Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Ujian Pertama
Kabut pagi masih menggantung di antara pepohonan pegunungan ketika Goo Yoon membuka matanya. Udara dingin menusuk kulit, namun tubuhnya sudah terbiasa dengan latihan keras yang ia lakukan setiap hari.
Ia duduk perlahan di atas batu besar tempat ia biasa beristirahat. Tangannya terlihat penuh luka kecil dan kapalan. Setiap luka itu adalah bukti dari latihan tanpa henti yang ia jalani selama beberapa minggu terakhir.
Goo Yoon menghela napas panjang.
“Masih belum cukup,” gumamnya pelan.
Sejak bertemu lelaki tua misterius di gunung itu, hidupnya berubah. Lelaki itu tidak pernah benar-benar mengajarinya teknik pedang yang rumit. Ia hanya menunjukkan beberapa gerakan dasar.
Namun semakin Goo Yoon melatihnya, semakin ia menyadari bahwa gerakan sederhana itu menyimpan makna yang sangat dalam.
Setiap langkah harus stabil.
Setiap ayunan harus tepat.
Setiap napas harus seirama dengan gerakan tubuh.
Hari itu Goo Yoon memutuskan turun ke desa di kaki gunung. Persediaan makanannya hampir habis, dan ia harus membeli beberapa bahan makanan untuk bertahan beberapa hari ke depan.
Perjalanan menuju desa memakan waktu hampir satu jam. Ketika ia tiba, desa itu sudah ramai oleh aktivitas penduduk.
Para pedagang membuka lapak mereka, anak-anak berlarian di jalan tanah, dan para petani membawa keranjang berisi hasil panen.
Namun ketenangan itu tiba-tiba pecah oleh suara keras.
“Cepat bayar uang perlindungan!”
Beberapa pria berpakaian hitam berdiri di depan sebuah toko buah kecil milik pedagang tua.
Pedagang itu terlihat ketakutan.
“Tapi... saya sudah membayar minggu lalu...” katanya dengan suara gemetar.
Salah satu pria menendang meja dagangan hingga buah-buahan berjatuhan ke tanah.
“Kalau kau tidak bayar lagi, kami akan menghancurkan tokomu!”
Penduduk desa hanya bisa menonton dari kejauhan. Tidak ada yang berani melawan kelompok pria itu.
Goo Yoon berdiri diam beberapa langkah dari sana.
Hatinya terasa panas melihat kejadian itu.
Ia sebenarnya tidak ingin mencari masalah. Tetapi melihat orang lemah diperlakukan seperti itu membuatnya tidak bisa diam.
Ia melangkah maju.
“Cukup.”
Suara Goo Yoon tenang, namun cukup jelas terdengar oleh semua orang.
Para pria berpakaian hitam menoleh ke arahnya.
Pemimpin mereka menyeringai.
“Siapa kau?”
Goo Yoon menatapnya dengan dingin.
“Hanya seseorang yang tidak suka melihat pengecut menindas orang tua.”
Para pria itu tertawa keras.
“Bocah seperti kamu berani bicara besar?”
Salah satu dari mereka maju sambil mencabut pedang pendek dari pinggangnya.
“Baiklah, aku akan mengajarimu pelajaran.”
Penduduk desa mundur dengan panik.
Namun Goo Yoon tidak bergerak.
Tangannya perlahan menggenggam pedang kayu latihan yang selalu ia bawa.
Pria itu tertawa mengejek.
“Pedang kayu? Kau pikir bisa melawanku dengan itu?”
Namun sebelum ia sempat menyerang—
WHOOSH!
Tubuhnya tiba-tiba terjatuh ke tanah dengan keras.
Semua orang terdiam.
Gerakan Goo Yoon begitu cepat hingga hampir tidak terlihat.
Pria yang jatuh itu memegangi pergelangan tangannya sambil mengerang kesakitan.
“Pergelangan tanganku...!”
Pemimpin kelompok itu langsung berubah ekspresi.
Ia menyadari bahwa bocah di depannya bukan orang biasa.
“Serang dia!” teriaknya.
Empat pria sekaligus maju menyerang Goo Yoon.
Pedang mereka berkilat di udara.
Namun Goo Yoon tetap tenang.
Ia mengingat kata-kata lelaki tua misterius itu.
“Pedang bukan tentang kekuatan. Pedang adalah tentang melihat celah lawanmu.”
CLANG!
CLANG!
CLANG!
Pedang para pria itu terpental satu per satu dari tangan mereka.
Gerakan Goo Yoon sederhana namun sangat tepat.
Dalam waktu singkat, semua pria itu sudah tergeletak di tanah.
Desa kembali sunyi.
Pemimpin kelompok itu mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.
“Kau... dari sekte mana?”
Goo Yoon menjawab dengan suara tenang.
“Aku bukan dari sekte mana pun.”
Ia menunjuk ke arah jalan keluar desa.
“Pergi. Jangan kembali lagi.”
Kelompok pria itu segera melarikan diri tanpa berani menoleh lagi.
Pedagang tua yang tadi diperas berjalan mendekat dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, anak muda... kau telah menyelamatkanku.”
Goo Yoon hanya mengangguk kecil.
Namun saat ia berjalan meninggalkan desa, seseorang sedang memperhatikannya dari atap bangunan.
Seorang pria berjubah hitam berdiri diam dengan lambang naga perak di dadanya.
Ia tersenyum tipis.
“Menarik... bocah itu memiliki bakat luar biasa.”
Goo Yoon sama sekali tidak menyadari bahwa langkah kecilnya hari itu telah menarik perhatian seseorang dari dunia bela diri yang jauh lebih besar.
Perjalanannya baru saja dimulai.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/