NovelToon NovelToon
Kau Harus Rela Melepasnya

Kau Harus Rela Melepasnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anto Sabar

Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekanan dari dua Arah

Malam semakin dalam.

Langit kota berubah gelap sepenuhnya.

Lampu-lampu jalan menjadi satu-satunya cahaya yang menemani.

Mobil Ryan melaju perlahan.

Tidak terlalu cepat.

Tidak juga lambat.

Seolah

ia tidak benar-benar tahu ke mana harus pergi.

Tangannya memegang setir.

Namun pikirannya

tidak berada di jalan.

Bayangan Arini terus muncul.

Wajahnya.

Tatapannya.

Dan air mata yang ia tahan.

“Aku tidak punya pilihan”

Kalimat itu terus berputar.

Mengganggu.

Menusuk.

Ryan menarik napas panjang.

Lalu menghembuskannya perlahan.

“Selalu ada pilihan” gumamnya.

Namun kali ini

suara itu tidak sekuat biasanya.

Untuk pertama kalinya

ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Bukan ragu.

Tapi tekanan.

Tekanan dari dua arah.

Di satu sisi

masa depan yang sedang ia bangun.

Dunia baru yang penuh peluang.

Di sisi lain

seseorang yang tidak bisa ia abaikan.

Ryan mengencangkan genggamannya pada setir.

“Kalau aku berhenti sekarang…”

Ia menggeleng pelan.

“Semua ini sia-sia”

Namun jika ia terus maju

risikonya juga tidak kecil.

Mobilnya akhirnya berbelok.

Masuk ke area yang sudah sangat ia kenal.

Workshop.

Lampu masih menyala.

Suara aktivitas masih terdengar.

Ryan turun dari mobil.

Menutup pintu dengan pelan.

Begitu ia masuk

beberapa teknisi langsung menoleh.

“Bang, balik lagi”

Ryan hanya mengangguk.

“Iya”

Tanpa basa-basi

ia langsung menuju mobil balap itu.

Mobil yang kini menjadi pusat segalanya.

Ia berdiri di depannya.

Menatap.

Beberapa detik.

Seolah

mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Lalu

ia langsung bekerja.

Kap mesin dibuka.

Alat diambil.

Tangannya bergerak cepat.

Namun tidak asal.

Lebih tegas.

Lebih dalam.

Setiap bagian ia sentuh

dengan fokus penuh.

Seolah

ia sedang bertarung.

Bukan dengan orang lain.

Tapi dengan dirinya sendiri.

“Bang, bagian ini tadi sudah kita setel” kata salah satu teknisi.

Ryan melirik sekilas.

“Kurang”

Ia langsung membuka ulang.

“Tekanannya belum maksimal”

Teknisi itu terdiam.

Melihat lebih dekat.

“Eh… iya juga…”

Ryan tidak berhenti.

Ia mengencangkan ulang.

Mengatur ulang sudut.

Menyesuaikan aliran.

Gerakannya cepat.

Namun penuh perhitungan.

Raka yang melihat dari jauh mulai memperhatikan.

Ada sesuatu yang berbeda.

Ryan biasanya fokus.

Namun kali ini

lebih dari itu.

“Dia lagi marah…” gumam Raka pelan.

Ia mendekat.

“Kamu habis dari mana”

Ryan tetap bekerja.

Tidak menoleh.

“Luar”

Jawaban singkat.

Raka tidak bertanya lagi.

Namun ia melihat cara Ryan bekerja.

Lebih agresif.

Lebih berani.

“Kalau kamu pakai setting ini…” kata Raka.

Ryan memotong,

“Top speed naik”

Raka mengangguk.

“Tapi stabilitas turun”

Ryan berhenti sebentar.

Menatap hasilnya.

Beberapa detik

ia berpikir.

Lalu

ia mengubah sedikit.

“Seimbang”

Raka tersenyum tipis.

“Sekarang kamu mulai main di level berbeda”

Ryan tidak menjawab.

Namun dalam pikirannya

ia tahu.

Ini bukan lagi soal mesin.

Ini soal keputusan.

Keesokan harinya

Workshop jauh lebih ramai dari biasanya.

Beberapa orang baru terlihat.

Dengan pakaian rapi.

Lebih formal.

Mereka bukan teknisi biasa.

Ryan langsung menyadari itu.

“Briefing sekarang” suara Raka terdengar.

