Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan dari dua Arah
Malam semakin dalam.
Langit kota berubah gelap sepenuhnya.
Lampu-lampu jalan menjadi satu-satunya cahaya yang menemani.
Mobil Ryan melaju perlahan.
Tidak terlalu cepat.
Tidak juga lambat.
Seolah
ia tidak benar-benar tahu ke mana harus pergi.
Tangannya memegang setir.
Namun pikirannya
tidak berada di jalan.
Bayangan Arini terus muncul.
Wajahnya.
Tatapannya.
Dan air mata yang ia tahan.
“Aku tidak punya pilihan”
Kalimat itu terus berputar.
Mengganggu.
Menusuk.
Ryan menarik napas panjang.
Lalu menghembuskannya perlahan.
“Selalu ada pilihan” gumamnya.
Namun kali ini
suara itu tidak sekuat biasanya.
Untuk pertama kalinya
ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan ragu.
Tapi tekanan.
Tekanan dari dua arah.
Di satu sisi
masa depan yang sedang ia bangun.
Dunia baru yang penuh peluang.
Di sisi lain
seseorang yang tidak bisa ia abaikan.
Ryan mengencangkan genggamannya pada setir.
“Kalau aku berhenti sekarang…”
Ia menggeleng pelan.
“Semua ini sia-sia”
Namun jika ia terus maju
risikonya juga tidak kecil.
Mobilnya akhirnya berbelok.
Masuk ke area yang sudah sangat ia kenal.
Workshop.
Lampu masih menyala.
Suara aktivitas masih terdengar.
Ryan turun dari mobil.
Menutup pintu dengan pelan.
Begitu ia masuk
beberapa teknisi langsung menoleh.
“Bang, balik lagi”
Ryan hanya mengangguk.
“Iya”
Tanpa basa-basi
ia langsung menuju mobil balap itu.
Mobil yang kini menjadi pusat segalanya.
Ia berdiri di depannya.
Menatap.
Beberapa detik.
Seolah
mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Lalu
ia langsung bekerja.
Kap mesin dibuka.
Alat diambil.
Tangannya bergerak cepat.
Namun tidak asal.
Lebih tegas.
Lebih dalam.
Setiap bagian ia sentuh
dengan fokus penuh.
Seolah
ia sedang bertarung.
Bukan dengan orang lain.
Tapi dengan dirinya sendiri.
“Bang, bagian ini tadi sudah kita setel” kata salah satu teknisi.
Ryan melirik sekilas.
“Kurang”
Ia langsung membuka ulang.
“Tekanannya belum maksimal”
Teknisi itu terdiam.
Melihat lebih dekat.
“Eh… iya juga…”
Ryan tidak berhenti.
Ia mengencangkan ulang.
Mengatur ulang sudut.
Menyesuaikan aliran.
Gerakannya cepat.
Namun penuh perhitungan.
Raka yang melihat dari jauh mulai memperhatikan.
Ada sesuatu yang berbeda.
Ryan biasanya fokus.
Namun kali ini
lebih dari itu.
“Dia lagi marah…” gumam Raka pelan.
Ia mendekat.
“Kamu habis dari mana”
Ryan tetap bekerja.
Tidak menoleh.
“Luar”
Jawaban singkat.
Raka tidak bertanya lagi.
Namun ia melihat cara Ryan bekerja.
Lebih agresif.
Lebih berani.
“Kalau kamu pakai setting ini…” kata Raka.
Ryan memotong,
“Top speed naik”
Raka mengangguk.
“Tapi stabilitas turun”
Ryan berhenti sebentar.
Menatap hasilnya.
Beberapa detik
ia berpikir.
Lalu
ia mengubah sedikit.
“Seimbang”
Raka tersenyum tipis.
“Sekarang kamu mulai main di level berbeda”
Ryan tidak menjawab.
Namun dalam pikirannya
ia tahu.
Ini bukan lagi soal mesin.
Ini soal keputusan.
Keesokan harinya
Workshop jauh lebih ramai dari biasanya.
Beberapa orang baru terlihat.
