NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17: ujian di Labirin maut

Pagi itu, pengumuman di SMA Gwangyang mengejutkan seluruh siswa kelas 1-A. Sebagai bagian dari program pertukaran pelajar internasional yang dibawa oleh Alice Pendragon, sekolah akan mengadakan sesi "Simulasi Penjelajahan Dungeon" di fasilitas pusat latihan Hunter milik KHA (Korea Hunter Association). Secara resmi, tujuannya adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaan siswa pasca serangan gerbang SSS. Namun, bagi Arkan, ini adalah jebakan yang terlalu transparan.

"Ini kesempatan bagus bagi kita semua untuk belajar dari sistem pelatihan London," ucap Alice di depan kelas dengan senyum yang tampak tulus namun mengandung racun. Matanya melirik tajam ke arah Arkan. "Aku sudah meminta izin agar kelompok belajarku—aku, Liora, dan Arkan—masuk ke dalam simulasi yang sama."

Liora tampak bersemangat, sementara Arkan hanya bisa menghela napas panjang dalam hati. 'Julian, siapkan protokol keamanan tingkat tiga. Jika Alice mencoba memicu anomali di dalam simulasi, segera ambil alih sistem pusat KHA.'

'Melaksanakan, Ayah. Seer juga sudah memantau dari jauh. Simulasi ini telah dimodifikasi secara ilegal oleh teknisi yang disuap oleh pihak Inggris. Mereka akan melepaskan monster tipe "Mind-Eater" tingkat B untuk memancing reaksi bawah sadar Ayah,' lapor Julian.

Pusat Pelatihan KHA – Pukul 13.00.

Gimnasium itu luas dan dingin, dipenuhi oleh mesin-mesin canggih yang memproyeksikan realitas virtual ke dalam otak subjek. Arkan, Liora, dan Alice berdiri di atas platform logam. Mereka masing-masing mengenakan rompi sensor mana.

"Ingat, jika kalian dalam bahaya, cukup tekan tombol di pergelangan tangan kalian. Sistem akan langsung menarik kalian keluar," ucap petugas KHA yang tidak menyadari bahwa sistemnya sudah dikompromi.

"Arkan, jangan jauh-jauh dariku, ya?" Liora menggenggam ujung seragam Arkan. "Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi."

Arkan mengangguk pelan, memerankan sosok pemuda yang gugup dengan sempurna. "I-iya, Liora. Aku akan mengikutimu."

Alice tersenyum tipis di samping mereka. "Ayo, mari kita lihat apa yang tersembunyi di dalam sana."

Seketika, dunia di sekitar mereka berubah. Mereka tidak lagi berada di gimnasium, melainkan di sebuah reruntuhan kota yang gelap dan dipenuhi kabut ungu pekat. Ini adalah simulasi Dungeon tipe urban. Bau belerang dan suara geraman monster terdengar sangat nyata.

Alice melangkah maju dengan percaya diri. Sebagai Hunter Kelas S, ia tidak butuh senjata tambahan. Ia hanya melambaikan tangannya, dan pusaran angin tajam memotong monster pengintai yang mendekat. "Liora, tunjukkan kemampuan mana Kelas C-mu. Arkan, kau cukup membawa tas persediaan ini."

Mereka menyusuri labirin beton yang runtuh. Arkan terus memantau pergerakan Alice melalui Sanguine Perception. Gadis itu tidak sedang memburu monster; ia terus-menerus menatap Arkan melalui pantulan kaca-kaca gedung, menunggu momen Arkan melakukan kesalahan.

Tiba-tiba, kabut ungu di depan mereka mengental. Sesosok makhluk tanpa wajah dengan tentakel panjang keluar dari balik bayangan. Mind-Eater.

"Itu monster tipe mental! Hati-hati!" teriak Liora. Ia mencoba melepaskan tembakan mana, namun Mind-Eater itu melepaskan gelombang ultrasonik yang membuat Liora berlutut sambil memegangi kepalanya yang kesakitan.

Alice tetap berdiri tenang. Ia sengaja tidak langsung membunuh monster itu. Ia ingin melihat bagaimana Arkan bereaksi saat Liora terancam. "Oh tidak, mana-ku tiba-tiba terganggu oleh medan magnet di sini! Arkan! Lakukan sesuatu!" teriak Alice dengan akting yang sangat buruk di mata Arkan.

Arkan menatap Liora yang sedang merintih. Monster itu mulai mendekat, tentakelnya siap menyentuh dahi Liora untuk menghisap energinya.

'Hana, sekarang,' perintah Arkan dalam batin.

Hana, yang sudah menyusup ke dalam kode digital simulasi melalui bantuan Julian, tidak muncul secara fisik. Ia memanipulasi bayangan dari reruntuhan gedung di belakang monster tersebut.

CRACK!!!

Sebuah tiang listrik beton tiba-tiba runtuh—seolah-olah karena kerusakan lingkungan simulasi—dan menghantam *Mind-Eater* itu tepat di kepalanya hingga hancur menjadi partikel data.

"Eh?" Alice tertegun. "Tiang itu... runtuh sendiri?"

Arkan segera berlari ke arah Liora, memeluknya untuk melindunginya dari debu simulasi. "Liora! Kamu tidak apa-apa?!"

Liora mendongak, nafasnya terengah-engah. "T-terima kasih, Arkan. Untung tiang itu jatuh..."

