NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 14

Pagi menyapa dengan kabut tipis yang merayap di antara batang-batang pohon ulin raksasa. Siska terbangun lebih awal, bukan karena dering alarm ponsel yang biasanya menuntut jadwal rapat, melainkan karena suara kicau burung murai yang saling bersahutan di luar jendela kamar kayu mereka.

Ia menoleh ke samping, melihat Andi masih tertidur pulas dengan ekspresi yang begitu damai—sebuah kemewahan yang jarang mereka miliki selama puluhan tahun mengelola korporasi. Siska bangkit pelan, mengenakan jaket rajutnya, dan melangkah ke teras.

Di sana, ia mendapati Arlan sudah berdiri menatap sungai yang memantulkan warna langit kemerahan. Anak itu—yang kini sudah menjadi pemimpin baru bagi ribuan orang di sana—tampak sedang merenung.

"Terlalu banyak beban di kepalamu untuk pagi yang seindah ini, Lan?" tanya Siska lembut.

Arlan menoleh, tersenyum kecil. "Bukan beban, Bunda. Hanya saja, semalam setelah bicara dengan Ayah dan Paman Mahesa, aku baru sadar kalau 'Kota Hutan' ini bukan hanya soal pohon dan sensor. Ini soal keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah mesin."

Siska berdiri di samping putranya, menghirup udara yang begitu segar hingga terasa manis di paru-paru. "Itu inti dari jembatan yang Ayahmu buat. Jangan biarkan angka-angka di monitor membuatmu lupa pada aroma tanah setelah hujan."

Tak lama kemudian, Andi menyusul keluar sambil membawa nampan berisi kopi panas dan singkong rebus. "Ternyata dua CEO ini sudah mulai bekerja sebelum matahari benar-benar bangun," candanya sambil meletakkan nampan di meja kayu.

Mereka bertiga duduk melingkar, menikmati sarapan sederhana di tengah keheningan hutan yang hidup. Tidak ada asisten, tidak ada pengawal, tidak ada interupsi. Hanya keluarga.

"Ayah, Bunda," Arlan memulai dengan nada lebih serius. "Aku sudah memutuskan. Proyek ekspansi ke Sumatra dan Papua nanti, aku tidak akan menggunakan nama Gunawan Group di depan. Aku ingin menggunakan nama 'Yayasan Jaka'. Aku ingin dunia tahu bahwa ini bukan lagi soal dinasti keluarga, tapi soal satu bibit kecil yang tumbuh karena kepedulian."

Andi meletakkan cangkirnya, matanya berbinar bangga. Ia melirik Siska, yang tampak terharu mendengar nama pohon pertama Arlan dijadikan simbol gerakan global.

"Itu pilihan yang bijak, Lan," ujar Andi. "Nama keluarga hanyalah label, tapi semangat 'Jaka' adalah nyawa. Lakukanlah."

Matahari kini telah naik sepenuhnya, menyinari hamparan hijau yang tak terbatas itu. Siska merasakan kehangatan di punggungnya, bukan hanya dari sinar matahari, tapi dari rasa syukur yang mendalam. Ia teringat kembali pada masa-masa sulit saat ia harus memilih antara cinta dan tanggung jawab, dan kini ia sadar bahwa ia berhasil mendapatkan keduanya.

"Bunda mau jalan-jalan ke pembibitan baru?" ajak Arlan sambil berdiri. "Ada spesies anggrek hutan yang baru saja ditemukan kembali di Zona C. Paman Mahesa bilang sensornya mendeteksi pola pertumbuhan yang unik."

Siska mengangguk, lalu menoleh pada Andi. "Ikut, Ndi?"

Andi menggeleng pelan sambil menyandarkan punggungnya di kursi malas. "Kalian duluan saja. Aku mau menikmati sisa kopi ini sambil mendengarkan suara hutan. Lagipula, jembatan ini sudah di tangan yang tepat."

Siska dan Arlan berjalan menjauh, tawa mereka mengecil di kejauhan saat mereka masuk ke dalam rimbunnya dedaunan. Andi memperhatikan punggung istri dan anaknya dengan senyum puas. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan hembusan angin yang membisikkan bahwa tugasnya benar-benar telah selesai.

