NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. Gema Sang Ratu

Aira terbangun dengan napas yang terputus-putus, seolah-olah baru saja ditarik dari kedalaman air yang dingin dan gelap.

Keringat dingin membasahi pelipisnya, membuat rambut hitam panjangnya menempel lekat di kulit porselennya. Jantungnya berdenyut liar di balik tulang rusuk, memompa adrenalin yang menyakitkan ke seluruh tubuhnya.

Mimpi itu... atau bukan mimpi?

Dalam tidurnya, Aira melihat dirinya sendiri berdiri di depan cermin besar di ruang mandi.

Namun, pantulan yang menatapnya balik bukan lagi wajah Aira yang polos dan ketakutan.

Pantulan itu adalah Isabella von Raven yang asli—dengan seringai merah darah yang mengerikan dan mata hijau yang berkilat haus akan penderitaan.

Isabella dalam cermin itu menjangkau keluar, jemarinya yang dingin mencekik leher Aira sambil berbisik dengan suara yang menyerupai cakaran kuku di atas kaca:

 "Kembalikan tubuhku, Penipu. Atau aku akan membiarkan mereka mencabik jiwamu sampai habis."

"Nyonya? Anda berteriak dalam tidur Anda lagi. Suara Anda... terdengar sangat menderita."

Suara bariton yang berat dan tenang itu menyambar kesadaran Aira seperti sambaran petir.

Aira tersentak duduk, menarik selimut beludru merahnya hingga ke dada untuk menutupi gaun tidur rendanya yang tipis.

Di ujung tempat tidur raksasanya, berdiri sosok yang menjadi pusat dari segala ketegangan di mansion ini: Dante.

Cahaya matahari pagi yang pucat menembus celah-celah tirai beludru, menciptakan garis-garis cahaya yang menyoroti sosok Dante.

Ia sudah mengenakan setelan kepala pelayan yang sempurna, namun jas luarnya disampirkan di lengan kiri, memperlihatkan kemeja putih kaku yang memeluk otot bahunya yang lebar.

Lengan kemejanya digulung sedikit, memperlihatkan pergelangan tangan yang kuat dan bertenaga.

Dante melangkah mendekat. Setiap langkah kakinya di atas karpet tebal tidak mengeluarkan suara, menambah kesan predator yang sedang mendekati mangsa.

Ia tidak berhenti di ujung tempat tidur; ia terus melangkah hingga berdiri tepat di sisi Aira, lalu perlahan duduk di pinggir kasur.

Berat tubuhnya membuat permukaan tempat tidur melesat, secara tidak sengaja menarik tubuh Aira lebih dekat ke arahnya.

"Siapa yang Anda mimpikan hingga berteriak seperti itu, Isabella?" tanya Dante.

Suaranya rendah, hampir seperti bisikan, namun penuh dengan otoritas yang menekan.

Dante mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan putih.

Dengan gerakan yang sangat lambat—gerakan yang sengaja dirancang untuk menyiksa saraf Aira—ia mengusap keringat di dahi Aira.

Sentuhan kain sutra putih itu terasa dingin, namun hawa panas dari tangan pria itu di baliknya seolah merayap masuk ke kulit Aira, membakar kesadarannya.

"A-aku hanya bermimpi buruk, Dante. Bukan apa-apa," sahut Aira, matanya tidak berani menatap langsung ke mata biru es pria itu.

Ia bisa merasakan tatapan Dante sedang menelanjangi pikirannya.

Dante tidak menarik tangannya. Sebaliknya, jemarinya bergerak turun, menelusuri garis rahang Aira hingga berhenti tepat di bawah dagunya. Ia memaksa Aira untuk mendongak, menatap mata biru esnya yang tidak menunjukkan emosi manusia sedikit pun.

"Bukan apa-apa?" Dante memberikan senyum tipis yang sangat mematikan.

"Anda menyebut nama yang asing dalam tidur Anda. Nama yang tidak pernah ada dalam sejarah keluarga von Raven, bahkan dalam catatan musuh-musuh kita. Siapa... Aira?"

Darah Aira terasa berhenti mengalir. Dunianya seketika menjadi sunyi.

Bagaimana bisa?

Apakah aku mengigau sejelas itu?

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," ujar Aira, mencoba memperkeras suaranya agar terdengar seperti Isabella yang angkuh dan dominan.

"Mungkin kau hanya salah dengar karena terlalu lama berdiri di depan pintuku seperti patung tak bernyawa."

Dante merendahkan tubuhnya, memerangkap Aira di antara kedua lengannya yang kokoh yang kini bertumpu pada kasur di kiri dan kanan Aira.