Alice menyempitkan matanya. Ia berjalan mendekati tiang beton yang hancur itu. Ia merasakan ada sisa-sisa energi di sana, namun bukan energi mana manusia, melainkan frekuensi getaran yang sangat tinggi. Itu bukan kecelakaan, pikir Alice. Ada seseorang yang membantu dari balik layar.

"Alice, kamu bilang mana-mu terganggu? Kamu Hunter Kelas S, bagaimana mungkin?!" Liora bertanya dengan nada curiga setelah ia pulih.

Alice tersenyum kikuk, menyadari bahwa ia hampir membongkar kedoknya sendiri karena terlalu fokus mengawasi Arkan. "Mungkin karena peralatan simulasi Korea belum setangguh di London. Maafkan aku."

Mereka melanjutkan perjalanan ke pusat labirin. Alice mulai merasa frustrasi. Sepanjang simulasi, setiap kali ia mencoba menciptakan situasi kritis untuk memancing Arkan, selalu ada "kejadian alam" yang menyelamatkan mereka. Langit-langit runtuh tepat mengenai monster, genangan air yang tiba-tiba dialiri listrik liar, hingga tanah yang ambles menelan musuh.

'Tuan, Alice mulai curiga pada kegagalan simulasi ini. Dia sedang menyiapkan teknik "Soul Echo" secara paksa pada Anda. Haruskah saya mematikan seluruh server pusat?' tanya Julian.

'Tidak perlu. Biarkan dia mencoba,' jawab Arkan. 'Elara, kirimkan memori palsu ke frekuensi otaknya. Berikan dia gambaran masa lalu "Arkan" yang sangat menyedihkan dan biasa saja.'

Alice berhenti berjalan. Ia tiba-tiba memegang pundak Arkan. "Arkan, ada sesuatu yang kotor di bahumu."

Saat tangannya menyentuh kain seragam Arkan, Alice mengaktifkan Soul Echo. Ia mencoba masuk ke dalam jiwa Arkan, mencari "gempa" energi yang menandakan identitas Sovereign.

Namun, yang ia temukan justru sebuah kehampaan yang menyakitkan. Di dalam penglihatan Alice, ia melihat Arkan kecil yang sedang duduk sendirian di pemakaman orang tuanya di bawah hujan. Ia melihat Arkan yang selalu dipukuli oleh anak-anak panti asuhan. Ia melihat Arkan yang menangis karena lapar di apartemen yang dingin.

Setiap memori itu terasa begitu nyata dan penuh dengan emosi manusia yang lemah. Alice melepaskan tangannya dengan gemetar. Matanya berkaca-kaca.

"Maaf... aku tidak bermaksud..." bisik Alice.

Arkan menatapnya dengan tatapan polos yang menyayat hati. "Ada apa, Alice? Kenapa kamu terlihat sedih?"

Liora mendekat dan menarik Arkan menjauh dari Alice. "Alice, kamu aneh sekali sejak tadi. Kalau kamu tidak sehat, sebaiknya kita selesaikan simulasi ini sekarang."

Sore harinya, setelah sesi latihan berakhir.

Alice duduk di bangku taman KHA sendirian, menatap langit. Ia merasa sangat bersalah. Apakah aku salah menduga?*pikirnya,Jika dia adalah Sovereign, jiwanya tidak mungkin sepedih itu. Tidak ada penguasa yang memiliki memori selemah itu.

Ia tidak tahu bahwa seluruh memori yang ia lihat adalah mahakarya Elara yang disusun oleh Julian berdasarkan data-data panti asuhan di seluruh Korea untuk menciptakan latar belakang "pecundang" yang sempurna.

Di sisi lain, Arkan berjalan pulang bersama Liora.

"Arkan, menurutku Alice itu mencurigakan," ucap Liora tiba-tiba. "Dia seperti terus-menerus mencoba mengujimu. Apa kamu merasakannya?"

Arkan tersenyum tipis, menatap Liora yang kini mulai menjadi sangat protektif terhadapnya. "Mungkin dia hanya ingin berteman, Liora. Orang asing biasanya memang agak canggung."

"Canggung kepalamu!" Liora mendengus. "Pokoknya, jangan pernah sendirian dengan dia. Aku tidak percaya pada Hunter pirang itu."

Arkan hanya mengangguk. Namun, di dalam sakunya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Choi Ha-neul masuk.Tuan, Dewan Penatua London tidak puas dengan laporan awal Alice. Mereka mengirimkan "The Inquisitor"—Hunter Kelas SSS tipe eksekutor—untuk melakukan interogasi paksa pada seluruh siswa kelas 1-A besok pagi.

Mata Arkan yang di balik kacamata berubah menjadi merah darah sesaat. 'Dewan Penatua London... sepertinya mereka benar-benar ingin aku menghapus kota mereka dari peta.'

'Julian, beritahu Bastian dan Rehan. Siapkan unit pembersih di pelabuhan Incheon. Jika "The Inquisitor" itu menginjakkan kaki di tanah ini, jangan bawa dia ke gurun. Bawa dia langsung ke Markas Utama kita. Aku ingin dia menjadi bahan percobaan pertama bagi racun baru Rehan.'

'Segala kemuliaan bagi Sang Sovereign!'

Arkan menatap Liora yang sedang bercanda di sampingnya. Ia bersumpah, siapa pun yang mencoba merusak kedamaian ini—baik itu pahlawan dunia atau dewa sekalipun—mereka akan menyadari bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah milik Sang Raja yang sedang marah.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!