Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan di gerbang doa
Sepuluh hari telah berlalu sejak Gus Haidar berdiri di balkon Ndalem dan membungkam dunia dengan pembelaannya. Pesantren Al-Fatih perlahan kembali ke ritmenya yang tenang, seperti air telaga yang baru saja dijatuhi batu besar namun kembali bening. Zayna merasa hidupnya baru saja dimulai; ia mulai mencintai aroma buku tua, suara anak-anak mengeja Iqra, dan tatapan teduh Haidar dari kejauhan.
Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah iring-iringan mobil hitam mewah berhenti di depan gerbang. Mobil itu membawa debu kota yang terasa asing.
Ayah Zayna turun dengan langkah yang tidak lagi tegap. Di belakangnya, Bunda menyusul dengan wajah yang pucat, matanya sembab di balik kacamata hitam yang tak mampu menyembunyikan kesedihan. Tidak ada lagi sisa-sisa kemewahan yang dulu sering dipamerkan Bunda; ia tampak seperti bunga yang layu sebelum musim gugur.
"Ayah? Bunda?" Zayna berlari menyongsong mereka di teras Ndalem. "Kenapa mendadak sekali? Ada apa?"
Bunda langsung menghambur memeluk Zayna, tangannya gemetar saat menyentuh kain hijab putrinya. "Zayna... maafkan Bunda, Sayang. Bunda rindu, tapi Bunda datang membawa kabar buruk."
Di ruang tamu Ndalem, Kyai Sepuh dan Gus Haidar menyambut mereka dengan hormat. Aroma kopi pahit memenuhi ruangan, menambah kesan berat pada atmosfer siang itu.
"Kyai, Gus Haidar," Ayah memulai dengan suara yang pecah. "Saya datang bukan untuk merusak janji empat puluh hari itu. Tapi perusahaan saya di Jakarta sedang dihancurkan. Musuh bisnis saya menggunakan video lama Zayna untuk menjatuhkan saham kami. Investor lari, bank mulai menyita aset, dan yang paling parah... Bunda Zayna jatuh sakit karena tekanan ini."
Bunda memegang tangan Zayna dengan erat. "Ayahmu butuh tanda tanganmu, Zayna. Banyak aset yang diatasnamakan kamu sebagai ahli waris tunggal. Jika kamu tidak pulang sekarang untuk menghadap notaris dan pengacara, Ayahmu bisa terseret kasus hukum. Kami terancam kehilangan rumah, perusahaan... segalanya."
Zayna merasa dunianya seolah dibelah dua. Ia menoleh ke arah Gus Haidar. Pria itu terdiam, jemarinya memutar tasbih dengan gerakan yang konstan, namun matanya yang menunduk memancarkan kesedihan yang tak bisa disembunyikan.
"Gus..." bisik Zayna, air matanya mulai menggenang.
Haidar mendongak. Ia menatap Zayna, lalu menatap Ayah dan Bunda dengan pandangan yang sangat bijaksana. "Pak, Ibu... harta adalah titipan yang bisa diambil kapan saja. Namun, berbakti kepada orang tua di saat sulit adalah jalan menuju surga yang paling nyata bagi seorang anak."
Haidar menatap Zayna lurus-lurus. "Zayna, pergilah. Tugasmu di sini bukan untuk menghafal kitab semata, tapi untuk mempraktikkan isi kitab itu. Dan isi kitab yang paling tinggi saat ini bagimu adalah berbakti kepada Ayah dan Bunda."
"Tapi Gus, sisa tiga puluh hari lagi... perjodohan kita..."
Haidar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat puitis namun menyayat hati. "Janji manusia bisa ditunda oleh keadaan, tapi janji Allah tidak akan pernah tertukar. Pergilah selamatkan rumahmu di kota, agar kelak kamu bisa pulang ke rumahmu di sini dengan hati yang tenang."
Malam itu, di bawah pohon sawo yang menjadi saksi bisu segala rahasia mereka, Zayna dan Haidar berdiri untuk terakhir kalinya sebelum fajar menjemput keberangkatan Zayna ke Jakarta.
"Gus, Jakarta itu sangat gelap. Saya takut cahaya yang baru saya temukan di sini akan padam tertutup asap kota," isak Zayna.
Haidar mengeluarkan sebuah benda dari saku kokonya—sebuah kunci kecil dengan gantungan kaligrafi namanya. "Zayna, kamu ingat kata-kataku tentang air sungai yang harus melewati jeram?"
Zayna mengangguk lemah.
"Kepergianmu bukan untuk kembali menjadi Zayna yang dulu. Kamu pergi sebagai 'Zayna dari Al-Fatih'. Bawalah kunci ini. Ini kunci perpustakaan pribadi saya. Di dalamnya saya simpan catatan-catatan doa yang saya tulis untukmu sejak kita kecil. Bacalah saat kamu merasa lelah. Anggap itu suaraku yang sedang menjagamu dari jauh."
Haidar menjeda, suaranya merendah selembar sutra. "Saya akan menunggu. Bukan hanya tiga puluh hari, tapi saya akan menunggu hingga tugasmu sebagai seorang putri selesai. Pergilah dengan bismillah, dan kembalilah dengan alhamdulillah. Gunungmu tidak akan bergeser sejengkal pun, Zayna."
"Keesokan paginya, mobil hitam itu bergerak perlahan meninggalkan gerbang pesantren. Zayna menatap keluar jendela, melihat Ayah yang mencoba tegar di sampingnya dan Bunda yang terus menggenggam tangannya. Di spion mobil, ia melihat sosok Haidar yang berdiri tegak di depan masjid, semakin lama semakin kecil hingga hilang di balik debu jalanan. Zayna tidak tahu badai apa yang menantinya di Jakarta, tapi ia tahu ia membawa separuh jiwa sang Gus di dalam dadanya."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp