NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Aksarasastra

Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Spiderman di Hari Minggu

Minggu pagi di rumah keluarga Prameswari biasanya berjalan dengan tenang. Udara masih segar, burung-burung kecil terdengar dari taman belakang, dan aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruang makan. Namun pagi itu suasana rumah terasa sedikit berbeda, terutama bagi Bima dan Lestari yang duduk berdampingan di meja makan dengan ekspresi tegang.

Bukan karena ada masalah bisnis. Bukan pula karena kabar buruk dari kerabat jauh.

Sumber kegelisahan mereka hanya satu orang.

Alya.

Sejak kegagalan besar rencana kukis kehancuran minggu lalu, putri mereka tampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Ia tidak mengeluh, tidak merengek, bahkan tidak terlalu banyak bercanda. Namun justru ketenangan itu membuat Bima dan Lestari merasa tidak nyaman.

Pengalaman mereka sebagai orang tua sudah cukup panjang untuk mengetahui satu hal penting.

Jika Alya terlalu tenang, berarti sesuatu yang berbahaya sedang direncanakan.

“Ayah punya firasat buruk,” gumam Bima sambil menyesap kopinya.

Lestari menatap tangga menuju lantai atas. “Bunda juga.”

Seolah alam semesta ingin membuktikan bahwa kekhawatiran mereka sangat beralasan, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari arah tangga. Langkah itu ringan, hampir seperti seseorang yang sedang berjalan dengan penuh percaya diri menuju panggung pertunjukan.

Bima dan Lestari menoleh bersamaan.

Lalu keduanya membeku.

Alya berdiri di anak tangga terakhir dengan pose dramatis.

Ia mengenakan… kostum Spiderman.

Bukan sekadar kaos bergambar. Bukan juga hoodie merah biru. Itu benar-benar kostum Spiderman lengkap dari kepala hingga kaki, termasuk masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

Sunyi selama beberapa detik.

Bima perlahan menurunkan cangkir kopinya.

“Alya…”

Suara Lestari terdengar lirih, seperti seseorang yang sedang mencoba memahami realitas baru. “Kenapa kamu pakai itu?”

Alya meletakkan kedua tangan di pinggang dengan bangga. “Ini kostum pahlawan.”

“Kami tahu itu,” kata Bima pelan. “Yang Ayah tidak tahu… kenapa kamu memakainya.”

Alya menurunkan masker sedikit sehingga wajahnya terlihat. Lesung pipinya muncul ketika ia tersenyum lebar.

“Karena Adrian akan datang.”

Bima menutup mata selama dua detik penuh.

“Sayang,” katanya perlahan, “kamu tahu kan ini kencan?”

Alya mengangguk serius.

“Terus kenapa kamu pakai kostum Spiderman?”

Alya kembali menarik masker hingga menutupi wajahnya. “Alya sedang menjadi diri sendiri.”

Lestari memijat pelipisnya.

Beberapa menit kemudian bel rumah berbunyi.

Alya langsung melompat kecil seperti anak yang sangat bersemangat. Kostum Spiderman itu ternyata cukup elastis sehingga ia bisa bergerak dengan bebas. Ia berlari ke pintu depan tanpa ragu sedikit pun.

Ketika pintu terbuka, Adrian berdiri di sana.

Hari itu ia mengenakan kemeja baby blue yang rapi, warna yang tanpa ia sadari adalah warna favorit Alya. Rambutnya tertata sederhana, dan ekspresinya tetap tenang seperti biasanya.

Namun begitu pintu terbuka penuh, Adrian melihat…

Spiderman.

Keduanya saling menatap beberapa detik.

Alya mengangkat satu tangan dan melambaikan tangan seperti seorang superhero yang baru saja menyelamatkan kota.

“Halo.”

Adrian berkedip sekali.

Kemudian ia berkata dengan nada yang sangat normal, “Halo, Alya.”

Dari ruang tamu, Bima menutup wajahnya dengan tangan.

Lestari hanya bisa menatap langit-langit rumah seolah meminta kekuatan dari siapa pun yang mau mendengarkan.

Alya melangkah keluar rumah dengan penuh percaya diri. Kostum itu benar-benar mencolok di bawah sinar matahari pagi. Beberapa tetangga bahkan mulai melirik dari halaman mereka.

“Jadi kita ke mall?” tanya Alya ceria.

“Iya,” jawab Adrian.

Ia sama sekali tidak mengomentari kostum itu.

Tidak bertanya.

Tidak protes.

Seolah membawa Spiderman ke mall adalah hal yang sangat normal.

Perjalanan menuju mall berjalan cukup… unik. Alya duduk di kursi penumpang mobil Adrian dengan kostum Spiderman lengkap, sesekali menekan kaca jendela untuk melihat pemandangan di luar.

