NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:922
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Butiran salju pertama di bulan Desember mulai turun dari langit yang kelam, bentuknya halus seperti butiran gula yang membungkus kota Seoul dengan selimut putih yang dingin dan seolah ingin menyembunyikan segala bekas luka di permukaan bumi.

Di luar kediaman keluarga Bahng, lonceng gereja dari gereja dekat berdentang lembut setiap setengah jamnya, bersahut-sahutan dengan tawa anak-anak yang sedang bermain salju di halaman rumah tetangga dan pendar lampu warna-warni yang menghiasi jendela setiap rumah. Lampu-lampu berbentuk pohon Natal, salib, dan bintang berkedip-kedip seolah ingin menghangatkan udara dingin yang menusuk tulang. Dunia sedang merayakan Natal, merayakan harapan yang datang bersama musim dingin, dan merayakan cinta yang dianggap bisa mengalahkan segala kesulitan.

Namun, di bawah tanah kediaman itu, di ruang laboratorium yang jauh dari sentuhan sinar matahari dan kehangatan manusia, waktu seolah berhenti pada detik yang paling menyakitkan. Tidak ada dekorasi Natal yang ceria, tidak ada aroma kue kering yang menggugah selera, tidak ada puncak pohon Natal yang bersinar dengan bintang besar. Hanya ada dinding beton dingin, mesin-mesin yang terus mendesis, dan kesunyian yang terkadang hanya dipecahkan oleh suara monitor yang menunjukkan kondisi pasien yang terisolasi jauh di dalam ruang khusus.

Axel duduk di atas kursi besi yang tidak memiliki bantalan dan terasa sangat dingin, tepat di depan dinding kaca isolasi yang memisahkannya dari satu-satunya orang yang penting baginya di dunia ini. Ruangan itu remang-remang; satu-satunya sumber cahaya adalah cahaya biru pucat dari monitor jantung yang terletak di sisi kanan brankar, menerangi wajahnya yang kuyu dan penuh dengan kesedihan. Di balik kaca itu, gorden putih yang biasanya ditutup rapat untuk menghindari stres pada pasien sengaja ditarik setengahnya, menampakkan sosok wanita yang kini menjadi pusat semesta hidupnya sekaligus sumber kehancuran yang menggerogoti dirinya dari dalam.

Lusy sedang dalam mode predatornya yang paling ekstrem. Tubuhnya yang tadinya ramping dan lembut kini terlihat lebih kekar karena otot-otot yang mengencang, diikat kuat pada empat sudut tempat tidur dengan tali fiksasi kulit yang tebal agar ia tidak menyakiti dirinya sendiri atau mencoba melepaskan diri saat kejang lapar yang menyiksa menyerang.

Urat-urat di dahinya menonjol kaku, dan napasnya keluar dalam geraman-geraman pendek yang serak dan kasar. Matanya berwarna merah padam seperti darah tidak bisa menatap dengan jelas, hanya menatap kosong ke arah langit-langit dengan ekspresi yang menyakitkan, seolah-olah jiwanya sedang terjebak dalam labirin kegelapan yang tak berujung dan tidak ada jalan keluarnya.

"Selamat Natal, Lusy." Bisik Axel nyaris tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

Ia menggenggam benda kecil yang tersembunyi di saku jasnya—sebuah kalung dengan liontin bentuk bintang kecil. Ia sudah membawanya setiap hari sejak Lusy terbaring di sana, mengharapkan suatu hari bisa memasangkannya pada lehernya.

Axel mengulurkan tangan yang gemetar, menekan tombol kecil pada konsol interkom yang terpasang di dinding sebelah kaca isolasi. Konsol itu terhubung langsung ke pengeras suara kecil yang terletak di dua sudut ruang isolasi, dirancang agar pasien bisa mendengar suara dari luar tanpa harus membuka ruangan yang harus tetap steril.

