Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Membayar Apa pun
Maximilian berdiri di samping ranjang besar yang kini terasa terlalu luas untuk tubuh mungil Rebecca. Ia masih mengenakan kemeja putihnya yang koyak, dengan bercak darah yang mulai mengering dan berubah warna menjadi kecokelatan. Matanya yang tajam tidak sedetik pun beralih dari wajah pucat Rebecca yang sesekali meringis dalam tidurnya yang tak tenang.
Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dan menekan satu tombol panggilan cepat.
"Ke penthouse-ku sekarang. Bawa peralatan lengkap dan penenang," ucap Maximilian tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung.
"Tuan Maximilian? Ini sudah lewat tengah malam. Apa Anda terluka?" suara di seberang sana—Dokter Aris, dokter pribadi kepercayaan organisasi—terdengar terkejut.
"Bukan aku. Cepatlah sebelum aku kehilangan kesabaran," potong Max dingin, lalu memutus sambungan sepihak.
Sambil menunggu, Maximilian berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah pelabuhan. Pikirannya bercabang. Ia tahu bahwa dengan membawa Rebecca ke sini, ia telah menarik garis perang yang permanen dengan Enzo Valenti. Keluarga Valenti tidak akan tinggal diam setelah anak buah mereka dihajar habis-habisan. Namun, anehnya, penyesalan yang biasanya muncul dalam setiap perhitungan bisnisnya kali ini absen sepenuhnya.
Ting.
Bel lift pribadinya berbunyi. Dokter Aris masuk dengan wajah tegang, menjinjing tas medisnya. Ia langsung diarahkan menuju kamar utama. Aris tertegun melihat seorang gadis asing terbaring di ranjang milik pria yang dikenal paling anti terhadap kehadiran orang asing di ruang pribadinya.
"Periksa dia. Dia hampir diperkosa dan disiksa oleh anak buah Valenti," gumam Maximilian, suaranya berat dan berbahaya saat menyebut nama musuhnya.
Aris segera bekerja. Ia memeriksa denyut nadi, pupil mata, dan luka-luka di permukaan kulit Rebecca. Selama tiga puluh menit yang terasa sangat lambat, Maximilian tetap berdiri di sana, bersandar pada pilar di sudut kamar. Ia tidak pergi ke ruang kerja untuk mengurus bisnis, tidak juga pergi mandi untuk membersihkan darah di tubuhnya. Ia hanya diam, memperhatikan setiap gerak-gerik sang dokter dengan aura yang sangat mengintimidasi.
"Tuan, mungkin Anda sebaiknya menunggu di luar agar saya bisa memeriksa memar di tubuhnya dengan lebih leluasa," saran Aris hati-hati, merasa tertekan oleh tatapan intens Max.
"Lakukan saja tugasmu, Aris. Aku tidak akan ke mana-mana," sahut Maximilian datar. Suaranya tidak membentak, namun mengandung perintah yang tak terbantahkan. Ia ingin memastikan sendiri bahwa gadis itu baik-baik saja.
Aris menghela napas, menyerah. Ia membersihkan luka robek di bahu Rebecca yang terkena kuku tajam para berandal tadi, mengoleskan salep, dan membalut beberapa bagian yang lecet. "Dia mengalami syok berat, Tuan. Tekanan darahnya rendah, dan ada tanda-tanda trauma psikologis akut. Saya sudah menyuntikkan obat penenang dosis ringan agar dia bisa tidur tanpa mimpi buruk untuk beberapa jam ke depan."
Maximilian mendekat, menatap perban putih yang kini melilit bahu Rebecca. "Apa ada cedera internal?"
"Sepertinya tidak ada tulang yang patah, hanya memar luas di area perut dan lengan. Tapi dia butuh istirahat total. Dan ... Tuan, dia butuh merasa aman saat terbangun nanti. Orang dalam kondisinya sering kali mengalami serangan panik saat menyadari mereka berada di lingkungan asing."
"Dia aman di sini," potong Max singkat.
"Tentu saja. Kalau begitu, saya permisi. Saya akan meninggalkan beberapa obat pereda nyeri dan antibiotik di meja," Aris segera merapikan alat-alatnya, ingin secepat mungkin keluar dari jangkauan aura gelap Maximilian yang sedang tidak stabil.
Setelah dokter itu pergi, keheningan kembali menguasai kamar. Maximilian menarik sebuah kursi kayu berat dan meletakkannya tepat di samping ranjang. Ia duduk di sana, memandangi Rebecca dalam remang lampu tidur.
Gadis itu terlihat sangat berbeda sekarang. Tanpa jeritan ketakutan, ia hanya tampak seperti remaja yang tersesat. Maximilian teringat kembali bagaimana Rebecca tetap mencoba melawan meskipun pakaiannya sudah dilucuti, bagaimana matanya tetap menyimpan percikan harga diri saat memohon bantuan padanya. Itu adalah sesuatu yang jarang ditemukan di dunia bawah yang penuh dengan pengkhianat dan pengecut.
