NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Hari berganti minggu, dan minggu perlahan berubah menjadi bulan. Waktu berjalan tanpa terasa sejak Andra memulai penyamarannya sebagai Arya. Tujuannya jelas sejak awal: menyelidiki penyelewengan dana yang terjadi di perusahaannya sendiri. Ia ingin menemukan siapa saja yang terlibat, mengikuti jejak aliran uang itu, dan membongkar semuanya tanpa menimbulkan kecurigaan.

Namun dalam perjalanan penyelidikan itu, ada satu hal yang tidak pernah ia perkirakan.

Seorang gadis.

Gadis yang ia temui secara tidak sengaja di sebuah toko ponsel sebulan yang lalu.

Novita.

Nama itu kini sering muncul di kepalanya, bahkan ketika ia sedang memeriksa laporan keuangan atau menelusuri transaksi mencurigakan.

Awalnya hanya obrolan singkat. Setelah pertemuan di toko ponsel itu, mereka bertukar nomor. Andra tidak menyangka Novita benar-benar akan membalas pesannya. Tapi ternyata gadis itu ramah dan mudah diajak berbicara.

Percakapan yang awalnya hanya sekadar sapaan ringan perlahan berubah menjadi rutinitas harian.

“Sudah makan malam?” tanya Andra suatu malam lewat pesan.

Beberapa menit kemudian balasan datang.

“Belum. Baru selesai kerja. Capek banget hari ini.”

Andra tersenyum kecil membaca pesan itu.

“Jangan lupa makan. Kalau tidak nanti sakit.”

“Siap, Pak Manajer.”

“Eh, jangan panggil begitu. Aku kan sudah bilang, panggil saja Arya.”

“Baiklah… Arya.”

Sejak saat itu, percakapan mereka semakin sering terjadi. Dari chat sederhana, kemudian berubah menjadi panggilan telepon. Kadang mereka berbicara sampai larut malam, membahas banyak hal yang bahkan tidak mereka sadari waktu berjalan begitu cepat.

Suatu malam Andra akhirnya memberanikan diri mengajak Novita bertemu.

“Besok malam kamu sibuk?” tanya Andra di telepon.

“Hmm… sepertinya tidak. Kenapa?”

“Mau makan malam?”

Di ujung telepon terdengar Novita terdiam beberapa detik.

“Di mana?”

“Tempat sederhana saja. Pecel lele dekat taman kota.”

Novita tertawa kecil.

“Kamu ini lucu. Ajak makan malam tapi di pecel lele.”

“Kenapa? Tidak boleh?”

“Boleh. Justru aku lebih suka tempat seperti itu.”

Dan sejak malam itu, pertemuan mereka dimulai.

Makan malam pertama mereka sederhana. Sebuah warung pecel lele di pinggir jalan, dengan lampu kuning yang sedikit redup dan suara kendaraan yang lalu lalang.

Novita datang mengenakan kemeja sederhana dan celana panjang hitam. Rambutnya diikat rapi. Tidak ada riasan berlebihan, namun justru itu yang membuatnya terlihat lebih menarik.

“Kamu sudah lama menunggu?” tanya Novita sambil duduk di depan Andra.

“Tidak terlalu.”

“Maaf ya. Tadi ada pelanggan di toko.”

“Tidak apa-apa.”

Mereka mulai makan sambil mengobrol ringan. Tentang pekerjaan, tentang kehidupan sehari-hari, dan akhirnya tentang kuliah.

“Aku sebenarnya masih kuliah,” kata Novita.

“Jurusan apa?”

“Akuntansi.”

Andra mengangkat alisnya sedikit.

“Serius?”

“Iya. Kenapa?”

“Karena aku juga sering berurusan dengan akuntansi.”

Sejak saat itu topik pembicaraan mereka semakin panjang. Novita sering bercerita tentang tugas kuliah yang sulit, tentang laporan keuangan yang membuatnya pusing, atau tentang dosen yang memberi tugas terlalu banyak.

Suatu malam Novita membawa buku catatan kuliahnya.

“Arya, kamu bisa bantu aku tidak?”

Andra tersenyum.

“Tunjukkan.”

Ia menjelaskan beberapa konsep akuntansi dengan cara yang sederhana. Novita memperhatikan dengan serius.

“Jadi maksudnya seperti ini?” tanya Novita.

“Iya. Kamu cepat sekali menangkapnya.”

Novita tersenyum bangga.

“Berarti aku tidak bodoh.”

“Siapa bilang kamu bodoh?”

Seiring waktu, kebiasaan mereka juga mulai terbentuk. Mereka sering makan malam bersama di tempat sederhana. Kadang pecel lele, kadang soto, kadang hanya kopi di warung kecil.

Namun ada satu hal yang selalu membuat Andra heran.

