seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Malam itu, cahaya lampu pijar di kontrakan mereka tampak temaram, memantulkan bayangan Dinda yang gelisah di dinding tripleks. Dita sudah terlelap setelah memakan es krim stroberi yang dibawa Dika dengan penuh semangat tadi sore. Sementara Dika, remaja itu tertidur di samping adiknya dengan napas berat, tangannya masih menyisakan bekas kapalan baru akibat memanggul karung beras di toko Pak Galih.
Dinda menatap telapak tangan Dika yang kasar. Hatinya perih. "Maafin Kakak, Dik. Kamu seharusnya memegang pulpen, bukan karung beras," bisiknya lirih.
Dengan tangan gemetar, Dinda mengambil kartu nama yang ia sembunyikan di saku bajunya. Ia melangkah keluar ke teras kecil, menghirup udara malam yang dingin, lalu menekan deretan angka di ponsel tuanya.
Nada sambung terdengar. Jantung Dinda berdegup kencang.
"Halo?" suara bariton yang berat dan tenang terdengar di seberang telepon.
"Tuan Alan... ini saya, Adinda," ucap Dinda terbata.
Hening sejenak di seberang sana. Alan tampaknya sedang berada di ruangan yang sunyi. "Saya tahu ini Anda, Dinda. Sudah mengambil keputusan?"
Dinda memejamkan mata, memantapkan hatinya. "Iya, Tuan. Saya menerima tawaran Anda. Saya bersedia menjadi sekretaris pribadi Anda. Tapi... saya mohon, tolong rahasiakan ini dari adik saya, Dika. Setidaknya untuk saat ini."
"Keputusan yang bijak, Dinda," jawab Alan dengan nada yang sedikit lebih lembut. "Soal adikmu, saya tidak akan ikut campur urusan pribadi Anda. Besok pagi, sopir saya akan menjemput Anda pukul delapan. Bersiaplah."
"Terima kasih, Tuan Alan."
Dinda menutup teleponnya. Ada rasa lega yang luar biasa, namun juga ketakutan yang menghantui. Ia tahu, mulai besok, hidupnya akan berubah total.
***
Keesokan paginya, suasana di kontrakan jauh lebih sibuk. Dita sudah bangun sejak pukul lima pagi, duduk di tepi ranjang dengan seragam sekolah yang sudah dicuci bersih oleh Dinda.
"Kak, beneran Dita boleh ikut sekolah?" tanya Dita dengan mata berbinar. Wajahnya tidak lagi pucat pasi, ada rona merah tipis yang menandakan kondisinya jauh lebih stabil.
"Kakak khawatir, Ta. Kamu baru keluar rumah sakit," Dinda merapikan kerah seragam Dita dengan ragu.
Dika yang sedang memakai sepatu pun ikut menimpali, "Iya, Ta. Di sekolah itu berisik, banyak debu. Nanti kalau kamu pusing gimana?"
Dita cemberut, matanya mulai berkaca-kaca. "Dita bosen di rumah terus, Kak. Dita mau ketemu temen-temen. Dita janji nggak akan lari-larian. Dita cuma mau duduk manis di kelas. Boleh ya?"
Dinda dan Dika saling berpandangan. Rasa iba mengalahkan kekhawatiran mereka. Selama berbulan-bulan, Dita seolah dipenjara oleh penyakitnya sendiri. Melihat semangatnya pagi ini adalah anugerah yang tak ingin mereka hancurkan.
"Baiklah," putus Dinda akhirnya. "Tapi Dika, kamu harus awasi Dita setiap detik. Jangan biarkan dia kelelahan. Kalau dia pucat sedikit saja, bawa pulang."
"Siap, Bos!" Dika memberikan hormat militer dengan senyum lebar.
Mereka bertiga keluar dari kontrakan. Karena jarak sekolah menengah pertama mereka tidak terlalu jauh, mereka memilih untuk berjalan kaki perlahan.
"Hitung-hitung olahraga biar jantung Dita kuat," gurau Dika sambil menggandeng tangan Dita dengan sangat hati-hati, seolah-olah adiknya adalah porselen yang mudah pecah.
**
Setelah mengantar adik-adiknya sampai ke persimpangan jalan menuju sekolah, Dinda bergegas kembali. Sebuah sedan hitam sudah menunggu di depan gang. Perjalanan menuju gedung pusat Ryuga Corp terasa seperti mimpi bagi Dinda.
Gedung itu menjulang tinggi, berlapis kaca yang memantulkan langit Jakarta. Saat Dinda melangkah masuk, semua mata tertuju padanya. Ia mengenakan kemeja putih rapi dan rok hitam sederhana, namun aura ketenangannya membuat orang-orang segan.
Leo, asisten Alan, menyambutnya di lobby. "Selamat pagi, Nona Adinda. Mari, Tuan Alan sudah menunggu di lantai paling atas."
