NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akan Membayar Apa pun

Maximilian berdiri di samping ranjang besar yang kini terasa terlalu luas untuk tubuh mungil Rebecca. Ia masih mengenakan kemeja putihnya yang koyak, dengan bercak darah yang mulai mengering dan berubah warna menjadi kecokelatan. Matanya yang tajam tidak sedetik pun beralih dari wajah pucat Rebecca yang sesekali meringis dalam tidurnya yang tak tenang.

Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dan menekan satu tombol panggilan cepat.

"Ke penthouse-ku sekarang. Bawa peralatan lengkap dan penenang," ucap Maximilian tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung.

"Tuan Maximilian? Ini sudah lewat tengah malam. Apa Anda terluka?" suara di seberang sana—Dokter Aris, dokter pribadi kepercayaan organisasi—terdengar terkejut.

"Bukan aku. Cepatlah sebelum aku kehilangan kesabaran," potong Max dingin, lalu memutus sambungan sepihak.

Sambil menunggu, Maximilian berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah pelabuhan. Pikirannya bercabang. Ia tahu bahwa dengan membawa Rebecca ke sini, ia telah menarik garis perang yang permanen dengan Enzo Valenti. Keluarga Valenti tidak akan tinggal diam setelah anak buah mereka dihajar habis-habisan. Namun, anehnya, penyesalan yang biasanya muncul dalam setiap perhitungan bisnisnya kali ini absen sepenuhnya.

Ting.

Bel lift pribadinya berbunyi. Dokter Aris masuk dengan wajah tegang, menjinjing tas medisnya. Ia langsung diarahkan menuju kamar utama. Aris tertegun melihat seorang gadis asing terbaring di ranjang milik pria yang dikenal paling anti terhadap kehadiran orang asing di ruang pribadinya.

"Periksa dia. Dia hampir diperkosa dan disiksa oleh anak buah Valenti," gumam Maximilian, suaranya berat dan berbahaya saat menyebut nama musuhnya.

Aris segera bekerja. Ia memeriksa denyut nadi, pupil mata, dan luka-luka di permukaan kulit Rebecca. Selama tiga puluh menit yang terasa sangat lambat, Maximilian tetap berdiri di sana, bersandar pada pilar di sudut kamar. Ia tidak pergi ke ruang kerja untuk mengurus bisnis, tidak juga pergi mandi untuk membersihkan darah di tubuhnya. Ia hanya diam, memperhatikan setiap gerak-gerik sang dokter dengan aura yang sangat mengintimidasi.

"Tuan, mungkin Anda sebaiknya menunggu di luar agar saya bisa memeriksa memar di tubuhnya dengan lebih leluasa," saran Aris hati-hati, merasa tertekan oleh tatapan intens Max.

"Lakukan saja tugasmu, Aris. Aku tidak akan ke mana-mana," sahut Maximilian datar. Suaranya tidak membentak, namun mengandung perintah yang tak terbantahkan. Ia ingin memastikan sendiri bahwa gadis itu baik-baik saja.

Aris menghela napas, menyerah. Ia membersihkan luka robek di bahu Rebecca yang terkena kuku tajam para berandal tadi, mengoleskan salep, dan membalut beberapa bagian yang lecet. "Dia mengalami syok berat, Tuan. Tekanan darahnya rendah, dan ada tanda-tanda trauma psikologis akut. Saya sudah menyuntikkan obat penenang dosis ringan agar dia bisa tidur tanpa mimpi buruk untuk beberapa jam ke depan."

Maximilian mendekat, menatap perban putih yang kini melilit bahu Rebecca. "Apa ada cedera internal?"

"Sepertinya tidak ada tulang yang patah, hanya memar luas di area perut dan lengan. Tapi dia butuh istirahat total. Dan ... Tuan, dia butuh merasa aman saat terbangun nanti. Orang dalam kondisinya sering kali mengalami serangan panik saat menyadari mereka berada di lingkungan asing."

"Dia aman di sini," potong Max singkat.