Dunia akan terus berputar, tantangan baru akan muncul, namun di jantung Borneo ini, sebuah fondasi abadi telah tertanam. Sebuah jembatan yang tidak hanya menghubungkan dua hati, tetapi juga menghubungkan umat manusia dengan rumah sejatinya: alam semesta.

Beberapa jam kemudian, Siska kembali dari area pembibitan dengan tangan yang sedikit kotor karena tanah dan wajah yang berseri-seri. Ia menemukan Andi masih di posisi yang sama, namun kini ia tidak lagi sendiri. Mahesa duduk di kursi sebelah, keduanya tampak sedang menatap sebuah foto tua yang sudah agak pudar warnanya.

"Lihat ini, Sis," Mahesa menunjukkan foto itu. Itu adalah foto mereka bertiga saat peresmian proyek pertama di Jakarta, puluhan tahun lalu. "Kita terlihat sangat muda dan sangat tegang."

Siska duduk di antara mereka, mengintip foto itu. "Dan lihat ekspresi Ayah di belakang kita. Dia terlihat seperti sedang menghitung berapa kerugian yang akan dia tanggung kalau proyek itu gagal."

Andi terkekeh, menyimpan kembali foto itu ke dalam saku kemejanya. "Dia tidak rugi, Ma. Dia justru mendapatkan investasi terbaik dalam hidupnya: sebuah keluarga yang tidak bisa dihancurkan oleh ambisi."

Arlan muncul dari arah dapur kamp dengan membawa keranjang buah-buahan hutan yang baru dipetik. "Paman Mahesa, sistem satelit tadi memberikan notifikasi. Ada kawanan gajah yang sedang bermigrasi melewati koridor hijau di Zona B. Mau melihatnya lewat monitor?"

Mahesa langsung berdiri dengan energi yang seolah kembali muda. "Gajah? Itu rute yang baru! Ayo, Lan. Kita harus pastikan mereka tidak terganggu oleh aktivitas logistik di perbatasan."

Saat kedua pria itu bergegas pergi, suasana kembali sunyi di teras. Siska menoleh pada Andi, memperhatikan garis-garis halus di sekitar mata suaminya saat ia tersenyum.

"Ndi," bisik Siska. "Kalau kita bisa kembali ke masa lalu, ke malam saat kita duduk di warung soto itu... apa ada yang ingin kamu ubah?"

Andi menarik napas dalam, aroma kayu basah dan tanah hutan memenuhi paru-parunya. Ia meraih tangan Siska, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Tidak ada, Sis. Bahkan rasa takut dan ketidakpastian saat itu pun perlu ada. Tanpa rasa takut itu, kita tidak akan pernah tahu betapa berharganya keberanian yang kita bangun bersama."

Siska menyandarkan kepalanya di bahu Andi, membiarkan keheningan sore menyelimuti mereka. Di kejauhan, mereka bisa mendengar suara Arlan dan Mahesa yang berdiskusi penuh semangat.

"Kita sudah membangun jembatan yang cukup panjang, ya?" gumam Siska.

"Dan jembatan itu sekarang sudah menjadi bagian dari tanah ini," jawab Andi pelan. "Akar-akarnya sudah mengunci, Sis. Tidak akan ada lagi badai yang bisa meruntuhkannya."

Di bawah langit Kalimantan yang mulai berubah menjadi ungu keemasan, dua jiwa yang dulu berjuang melawan arus itu akhirnya benar-benar menyatu dengan aliran alam. Tidak ada lagi kontrak yang harus ditandatangani, tidak ada lagi margin yang harus dikejar. Hanya ada mereka berdua, sebuah warisan hijau yang bernapas, dan cinta yang telah tumbuh menjadi hutan yang abadi.

Sore itu pun berakhir dengan kedamaian yang sempurna, menutup sebuah lembaran panjang tentang bagaimana sebuah janji sangat sederhana di tengah hiruk-pikuk kota bisa berubah menjadi penyelamat bagi sebuah ekosistem.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!