Jarak mereka kini begitu dekat hingga Aira bisa mencium aroma musk, kopi hitam, dan kayu cendana dari tubuh Dante—aroma yang memabukkan sekaligus memperingatkannya akan bahaya besar.

"Saya tidak pernah salah dengar, Nyonya," bisik Dante tepat di depan bibir Aira. "Ada sesuatu yang terjadi pada Anda sejak jatuh dari tangga itu. Anda terlihat seperti Isabella, Anda berbau seperti Isabella... tapi jiwa di dalam mata ini..." Dante menatap tajam ke dalam iris hijau zamrud Aira.

"...jiwa ini terlalu bersih. Terlalu rapuh. Dan itu membuat saya merasa sangat... terganggu."

Tangan Dante yang bersarung tangan kini berpindah ke leher Aira, mengelusnya dengan ibu jari tepat di atas nadinya yang berdenyut kencang.

Ketegangan yang menyiksa ini bercampur dengan ancaman kematian yang nyata. Aira merasa seolah-olah ia sedang menari di atas mata pisau yang siap mengirisnya kapan saja.

"Lepaskan aku, Dante," desis Aira, meskipun seluruh tubuhnya seolah berkhianat dengan memberikan respon panas terhadap kedekatan fisik pria itu.

"Sesuai keinginan Anda... untuk saat ini," Dante akhirnya menarik diri, namun tatapannya masih mengunci Aira. Ia berdiri dan mengambil sehelai korset hitam dari sutra dan tulang penyangga yang kaku dari meja samping.

"Ada undangan dari Istana pagi ini. Anda harus tampil sempurna sebagai Nyonya Menor. Dan karena Kael sedang sibuk dengan 'tugas luar', saya sendiri yang akan membantu Anda berpakaian."

Aira membelalak panik. "Apa? Tidak perlu! Aku bisa sendiri!"

Dante tidak menghiraukan penolakan itu. Ia melangkah ke belakang Aira yang masih duduk di tempat tidur.

"Berbaliklah, Nyonya. Atau Anda ingin saya merobek gaun tidur ini dan membiarkan Julian masuk untuk melihat pemandangan yang... kurang pantas ini?"

Aira tidak punya pilihan. Dengan tangan gemetar, ia berbalik membelakangi Dante. Ia merasakan tangan Dante menarik rambut hitam panjangnya yang bergelombang ke satu sisi, membiarkan punggung putih porselennya terekspos sepenuhnya di depan pria itu.

Saat Dante mulai memasangkan korset itu dan menarik talinya perlahan, Aira harus menahan napas.

Setiap tarikan tali itu terasa seperti Dante sedang mengklaim setiap inci tubuhnya. Dante tidak terburu-buru; ia menikmati setiap detik dari hasrat yang tertahan ini.

Dante memberikan satu tarikan terakhir yang sangat kencang pada tali korset, membuat Aira terkesiap dan tanpa sadar menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Dante.

Untuk sesaat, mereka membeku dalam posisi yang sangat intim itu di bawah cahaya pagi yang mulai membakar ruangan.

Suara derit tali korset yang ditarik Dante terdengar begitu nyaring di kesunyian kamar yang luas itu. Aira mencengkeram tepi tempat tidur, mencoba mengatur napasnya yang kini terasa dangkal dan sesak—bukan hanya karena pakaian yang terlalu ketat, tapi karena kehadiran Dante yang begitu mendominasi di belakangnya.

"Sempurna," bisik Dante. Jemarinya yang bersarung tangan putih menelusuri garis bahu Aira yang tegang sebelum ia mundur satu langkah.

"Anda tampak seperti bangsawan yang siap menghancurkan hati siapa pun pagi ini, Nyonya."

Aira berbalik perlahan, tangannya secara refleks memegang lehernya yang masih terasa panas akibat bisikan Dante.

"Terima kasih, Dante. Sekarang... biarkan aku sendiri."

Namun, sebelum Dante sempat menjawab, pintu kamar yang besar itu terbuka tanpa ketukan.

Julian berdiri di sana dengan senyum manisnya yang biasa, namun matanya yang cokelat langsung tertuju pada pemandangan di depannya: Dante yang berdiri terlalu dekat dengan tempat tidur Isabella, dan Isabella yang wajahnya masih memerah dengan napas tersengal.

"Oh? Saya tidak tahu kalau kepala pelayan kita yang paling disiplin ini sekarang merangkap menjadi pelayan pribadi untuk urusan pakaian dalam," ujar Julian dengan nada riang yang terdengar tajam.

