NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debat Kusir soal Kebiasaan

Keesokan paginya, suasana "sakit" yang melankolis telah berganti dengan realitas baru yang jauh lebih dinamis. Sesuai instruksi Arga yang absolut, meja kerja Nara kini resmi berpindah. Namun, baru dua jam mereka berbagi ruangan yang sama, dinding kaca ruang CEO yang kedap suara itu mulai saksi bisu bagi interaksi yang jauh dari kata romantis.

Nara berdiri di depan meja barunya, menatap tumpukan folder yang disusun Arga dengan sangat... kaku.

"Arga, aku nggak bisa kerja kalau mejanya sebersih ini," protes Nara, sambil mulai membongkar susunan folder yang sudah dikategorikan berdasarkan warna oleh Bayu atas perintah Arga.

Arga mendongak dari balik layar monitornya yang besar. Dahinya berkerut. "Itu sistem manajemen dokumen yang paling efisien, Nara. Kamu bisa menemukan draf lobi dalam kurang dari tiga detik."

"Tapi otak desainer itu nggak bekerja pakai sistem folder warna, Arga!" Nara mulai mengeluarkan gulungan kertas kalkir, beberapa sampel kain beludru, dan krayon arsiteknya. Dalam sekejap, meja yang tadinya rapi itu berubah menjadi zona kreatif yang "berantakan" bagi Arga. "Aku butuh visual chaos untuk dapat inspirasi."

Arga meletakkan pulpennya dengan bunyi *tek* yang tajam. Ia berdiri dan menghampiri meja Nara, menatap sepotong kain berwarna hijau zamrud yang diletakkan Nara tepat di atas laporan keuangan kuartal ketiga.

"Ini... kain ini menutupi angka penting, Nara," ujar Arga, suaranya mencoba tetap tenang meski matanya berkedut.

"Angka itu membosankan, Arga. Lihat tekstur ini, ini yang akan membuat lobi kantormu punya 'nyawa'," balas Nara tanpa dosa, malah sengaja menggeser kain itu lebih dekat ke arah Arga.

"Dan kebiasaanmu memutar musik instrumental dengan volume yang 'nanggung' itu juga sangat mengganggu," tambah Arga, merujuk pada *speaker* kecil di meja Nara yang sedang melantunkan melodi piano lembut. "Pilihannya cuma dua: matikan sekalian, atau pakai headphone."

Nara berkacak pinggang, menatap Arga dengan berani. "Ini ruang kerja bersama sekarang, kan? Kamu bilang kamu merasa tenang kalau aku di sini. Ya, inilah paket lengkapnya. Ada kain berserakan, musik piano, dan bau kopi tubruk yang aromanya lebih kuat dari kopi mesinmu itu."

Arga terdiam. Ia menatap kopi tubruk di dalam gelas kaca milik Nara yang ampasnya masih mengapung, lalu menatap kopi espresso di cangkir porselennya sendiri. Dua kebiasaan yang bertolak belakang, dipaksa bersatu dalam ruangan seluas 40 meter persegi.

"Kamu terlalu teratur, Arga. Hidupmu itu kayak garis penggaris, lurus dan tajam," lanjut Nara, mulai menempelkan beberapa foto referensi di dinding kaca menggunakan selotip kertas.

"Dan kamu seperti tumpahan cat, Nara. Tidak terduga dan... berantakan," sahut Arga, namun anehnya, nada bicaranya tidak lagi terdengar marah. Ia justru memperhatikan cara Nara bekerja dengan rasa ingin tahu yang tersembunyi.

"Tapi cat itu yang bikin kanvas jadi indah, kan?" Nara mengedipkan mata, mencoba menggoda suaminya yang kaku itu.

Arga mendengus, kembali ke kursinya sendiri. "Jangan berlebihan. Kerjakan saja revisi plafon itu. Dan tolong, jangan biarkan kain-kain itu 'bermigrasi' ke meja saya."

"Nggak janji!" seru Nara riang.

Debat kusir itu berakhir dengan gencatan senjata sementara. Arga kembali berkutat dengan angka, dan Nara tenggelam dalam sketsa. Namun, di antara bunyi ketikan keyboard Arga dan goresan pensil Nara, ada sebuah harmoni baru yang tercipta. Arga sesekali mendongak, hanya untuk memastikan Nara masih di sana, tenggelam dalam "kekacauannya" yang indah.

