Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Lift Orbital Dan Hero Sword.
Beberapa jam telah berlalu sejak pertarungan melawan robot kayu.
Langit di atas hutan mulai berubah warna, dari biru pucat menjadi jingga keemasan. Cahaya matahari menyusup di sela-sela cabang pohon yang tinggi dan berlapis-lapis, membuat bayangan panjang seperti jari-jari raksasa merayap di tanah. Udara terasa lebih dingin, membawa aroma daun basah, jamur, dan kayu tua.
Chika berjalan paling depan.
Langkahnya ringan, wajahnya… penuh senyum bodoh khasnya.
Ia bersenandung pelan tanpa nada jelas, sambil mengayunkan pedang Lumina di pundaknya.
“♪ Laa~ la~ princes… princes di mana yaaa~ ♪”
Di belakangnya, Selena berjalan dengan payung merah terbuka meski matahari hanya menembus tipis. Matanya waspada, sesekali melirik ke kiri dan kanan… dan terutama ke arah Vivi.
Vivi sendiri berjalan paling belakang.
Langkahnya tenang. Senyumnya tetap lebar, sampai-sampai matanya hampir tidak pernah terlihat. Keranjang jamur ungu masih tergantung di lengannya, bergoyang pelan setiap kali ia melangkah.
Selena akhirnya angkat bicara, nadanya hati-hati.
“…Vivi.”
“Hmm?” sahut Vivi ceria.
“Kenapa kau memilih ikut kami?”
Vivi memiringkan kepala sedikit.
“Ah, sudah lah… Aku juga ingin membantu kalian dan Chika.”
Selena menyipitkan mata.
“Kau sebelumnya… mengikuti kami, kan?”
“Benar.”
“Lalu kenapa?”
Vivi tersenyum lebih lebar.
“Supaya kalian tidak terkena bahaya. Itu saja kok.”
Selena terdiam sejenak. Ekspresinya jelas tidak sepenuhnya percaya.
Chika, yang sejak tadi sibuk memperhatikan pepohonan, tiba-tiba berkata dengan nada polos,
“Semakin ke depan… musuh kita makin aneh.”
Ia menunjuk ke arah belakang, seolah masih bisa melihat bayangan musuh tadi.
“Barusan kita lawan apa coba… jubah pakai perisai yang hidup. Pas aku tebas kepalanya… ternyata nggak ada orangnya.”
Ia menelan ludah.
“Itu pasti… hantu.”
Vivi menjawab santai,
“Memang hantu.”
Chika berhenti mendadak.
Ia langsung melangkah cepat ke belakang Selena dan bersembunyi setengah di balik tubuhnya.
“A-A-AKU TAKUT HANTU, SELENA!”
Selena berkedut. Tangannya gemetar sedikit saat memegang payung.
“…Aku juga,” katanya lirih. “Walaupun aku vampir.”
Mereka saling melirik… lalu langsung berdiri lebih rapat satu sama lain.
Vivi menutup mulutnya dengan tangan, seolah menahan tawa.
“Itulah kenapa aku menemani kalian. Knight dan vampir tapi takut hantu.”
Chika dan Selena langsung mengembungkan pipi bersamaan.
“HEY!”
“JANGAN KETAWAIN!”
Vivi mengangkat jari telunjuk.
“Sekadar informasi… dulu pedang pusaka itu dijaga oleh hantu-hantu knight.”
Chika langsung kaku.
“…Banyak?”
“Banyak.”
Selena menghela napas panjang.
“…Kenapa hidup selalu seperti ini.”
Vivi melanjutkan dengan nada seperti bercerita dongeng.
“Mereka menciptakan jalur menuju batu pusaka. Ada empat jalan. Hanya satu yang benar, seperti labirin.”
Chika mendengarkan serius.
“Kalau salah jalan?”
“Kalau salah…”
Vivi tersenyum.
“…kalian akan terlempar kembali ke titik awal.”
Chika membayangkan dirinya jatuh jungkir balik.
“…Secara fisik?”
“Secara spiritual.”
“ITU LEBIH SERAM.”
Selena menoleh ke Vivi dengan tatapan curiga.
“Tunggu. Dari mana kau tahu semua ini? Hal seperti itu tidak pernah tertulis di buku sejarah Havenload.”
Vivi menjawab ringan,
“Karena aku sudah hidup lama di sini.”
Selena mengangkat alis.
“Hidup lama? Memangnya berapa umurmu? Jangan ngaco. Berapa pun umurmu, kau tidak bisa mengalahkan umur vampir.”
