NovelToon NovelToon
Laluna Si Penerang Kegelapan

Laluna Si Penerang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Cun

sebuah keserakahan manusia yang akan membawa petaka dari keluarganya, untungnya Laluna si gadis cantik yang perkasa ini luput dari kekejaman serta keserakahan orangtuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah

Najwa bungkam ketika suaminya sampai rumah, biasanya dia meskipun sama sama sibuk selalu menyiapkan segala sesuatunya buat sang suami termasuk makanan nya dan pakaian gantinya kini dia jadi ogah ogahan, dia tetap diam tak menyapa seperti biasanya, sibuk scroll sosmed nya, padahal fikiran nya bercabang kemana mana.

Suaminya datang dengan hadiah dan makanan mewah di tangannya, senyumnya sumringah seperti orang tak bersalah sama sekali, suaminya menyapa tapi Najwa menoleh pun tidak, kemal gugup mungkinkah istri nya memergoki perselingkuhannya, ah itu tidak mungkin bukannya wanita itu sangat mencintainya? Dengan ucapan manis dan hadiah serta permintaan maaf yang hanya basa basi pasti dia akan meleleh kembali, fikir kemal.

"Sayang kok tumben silent treatment? Ada apa, apakah ada yang salah denganku?" tanya sang suami, Najwa tetap terdiam seribu bahasa sang suami merasa geram karena di cuekin.

"Najwa,durhaka sekali kamu di ajak ngomong gak menjawab". Teriak kemal membuat Najwa langsung mendongak, wanita tiga puluhan itu tak mengeluarkan sepatah katapun, dia menatap tajam wajah suaminya, lalu melengos begitu saja, kemal bingung sebenarnya cintanya memang hanya untuk istrinya, tetapi karena ingin icip icip akhirnya dia jatuh juga di pelukan suster di tempatnya bekerja.

Tiada sapa kata malam itu, bahkan Najwa pindah ke kamar tamu, dia memang lagi emosi, tak bisa berpura pura lagi, persetan dengan tausiah suaminya yang mengatakan bahwa wanita yang menghindari tidur dengan suaminya maka akan di laknat Malaika sampai esok pagi atau sampai mereka baikan kembali, toh dia juga bukan sesuci bidadari, masih punya amarah dan emosi.

Sementara di tempat lain, Laluna yang mendapat berita bahwa saat ini ayahnya lagi sakit sebetulnya ingin menjenguknya, tapi Luna masih sayang nyawanya, dia tidak ingin menyusul ketiga abangnya yang mati sia sia karena keserakahan orang tua, mungkin bagi orang awam hal ini tak masuk akal apalagi bagi mereka yang memakai ilmu logika, sungguh tak sampai di nalar mereka, di kira bohong dan kampungan!.

Bik Rum, pelayan yang setia itu memberi kabar pada momongannya, karena jika ada sesuatu yang terjadi maka Laluna pasti segera dapat kabar darinya.

"Mbak, seperti nya Bapak sudah menyesal alangkah baiknya mbak Luna pulang nengok beliau, apalagi kini tiap hari di tinggal Ibu mengurusi urusannya sendiri, Mbak Luna nggak kasihan sama Bapak?" lapor bik Rum, dan itu membuat Laluna bimbang, jika harus pulang akankah peristiwa itu terulang lagi, tapi jika tidak pulang Laluna tak ingin di sebut anak durhaka yang tak mau mengurus orang tuanya, dalam kebimbangannya tiba tiba dia ingat sahabatnya, Najwa.

Tetapi Luna mikir lagi, bukannya Najwa lagi punya masalah dengan suaminya, "oh iya alangkah baiknya aku tanya kabarnya dia saja tak usah membebani dengan masalahku". Batinnya.

Laluna kemudian menghubungi Najwa, terdengar dari seberang Najwa dengan isak nya, ah ternyata manusia itu semuanya punya masalah hanya saja ceritanya yang berbeda.

"Hallo mbak Najwa gimana keadaanmu?" tanya Laluna.

Najwa menjawab dan menceritakan ketika barusan bertemu suaminya, dia masih diam dan tak ingin bersapa sedikitpun, lalu Laluna menanyakan terus apa keinginan Najwa selanjutnya, "jangan sampai gegabah mengambil keputusan, takutnya jadinya malah berantakan".

"jelas lah Lun, aku ingin cerai, aku tidak ingin berhubungan dengan suami yang telah menjamah wanita lain, bagiku kesetiaan diatas segalanya toh tanpa suami aku juga bisa cari makan sendiri". Jawab dokter Najwa tegas.