Dengan pakaian rapi.
Lebih formal.
Mereka bukan teknisi biasa.
Ryan langsung menyadari itu.
“Briefing sekarang” suara Raka terdengar.
Semua berkumpul.
Beberapa detik kemudian
Adrian masuk.
Langkahnya tenang.
Namun auranya
langsung mengubah suasana.
“Waktu kita tidak banyak” katanya langsung.
Semua langsung fokus.
“Kompetisi tinggal hitungan hari”
Ia berjalan pelan.
Menatap satu per satu.
“Kesalahan kecil saja…”
Ia berhenti.
“…tidak bisa ditoleransi”
Sunyi.
Matanya berhenti di Ryan.
“Termasuk kamu”
Beberapa orang langsung melirik.
Ryan tetap tenang.
Tatapannya tidak goyah.
Adrian tersenyum tipis.
“Uji hari ini”
Perintah itu jelas.
Lintasan uji berada di area tertutup.
Aspal hitam membentang panjang.
Udara panas memantul dari permukaan jalan.
Mobil balap itu sudah siap.
Ryan berdiri di sampingnya.
Menatap.
Ini bukan sekadar mesin lagi.
Ini pembuktian.
Raka mendekat.
“Jangan pakai emosi”
Ryan melirik.
Namun tidak menjawab.
Ia masuk ke dalam mobil.
Duduk.
Menyesuaikan posisi.
Tangannya menggenggam setir.
Matanya menatap lurus ke depan.
Untuk beberapa detik
semuanya terasa hening.
Namun di dalam dirinya
tidak.
Suara Arini.
Wajahnya.
Dan kenyataan yang akan datang.
Ryan menutup matanya sejenak.
Menarik napas dalam Lalu
membukanya kembali.
Tatapannya berubah.
Fokus.
Mesin dinyalakan.
Suara menggelegar langsung memecah udara.
Getaran terasa hingga ke dada.
Di kejauhan
Adrian berdiri.
Mengamati tanpa ekspresi.
Ryan menginjak pedal.
Mobil melesat.
Cepat.
Sangat cepat.
Lintasan terasa menyempit.
Angin menghantam keras.
Namun Ryan tidak goyah.
Setiap belokan
diambil dengan presisi tinggi.
Ban mencengkeram aspal.
Suara gesekan terdengar tajam.
Namun mobil tetap stabil.
“Lebih cepat…” bisiknya.
Ia menekan lebih dalam.
Kecepatan naik.
Namun di satu titik
mobil sedikit bergoyang.
Ryan langsung mengoreksi.
Cepat.
Tepat.
Di dalam mobil
tidak ada ruang untuk kesalahan.
Hanya satu pilihan.
Menang.
Di garis akhir
mobil meluncur dengan sempurna.
Ryan mengerem.
Mobil berhenti.
Sunyi.
Beberapa detik
tidak ada suara.
Lalu
tepuk tangan terdengar.
“Gila…”
“Naiknya jauh banget…”
Beberapa teknisi tidak menyembunyikan kagumnya.
Ryan keluar dari mobil.
Napasnya sedikit berat.
Namun matanya
tetap tajam.
Adrian berjalan mendekat.
Langkahnya tenang.
Mereka saling menatap.
Beberapa detik
tanpa kata.
“Lumayan” kata Adrian.
Ryan tersenyum tipis.
Namun Adrian melanjutkan,
“Masih kurang”
Suasana langsung berubah.
Ryan menyipitkan mata.
“Kurang di mana”
Adrian mendekat.
“Di sini bukan cuma soal cepat”
Ia menunjuk dada Ryan.
“Kalau kamu bawa beban ke lintasan…”
Ia berhenti sejenak.
“…kamu akan kalah sebelum mulai”
Sunyi.
Ryan tidak menjawab.
Namun kali ini
ia mengerti.
Adrian tersenyum tipis.
“Buang itu”
Ryan menatap lurus.
Namun dalam hatinya
ia tahu.
Tidak semua bisa dibuang.
Karena justru
itulah yang membuatnya terus maju.