NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minggu yang Tak Biasa

Minggu pagi.

Aku sudah berdiri di depan rumah dengan sepatu lari yang terikat rapi. Udara masih dingin, langit belum sepenuhnya terang. Jalanan komplek masih sepi banget.

HP di tanganku menyala. Kosong.

Aku melirik jam, sudah hampir pukul enam. “Hari ini jangan sampai gagal lagi…” gumamku pelan.

Aku mulai pemanasan ringan, tapi fokusku terus teralih ke HP yang sengaja kuletakkan di atas pagar. Beberapa kali aku melirik ke sana, tapi tetap tidak ada notif masuk. Akhirnya aku menyerah. Aku ambil HP itu, lalu mengetik singkat:

“Udah siap?”

Pesan terkirim. Aku menunggu. Satu menit, dua menit, masih belum ada balasan. Aku menghela napas, mencoba positif thinking. Mungkin dia lagi siap-siap atau HP-nya masih di-charge.

Nggak lama kemudian, layar HP-ku menyala. Cila. Aku langsung buka pesannya cepat-cepat.

“Maaf ya, Rendra… aku nggak bisa ikut. Perutku sakit…”

Aku terdiam sebentar. Semangat yang tadi sudah kumpulin sejak semalam rasanya langsung turun begitu saja. Bukan karena aku marah sama Cila, tapi karena aku sudah terlanjur berharap banyak bisa lari bareng dia pagi ini.

Aku menatap layar beberapa detik, lalu membalas singkat: “Ya udah, nggak apa-apa.”

Layar kembali gelap. Aku berdiri diam di depan pagar, bergelut sama rasa malas yang mulai muncul lagi. “Lari sendiri…?” gumamku pelan.

Rasanya pengen banget balik masuk rumah, buka sepatu, terus lanjut tidur. Tapi anehnya, kaki ini nggak bergerak mundur. Aku menarik napas panjang. “Ya sudah lah…”

Aku akhirnya mulai berlari. Langkah awal terasa berat banget, tapi lama-lama ritmenya ketemu. Napasku mulai teratur. Jalanan yang sepi bikin suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Tanpa sadar, hampir dua puluh menit aku muter-muter komplek sendirian. Aku memperlambat langkah, lalu jalan santai pulang ke rumah.

***

Rumah sudah sepi. Aku masuk dan lanjut rutinitas biasanya—latihan sebentar, mandi, terus makan. Semuanya berjalan sesuai rencana awal. Tapi entah kenapa, rasanya ada yang kurang pas saja.

Aku duduk di ruang tengah, menyalakan TV cuma buat pengantar suara supaya nggak terlalu sepi. Ganti-ganti channel, tapi nggak ada yang menarik. Akhirnya aku menyerah dan cuma bengong.

Tanganku kembali meraih HP di meja. Layar menyala. Obrolan sama Cila masih ada di sana.

“Maaf ya…”

Aku menatap pesan itu beberapa detik. TV di depan masih nyala, tapi perhatianku sudah nggak ke sana lagi. Aku malah kepikiran, dia sakit perutnya parah nggak ya?

*Getar.*

Ku menoleh. Ternyata ada pesan baru masuk dari Cila.

“Ren, kamu sudah nyiapin keperluan buat besok?” tanya Cila lewat pesan singkat.

Aku langsung membalasnya dengan jujur. “Belum. Aku lupa, apa saja sih yang disuruh bawa.”

Aku tersenyum kecil sendiri di sofa. Untung juga kemarin aku nggak terlalu memperhatikan apa yang disampaikan kakak kelas di depan lapangan. Pikiranku melayang entah ke mana waktu itu.

“Kamu sudah?” lanjutku bertanya.

“Belum,” balas Cila singkat.

Beberapa detik kemudian, muncul lagi pesan darinya. “Ya udah, kamu ke rumah aku aja sekarang ya. Kita kerjain bareng.”

Aku sedikit mengernyit, memastikan aku nggak salah baca. “Sekarang?”

“Iya.”