Chika ikut nimbrung,
“Emangnya berapa umurmu, Selena?”
Selena mengangkat dagu sedikit, nada bangga.
“113 tahun. Dalam struktur tubuhku… itu setara manusia 19 tahun.”
Chika melongo.
“Eh?! Kamu lebih tua dari nenekku!”
Vivi tertawa kecil.
“Masih muda. Seratus tiga belas itu… sebentar bagiku.”
Selena berhenti berjalan.
Matanya membelalak.
“…HEI!! KAMU MANUSIA TOLOL!!”
Chika refleks menunjuk dirinya sendiri.
“Aku juga manusia…”
“YANG AKU MAKSUD DIA! BUKAN KAMU, BODOH!”
Chika terdiam, lalu:
“…Oh.”
Mereka melanjutkan berjalan.
Hutan di depan mereka berubah.
Pohon-pohon membentuk lorong alami, akar-akar menjalar seperti pagar. Kabut tipis mulai muncul di antara batang-batang tua, dan suara angin terdengar seperti bisikan jauh.
Chika menelan ludah.
“Jadi… ini labirin hantu?”
Vivi mengangguk.
“Empat jalur. Satu benar.”
Selena menggenggam payungnya lebih erat.
“…Dan princes ada di dalamnya.”
Chika menatap ke depan dengan ekspresi campur aduk: takut, tegang, tapi juga penuh tekad.
“Kalau begitu… kita nggak boleh salah jalan.”
Angin berdesir.
Di tanah, sebuah sapu tangan kecil tergeletak di persimpangan jalan bercabang empat.
Chika berhenti.
“…Princes.”
Empat jalur terbentang di depan mereka.
Dan di antara bayangan pepohonan, seolah ada sesuatu yang… mengawasi.
...----------------...
Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon ketika mereka melangkah masuk ke hutan labirin. Udara di dalamnya terasa lebih dingin, seolah matahari enggan menembus kanopi daun yang saling bertaut seperti jari-jari raksasa.
Langkah Chika terdengar krek-krek di atas ranting kering. Selena berjalan di sampingnya dengan payung merah terbuka setengah, matanya bergerak ke segala arah, waspada seperti kucing malam.
Di depan mereka, jalan bercabang menjadi empat jalur.
— satu di belakang mereka,
— satu lurus ke depan,
— satu ke kiri,
— satu ke kanan.
Keempatnya tampak sama: semak berduri, akar melintang, dan kabut kehijauan yang berputar malas.
Chika menggaruk pipinya.
“Eeh… ini labirin apa tempat parkir hutan?”
Selena menghela napas pendek. “Fokus, Chika.”
Chika hendak menoleh ke belakang—
dan dadanya langsung tercekat.
“…Selena…”
“Kenapa?”
“Vivi… gak ada.”
Selena berhenti. Payungnya sedikit miring. Ia menoleh ke kanan, ke kiri, lalu ke belakang.
Benar.
Tidak ada Vivi.
Tidak ada jejak kaki.
Tidak ada suara langkah.
Hanya daun yang bergoyang srrr… srrr….
Chika mencengkeram ujung scarf merahnya.
“S… Selena… Vivi ninggalin kita, kan?”
Selena mengangkat bahu, ekspresinya datar tapi matanya menyipit.
“Biarin aja. Dari awal dia aneh. Senyum terus kayak papan reklame jamur.”
Chika menggembungkan pipi, masih cemas.
“Tapi… dia tau banyak soal tempat ini…”
Selena tidak menjawab. Pandangannya tertarik pada sesuatu di jalur kanan.
Sehelai kain kecil berwarna putih kekuningan tergeletak di atas akar pohon.
Chika menunjuk dengan tangan gemetar.
“Selena! Itu… itu sapu tangan princes!”
Selena mendekat, berjongkok, lalu mengangkatnya perlahan. Kain itu sedikit kotor tanah, tapi bordir bunga kecil di sudutnya masih jelas.
Ia menempelkan jari ke dagunya.
“Kalau princes lewat sini dan meninggalkan sapu tangannya… berarti jalur ini bukan jalan salah.”
Chika langsung tersenyum lebar.
“Berarti gampang! Kita masuk sini aja!”
Ia melangkah santai.
Namun—
plak.
Selena menarik scarf merah Chika dari belakang.
“Sebentar, ksatria ceroboh.”
Nada suaranya serius.
“Aku mau eksperimen dulu.”
Chika menoleh.
“Eksperimen? Ini bukan dapur, Selena…”
Selena mendorongnya lembut ke belakang.