Dengan jemari yang masih belum bisa diam sepenuhnya, ia menghubungkan ponselnya ke sistem dan memutar sebuah lagu yang sudah disiapkan dengan hati-hati di dalam memori penyimpanan. Melodi piano yang lembut dan penuh dengan kehangatan mulai mengalun perlahan-lahan, mengisi ruang sterilisasi yang dingin dan penuh dengan bau alkohol serta obat-obatan.

"Chestnuts roasting on an open fire..."

Suara bariton hangat milik Nat King Cole mengisi setiap sudut ruangan, membawa nuansa Natal yang sesungguhnya ke dalam tempat yang seharusnya tidak mengenal kebahagiaan lagi. Kontras antara melodi yang hangat dengan suasana ruangan penuh dengan kesedihan begitu tajam hingga terasa seperti sembilu yang mengiris dada Axel dengan sangat dalam. Ia merasa sakit di bagian mana saja, namun tetap memilih untuk terus mendengarkan dan melihat ke arah Lusy yang terikat di tempat tidur.

"Kamu ingat lagu ini, kan?" Axel bergumam sambil mengusap permukaan kaca dengan jempolnya, meninggalkan bekas sidik jari yang kabur di atas kaca yang dingin. Matanya menatap lekat pada wajah Lusy yang penuh dengan penderitaan.

"Kita berdansa dengannya di dapur apartemenmu tahun lalu, sampai sup krim jagung yang kamu masak benar-benar gosong di atas kompor. Kamu marah padaku karena aku terlalu sibuk memutar lagu dan tidak memperhatikan api, tapi kamu tetap tersenyum karena tahu aku hanya ingin membuatmu bahagia."

Ia berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah karena tenggorokannya terasa kering. "Aku berjanji tahun ini kita akan ke Myeong-dong untuk melihat pajangan Natal yang kamu suka. Aku sudah memesan meja di restoran Italia yang kamu selalu bilang ingin coba. Aku bahkan sudah menyimpan uang untuk membelikanmu gaun baru yang bisa kamu kenakan saat pergi ke sana."

Awalnya, tidak ada reaksi yang terlihat dari Lusy. Wanita itu tetap menggeram dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri, taringnya yang sudah tumbuh lebih panjang dari biasanya menyembul di balik bibirnya yang pecah-pecah dan berdarah kering. Tubuhnya masih bergoyang sedikit karena kejang yang belum sepenuhnya hilang, tali pengikatnya sedikit meregang akibat kekuatan yang keluar dari tubuhnya. Axel merasa harapannya mulai sirna, berpikir bahwa bahkan lagu kesayangan mereka tidak bisa mencapai bagian kemanusiaan yang masih tersisa di dalam dirinya.

Namun, saat lagu mencapai bait tengah dengan melodi yang lebih lembut dan lirik yang berbicara tentang salju dan kehangatan rumah, sesuatu yang mustahil terjadi. Geraman yang menusuk telinga itu perlahan surut, mulai redup dan akhirnya hilang sama sekali, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan namun tidak lagi penuh dengan ancaman. Ruangan hanya diisi oleh suara lagu dan denyut jantung Lusy yang mulai menunjukkan pola yang lebih stabil di monitor.

Kepala Lusy bergerak sedikit, sangat lambat seolah ia harus menggunakan seluruh kekuatannya untuk melakukan gerakan sederhana itu, kemudian miring perlahan ke arah pengeras suara yang menjadi sumber musik yang mengalir. Pupil merahnya yang tadinya tampak liar dan tidak terkendali perlahan mengecil, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang merespon suara piano yang lembut dan lirik yang penuh dengan kenangan manis. Dada Lusy naik turun dengan irama yang tidak teratur namun sudah tidak lagi seperti sebelumnya yang sangat cepat dan mengkhawatirkan.

Lalu, Axel melihat sesuatu yang membuat hatinya terasa seperti akan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil.

