"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Luka hati itu.
"Apa Bang? Kamu bilang aku istri yang tidak bersyukur?"Tatap Ribka lekat pada suaminya.
"Dua puluh tahun kita sudah hidup bersama. Abang tidak melihat seperti apa perjuanganku sebagai istri dan seorang menantu?"
"Pengorbanan apa yang kamu banggakan itu. Kamu cuma ibu rumah tangga. Tidak pernah menghasilkan uang. Dan menjadi beban keluarga. Dan satu hal lagi, kamu telah melakukan satu kesalahan besar. Kesalahan yang tidak bisa dilupakan begitu saja! Gara-gara kamu, aku telah kehilangan Jason!" sambar Raymond sinis. Mengintimidasi Ribka.
Ribka terhenyak mendengar ucapan suaminya. Lagi, suaminya mengungkit luka itu. Luka yang tidak akan pernah sembuh selamanya. Luka yang membuat dirinya didera penyesalan yang tidak berkesudahan. Sekalipun dia telah berusah untuk menebusnya. Tetapi suaminya selalu saja dengan gamblang memporak porandakan hatinya.
Hanya dengan menyebut satu kata, Jason! Nama anaknya. Anak yang dia lahirkan yang dikasihinya sampai sampai sekarang. Anak yang selalu dia kirimi doa-doa pengharapan. Meskipun sudah bertahun-tahun dia kehilangannya. Tapi harapannya tidak pernah hilang. Nalurinya sebagia seorang Ibu selalu mengatakan, kalau anaknya ada disuatu tempat.
Anaknya tumbuh bersama doa-doanya. Dia percaya itu. Seperti percaya kalau matahari akan muncul setiap pagi menyapanya. Walau kadang harapannya itu hilang. Seperti mentari yang absen muncul karena mendung. Namun, harapannya itu akan datang lagi.
"Kamu jahat, Bang. Sampai kapan kamu mengungkit kesalahanku itu. Ibu mana yang mau kehilangan anaknya!" sentak Ribka berurai air mata.
"Halah, nangis terus!" bukannya iba, Raymond malah muak melihat tangis istrinya.
"Kamu lupa ya, Bang? Dulu aku punya pekerjaan. Demi berbakti kepada keluarga aku melepas pekerjaanku. Dua puluh tahun aku mengabdi sebagai istrimu. Aku berjuang menemani kamu selama ini. Merawat Ibu yang stroke sudah lima tahun lebih. Kamu tega bilang begitu Bang? Aku beban karena tidak menghasilkan uang? Kamu jahat!"
"Itu sudah kewajibanmu kamu. Mau hitung-hitungan ya? Setidaknya itu penebusan kesalahanmu dulu." sentak Raymond.
"Penebusan apa! Kalau setiap saat kamu mengingatkan luka itu. Kamu begitu menikmati setiap aku terluka kan? Lalu kewajiban kamu apa sebagai seorang suami? Andai kamu mau menjaga Jason waktu itu. Sehingga Jason tidak harus ikut ke pasar. Jason tidak akan pernah hilang! Tapi kamu egois Bang!" Sentak Ribka seketika wajah Raymond berubah. "Kamu benar-benar tidak pernah menghargai aku sebagai istrimu. Kamu anggap aku pembantu gratis, gitu? Demi penebusan katamu? Oke, sekarang aku tahu suami macam apa kamu!" hentak Ribka sakit hati. Dia buru-buru keluar dari ruang IGD. Hendak mencari udara segar. Dadanya sepertinya mau meledak. Karena sesak.
"Hei, kamu mau kemana Rib?" teriak Raymond hendak mengejar langkah istrinya. Tapi tidak jadi karena ponselnya berbunyi.
"Halo Bang Ray, apa benar Ibu masuk rumah sakit?" terdengar suara Khaty di seberang. Wajah Raymond langsung berubah, saat melihat nomor kontak Khaty yang menghubunginya.
"Iya, benar. Kamu tau darimana?" ucap Raymond lembut. Ribka masih sempat mendengarnya. Karena langkahnya terhenti saat mendengar ponsel Raymond berdering. Seperti dugaannya, benar Khaty yang menelpon.
"Alisya yang bilang. Besok pagi aku menjenguk Ibu ya?"
"Apa tidak merepotkan Kha? Ya iya, aku tunggu kedatanganmu." Raymond mengangguk-anggukkan kepalanya. Meski dia sadar Khaty tidak akan melihat itu. Saking senangnya dia Khaty akan menjenguk ibunya.