Ternyata, berbagi ruangan bukan hanya soal memindahkan meja, tapi soal belajar menerima bahwa dalam hidup yang terlalu lurus, terkadang kita butuh sedikit tumpahan cat untuk membuatnya terasa nyata.

---

Arga mencoba kembali fokus pada laporan progres proyek di layarnya, tetapi konsentrasinya buyar setiap kali mendengar suara srek-srek dari kertas kalkir yang digeser Nara. Tidak hanya itu, bau kopi tubruk Nara yang tajam mulai mendominasi aroma ruangan, mengalahkan wangi *reed diffuser* beraroma *sandalwood* milik Arga yang mahal.

"Nara," panggil Arga tanpa menoleh.

"Ya, Bapak CEO yang Terhormat?" sahut Nara dari balik tumpukan sampel marmer.

"Bisa tolong jangan mengetuk-ngetukkan pensil itu ke meja? Frekuensinya merusak ritme kerja saya."

Nara menghentikan ketukan pensilnya, lalu mengintip dari balik monitor. "Arga, ini namanya proses berpikir. Kalau aku diam mematung kayak kamu, ide-idenya nggak keluar. Kamu itu kerja atau lagi meditasi sih? Serius banget."

Arga memutar kursinya, menghadap Nara sepenuhnya. "Saya sedang memastikan bahwa anggaran yang kamu ajukan untuk 'nyawa' lobi itu tidak membuat perusahaan merugi. Itu namanya tanggung jawab, bukan meditasi."

"Tapi kamu terlalu kaku," Nara berdiri, membawa selembar kertas sketsa dan berjalan menghampiri meja Arga. Tanpa izin, ia meletakkan sketsa itu tepat di atas tumpukan dokumen penting Arga. "Coba lihat ini. Aku mau pakai aksen kuningan di sudut-sudut pilar. Itu akan memberikan kesan mewah tapi tetap hangat."

Arga menunduk, melihat sketsa itu. Namun, pandangannya justru teralihkan oleh noda krayon kecil yang menempel di ujung jari manis Nara—tepat di sebelah cincin yang ia berikan. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dari pemandangan itu.

"Kuningan itu sulit perawatannya," ujar Arga, mencoba tetap pada mode profesional meski hatinya sedikit berdesir.

"Kita bisa pakai *coating* khusus. Jangan selalu mikirin susahnya, pikirin indahnya sekali-kali," Nara mencondongkan tubuhnya, menunjuk detail di sketsa. "Kayak kamu. Kamu itu sebenarnya 'kuningan' itu. Keras, susah diatur, tapi kalau dipoles dengan benar, bisa berkilau banget."

Arga tertegun. Ia menatap Nara yang jaraknya kini sangat dekat. Ia bisa mencium aroma sabun mandi yang masih tertinggal di kulit Nara. "Jadi, kamu sedang mencoba memoles saya?"

Nara tersenyum jahil, matanya berbinar penuh kemenangan. "Mungkin saja. Mulai dari kebiasaan makan siangmu yang selalu telat, misalnya."

Tepat saat itu, pintu ruangan diketuk. Bayu masuk membawa dua kotak makan siang premium. Langkah Bayu terhenti di ambang pintu. Matanya mengerjap melihat meja kerja yang biasanya bersih mengkilap kini dipenuhi potongan kain, kertas berserakan, dan yang paling mengejutkan: CEO-nya sedang beradu argumen jarak dekat dengan sang istri di atas tumpukan berkas rahasia perusahaan.

"Maaf, Pak Arga, Mbak Nara... ini makan siangnya," ujar Bayu kikuk. Pandangannya jatuh pada jas mahal Arga. "Anu... Pak, itu di pundak Bapak ada... sampel kain?"

Arga menoleh ke bahunya. Benar saja, sepotong kecil kain beludru hijau zamrud menempel di sana, kemungkinan terbawa saat Nara menaruh sketsanya tadi. Arga bukannya marah, ia justru mengambil kain itu dan menatap Nara dengan tatapan 'lihat-apa-yang-kamu-perbuat'.

Nara hanya tertawa lepas. "Itu namanya aksesori tambahan, Arga. Biar nggak terlalu monoton kelihatannya."

Bayu segera meletakkan makanan dan keluar secepat kilat, tak ingin terjebak lebih lama dalam 'debat domestik' yang terasa sangat intim itu. Di dalam ruangan, Arga kembali menatap kain hijau di tangannya, lalu menatap Nara yang masih tertawa. Debat kusir itu mungkin melelahkan, tapi Arga menyadari satu hal: ruangan ini tidak pernah terasa sehidup ini sebelumnya.