Dari sudut mata Lusy yang merah meradang dan penuh dengan kesedihan, sebutir air mata bening yang jernih seperti embun pagi jatuh perlahan, mengalir melewati pelipisnya yang tipis dan membengkak, kemudian membasahi bagian atas bantal putih. Air mata itu jatuh dengan kecepatan yang sangat lambat, namun bagi Axel itu terasa seperti badai yang menghancurkan segala sesuatu yang ada di depannya.

Itu adalah bukti paling nyata bahwa di balik sosok monster yang haus darah dan telah berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dikenali lagi, Lusy masih ada. Ia masih mendengar, ia masih merasa, dan ia sedang menangis di dalam penjara dagingnya sendiri yang semakin menyempit setiap hari.

"Lusy..." Axel menempelkan keningnya pada permukaan kaca. "Maafkan aku. Maafkan aku karena tidak bisa menemukan cara untuk menyembuhkanmu lebih cepat. Maafkan aku karena membuatmu terjebak seperti ini, jauh dari dunia yang kamu cintai dan jauh dari kehangatan yang seharusnya kamu rasakan."

Melihat air mata itu, Axel merasa seolah-olah jiwanya sedang ditarik paksa dari dalam tubuhnya. Natal yang seharusnya penuh dengan cahaya, tawa, dan kehangatan keluarga kini terasa kelabu dan suram, sekelam bayang-bayang mutasi yang sedang menggerogoti tunangannya dengan lambat namun pasti.

Ia menyadari bahwa cinta mereka yang dulunya penuh dengan warna-warni dan harapan kini hanya tersisa dalam bentuk melodi lama yang sudah jarang terdengar di dunia luar dan tetesan air mata tunggal yang jatuh di ruang isolasi. Semua janji yang pernah mereka buat satu sama lain seolah sudah tidak memiliki makna lagi, terkubur di bawah tumpukan masalah yang semakin banyak dan tidak ada solusi yang jelas.

Ia menekan tombol pada konsol interkom lagi, memutar lagu itu sekali lagi dari awal. Ia tidak akan berhenti sampai Lusy bisa merespon lebih banyak atau sampai ia merasa lelah dan tidak bisa lagi membuka matanya.

Setiap nada yang keluar dari pengeras suara adalah harapan yang ia panjatkan, setiap lirik yang terdengar adalah doa yang ia ucapkan dengan hati yang hancur. Ia ingin Lusy tahu bahwa ia tidak sendirian di dalam sana, bahwa ada seseorang yang masih mencintainya dengan sepenuh hati dan akan melakukan apa saja untuk menyelamatkannya.

Axel terus memutar lagu itu berulang kali, hanya demi melihat sebutir air mata lagi yang membuktikan bahwa wanitanya belum sepenuhnya hilang dalam kegelapan yang mengelilinginya.

Ia tidak tahu berapa lama ia akan tetap duduk di sana atau berapa lama Lusy akan bisa bertahan dalam kondisi yang menyakitkan itu. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan sisi Lusy, tidak peduli apa yang terjadi atau menjadi apa Lusy nantinya. Cinta mereka mungkin sudah tidak lagi seperti dulu, mungkin sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dan penuh dengan penderitaan, namun bagi Axel itu tetaplah cinta—cinta yang layak untuk diperjuangkan dengan segala cara yang mungkin.

Melodi piano terus mengalun, menyatu dengan suara hujan salju yang terdengar lembut di luar gedung besar itu. Di balik kaca isolasi, Lusy tetap terbaring dengan kepala yang masih miring ke arah pengeras suara, seolah ia sedang mencoba menangkap setiap nada yang bisa ia dengar dan menyimpannya sebagai kenangan terakhir tentang dunia yang pernah ia tinggali—dunia yang penuh dengan cinta, kehangatan, dan harapan yang kini hanya bisa ia rasakan melalui melodi lama yang terus berulang tanpa akhir.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
Phida Lee
Ajukan kontrak dan jangan lupa rajin promosi juga bang..
massie-masbro
mantap bang🔥 btw tutor novel bisa rame gimana bng aku masih pemula, ajukan kontrak kah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!