Tanpa sadar, sudut bibirku langsung terangkat. Semangat yang tadi sempat hilang gara-gara gagal lari pagi, tiba-tiba balik lagi begitu saja. “Ya udah, aku ke sana,” balasku cepat.

Aku langsung berdiri dari sofa, meraih sandal, lalu bergegas keluar rumah. Tanpa pikir panjang, aku menuju ke halaman belakang rumah, melewati jalur yang sudah biasa kami lewati sejak kecil. Pintu besi pembatas itu sedikit berderit saat kubuka pelan. Aku melangkah masuk.

Halaman belakang rumah Cila langsung terbentang luas di depanku. Suasananya damai. Di sisi kanan, air kolam renang tampak tenang memantulkan cahaya sore. Di sisi lain, kolam ikan dengan permukaan beriak pelan menambah kesan sejuk. Beberapa kursi dan sofa outdoor tersusun rapi di teras belakang yang menghadap langsung ke kolam. Aku sudah pernah ke sini, tapi entah kenapa, sore ini semuanya terasa baru.

Langkahku sedikit dipercepat menuju teras. Di salah satu sofa itu, Cila sudah duduk menunggu. Tubuhnya sedikit membungkuk dengan satu tangan memegangi perutnya. Langkahku spontan melambat.

“Cil… emang kamu kenapa?” tanyaku pelan sambil mendekat.

Cila mengangkat wajahnya. Senyumnya tipis, tapi terlihat sedikit dipaksakan. “Nggak apa-apa… cuma lagi PMS,” jawabnya berusaha santai.

Aku diam beberapa detik, menatapnya. Cara dia duduk dan tangannya yang tidak lepas dari perut membuatku semakin bingung. “PMS itu… apaan?” tanyaku pelan.

Cila langsung melirikku, ekspresinya sedikit berubah antara geli dan heran. “Ya ampun, Ndra…” desahnya. “Itu… datang bulan.”

“Oh…” gumamku, merasa wajahku sedikit panas karena kikuk.

Cila menghela napas pelan. “Makanya aku tadi nggak jadi ikut lari.”

Aku langsung merasa sedikit bersalah, meski itu bukan salahku. “Oh…” ulangku pelan. Aku berdiri di depannya beberapa detik, bingung harus melakukan apa. Rasanya serba salah. Cila yang melihat ekspresiku malah tersenyum kecil.

“Ih, kamu kenapa sih mukanya begitu?”

Aku menggaruk belakang kepala, canggung. “Ya… bingung aja.”

“Bingung kenapa?”

“Takut kamu kenapa-kenapa.”

Cila tertawa kecil, meski terdengar pelan karena menahan sakit. “Lebay kamu.”

Aku ikut tersenyum tipis. Rasa tegangku sedikit berkurang.

“Udah, sini duduk,” katanya sambil menepuk sofa kosong di sampingnya.

Aku mengangguk, lalu duduk di sebelahnya. Di atas meja kecil di depan kami, beberapa kertas dan perlengkapan MPLS sudah berserakan. Tapi jujur, fokusku sama sekali bukan ke kertas-kertas itu. Aku sesekali melirik ke arahnya, memastikan dia baik-baik saja.

Cila tiba-tiba terdiam. Tangannya masih menekan perutnya, wajahnya sedikit meringis menahan nyeri yang datang tiba-tiba. “Duh… kadang ini tuh sakit banget, tau, Ndra…” gumamnya pelan.

Dan tanpa peringatan—kepalanya pelan-pelan jatuh bersandar di bahuku.

Aku membeku seketika. Tanganku yang tadi santai langsung kaku, tidak tahu harus diletakkan di mana. Napasku sedikit tertahan, dan aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang mendadak jauh lebih cepat dari seharusnya.

Cila tidak bergerak. Dia hanya diam di sana, membiarkan kepalanya bersandar nyaman, seolah bahuku adalah tempat paling wajar di dunia untuknya bersandar.

Di tengah suasana yang tenang, hanya terdengar suara air dari kolam yang mengalir pelan. Aku masih diam, benar-benar takut bergerak. Aku takut kalau aku melakukan sedikit saja gerakan salah… dia akan menjauh.