---

Nara masih berusaha meredam tawanya saat melihat Arga dengan kikuk melepaskan potongan kain beludru itu dari bahunya. Sang CEO terlihat seperti baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang tidak masuk akal dalam buku panduan kepemimpinannya.

"Ini tidak lucu, Nara. Bayu itu orangnya sangat detail, besok bisa-bisa ada rumor di divisi HR kalau saya mulai beralih profesi jadi penjahit," gerutu Arga, meski ia meletakkan kain hijau itu di atas mejanya sendiri bukannya membuangnya ke tempat sampah.

"Ya bagus, dong. Itu artinya kamu terlihat lebih manusiawi, bukan cuma mesin pencetak uang," Nara berjalan menuju sofa panjang di sudut ruangan, tempat Bayu meletakkan dua kotak makan siang. "Ayo makan. Aku nggak mau dengar alasan 'tanggung jawab' lagi. Perutmu itu tanggung jawab utama sekarang."

Arga menghela napas, namun ia mengikuti langkah Nara. Ia duduk di sisi sofa yang berseberangan dengan Nara, menciptakan jarak aman yang kini terasa mulai menipis karena kebiasaan-kebiasaan kecil mereka yang saling berbenturan.

Nara membuka kotak makanannya, lalu melirik ke arah gelas kopi tubruknya yang sudah tinggal setengah. "Mau coba?"

Arga menatap ampas kopi yang mengendap di dasar gelas itu dengan ragu. "Itu terlihat... sangat kasar di tenggorokan."

"Jangan dilihat penampilannya. Rasanya jauh lebih jujur daripada espresso mesinmu yang terlalu diproses itu," Nara menyodorkan gelasnya dengan gerakan menantang. "Coba satu sesapan. Kalau kamu nggak suka, aku nggak akan protes lagi soal sistem foldermu selama seminggu."

Arga menaikkan sebelah alisnya. Penawaran itu sangat menarik bagi jiwanya yang terobsesi pada keteraturan. "Satu minggu tanpa protes?"

"Janji."

Arga menerima gelas kaca itu. Ia menyesapnya dengan sangat hati-hati, memastikan ampasnya tidak ikut terbawa. Ekspresinya berubah sesaat; matanya sedikit melebar. Rasa pahit yang kuat, aroma tanah yang pekat, dan sedikit jejak manis yang tertinggal di ujung lidahnya memberikan sensasi yang berbeda dari kopi-kopi mahal yang biasa ia minum di rapat direksi.

"Bagaimana?" tanya Nara penasaran.

"Sedikit... berantakan. Tapi kuat," jawab Arga, mengembalikan gelas itu. "Mirip seperti pemiliknya."

Nara tersenyum puas. "Aku anggap itu sebagai pujian."

Mereka mulai makan dalam diam yang jauh lebih nyaman daripada sebelumnya. Debat kusir soal kain, musik, dan folder tadi seolah hanya menjadi bumbu untuk mencairkan kekakuan di antara mereka. Di tengah makan siang itu, Arga tiba-tiba berhenti mengunyah dan menatap Nara yang sedang asyik dengan sayurannya.

"Nara, soal meja itu... kamu boleh membiarkannya berantakan," ucap Arga tiba-tiba.

Nara mendongak, matanya membulat terkejut. "Benarkah? Tadi kamu bilang itu mengganggu ritme kerjamu."

"Ritme saya mungkin terganggu, tapi hasil sketsamu tadi... itu bagus," Arga berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang hampir hilang. "Dan sepertinya, saya mulai terbiasa dengan bau kopi tubruk ini. Setidaknya ini membuat saya tetap terjaga lebih baik daripada AC yang terlalu dingin."

Nara merasakan kehangatan yang bukan berasal dari sup di depannya. Ia menyadari bahwa di balik semua perdebatan soal kebiasaan mereka, Arga sebenarnya sedang berusaha memberikan ruang di dalam dunianya yang kaku. Perhatian-perhatian kecil yang mengagetkan ini—seperti membiarkannya 'berantakan'—adalah cara Arga mengatakan bahwa ia mulai menikmati kehadiran Nara di sana.

"Terima kasih, Arga," bisik Nara lembut.

"Sama-sama. Tapi ingat, jangan ada ampas kopi di atas laporan pajak saya besok," balas Arga dengan nada peringatan yang jenaka.

