NovelToon NovelToon
Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Tentang Lampu Kristal dan Panggung yang Terlalu Silau

Pintu kaca kafe itu terbuka dengan bunyi denting lonceng yang sangat sopan, seolah-olah dia tahu kalau yang masuk bukanlah pelanggan biasa, melainkan Bumi dan Si Kumbang dalam wujud manusia. Udara di dalam sini dingin sekali, AC-nya pasti disetel pada suhu kutub utara agar orang-orang yang memakai jas dan blazer tidak berkeringat. Wanginya pun sangat "mahal", campuran antara biji kopi pilihan dan parfum impor yang harganya mungkin setara dengan ban motor saya yang sudah gundul.

Saya menggandeng tangan Senja. Tangannya dingin, tapi dia tidak melepaskannya. Kami berjalan melewati deretan meja marmer menuju area tengah yang sudah disulap menjadi panggung kecil. Di sana, Arkan sedang berdiri, memegang mikrofon dengan gaya yang sangat santai, seolah-olah kafe ini adalah ruang tamunya sendiri.

"Nah, ini dia tamu spesial kita! Bumi dan... oh, Senja ya?" suara Arkan menggema lewat pengeras suara. Semua mata menoleh ke arah kami. "Selamat datang di perayaan kemenangan mading kita. Silakan duduk di depan, saya sudah siapkan kursi khusus buat kalian."

Kayla berdiri di samping panggung, memakai gaun biru navy yang sangat cantik. Dia menatap saya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa lega karena saya datang, tapi juga ada rasa canggung saat melihat tangan saya menggandeng Senja.

Kami duduk di barisan paling depan, persis di bawah sorot lampu panggung. Arkan mulai berpidato. Dia bicara tentang visi, tentang estetika, dan tentang bagaimana mading sekolah kami sekarang sudah naik kelas.

"Kesuksesan ini bukan cuma milik saya," kata Arkan sambil melirik Kayla. "Tapi milik tim yang mau berubah, yang mau membuang cara-cara lama yang sudah usang dan berani mencoba hal baru yang lebih berkelas."

Saya tahu "cara lama" yang dia maksud adalah saya. Teman-teman organisasi mading bertepuk tangan meriah. Saya cuma diam, sesekali menyeruput kopi hitam yang rasanya terlalu asam buat lidah saya yang terbiasa dengan kopi sasetan di belakang sekolah.

"Dan sebagai bentuk apresiasi," lanjut Arkan, suaranya mendadak berubah jadi sangat serius. "Saya ingin memberikan penghargaan khusus kepada seseorang yang... katakanlah, sudah memberikan 'warna' tersendiri bagi perjalanan mading kita. Bumi, silakan naik ke panggung."

Saya mengernyitkan dahi. Senja memegang lengan kemeja flanel saya dengan erat. "Jangan, Bumi. Ini pasti jebakan," bisiknya pelan.

Tapi kalau saya tidak naik, saya akan terlihat pengecut. Saya berdiri, merapikan kemeja pemberian Dara, dan melangkah naik ke panggung. Arkan menyerahkan sebuah piagam dalam bingkai emas yang sangat besar.

"Ini adalah piagam 'Kontributor Klasik'. Kami ingin berterima kasih karena kamu sudah mengingatkan kami betapa pentingnya meninggalkan masa lalu yang berdebu untuk menuju masa depan yang gemilang," kata Arkan sambil tersenyum lebar.

Semua orang tertawa kecil. Mereka tahu itu adalah ejekan halus yang dikemas dalam bentuk penghargaan. Piagam itu sebenarnya adalah cara Arkan untuk bilang: "Terima kasih sudah pergi, karena tanpamu kami jadi lebih hebat."

Saya menerima piagam itu. Berat sekali. Saya menatap Arkan, lalu menatap Kayla yang tampak menunduk malu. Saya mendekatkan mulut ke mikrofon yang masih dipegang Arkan.

"Terima kasih, Arkan. Piagam ini memang bagus," suara saya terdengar tenang di seluruh ruangan. "Tapi bagi saya, kemenangan itu bukan soal berapa banyak orang yang tepuk tangan di kafe mewah. Kemenangan itu adalah saat kita tidak perlu menghina masa lalu hanya untuk terlihat hebat di masa sekarang. Piagam ini akan saya simpan... di gudang belakang sekolah, tempat di mana kejujuran masih punya harga diri."

Suasana mendadak hening. Senyum Arkan sedikit luntur. Saya turun dari panggung tanpa menunggu jawaban darinya. Saya kembali ke meja, mengambil tas, dan mengajak Senja pergi.

"Ayo, Senja. Kopinya sudah dingin, dan hawanya mulai terasa sempit," kata saya.

Saat kami berjalan menuju pintu keluar, Kayla mengejar kami. "Bumi! Tunggu! Arkan cuma bercanda tadi, dia tidak bermaksud begitu."

"Bercanda itu ada batasnya, Kay. Dan batas saya sudah habis di depan panggung tadi," kata saya sambil terus berjalan. "Selamat atas kemenangannya. Semoga mading kalian tetap berkilau, meski di bawahnya ada hati yang kalian injak-injak."

Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa panggung yang paling megah sekalipun tidak akan bisa menutupi kekerdilan jiwa seseorang. Arkan mungkin punya piagam emas, tapi saya punya kemeja flanel dari Dara dan dukungan tulus dari Senja. Dan bagi saya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat poros saya tetap berputar dengan bangga.

1
nickm
cerita ini layak dibuat film
nickm
cerita yang luar biasa, aku akan menunggu metamorfosis bumi kedepannya
nickm
semakin menarik ceritanya
nickm
bagus sekali ceritanya, bahasa yang runtut, alur mengalir pasti
nickm
bagus sekali, paragraf pertama yang membuatku masuk ke dimensi cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!