“Kau tunggu di sini. Jangan bergerak. Jangan tersesat. Jangan dipeluk pohon.”
“Aku gak biasa meluk pohon…”
Selena masuk ke jalur kanan, tempat sapu tangan itu berada. Kabut menelannya perlahan. Suaranya memudar.
Chika menunggu.
Menghitung daun.
Menghitung detak jantung.
Menghitung kemungkinan hantu.
Beberapa saat kemudian—
WHOOSH!
Selena tiba-tiba muncul tepat di depan Chika, wajahnya pucat.
“Apa—”
“BENAR.”
Chika terlonjak.
“BENAR apa?! Jangan teriak gitu!”
Selena menarik napas.
“Di dalam… aku melihat sapu tangan itu lagi di jalur belakang. Jadi aku sengaja ambil jalur tanpa sapu tangan.”
Ia menunjuk ke labirin.
“Dan… tiba-tiba aku berdiri lagi di sini.”
Chika membelalakkan mata.
“Teleportasi gagal?”
“Lebih tepatnya… reset.”
Chika mengangguk cepat.
“Berarti… Vivi gak bohong.”
Mereka saling pandang.
“Kalau begitu—”
Chika menunjuk jalur kanan.
“—kita ikuti jalan yang ada sapu tangan princes!”
Mereka masuk ke labirin kedua.
Udara semakin dingin. Kabut makin tebal. Suara burung menghilang, digantikan bunyi ting… ting… seperti logam dipukul jauh di dalam hutan.
Mereka langsung memilih jalur belakang—karena di sana, sapu tangan princes tergantung di cabang semak seperti tanda panah alami.
Masuk ke labirin ketiga.
Dan di sanalah—
Tiga sosok berdiri di depan bunga kecil berwarna biru pucat.
Baju zirah kusam.
Helm retak.
Mata kosong bercahaya kehijauan.
Tiga hantu knight.
Chika refleks memeluk Selena.
“HAAAAANTUUUUU!!!”
Selena ikut menjerit, nadanya setengah marah setengah panik.
“KENAPA SELALU HANTU?!”
Chika menyeret Selena ke kiri, ke jalur tanpa sapu tangan.
WHOOSH!
Mereka muncul lagi.
Dan lagi di depan tiga hantu itu.
Hantu pertama mengangkat pedang.
KRIIIIT…
Chika menjerit lebih keras.
“KENAPA MEREKA SELALU DI DEPAN KITA?!”
Mereka kabur ke belakang.
WHOOSH!
Lagi-lagi… tiga hantu.
Empat kali mereka berputar.
Empat kali teriak.
Empat kali hampir pingsan.
Pada putaran kelima, Chika tersandung akar pohon.
“AAAA—”
Mereka jatuh berguling… dan berhenti tepat di tepi sebuah lingkaran cahaya biru yang berputar di tanah.
Sebuah mesin berdiri di tengahnya. Logamnya berkarat, tapi rune bercahaya biru mengalir di permukaannya.
Selena terdiam.
“…Bentar.”
Ia menunjuk mesin itu.
“MENGAPA ADA ALAT CANGGIH DI TENGAH HUTAN?!”
Chika bangkit, mendekat, membaca papan kayu kecil di sampingnya.
“‘Lift Orbital’…”
Ia menoleh cepat.
“Selena! Kamu tahu ini?”
Selena mendekat, wajahnya serius.
“Lift Orbital adalah fasilitas yang diciptakan Dewi Fil… untuk melatih pahlawan terpilih.”
Chika menelan ludah.
“Dan kita…?”
Selena menatap pusaran biru itu.
“Kalau tidak terpilih… biasanya portal tidak akan bereaksi.”
Cahaya biru berdenyut pelan.
Huuuuummm…
Mereka berdiri di depan portal itu.
Kabut bergerak perlahan.
Hantu-hantu di belakang diam membisu.
Dan di udara, ada perasaan… seolah sesuatu sedang mengamati mereka.
Chika menggenggam pedang Lumina.
Selena mengencangkan genggaman payungnya.
Dua sosok kecil di hadapan sesuatu yang jauh lebih besar dari mereka.
Dan portal itu…
mulai bersinar lebih terang.
Cahaya biru dari portal berputar semakin cepat, mengeluarkan bunyi rendah seperti dengungan mesin raksasa yang sedang bangun tidur. Angin dingin tersedot ke dalam pusaran itu, membuat rambut Chika berkibar ke depan.
Selena menatap portal itu dengan mata menyipit.
“Chika… kamu pengen tahu isinya, kan?”
Belum sempat Selena selesai bicara—
“MAU!”