Tiba-tiba, tangan Rebecca bergerak di atas sprei, meraba-raba seolah mencari sesuatu untuk dipegang. Sebuah erangan lemah keluar dari bibirnya yang pecah. "Ayah ... jangan ...."
Maximilian membeku. Ia melihat air mata kembali mengalir dari sudut mata Rebecca yang terpejam. Tanpa berpikir panjang, Max mengulurkan tangannya yang besar dan kasar, lalu menyentuh jemari Rebecca yang gemetar.
Seketika, cengkeraman Rebecca mengencang. Gadis itu menggenggam tangan Maximilian dengan sangat erat, seolah-olah tangan itulah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang sedang mengamuk. Max tersentak, namun ia tidak menarik tangannya. Ia membiarkan jemari mungil itu bertaut di sela-sela buku jarinya yang terluka karena perkelahian tadi.
"Kau aman, Rebecca," bisik Maximilian, suaranya lebih lembut dari yang pernah ia bayangkan. "Tidak akan ada yang menyentuhmu lagi. Selama kau berada di bawah atapku, bahkan malaikat maut pun harus meminta izinku untuk mendekatimu."
Malam semakin larut. Maximilian, pria yang biasanya hanya butuh tidur tiga jam untuk berfungsi maksimal, kini tetap terjaga. Ia mengabaikan puluhan pesan masuk di ponselnya yang berisi laporan serangan balik dari pihak Valenti. Fokusnya hanya satu: napas teratur dari gadis yang sedang menggenggam tangannya.
Ia tahu ini adalah kelemahan. Di dunianya, memiliki sesuatu yang ingin dilindungi adalah cara tercepat untuk mati. Tapi saat ia melihat Rebecca Sinclair, Maximilian menyadari bahwa ia tidak keberatan membakar seluruh kota ini demi memastikan gadis itu tetap bernapas.
Beberapa jam berlalu, dan cahaya fajar mulai menyelinap melalui celah gorden. Maximilian masih di posisi yang sama. Ia merasa kaku, lukanya berdenyut nyeri, namun ia tidak beranjak. Saat itulah, ia merasakan gerakan kecil.
Mata Rebecca perlahan terbuka. Ia berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu kamar yang hangat. Saat kesadarannya pulih, hal pertama yang ia rasakan adalah tekstur tangan yang besar dan hangat yang menggenggamnya.
Rebecca menoleh ke samping dan terlonjak kecil saat melihat sosok pria yang menyelamatkannya masih duduk di sana, menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca.
"Om ..." suara Rebecca hampir tidak terdengar, parau karena dehidrasi.
"Jangan banyak bergerak," perintah Maximilian, namun genggamannya tidak lepas. "Dokter sudah memeriksamu. Kau di rumahku sekarang."
Rebecca melihat sekeliling, pada kemewahan kamar yang terasa asing dan dingin, lalu kembali menatap Maximilian. Ia menyadari pria itu masih mengenakan pakaian semalam yang bersimbah darah. "Om ... Om tidak pergi? Om menjaga saya sepanjang malam?"
Maximilian membuang muka, merasa sedikit terusik dengan pertanyaan itu. "Aku hanya sedang memikirkan cara bagaimana ayahmu akan membayar semua keributan ini."
Kebohongan. Rebecca tahu itu. Ia bisa melihat rasa lelah yang tersembunyi di balik ketajaman mata Max. Dengan gerakan ragu, Rebecca menarik sedikit jas hitam Max yang masih menyelimuti tubuhnya, menghirup aroma maskulin yang kini terasa begitu menenangkan.
"Terima kasih," bisik Rebecca tulus. "Meskipun Om bilang tidak mau membantu, tapi Om tetap kembali untuk saya."
Maximilian menoleh kembali, menatap Rebecca dengan intensitas yang membuat gadis itu menahan napas. "Jangan berterima kasih padaku, Rebecca. Kau tidak tahu apa yang sudah kau mulai. Menyelamatkanmu adalah keputusan bisnis terburuk yang pernah kubuat, dan aku berniat menagih bunganya darimu."
"Apa pun," sahut Rebecca berani, meskipun hatinya berdegup kencang. "Aku akan memberikan apa pun."
Maximilian menyeringai tipis, sebuah seringai yang terlihat berbahaya namun entah mengapa tidak lagi menakutkan bagi Rebecca. "Hati-hati dengan ucapanmu, Gadis Kecil. Di duniaku, 'apa pun' berarti kau menyerahkan seluruh hidupmu padaku."
Ia lalu berdiri, akhirnya melepaskan tangan Rebecca, namun sebelum ia melangkah pergi, ia mengusap puncak kepala Rebecca dengan kasar namun singkat. "Tidurlah lagi. Aku akan menyuruh asistenku membawakan pakaian dan makanan. Dan jangan pernah berpikir untuk keluar dari kamar ini tanpa izinku."
Maximilian berjalan keluar, namun langkahnya terasa lebih berat. Di luar pintu, ia bersandar pada dinding, menarik napas panjang. Ia sudah resmi masuk ke dalam permainan yang paling berbahaya: permainan perasaan. Dan bagi seorang Maximilian, kalah bukanlah sebuah pilihan.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