Setiap kali ia hendak membayar, Novita selalu menolak.

“Aku bayar sendiri saja,” kata Novita suatu malam.

“Tidak perlu.”

“Tidak enak.”

“Aku yang mengajak.”

“Tapi—”

Andra langsung menyerahkan uang ke penjual.

“Selesai.”

Novita mendesah kesal.

“Kamu ini keras kepala.”

“Terima saja.”

Namun Novita ternyata punya cara sendiri. Setiap kali mereka bertemu, ia selalu membawa sesuatu.

Kadang sekantong buah.

Kadang roti.

Kadang makanan ringan.

“Ini untukmu,” katanya sambil menyerahkan kantong plastik.

Andra mengerutkan kening.

“Ini apa lagi?”

“Balasan traktiranmu.”

“Aku tidak pernah minta.”

“Tidak peduli.”

Andra hanya bisa tertawa.

Hari demi hari berlalu, dan tanpa disadari keduanya semakin dekat. Bahkan ketika mereka hanya duduk di bangku taman sambil berbicara tentang hal-hal sederhana, waktu terasa begitu menyenangkan.

Suatu malam mereka duduk di taman kota.

Lampu taman menyala lembut, dan angin malam terasa sejuk.

Andra memandang Novita yang sedang memainkan ujung rambutnya.

“Ada yang ingin aku katakan,” ujar Andra pelan.

Novita menoleh.

“Apa?”

Andra menarik napas dalam.

“Aku suka padamu, Novita.”

Gadis itu terdiam.

Matanya terlihat terkejut.

“Arya…”

“Aku serius.”

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

Novita menunduk.

“Aku tidak tahu harus bilang apa.”

“Katakan saja yang kamu rasakan.”

Novita menggigit bibirnya pelan.

“Kamu orang yang baik. Pintar. Pekerjaanmu bagus.”

“Lalu?”

“Aku tidak cocok untukmu.”

Andra mengernyit.

“Kenapa?”

“Aku hanya gadis biasa. Kerja di toko ponsel. Masih kuliah. Hidupku sederhana.”

“Lalu?”

“Kamu pantas dengan wanita yang lebih baik.”

Andra menghela napas pelan.

“Novita.”

“Hmm?”

“Aku tidak mencari wanita sempurna.”

Novita menatapnya.

“Aku hanya mencari seseorang yang membuatku nyaman.”

Ia tersenyum kecil.

“Dan itu kamu.”

Novita masih ragu.

Namun Andra tidak menyerah. Ia terus meyakinkan Novita, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan sikapnya.

Ia tetap menemani Novita belajar.

Tetap mendengarkan ceritanya.

Tetap mengajaknya makan malam sederhana.

Hingga akhirnya, suatu malam Novita menyerah pada perasaannya sendiri.

“Arya…”

“Iya?”

“Aku akan mencoba.”

“Mencoba apa?”

“Menjadi pacarmu.”

Andra tersenyum lebar.

“Jadi kamu menerima?”

Novita mengangguk pelan.

“Iya.”

Hari-hari setelah itu terasa berbeda bagi mereka berdua. Mereka semakin sering bertemu. Kadang membahas kuliah Novita, kadang tentang pekerjaan Andra sebagai manajer administrasi.

Tidak ada kemewahan dalam hubungan mereka.

Namun justru kesederhanaan itu yang membuat semuanya terasa hangat.

Sayangnya, tidak semua orang senang melihat kebahagiaan orang lain.

Di toko ponsel tempat Novita bekerja, ada seseorang yang diam-diam memperhatikan semuanya.

Riski.

Rekan kerja Novita.

Sejak lama ia menyukai gadis itu. Namun ia tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Ia selalu berpikir masih punya waktu.

Sampai suatu hari ia melihat sesuatu yang membuat hatinya panas.

Novita sedang tertawa di depan toko.

Di sampingnya berdiri seorang pria.

Riski memperhatikan dari dalam toko.

“Itu siapa?” gumamnya.

Ia melihat bagaimana Novita berbicara dengan pria itu dengan wajah cerah.

Pria itu kemudian mengusap lembut kepala Novita.

Riski mengepalkan tangannya.

“Jadi ini alasan kamu selalu menolak ajakanku makan?”

Ia menatap punggung pria itu dengan tajam.

“Baru kenal sebentar… tapi sudah bisa mendapatkan hatimu.”

Wajahnya berubah gelap.

Rasa cemburu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Dan tanpa disadari oleh Andra maupun Novita…

Seseorang mulai tidak menyukai kebahagiaan mereka.

1
viellia
next yuuuk kaaak
Black Rascall: udah aku buatin update terjadwal sampai 48 bab jadi di tunggu ya kak tiap jam 9
total 1 replies
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!