Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu yang "Bermasalah"
Mansion pribadi Edward Zollern tampak berdiri kokoh di bawah cahaya bulan. Eleanor melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. Ia masih memeluk tasnya erat, seolah itu adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhirnya.
"Lantai dua, kamar paling ujung adalah kamarmu," ucap Edward sambil berjalan di depannya, masih dengan akting memegang bahu yang sesekali tampak kaku. "Kamar itu adalah yang paling nyaman, kuharap kau suka."
Eleanor mendongak, menatap deretan pintu kayu ek yang berat. Begitu ia sampai di depan pintu kamarnya, ia menarik napas lega. Kamarnya luas, mewah, dan yang paling penting—berjarak cukup jauh dari tangga. Namun, saat ia melirik ke samping, matanya membelalak.
"Tunggu, Edward! Kenapa kamarmu tepat di sebelah kamarku? Dan... apakah itu pintu penghubung?" Eleanor menunjuk sebuah pintu kayu di sudut ruangan yang menghubungkan kedua kamar besar itu.
Edward menoleh dengan ekspresi paling polos yang bisa ia buat. "Oh, itu? Itu standar arsitektur mansion ini. Tapi tenang saja, kau bisa menguncinya dari sisimu kalau kau memang tidak percaya padaku."
Eleanor langsung menghampiri pintu itu dan mencoba memutar kuncinya. Ceklek. Ceklek. Kuncinya tidak bergerak. Ia mencoba menekan tuasnya, namun pintu itu tetap tidak mau terkunci.
"Edward! Ini tidak bisa dikunci!" Teriak Eleanor panik.
Edward berjalan mendekat, mencoba membantu (atau pura-pura membantu). Ia memutar-mutar kuncinya beberapa kali lalu menghela napas pasrah. "Ah, sepertinya kunci ini macet. Mansion ini sudah agak lama tidak ditinggali, mungkin karat. Aku akan memanggil tukang kunci besok pagi."
"Besok pagi?! Lalu bagaimana denganku malam ini?"
"Eleanor, sudah kukatakan berkali-kali," Edward menatapnya dengan pandangan yang sangat dalam dan terluka. "Akulah yang seharusnya takut malam ini. Mengingat apa yang kau lakukan di hotel kemarin, seharusnya aku yang memasang barikade di pintuku agar kau tidak merangkak masuk lagi saat kau mengigau."
Eleanor seketika bungkam. Wajahnya yang tadi tegang karena marah, langsung berubah menjadi merah karena malu. Senjata "tanggung jawab" itu benar-benar mematikan suaranya.
"Baiklah... tapi jangan berani-berani lewat pintu ini!" Ancam Eleanor, meskipun suaranya terdengar tidak yakin.
Pukul 01:00 Pagi. Eleanor tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan ia mencium dada bidang Edward kembali muncul. Ia merasa sangat haus dan memutuskan untuk turun ke dapur. Namun, saat ia bangkit dari tempat tidur, pintu penghubung itu perlahan terbuka.
Edward berdiri di sana, hanya mengenakan celana kain panjang tanpa atasan, menampakkan otot perutnya yang keras dan bahunya yang lebar.
"A-apa yang kau lakukan?!" Eleanor refleks menarik selimut hingga ke leher.
"Aku butuh air, dan bahuku sangat sakit sampai aku sulit mengambil gelas di kamarku," ucap Edward dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia berjalan mendekat tanpa permisi, duduk di pinggir tempat tidur Eleanor. "Kau tahu, Eleanor... kau benar-benar harus bertanggung jawab. Bahuku terasa seperti ditarik."
Eleanor menelan ludah. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Edward terlihat sangat menggoda—jauh lebih berbahaya daripada saat di hotel. "S-saya akan mengambilkan air dan kompres dingin untuk Anda. Tunggu di sini!"
Saat Eleanor hendak berdiri, Edward meraih pergelangan tangannya, menariknya kembali hingga Eleanor duduk tepat di hadapannya.
"Aku tidak perlu air," bisik Edward, suaranya rendah dan menggetarkan. "Kau hanya perlu berjanji satu hal. Jangan pernah lari lagi dariku. Rasa bersalahmu itu... aku bisa memaafkannya, asalkan kau tetap di sini, di bawah jangkauanku."
Eleanor terpaku. Ia merasa ada yang aneh. Kenapa Edward yang tadinya tampak sakit sekarang terlihat begitu kuat dan dominan? Namun, rasa malunya mengalahkan logika. Ia hanya bisa mengangguk pelan, pasrah pada permainan pria yang sebenarnya sedang tertawa di dalam hati karena berhasil membuat sang Putri Lichtenzell menjadi penurut.
"Bagus," Edward menyeringai, lalu berdiri dan kembali ke kamarnya lewat pintu yang macet tadi. "Tidurlah yang nyenyak, calon istriku. Jangan sampai kau masuk ke kamarku karena rindu."
Eleanor melempar bantal ke arah pintu yang tertutup itu. "EDWARD ZOLLERN! KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN!"
Dari balik pintu, terdengar suara tawa rendah Edward yang membuat jantung Eleanor berdebar lebih kencang dari yang seharusnya. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ia benar-benar merasa bersalah, atau sebenarnya ia mulai menikmati kehadiran pria menyebalkan itu?