Di bawah satu atap ruang kerja CEO yang megah itu, dua dunia yang bertolak belakang mulai menemukan frekuensi yang sama. Debat kusir itu mungkin akan terjadi lagi, namun mereka tahu bahwa di setiap silang pendapat, ada sebuah pemahaman baru yang sedang tumbuh—bahwa hidup tidak selalu harus tentang garis lurus, terkadang tumpahan cat dan ampas kopi justru membuatnya lebih bermakna.

---

Nara tertawa kecil mendengar ancaman Arga yang terdengar sangat tidak meyakinkan itu. "Aku nggak janji soal ampas kopinya, tapi aku janji bakal jauhkan dari berkas-berkas pentingmu," sahut Nara sambil menutup kotak makan siangnya yang sudah kosong.

Arga tidak langsung kembali ke mejanya. Ia masih duduk di sofa, memperhatikan Nara yang kini sedang merapikan beberapa helai kain hijau zamrud yang tadi sempat membuat Bayu salah paham. Entah kenapa, pemandangan itu terasa jauh lebih menarik bagi Arga daripada grafik pertumbuhan saham di layar monitornya.

"Nara," panggil Arga lagi. Kali ini suaranya tidak memiliki nada otoriter sama sekali.

Nara menoleh, tangannya masih memegang sepotong kain. "Ya?"

"Tentang kebiasaanmu memutar musik instrumental itu..." Arga menjeda kalimatnya, tampak ragu sejenak. "Volume-nya boleh kamu besarkan sedikit. Ternyata... itu membantu meredam suara bising dari renovasi di luar."

Nara tertegun. Ia meletakkan kainnya dan menatap Arga dengan pandangan menyelidik. "Kamu beneran Arga yang kemarin-kemarin protes soal frekuensi suara, kan? Kamu nggak lagi sakit kepala atau apa?"

Arga mendengus, meski ada kilat geli di matanya. "Saya hanya sedang mencoba bersikap kooperatif sebagai rekan kerja. Jangan sampai kamu berpikir kalau saya ini benar-benar robot tanpa telinga."

Nara tersenyum lebar, jenis senyum yang membuat matanya menyipit dan membuat jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. "Oke, Arga. Tapi kalau volumenya kegedean dan kamu nggak bisa konsentrasi, jangan salahkan 'tumpahan cat' ini ya."

"Saya rasa saya bisa menanganinya," balas Arga pendek. Ia berdiri, merapikan kemejanya, dan kembali ke kursi kebesarannya.

Sisa siang itu dilewati dengan harmoni yang sangat tidak biasa. Musik piano lembut mengalun pelan di ruangan tersebut, berbaur dengan suara ketikan keyboard mekanik Arga dan goresan pensil Nara di atas kertas kalkir. Sesekali, Nara akan berdiri untuk mengambil sampel material lain, dan tanpa sadar, ia mulai meletakkan beberapa referensi warnanya di papan tulis magnetik Arga—papan yang biasanya hanya berisi jadwal pertemuan dan angka-angka target perusahaan.

Arga tidak protes. Ia membiarkan papan tulisnya yang "steril" itu kini mulai dihiasi oleh foto-foto taman, potongan tekstil, dan catatan tangan Nara yang berantakan namun artistik.

Debat kusir soal kebiasaan itu ternyata bukan hanya soal siapa yang paling benar, melainkan soal bagaimana mereka mulai menyesuaikan diri satu sama lain. Di dalam ruangan CEO yang kedap suara itu, dinding-dinding kaku mulai runtuh. Rahasia di laci kantor dan perhatian kecil yang mengagetkan telah membuka jalan bagi sesuatu yang lebih besar dari sekadar kontrak.

Saat jam menunjukkan pukul lima sore, Arga mematikan monitornya. Ia melihat ke arah meja Nara dan mendapati wanita itu sedang tertidur dengan kepala bertumpu pada lengannya, tepat di atas sketsa pilar kuningan yang tadi mereka debatkan.

Arga melangkah mendekat, sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Ia melihat noda pensil di pipi Nara dan cincin yang melingkar di jarinya. Arga mengambil jasnya yang tersampir di kursi, lalu menyampirkannya ke bahu Nara dengan gerakan yang sangat hati-hati—sama seperti yang ia lakukan di dalam mobil malam itu.

"Debat yang melelahkan, kan?" bisiknya pelan pada udara yang sunyi.