Dan di saat itu juga, satu hal tiba-tiba terasa sangat jelas di kepalaku—ini sudah bukan sekadar sahabat.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa sangat panjang.

Cila tiba-tiba sedikit bergerak, seolah baru tersadar dari lamunannya sendiri. Kepalanya yang tadi bersandar nyaman di bahuku perlahan terangkat. Dia terdiam sebentar, lalu menoleh ke arahku. Wajahnya berubah—ada sedikit ekspresi kaget, lalu perlahan berganti menjadi rona malu yang tidak bisa dia sembunyikan.

Aku yang menyadari perubahan itu hanya tersenyum kecil. Tidak mengatakan apa-apa, karena aku pun tidak tahu harus bicara apa.

Melihat aku tersenyum, Cila langsung menunduk dalam. Sudut bibirnya ikut terangkat tipis, sebuah senyum yang tertahan seolah dia benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana setelah kejadian tadi. Aku spontan menoleh ke arah lain, masih dengan senyum kecil yang sama tertinggal di wajahku.

Hening. Tapi kali ini rasa heningnya berbeda, bukan lagi canggung yang menyesakkan. Lebih ke arah kami sama-sama sadar akan apa yang baru saja terjadi, tapi sama-sama tidak ingin merusak momen itu dengan kata-kata.

Beberapa detik kemudian, aku berdeham pelan untuk memecah suasana. “Eh… kita jadi ngerjain ini nggak?” tanyaku, berusaha mengalihkan perhatian kami kembali ke meja.

Cila masih menunduk, lalu mengangguk kecil. “Iya…” jawabnya pelan.

Dia meraih kertas di atas meja dan mencoba terlihat fokus, meskipun sesekali dia masih mencuri napas panjang seperti sedang menahan sesuatu di dalam dadanya. Aku ikut mengambil satu lembar kertas tugas milikku.

“Ini disuruh isi biodata sama alasan masuk sekolah, ya?” tanyaku memastikan.

“Iya…” jawabnya singkat.

Kami mulai menulis. Suasana kembali tenang. Hanya terdengar suara gesekan pena di atas kertas dan suara angin sore yang lewat pelan di sekitar area kolam renang. Beberapa menit berlalu tanpa ada yang bicara.

Aku melirik ke arahnya sekilas. Cila berhenti menulis lagi. Tangannya kembali menekan perutnya dengan erat, dan wajahnya sedikit meringis menahan sakit yang sepertinya kembali datang.

“Cil…” panggilku pelan.

“Hm?” sahutnya tanpa menoleh.

“Kalau sakit banget… nggak usah dipaksain dulu ngerjainnya.”

Dia menggeleng pelan, tetap memaksakan diri. “Nanti malah numpuk tugasnya…”

Aku menghela napas kecil melihat keras kepalanya. Tanpa banyak pikir, aku langsung menarik kertas tugasnya dari atas meja. “Sini.”

Cila menoleh bingung. “Hah? Mau diapain?”

“Kamu jawab aja pertanyaannya. Aku yang nulisin di kertas kamu.”

Dia menatapku diam selama beberapa detik. Lalu, senyum kecil yang tulus itu muncul lagi di wajahnya. “Kamu tuh ya…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Aku pura-pura tidak peduli dan mulai menyiapkan pena. “Udah, buruan jawab.”

Cila akhirnya mulai menjawab poin-poin biodata itu pelan-pelan, sementara aku menuliskan setiap ucapannya di kertasnya. Kadang dia berhenti sebentar karena harus menahan nyeri. Kadang juga dia tiba-tiba tersenyum sendiri, entah karena memikirkan jawabannya… atau mungkin karena caraku membantunya.

“Jelek banget tulisan kamu, Ren,” katanya tiba-tiba sambil mengintip hasil tulisanku.

Aku langsung meliriknya protes. “Yang penting masih bisa dibaca, kan?”

“Kasihan yang baca nanti kalau begini tulisannya,” balasnya santai, mulai berani bercanda lagi.