Ia melangkah masuk, membawa nampan berisi sarapan pagi yang aromanya membaur dengan bau mawar di ruangan itu.

Dante berbalik, matanya yang biru es menatap Julian dengan dingin.

"Kael sedang tidak ada di tempat. Seseorang harus memastikan Nyonya tidak terlihat berantakan saat menemui tamu dari Istana."

Julian meletakkan nampan di meja kecil, lalu ia berjalan mendekati Aira. Ia mengambil sehelai kain sutra untuk menyeka bibir Aira, sebuah gerakan yang sangat intim.

"Tentu saja. Tapi saya rasa... Dante terlalu kasar menarik talinya. Anda terlihat seolah baru saja melihat hantu, Nyonya. Atau mungkin... Anda baru saja melihat sesuatu yang lain?"

Julian menatap Aira tepat di matanya, dan saat itulah hal aneh itu terjadi.

Aira tiba-tiba merasakan kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya berbayang.

Di cermin besar yang terletak tepat di belakang Julian, Aira melihat pantulannya sendiri. Tapi pantulan itu tidak diam.

Sosok Isabella yang asli dalam cermin itu tiba-tiba mengulurkan tangan, wajahnya yang cantik berubah menjadi seringai iblis.

"Jangan biarkan dia menyentuhmu, Aira... hanya aku yang boleh memiliki mereka," suara Isabella asli menggema di dalam otak Aira.

"Aakh!" Aira mengerang kecil dan

memejamkan matanya, tangannya tanpa sengaja menepis tangan Julian dengan keras hingga kain sutra itu terlempar.

"Nyonya?" Kedua pria itu, Dante dan Julian, secara serentak mendekat. Mereka saling melempar pandangan penuh kecurigaan.

"Jangan sentuh aku!" seru Aira, napasnya memburu. Ia menatap cermin itu lagi, tapi sekarang pantulannya sudah kembali normal.

"Nyonya, Anda terlihat pucat. Apakah teh melati saya semalam tidak cukup membuat Anda tenang?"

Julian mengulurkan tangan, menyentuh dagu Aira dengan lembut dan memutar wajahnya agar menghadap ke arahnya.

Ia memeriksa mata Aira dengan teliti. "Ada sesuatu yang mengganggu Anda. Saya bisa merasakannya. Denyut nadi Anda di sini..."

Julian menekan jari telunjuknya di leher Aira, tepat di atas urat nadi.

"...terasa sedikit lebih cepat dari biasanya."

Aira merasa terjepit di antara dua pria ini.

Dante yang mengawasi dari belakang, dan Julian yang memeriksanya dari depan.

Mereka tidak menuduhnya, namun tatapan mereka penuh dengan kecurigaan yang tersirat.

Mereka merasa ada yang berubah, namun mereka belum bisa menyentuh apa perubahan itu sebenarnya.

"Aku baik-baik saja, Julian. Berhenti memperlakukanku seperti pasienmu," ujar Aira, mencoba menarik wajahnya kembali.

Julian terkekeh pelan.

"Tentu, Nyonya. Tapi jika Anda membutuhkan sesuatu untuk 'menenangkan' pikiran Anda sebelum ke Istana, Anda tahu di mana harus menemukan saya."

Saat Julian berbalik pergi, ia sempat melirik Dante. Sebuah komunikasi tanpa kata terjadi di antara mereka—sebuah kesepakatan bahwa ada sesuatu yang harus mereka selidiki lebih lanjut tentang Nyonya mereka yang baru ini.

Aira menatap cermin di depannya. Di pantulan itu, ia melihat dirinya sendiri yang terbalut kemewahan.

Namun ia juga melihat bayangan samar Isabella yang asli sedang berdiri di pojok ruangan, menatapnya dengan pandangan dingin yang seolah berkata:

“Mari kita lihat berapa lama kau bisa menipu mereka.”

1
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
Anisa675
ngerii-ngeri sedap Aira
Anisa675
emang, strategi Aira beracun bangetttt
Anisa675
santai Kael... rusuh Mulu dah
Anisa675
Keren-keren, bisa berubah secepat itu. strateginya emang gitu kalia ya? jadi kejam tapi ada sisi lembutnya gitu
Anisa675
transformasinya langsung drastislah. kenapa ga dari awal thoooor
Anisa675: ya biar seru ya🤭
total 2 replies
Anisa675
Jangan lemah Aira!!!!
Anisa675
kebayang berapa nyebelinnya Isabella asli ini
Anisa675
kesel banget, hampir aja ketahuan. tapi udah pada curiga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!