"Kalau begitu mau nya Mbak Najwa, kita selidiki dulu secara detail, kita cari bukti yang kuat tapi syaratnya berat, mbak harus pura pura baik sama dia, dan jangan membuatnya curiga, kita bikin panggung biarkan mereka memainkan perannya selebihnya kita jadi penonton nya". saran Laluna berfilosofi.

Najwa mengangguk faham, ternyata seorang wartawan itu pengalamannya lebih luas, kosa katanya lebih terkontrol, kalau begitu dokter Najwa akan mengikuti sandiwara yang harus di perankan , tapi tidak untuk malam ini, emosinya masih belum reda masih memuncak setinggi gunung Himalaya, dia ingin tidur semoga esok hari punya solusi, mau sholat pun hari ini dia lagi kedatangan tamu bulanan nya.

Sementara Luna kini kebingungan sendiri, dia berfikir logis, dan sebagai ksatria yang tangguh dalam pertandingan dia memutuskan untuk pulang menemui orang tuanya, masalah resiko apapun dia akan tanggung sendiri.

Keesokan harinya setelah menjalankan rutinitas paginya, Luna minta izin untuk tidak masuk kerja hari ini karena akan menjenguk ayahnya yang lagi sakit, Luna mampir ke toko kue dan membeli beberapa kue kesukaan ayah ibunya, dan Luna selalu ingat itu apa kesukaan mereka, tapi apakah mereka ingat apa mau Laluna? Tak akan pernah sekalipun.

"Assalamualaikum". Laluna memencet bell pintu rumah mewah itu sambil ucap salam lewat speaker berharap seseorang di dalam sana mendengar kedatangannya, tiada balasan tetapi langkah kaki terdengar pelan, dan pintu pun terbuka, bik Rum menyambut kedatangan Laluna dengan pelukan hangat, Laluna mencium tangan bik Rum, begitulah Laluna meski terlahir dari keluarga yang kaya dan memandang status tapi tidak dengan dia, karena dia selama ini berada dalam pengasuhan bik Rum yang menjunjung tatakrama, meski hanya pembantu tapi etika dan sopan santun dari nya perlu di apresiasi.

"Masuk mbak , ayah mu sedang menunggu di kamarnya". Bik Rum mempersilahkan Laluna naik keatas ke kamar ayahnya, Laluna menoleh melihat sekeliling ruangan, tiga tahun lalu dia kembali kerumah ini setelah dua tahun menghilang dan berakhir pengusiran dari sang ibu, ayahnya hanya mampu melihat bagaimana perempuan itu mengusir putri satu satunya yang katanya tak bisa balas budi itu, balas budi yang bagaimana yang di kehendaki ibunya Laluna, apakah harus memberinya uang ,mobi, perhiasan atau aset lain, tentu saja itu semua tidak berarti bagi ibunya Laluna yang memang tak pernah kekurangan harta itu, entah darimana datangnya harta dari orang tuanya, entah halal atau haram mereka tak perduli yang dia perduli kan dan itu nyata, hartanya bertumpuk tumpuk di ruangan rahasia mereka.

Laluna menatap foto yang tergantung di dinding, saat itu kakaknya berumur 10 tahun, ketiga kakaknya kembar dan meninggalnya beruntun tiap tahun, dalam foto itu Laluna masih kecil masih dalam gendongan ayahnya, kenapa bukan ibunya yang menggendong Luna, kini setelah dewasa Luna bisa berfikir dengan realistis, hal yang dulu menurut nya biasa saja kini jadi sesuatu yang mengusik otaknya.

"iya ya, kenapa dulu selalu ayah yang perduli padaku, padahal saat aku kecil ayah juga sudah sangat sibuk, sementara ibu belum sesibuk sekarang, bahkan ketika harus menyeduh dan memberikan susu pada Laluna, dia ingat lamat lamat, ayahnya yang selalu mengerjakan jika bik Rum lagi sibuk". Fikir Luna.

Laluna mengetuk pintu kamar ayahnya dengan salam.

"Assalamualaikum Ayah". Tetapi sekali lagi tak ada balasan salam hanya suara bariton dari seorang lelaki tua. "Masuk".

Luna masuk, didapati Lelaki tua berumur sekitar 65 tahun itu sedang duduk di kursi goyang nya, Laluna mendekat meraih tangan ayahnya dan menciumnya, ada tatapan kosong Dimata sang ayah, tatapan yang tiada pengharapan untuk hidup, Laluna berdiri di dekat ayahnya tanpa suara, sunyi!

"Katanya ayah lagi sakit, sakit apa yah?"tanya Laluna membuka keheningan diantara mereka, sang ayah tak menjawab hanya titik airmata menetes .

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!