Semua berkumpul.

Beberapa detik kemudian

Adrian masuk.

Langkahnya tenang.

Namun auranya

langsung mengubah suasana.

“Waktu kita tidak banyak” katanya langsung.

Semua langsung fokus.

“Kompetisi tinggal hitungan hari”

Ia berjalan pelan.

Menatap satu per satu.

“Kesalahan kecil saja…”

Ia berhenti.

“…tidak bisa ditoleransi”

Sunyi.

Matanya berhenti di Ryan.

“Termasuk kamu”

Beberapa orang langsung melirik.

Ryan tetap tenang.

Tatapannya tidak goyah.

Adrian tersenyum tipis.

“Uji hari ini”

Perintah itu jelas.

Lintasan uji berada di area tertutup.

Aspal hitam membentang panjang.

Udara panas memantul dari permukaan jalan.

Mobil balap itu sudah siap.

Ryan berdiri di sampingnya.

Menatap.

Ini bukan sekadar mesin lagi.

Ini pembuktian.

Raka mendekat.

“Jangan pakai emosi”

Ryan melirik.

Namun tidak menjawab.

Ia masuk ke dalam mobil.

Duduk.

Menyesuaikan posisi.

Tangannya menggenggam setir.

Matanya menatap lurus ke depan.

Untuk beberapa detik

semuanya terasa hening.

Namun di dalam dirinya

tidak.

Suara Arini.

Wajahnya.

Dan kenyataan yang akan datang.

Ryan menutup matanya sejenak.

Menarik napas dalam Lalu

membukanya kembali.

Tatapannya berubah.

Fokus.

Mesin dinyalakan.

Suara menggelegar langsung memecah udara.

Getaran terasa hingga ke dada.

Di kejauhan

Adrian berdiri.

Mengamati tanpa ekspresi.

Ryan menginjak pedal.

Mobil melesat.

Cepat.

Sangat cepat.

Lintasan terasa menyempit.

Angin menghantam keras.

Namun Ryan tidak goyah.

Setiap belokan

diambil dengan presisi tinggi.

Ban mencengkeram aspal.

Suara gesekan terdengar tajam.

Namun mobil tetap stabil.

“Lebih cepat…” bisiknya.

Ia menekan lebih dalam.

Kecepatan naik.

Namun di satu titik

mobil sedikit bergoyang.

Ryan langsung mengoreksi.

Cepat.

Tepat.

Di dalam mobil

tidak ada ruang untuk kesalahan.

Hanya satu pilihan.

Menang.

Di garis akhir

mobil meluncur dengan sempurna.

Ryan mengerem.

Mobil berhenti.

Sunyi.

Beberapa detik

tidak ada suara.

Lalu

tepuk tangan terdengar.

“Gila…”

“Naiknya jauh banget…”

Beberapa teknisi tidak menyembunyikan kagumnya.

Ryan keluar dari mobil.

Napasnya sedikit berat.

Namun matanya

tetap tajam.

Adrian berjalan mendekat.

Langkahnya tenang.

Mereka saling menatap.

Beberapa detik

tanpa kata.

“Lumayan” kata Adrian.

Ryan tersenyum tipis.

Namun Adrian melanjutkan,

“Masih kurang”

Suasana langsung berubah.

Ryan menyipitkan mata.

“Kurang di mana”

Adrian mendekat.

“Di sini bukan cuma soal cepat”

Ia menunjuk dada Ryan.

“Kalau kamu bawa beban ke lintasan…”

Ia berhenti sejenak.

“…kamu akan kalah sebelum mulai”

Sunyi.

Ryan tidak menjawab.

Namun kali ini

ia mengerti.

Adrian tersenyum tipis.

“Buang itu”

Ryan menatap lurus.

Namun dalam hatinya

ia tahu.

Tidak semua bisa dibuang.

Karena justru

itulah yang membuatnya terus maju.

1
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
baru juga mau mulai belum apa² udah ada yang gak suka 🤦
Nur Wahyuni
seru
Nur Wahyuni
lanjut
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
O,oh .., tidak!!! jangan bikin aku nangis bawang kak .
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
ih ko sedih ya bayangin nya, jangan terlalu rumit lah kasian yang baca, next lanjut... semoga bagus ceritanya
Anto Sabar: insyaallah,makasih bnyk atas dukungannya senior.
total 1 replies
Nur Wahyuni
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!