“Biasa,” jawab Natan singkat, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.

Seminggu sebelumnya, Natan kembali datang ke toko buku tempat Clara bekerja.

“Kak Natan tiap hari ke sini, apa nggak sekalian aja beli bukunya agak banyakan biar nggak bolak-balik?” celetuk Clara sambil menata buku.

Kalau langsung aku borong, nggak bisa ketemu kamu dong, Clar. kata-kata yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati.

“Karyawanku kadang ada yang nitip buku juga,” jawab Natan ringan. Bohong yang terasa makin mudah keluar demi satu jam melihat Clara.

“Oh…” Clara mengangguk polos. “Kak Natan baik banget ya sama karyawan.”

Natan hanya tersenyum kikuk, merasa sedikit bersalah.

Seperti biasa, ia duduk di kursi dekat jendela selama hampir satu jam. Buku terbuka di tangannya, secangkir kopi di meja. Tapi fokusnya sering kali bukan pada tulisan melainkan pada Clara yang sibuk melayani pembeli.

“Clara,” panggilnya ketika toko mulai agak sepi. “Nanti pulang kerja mau makan dulu nggak?”

Clara hendak menolak seperti biasa.

“Ada yang mau aku bicarakan,” tambah Natan cepat.

Clara terdiam beberapa detik. Ada keseriusan dalam nada suaranya.

Akhirnya ia mengangguk pelan.

Senyum cerah langsung muncul di wajah Natan. Ia membayar buku yang dibelinya, lalu pamit lebih dulu.

Setelah mobilnya pergi, Bu Jasmine yang sejak pagi membantu di toko mendekati Clara.

“Cowok itu datang tiap hari. Apa dia nggak ada kerjaan, Clar?” pancing bu Jasmine

Clara sedang merapikan uang di laci kasir. “Dia anak pemilik perusahaan Adithama, Bu. Perusahaan elektronik sebelah Hotel Aoris.”

“Oh…” Bu Jasmine mengangguk pelan, lalu menatap Clara lebih lama. “Dia suka kamu kali, makanya ke sini tiap hari.” goda bu Jasmine.

Clara langsung menoleh. “Mana mungkin, Bu. Dia emang orangnya baik. Katanya beliin karyawannya buku.”

Bu Jasmine mendecakkan lidah pelan. “Iya deh…”

Ia berjalan ke belakang toko sambil menggeleng kecil.

Anak muda, pintar tapi nggak peka, gumamnya dalam hati.

Pukul tujuh malam, Clara sudah merapikan meja kasir dan memastikan semua catatan penjualan hari itu selesai. Ia berpamitan pada Pak Ardi dan Bu Jasmine seperti biasa.

“Hati-hati ya, Nak,” ucap Pak Ardi.

“Iya, Pak.”

Clara melangkah keluar toko dan berdiri di trotoar kecil di depan toko. Lampu-lampu jalan mulai menyala, udara malam Jakarta terasa sedikit lebih lembap dari biasanya. Ia sebenarnya sudah berkali-kali bilang pada Natan bahwa ia bisa datang sendiri ke tempat makan, tapi laki-laki itu tetap bersikeras menjemput.

Tak lama kemudian, mobil hitam milik Natan berhenti tepat di depannya.

Natan turun cepat, membukakan pintu untuk Clara. “Selamat malam.”

Clara tersenyum kecil. “Malam, Kak.”

Ia sempat menoleh ke arah pintu kaca toko. Pak Ardi dan Bu Jasmine berdiri di dalam, pura-pura merapikan sesuatu sambil mengamati dari jauh. Natan sedikit menunduk sopan sebagai salam, membuat Bu Jasmine tersenyum penuh arti.

Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Mereka berbincang ringan tentang kampus, tentang toko buku, tentang cuaca yang akhir-akhir ini sering tak menentu.

Beberapa menit kemudian, mobil itu berbelok dan masuk ke pelataran sebuah restoran bintang lima.

Clara terdiam.

Gedungnya tinggi dengan lampu keemasan yang elegan. Petugas valet berdiri rapi. Di balik kaca, terlihat meja-meja tertata sempurna dengan lilin kecil di tengahnya.

“Kak…” Clara menoleh pelan, jelas canggung. Ia tahu tempat seperti ini bukan dunianya.

Natan langsung menangkap perubahan raut wajahnya. Ia berdehem ringan, berusaha terdengar santai.

“Sebenarnya tadi tempat ini mau dipakai buat meeting sama klien,” katanya hati-hati. “Tapi di batalkan. Sayang kan kalau nggak dipakai, soalnya udah bayar.”

Ia tersenyum tipis, berusaha menenangkan.

Maaf, aku selalu berbohong, batinnya lirih.

Clara menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Oh… ya sudah.”

Ia membuka seatbelt, dan seperti biasa Natan bergegas membukakan pintu mobil untuknya.

Di dalam restoran, suasananya tenang dan eksklusif. Lampu temaram, musik piano lembut mengalun. Mereka duduk berhadapan di meja dekat jendela kaca besar yang menghadap kota.

Setelah memesan makanan, Natan mengeluarkan tablet mini dari dalam saku jasnya dan menyerahkannya pada Clara.

“Lagi ada kompetisi menulis. Kamu mau coba ikut?” tanyanya.

Clara menerima tablet itu. Alisnya langsung berkerut saat membaca detail hadiahnya.

“Kak…” Clara mendongak. “Apa nggak salah? Hadiahnya terlalu besar.”

Natan tersenyum tipis.

“Kompetisi ini diadakan Forrer Group. Perusahaan farmasi besar dari Eropa yang lagi buka cabang di Indonesia. Mereka serius membangun branding lewat literasi.”

Clara kembali menatap layar. Tangannya sedikit gemetar. Ia belum pernah ikut lomba di luar kampus. Apalagi yang diselenggarakan perusahaan asing sebesar itu.

Rasa ragu merayap pelan.

“Aku belum pernah ikut kompetisi kayak gini…” gumamnya.

Natan melihat jelas keraguan itu.

“Kamu nggak harus langsung percaya diri,” katanya lembut. “Coba dulu. Kalah menang urusan belakangan.”

Clara masih diam.

Natan lalu menambahkan dengan nada lebih ringan, “Kalau kamu kalah, nanti aku ajak liburan biar nggak sedih.”

Clara tertawa kecil. “Kak Natan ini…”

“Serius,” katanya sambil tersenyum.

Clara menatap kembali tablet itu. Untuk pertama kalinya, bukan rasa takut yang mendominasi melainkan rasa ingin mencoba.

“Aku mau ikut, Kak.”

Senyum Natan melebar, tapi ia menahannya agar tak terlihat berlebihan. “Bagus.”

Makanan datang, dan mereka mulai makan sambil membahas tema kompetisi serta beberapa ide. Sesekali Natan bertanya tentang aktivitas harian Clara, tentang perkuliahan, tentang teman-teman Clara, tanpa menyentuh masa lalu yang sensitif.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!