Aku mendecak pelan, pura-pura kesal. “Ya sudah, kalau protes sini kamu saja yang tulis sendiri.”

“Nggak mau,” jawabnya cepat, kali ini sambil tertawa kecil yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih segar.

Waktu terus berjalan tanpa terasa saat kami duduk bersisian di sofa itu.

Awalnya kami hanya fokus mengerjakan tugas, tapi entah sejak kapan obrolan kecil mulai menyelip di antara tulisan-tulisan itu. Aku sesekali melontarkan komentar iseng, kadang sengaja melebih-lebihkan sesuatu hanya untuk melihat bagaimana reaksinya.

Dan seperti yang kuharapkan—Cila tertawa.

Tawa yang ringan, tapi cukup untuk membuat suasana di sekitar kolam ini terasa lebih hidup.

“Apaan sih kamu…” katanya sambil menahan tawa, lalu sedikit memukul lenganku pelan.

Aku ikut tersenyum melihatnya. “Biar nggak tegang saja ngerjainnya.”

“Gak tegang kok,” balasnya cepat, meskipun jelas tadi dia sempat meringis berkali-kali.

“Yang penting kamu bisa ketawa,” jawabku santai.

Kami kembali melanjutkan pekerjaan, tapi kali ini suasananya terasa berbeda. Lebih santai. Lebih… dekat. Tanpa terasa, cahaya matahari pun mulai berubah. Dari yang tadinya hangat, perlahan mulai terasa terik. Bayangan benda-benda di sekitar kolam pun tampak semakin pendek.

Aku melirik ke arah langit sekilas. “Sudah siang,” gumamku pelan.

Cila ikut menoleh ke arah langit yang mulai cerah, lalu sedikit mengangguk. “Iya… nggak terasa ya.”

Aku mulai merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja. “Ya sudah, segini dulu cukup kan? Sisanya tinggal kamu bawa saja besok buat dikumpulin.”

Cila mengangguk pelan, menatapku tulus. “Makasih ya, Ren… sudah bantuin nulisin tadi.”

Aku mengangkat bahu santai, berusaha tidak terlihat terlalu senang. “Santai saja.”

Aku berdiri dari sofa, lalu meliriknya sebentar sebelum beranjak. “Istirahat yang banyak ya di dalam. Jangan pecicilan dulu.”

“Iya,” jawabnya singkat, tapi kali ini dengan senyum yang jauh lebih lembut dari biasanya.

Aku berjalan meninggalkan teras itu, melewati kolam renang yang tadi terasa begitu tenang. Entah kenapa, langkahku saat melewati pintu besi pembatas rumah kami terasa sangat ringan.

***

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar tanpa mampir ke ruangan lain. Aku duduk di tepi kasur, membiarkan kesunyian kamar menyergapku.

Sunyi. Tapi kepalaku… tidak.

Aku menghela napas pelan, lalu tanpa sadar tersenyum sendiri menatap dinding kamar. “Tadi harusnya malu… tapi kok malah senang?” gumamku lirih.

Bayangan kejadian tadi muncul lagi dengan jelas di kepalaku. Cara dia bersandar di bahuku tanpa ragu. Cara dia menunduk malu saat kepalanya terangkat. Dan cara dia tertawa karena hal-hal kecil yang kulakukan untuk menghiburnya.

Aku menunduk, menatap lantai kosong di depanku, mencoba mencerna semuanya. “Dia nggak marah… malah ketawa.”

Aku mengangkat wajah sedikit, senyum itu masih tertahan dan enggan pergi. “Berarti dia nyaman…?”

Kalimat itu menggantung begitu saja di udara. Aku tidak langsung menjawabnya, seolah takut jika aku menjawab "iya", sihir momen ini akan hilang. Tapi, senyumku sama sekali tidak hilang.

Aku menyandarkan tubuh ke kasur, menatap langit-langit kamar yang putih polos. Hari ini sebenarnya sederhana. Tidak ada hal besar yang terjadi. Tapi entah kenapa… itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku terus memikirkannya sepanjang siang itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!