Beberapa pengendara motor yang berhenti di lampu merah menoleh dengan ekspresi bingung.

Salah satu dari mereka bahkan sempat berbisik pada temannya, “Itu Spiderman?”

Alya melambaikan tangan kecil.

Ketika mereka akhirnya sampai di mall, situasi menjadi lebih menarik lagi. Begitu Alya keluar dari mobil, beberapa anak kecil langsung menunjuk ke arahnya dengan mata berbinar.

“Spiderman!”

Seorang bocah kecil berlari mendekat dengan wajah penuh kegembiraan.

Alya langsung menekuk lututnya sedikit agar sejajar dengan tinggi anak itu. “Halo warga kota, Aku datang untuk menyelamatkan bumi yang sudah tua.”

Anak kecil itu tertawa senang.

Adrian berdiri di samping mereka dengan ekspresi tenang seperti seorang ayah yang sedang menemani anaknya bermain. Ia tidak terlihat terganggu sama sekali oleh perhatian yang mulai mereka dapatkan dari orang-orang sekitar.

Ketika mereka masuk ke dalam mall, beberapa orang mulai mengeluarkan ponsel untuk mengambil foto. Alya berjalan dengan gaya khas superhero, kadang-kadang bahkan berhenti untuk membuat pose dramatis.

Di satu titik ia menempelkan tangannya ke dinding kaca toko seolah sedang merayap seperti laba-laba.

“Kalau aku lompat dari sini kira-kira bisa nempel di langit-langit gak?” tanyanya tiba-tiba.

Adrian menjawab tanpa ragu, “Tidak.”

Alya menoleh cepat. “Yakin?”

“Sangat.”

Alya menghela napas panjang. “Sayang sekali.”

Mereka akhirnya berhenti di sebuah kafe kecil di dalam mall. Alya duduk di kursi sambil melepas maskernya sehingga wajahnya kembali terlihat. Rambutnya sedikit berantakan karena masker itu, tetapi senyum jahilnya masih sama.

Ia memperhatikan Adrian selama beberapa detik.

“Kamu tahu gak,” katanya akhirnya, “kamu pakai kemeja baby blue.”

Adrian melihat ke arah bajunya sebentar. “Iya.”

“Itu warna favorit Alya.”

“Begitu.”

Alya menyipitkan mata curiga. “Kamu sengaja?”

Adrian menggeleng pelan. “Tidak.”

Alya bersandar ke kursinya sambil menghela napas dramatis.

“Yahhh..., padahal Alya berharap kamu sengaja.”

Adrian menyesap kopinya tanpa bereaksi.

Beberapa menit kemudian Alya mulai berbicara lagi. Ia bercerita tentang berbagai hal absurd, mulai dari teori bahwa Spiderman sebenarnya butuh cuti tahunan sampai kemungkinan membuka jasa penyelamat kucing dari pohon.

Adrian mendengarkan semuanya dengan sabar.

Kadang ia menjawab singkat.

Kadang hanya mengangguk.

Namun tidak sekali pun ia terlihat jengkel.

Di rumah keluarga Prameswari, situasi sangat berbeda. Bima dan Lestari duduk di ruang tamu dengan ekspresi lelah seolah baru saja melewati pertempuran besar.

“Ayah tidak kuat lagi,” kata Bima pelan.

Lestari menatapnya dengan wajah yang sama putus asanya. “Bunda juga.”

“Apa menurutmu Adrian masih mau menikah setelah ini?”

Lestari menghela napas panjang. “Kalau dia masih mau… Bunda akan sangat kagum.”

Sementara itu di mall, Alya masih mengenakan kostum Spiderman dengan penuh percaya diri. Ia bahkan sempat membantu seorang anak kecil mengambil balon yang terlepas dari tangannya.

Anak itu langsung memeluknya dengan senang.

Alya tersenyum lebar.

Namun di balik masker superhero itu, pikirannya mulai sedikit kacau.

Ia sudah mencoba banyak hal.

Masakan mengerikan.

Nyanyian fals.

Tingkah aneh.

Sekarang bahkan cosplay Spiderman.

Tapi Adrian masih saja tenang.

Masih saja sabar.

Masih saja… baik.

Saat mereka berjalan keluar mall sore itu, Alya tiba-tiba berhenti di tengah langkahnya. Adrian ikut berhenti lalu menoleh ke arahnya.

“Ada apa?”

Alya menatapnya cukup lama.

Kemudian ia bertanya dengan nada yang jauh lebih pelan dari biasanya.

“Kamu… gak pernah capek ya ngadepin Alya?”

Adrian menatapnya balik.

Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab.

“Tidak.”

Jawaban itu sederhana.

Terlalu sederhana.

Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai, Alya tidak tahu harus membalas apa.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!