Di ruangan CEO yang luas dan mewah, Alan duduk di balik meja besarnya. Ia menatap Dinda dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Selamat bergabung, Dinda. Tugas Anda hari ini sederhana, pelajari semua agenda saya dan bantu Leo merapikan laporan bulanan dari cabang pabrik. Anda akan memiliki ruangan sendiri di sebelah ruangan saya," jelas Alan tanpa basa-basi profesional.
Dinda mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Terima kasih atas kesempatannya."
Sepanjang hari, Dinda tenggelam dalam tumpukan berkas. Ia membuktikan bahwa gelar "mahasiswa berprestasi" yang pernah ia sandang bukan sekadar isapan jempol. Ia sangat teliti dan cepat belajar. Alan sesekali memperhatikannya dari balik pintu kaca ruangannya, ada rasa puas melihat Dinda berada begitu dekat dengannya.
Setidaknya di sini, saya bisa menjamin keamanannya, batin Alan.
***
Sementara itu di sekolah, Dika benar-benar menjalankan tugasnya sebagai pengawal pribadi. Mereka berada di kelas yang sama karena mereka kembar. Sepanjang jam pelajaran, Dika sesekali menoleh ke bangku Dita, memastikan adiknya tidak mengantuk atau lemas.
"Dika, aku nggak apa-apa," bisik Dita sambil tertawa pelan saat melihat wajah cemas Dika untuk kesepuluh kalinya.
"Diam dan tulis saja materinya, Ta," balas Dika ketus, meski hatinya sangat lega melihat Dita bisa tertawa bersama teman-temannya saat jam istirahat.
Pukul 13.00 WIB, bel pulang sekolah berbunyi. Dika menggendong tas Dita selain tas miliknya sendiri. Mereka berjalan pulang dengan langkah santai. Sesampainya di rumah, Dika membantu Dita duduk di kursi kayu.
"Ta, Abang harus berangkat kerja sekarang. Kamu beneran nggak apa-apa sendiri?" tanya Dika dengan nada berat. Ada rasa bersalah menyelinap karena harus meninggalkan adiknya yang baru sembuh.
Dita mengangguk mantap. "Nggak apa-apa, Bang Dika. Dita mau baca buku catatan yang Abang rangkum tadi. Abang hati-hati kerjanya ya. Jangan lupa ice cream-nya kalau ada rezeki lebih."
Dika tersenyum, mengacak rambut Dita. "Pasti. Oh iya, sebentar."
Dika melangkah ke kontrakan sebelah, mengetuk pintu rumah Bu Siti, tetangga mereka yang paling baik. "Bu Siti, saya titip Dita sebentar ya. Saya mau berangkat kerja. Kalau ada apa-apa atau Dita butuh bantuan, tolong tengok ya, Bu."
"Oalah, iya Le. Berangkat saja, biar Dita Ibu pantau dari sini. Sukses ya kerjanya," jawab Bu Siti ramah.
Dengan perasaan yang sedikit lebih tenang, Dika berlari menuju toko Pak Galih. Ia tahu, di sisi lain kota, kakaknya mungkin juga sedang berjuang. Ia tidak tahu bahwa perjuangan kakaknya kini melibatkan pria yang paling ingin ia hindari.
***
Di kantor Ryuga Corp, hari kerja pertama Dinda hampir berakhir. Alan keluar dari ruangannya, mendapati Dinda masih sibuk mengetik laporan.
"Dinda, ini sudah jam lima. Pulanglah. Supir akan mengantar Anda," ujar Alan.
Dinda mendongak, matanya sedikit lelah namun puas. "Sedikit lagi selesai, Tuan. Saya ingin menyelesaikan ini agar besok tidak menumpuk."
Alan berjalan mendekat, bersandar di meja Dinda. "Kenapa Anda begitu keras pada diri sendiri?"
Dinda tersenyum tipis, teringat wajah Dita yang tersenyum pagi tadi dan Dika yang rela memanggul beban berat. "Karena saya punya dua alasan kuat untuk tetap berdiri tegak, Tuan. Saya tidak boleh kalah oleh rasa lelah."
Alan terdiam, menatap Dinda dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin memberikan perlindungan yang lebih, namun ia tahu Dinda bukan tipe wanita yang suka dikasihani.
"Besok adalah hari penting. Saya ada pertemuan dengan beberapa investor luar negeri. Saya ingin Anda mendampingi saya," ucap Alan.
Dinda mengangguk. "Tentu, Tuan. Saya akan bersiap."
Saat Dinda melangkah keluar menuju mobil jemputan, ia tidak menyadari bahwa di saku tasnya, ia membawa harapan baru bagi keluarganya. Namun, di dalam hatinya, sebuah pertanyaan besar terus mengusik: Sampai kapan ia bisa menyembunyikan pekerjaan ini dari Dika? Dan apa yang akan terjadi jika Dika melihatnya turun dari mobil mewah milik Allandra Ryuga tepat di depan gang mereka?
***
Bersambung...