Arga kembali ke kursinya sendiri, memutuskan untuk tetap di sana dan menyelesaikan beberapa berkas lagi, hanya agar ia bisa memberikan waktu lebih lama bagi Nara untuk beristirahat di sisinya. Di satu atap ruang kerja itu, mereka telah belajar bahwa perbedaan kebiasaan bukanlah penghalang, melainkan warna-warna yang membuat hidup mereka yang kaku menjadi jauh lebih hidup.

---

Nara bergerak sedikit dalam tidurnya, pipinya bergesekan dengan kain jas Arga yang dingin namun aromanya sangat ia kenali. Arga tetap mematung di samping meja, menahan napas sejenak, takut jika gerakan sekecil apa pun akan memutus benang mimpi Nara. Namun, Nara tidak terbangun. Ia hanya mengerang pelan, lalu kembali terhanyut dalam lelap yang dalam.

Arga akhirnya kembali ke mejanya, tetapi ia tidak lagi menyentuh keyboard-nya. Ia justru mengambil gelas kopi tubruk Nara yang sudah kosong dan membawanya ke arah dispenser di sudut ruangan. Dengan gerakan yang sangat teliti—seolah sedang melakukan prosedur medis—Arga membilas gelas itu hingga bersih dari sisa ampas yang tadi ia sebut "berantakan".

Setelah gelas itu bersih, ia meletakkannya kembali di meja Nara, tepat di samping tumpukan sketsa. Ia juga merapikan beberapa pensil yang nyaris terjatuh ke lantai, menyusunnya berjajar dengan ujung runcing menghadap ke arah yang sama. Kebiasaan rapinya memang tidak bisa hilang sepenuhnya, tapi kali ini ia melakukannya bukan untuk menuntut keteraturan, melainkan untuk menjaga kenyamanan Nara.

Suasana ruangan itu kini benar-benar sunyi, hanya menyisakan dengung halus pendingin ruangan dan alunan piano yang masih memutar lagu terakhir dari playlist Nara. Arga bersandar di kursinya, menatap papan tulis magnetiknya yang kini terlihat seperti kolase seni daripada papan strategi bisnis.

Ia baru menyadari satu hal: selama ini ia memimpin ribuan karyawan dengan logika yang presisi, namun menghadapi satu wanita dengan segala "kekacauannya" ternyata membutuhkan energi yang jauh lebih besar—dan anehnya, ia sama sekali tidak merasa keberatan.

Sekitar lima belas menit kemudian, Nara terbangun. Ia mengerjap-ngerjap, merasakan beban jas di bahunya dan menyadari bahwa ia baru saja tertidur di jam kantor, tepat di depan bosnya.

"Astaga, jam berapa ini?" Nara langsung tegak, wajahnya memerah karena malu. Jas Arga melorot dari bahunya dan jatuh ke pangkuannya.

"Jam lima lewat sedikit," sahut Arga tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya, berusaha bersikap seolah ia tidak baru saja memperhatikan Nara tidur selama belasan menit.

Nara melihat gelas kopinya yang sudah bersih mengkilap di sampingnya. Ia melirik Arga, lalu melirik gelas itu bergantian. "Kamu... yang mencuci gelas ini?"

Arga berdeham, sedikit salah tingkah. "Gelas kotor di atas meja kerja merusak pemandangan saya. Jangan berpikiran yang macam-macam."

Nara tersenyum tipis, ia tahu betul itu adalah cara Arga untuk tidak mengakui perhatiannya. "Terima kasih, Pak CEO yang Gengsian."

"Sama-sama. Sekarang rapikan barang-barangmu. Kita harus pulang sekarang kalau tidak mau terjebak macet dan membuat Ibu khawatir lagi," ujar Arga sambil berdiri dan meraih jasnya dari pangkuan Nara.

Saat mereka berjalan keluar dari ruangan yang kini menjadi saksi bisu debat kusir dan perdamaian kecil mereka, Arga sempat menoleh ke arah meja kerja yang "berantakan" itu sekali lagi. Ruangan itu kini memiliki aroma yang berbeda, warna yang berbeda, dan nyawa yang berbeda.

Debat soal kebiasaan mungkin belum benar-benar berakhir, namun bagi Arga, setiap perdebatan dengan Nara adalah bukti bahwa hidupnya bukan lagi sekadar garis lurus yang membosankan. Mereka melangkah menuju lift, meninggalkan ruangan yang kini bukan sekadar kantor, melainkan tempat di mana dua dunia yang berbeda mulai belajar untuk saling menghargai tumpahan cat dan garis penggaris secara berdampingan.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!