Ribka tersenyum sinis. Menelan ludahnya yang terasa pahit. Setega itu suaminya kepadanya. Suaminya bisa bersikap lembut kepada orang lain. Tapi kepadanya selalu acuh dan dingin. Sudah bertahun-tahun lamanya suaminya berubah. Bahkan Ribka sudah lupa kapan terakhir suaminya bersikap lembut kepadanya.
Ribka hanya ingat satu hal, suaminya berubah sikap sejak Mirza hadir sebagai anak adopsi mereka. Mirza telah merebut semua kasih sayang suaminya kepadanya. Ribka tidak berdaya. Terlebih karena karena rasa bersalah yang sampai sekarang masih menggerogoti perasaannya.
Kejadian lima belas tahun lalu, telah menyisakan luka yang begitu dalam di keluarganya. Akibat kelalaiannya waktu itu, yang menyebab anaknya hilang diculik. Saat dia membawa belanja ke pasar. Dia terpisah dengan anaknya, Jason. Setahun kemudian Raymond mengadopsi seorang anak laki-laki berumur tiga tahun. Namanya Mirza. Meski keberatan, tapi Ribka tidak berdaya menolak keinginan suaminya.
Katanya dia ingin memiliki anak penganti anaknya yang hilang. Anehnya menurut Ribka suaminya tidak gigih mencari keberadaan putranya yang hilang. Malah mengiklaskan begitu saja. Bahkan sering mengungkit kelalaiannya itu, setiap kali protes sikap suaminya. Membuat Ribka sering tidak berdaya dan merasa bersalah setiap saat.
Ray sangat menyangi Mirza meskipun dia adalah anak angkat. Perihal mengadopsi Mirza pun Ribka tidak pernah dilibatkan. Dia hanya disuruh mengasuh dan menyayangi Mirza seperti anaknya sendiri. Dan harus melupakan Jason. Bahkan masa lalu Mirza sendiri pun Ribka tidak pernah tau. Apakah dia diadopsi dari panti asuhan atau dari keluarga miskin. Ribka tidak pernah diberi penjelasan.
Setiap kali Ribka menanyakan soal asal usul Mirza, suaminya pasti murka. Bahkan pernah mengancam untuk menceraikannya. Sejak kejadian itu, Ribka hanya pasrah. Mengasuh Mirza dengan penuh kasih sayang. Dan mencoba menambal lukanya dengan mencintai Mirza. Menganggapnya sebagai pengganti anaknya yang hilang.
Sejak Mirza hadir dalam keluarga mereka, sikap Raymond berubah dingin pada istrinya. Tetapi sangat menyanyangi Mirza, membuat hati Ribka merasa terhibur juga. Setidaknya suaminya tetap peduli pada keluarganya.
Dengan dalih supaya ada yang membantunya mengawasi Mirza, ibu mertuanya dan adik iparnya juga tinggal di rumah mereka. Lagi-lagi Ribka tidak bisa protes. Karena suaminya selalu mengungkit masa lalu itu.
Seiring berlalunya waktu, Ribka mampu melupakan anaknya yang hilang. Mengantikannya dengan kehadiran Mirza. Walau berat namun dia tetap berharap suatu saat dia akan bertemu kembali dengan putranya. Berharap putranya bertemu keluarga yang bisa menyayanginya.
Asa satu hal yang membuat Ribka mampu bertahan. Mirza sangat menyayanginya, meskipun dia tau kalau Ribka adalah ibu angkatnya. Berkat kasih sayang Ribka, Mirza yang tidak tau siapa ibu kandungnya merasa terhibur juga. Terlebih dia tahu ayah angkatnya juga sangat menyayanginya. Tetapi ada satu rahasia yang disembunyikan Raymond siapa Mirza yang sebenarnya. Dari keluarganya terlebih dari istrinya Ribka.
Sebuah rahasia besar menyangkut hilangnya Jason juga. Entah sampai kapan Raymond bisa menyembunyikan rahasia itu.
Satu hal yang membuat Raymond nyaman sampai sekarang. Dia bisa mengendalikan istrinya. Hanya dengan mengungkit kejadian masa lalu yang sepenuhnya kesalahannya. Istrinya tidak akan berani bertingkah.
Istrinya selama ini patuh. Manut apa saja yang dia lakukan atau perintahkan. Bahkan terhadap ibunya sendiri. Istrinya pun sangat patuh. Tidak pernah protes! Tapi, kenapa kemarin tingkahnya di luar prediksi. Apakah istrinya cemburu dengan Khaty? Atau memang hanya marah saja karena dia telah mengabaikan kesehatan ibunya?"***