"Tentu saja. Kalau begitu, saya permisi. Saya akan meninggalkan beberapa obat pereda nyeri dan antibiotik di meja," Aris segera merapikan alat-alatnya, ingin secepat mungkin keluar dari jangkauan aura gelap Maximilian yang sedang tidak stabil.

Setelah dokter itu pergi, keheningan kembali menguasai kamar. Maximilian menarik sebuah kursi kayu berat dan meletakkannya tepat di samping ranjang. Ia duduk di sana, memandangi Rebecca dalam remang lampu tidur.

Gadis itu terlihat sangat berbeda sekarang. Tanpa jeritan ketakutan, ia hanya tampak seperti remaja yang tersesat. Maximilian teringat kembali bagaimana Rebecca tetap mencoba melawan meskipun pakaiannya sudah dilucuti, bagaimana matanya tetap menyimpan percikan harga diri saat memohon bantuan padanya. Itu adalah sesuatu yang jarang ditemukan di dunia bawah yang penuh dengan pengkhianat dan pengecut.

Tiba-tiba, tangan Rebecca bergerak di atas sprei, meraba-raba seolah mencari sesuatu untuk dipegang. Sebuah erangan lemah keluar dari bibirnya yang pecah. "Ayah ... jangan ...."

Maximilian membeku. Ia melihat air mata kembali mengalir dari sudut mata Rebecca yang terpejam. Tanpa berpikir panjang, Max mengulurkan tangannya yang besar dan kasar, lalu menyentuh jemari Rebecca yang gemetar.

Seketika, cengkeraman Rebecca mengencang. Gadis itu menggenggam tangan Maximilian dengan sangat erat, seolah-olah tangan itulah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang sedang mengamuk. Max tersentak, namun ia tidak menarik tangannya. Ia membiarkan jemari mungil itu bertaut di sela-sela buku jarinya yang terluka karena perkelahian tadi.

"Kau aman, Rebecca," bisik Maximilian, suaranya lebih lembut dari yang pernah ia bayangkan. "Tidak akan ada yang menyentuhmu lagi. Selama kau berada di bawah atapku, bahkan malaikat maut pun harus meminta izinku untuk mendekatimu."

Malam semakin larut. Maximilian, pria yang biasanya hanya butuh tidur tiga jam untuk berfungsi maksimal, kini tetap terjaga. Ia mengabaikan puluhan pesan masuk di ponselnya yang berisi laporan serangan balik dari pihak Valenti. Fokusnya hanya satu: napas teratur dari gadis yang sedang menggenggam tangannya.

Ia tahu ini adalah kelemahan. Di dunianya, memiliki sesuatu yang ingin dilindungi adalah cara tercepat untuk mati. Tapi saat ia melihat Rebecca Sinclair, Maximilian menyadari bahwa ia tidak keberatan membakar seluruh kota ini demi memastikan gadis itu tetap bernapas.

Beberapa jam berlalu, dan cahaya fajar mulai menyelinap melalui celah gorden. Maximilian masih di posisi yang sama. Ia merasa kaku, lukanya berdenyut nyeri, namun ia tidak beranjak. Saat itulah, ia merasakan gerakan kecil.

Mata Rebecca perlahan terbuka. Ia berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu kamar yang hangat. Saat kesadarannya pulih, hal pertama yang ia rasakan adalah tekstur tangan yang besar dan hangat yang menggenggamnya.

Rebecca menoleh ke samping dan terlonjak kecil saat melihat sosok pria yang menyelamatkannya masih duduk di sana, menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca.

"Om ..." suara Rebecca hampir tidak terdengar, parau karena dehidrasi.

"Jangan banyak bergerak," perintah Maximilian, namun genggamannya tidak lepas. "Dokter sudah memeriksamu. Kau di rumahku sekarang."

Rebecca melihat sekeliling, pada kemewahan kamar yang terasa asing dan dingin, lalu kembali menatap Maximilian. Ia menyadari pria itu masih mengenakan pakaian semalam yang bersimbah darah. "Om ... Om tidak pergi? Om menjaga saya sepanjang malam?"

Maximilian membuang muka, merasa sedikit terusik dengan pertanyaan itu. "Aku hanya sedang memikirkan cara bagaimana ayahmu akan membayar semua keributan ini."

Kebohongan. Rebecca tahu itu. Ia bisa melihat rasa lelah yang tersembunyi di balik ketajaman mata Max. Dengan gerakan ragu, Rebecca menarik sedikit jas hitam Max yang masih menyelimuti tubuhnya, menghirup aroma maskulin yang kini terasa begitu menenangkan.

"Terima kasih," bisik Rebecca tulus. "Meskipun Om bilang tidak mau membantu, tapi Om tetap kembali untuk saya."

Maximilian menoleh kembali, menatap Rebecca dengan intensitas yang membuat gadis itu menahan napas. "Jangan berterima kasih padaku, Rebecca. Kau tidak tahu apa yang sudah kau mulai. Menyelamatkanmu adalah keputusan bisnis terburuk yang pernah kubuat, dan aku berniat menagih bunganya darimu."

"Apa pun," sahut Rebecca berani, meskipun hatinya berdegup kencang. "Aku akan memberikan apa pun."

Maximilian menyeringai tipis, sebuah seringai yang terlihat berbahaya namun entah mengapa tidak lagi menakutkan bagi Rebecca. "Hati-hati dengan ucapanmu, Gadis Kecil. Di duniaku, 'apa pun' berarti kau menyerahkan seluruh hidupmu padaku."

Ia lalu berdiri, akhirnya melepaskan tangan Rebecca, namun sebelum ia melangkah pergi, ia mengusap puncak kepala Rebecca dengan kasar namun singkat. "Tidurlah lagi. Aku akan menyuruh asistenku membawakan pakaian dan makanan. Dan jangan pernah berpikir untuk keluar dari kamar ini tanpa izinku."

Maximilian berjalan keluar, namun langkahnya terasa lebih berat. Di luar pintu, ia bersandar pada dinding, menarik napas panjang. Ia sudah resmi masuk ke dalam permainan yang paling berbahaya: permainan perasaan. Dan bagi seorang Maximilian, kalah bukanlah sebuah pilihan.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐡 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐨𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 😘😘😘 𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐜𝐨𝐧𝐠𝐨𝐫 𝐁𝐢𝐚𝐧𝐜𝐚 𝐥𝐠𝐬𝐧𝐠 𝐤𝐢𝐜𝐞𝐩 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐢𝐧 𝐬𝐦 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐤𝐥𝐨 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐨𝐝𝐲𝐚𝐫 𝐥𝐨 𝐛𝐢𝐚𝐧 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐢𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐤 𝟏𝐛𝐚𝐛 𝐝𝐨𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
EsKobok: waduh🤣
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐦𝐚𝐱😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐨𝐧𝐮𝐬 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐡𝐫 𝐢𝐧𝐢 𝐮𝐩 𝟑𝐛𝐚𝐛 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚/𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐭𝐩 𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐫𝐤𝐧𝐥, 𝐥𝐛𝐡 𝐤𝐞 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚 𝐬𝐢𝐡 𝐲𝐠 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐪 𝐥𝐡𝐭 𝐝𝐢 𝐟𝐢𝐥𝐦𝟐 😘😘😘🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐫𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐭𝐡𝐨𝐫 🦾🦾😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐤𝐧 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧, 𝐦𝐚𝐱 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐮 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐦𝐢𝐰𝐢𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐐 𝐤𝐬𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐬𝐚𝐦𝐚𝟐 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐫𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐌𝐫𝐬 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬, 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐱𝐢𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐝𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐦𝐛𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐰𝐭 𝐤𝐭𝟐 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐫𝐧𝐡 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐲𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡😭😭😭

𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐩 𝐣𝐠, 𝐛𝐚𝐜𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐧𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬 😁😁😁👍👍👍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐢𝐧𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐛𝐧𝐠𝐭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐢𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐣𝐞𝐥𝐚𝐬 😁😁😁
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚😁😁😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐣𝐠𝐧 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 👍👍👍 𝐢𝐧𝐢 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐛𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢 𝐧𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!