Chika sudah melompat ke depan seperti anak kecil yang melihat perosotan raksasa.
“CHIKA—!”
Selena mengulurkan tangan, tapi terlambat. Tubuh Chika sudah setengah tersedot ke dalam pusaran biru. Anehnya, saat pedang Lumina menyentuh cahaya portal, rune di sekelilingnya menyala lebih terang.
WUUUUMMM—!
Selena terkejut.
“Reaksi…?!”
Ia tidak sempat berpikir lama. Dengan refleks, ia mencengkeram pergelangan tangan Chika.
“Kalau kamu nyasar sendirian, aku males nyari kamu di dimensi lain!”
Dan dalam satu tarikan napas—
MEREKA TERSERET MASUK.
...----------------...
Di Dalam Lift Orbital
Gelap.
Langit di atas mereka hitam pekat seperti tinta, tanpa bintang, tanpa matahari. Namun tanah di bawah kaki mereka bukan tanah hutan—melainkan jalan panjang bertekstur beton abu-abu. Kotak-kotak batu itu tersusun rapi, dan di sela-selanya, rune biru menyala satu per satu seperti jalur lampu landasan pesawat.
Tik… tik… tik…
Setiap langkah mereka menyalakan cahaya kecil di bawah sepatu Chika.
Chika melongo.
“…Ini bukan hutan.”
Selena membuka payung merahnya, walau tak ada hujan. Kebiasaan.
“Dan bukan dunia biasa.”
Ia melirik Chika dengan mata tajam.
“Jadi… kamu pahlawan terpilih Dewi Fil?”
Chika langsung panik.
“APA?! Tidak! Aku cuma masuk duluan!”
Selena menyilangkan tangan.
“Portal itu bereaksi sama kamu. Biasanya… tidak sembarang orang bisa masuk.”
Chika menggaruk kepala.
“Serius, aku gak ngerti apa-apa. Aku lompat karena penasaran.”
Selena menghela napas.
“Kadang aku lupa kamu memang… bodoh jujur.”
“Hei!”
Mereka berjalan pelan. Langkah mereka menggema tok… tok… tok… seperti di lorong kosong.
Selena tiba-tiba berhenti.
“Chika… aku mau tanya sesuatu.”
Chika menoleh.
“Hah?”
“Dari mana asalmu?”
Nada Selena lebih pelan dari biasanya.
“Siapa orang tuamu… dan di mana kamu dibesarkan?”
Chika terdiam. Ia menatap lantai bercahaya itu.
“…Sebenernya… kata Lady Emila… aku gak punya ayah atau ibu.”
Selena berkedip.
“Aku ditemukan di dasar kastil Havenload. Masih bayi. Terus dibesarkan di kerajaan Gurial Tempest.”
Ia tersenyum kecil.
“Katanya aku muncul aja gitu.”
Selena membeku.
Di dalam kepalanya, satu kalimat bergema:
Makhluk eksperimen…
Jantungnya berdegup lebih cepat.
“T-tidak salah lagi…”
Chika… hasil eksperimen Dewa Ort dan Dewi Fil…
Namun wajahnya tetap datar. Ia memalingkan pandangan.
“Sudah.”
Nada suaranya dibuat ringan.
“Lupakan saja. Fokus cari jalan keluar.”
Chika menatapnya curiga.
“Kenapa kamu kelihatan aneh?”
“Tidak ada apa-apa.”
Ia menepuk payungnya ke lantai.
“Cara keluar dari Lift Orbital cuma satu.”
“Caranya?”
“Kita harus menyelesaikan teka-teki… dan mengalahkan musuh yang disiapkan tempat ini.”
Chika menelan ludah.
“Jadi ini… kayak ujian?”
“Lebih tepatnya… latihan brutal.”
Chika mengangkat pedang Lumina. Bilahnya berkilat, listrik biru muda mengalir di sepanjang tepinya. Perisai putih-emas di lengannya berdengung pelan.
“Baiklah…”
Ia tersenyum, meski jelas gugup.
“Kita hadapi bareng-bareng.”
Selena tersenyum tipis.
“Asal kamu tidak bego saat mengerjakan teka-teki.”
Chika menunjuk dirinya.
“Aku cerdas emosional!”
“Tidak ada teka-teki yang pakai perasaan.”
Mereka berjalan maju.
Di kejauhan, rune di lantai menyusun pola aneh. Udara mulai bergetar.
TUNG… TUNG…
Suara seperti langkah sesuatu yang besar.
Selena mengangkat payungnya.
“Siap, ksatria ceroboh?”
Chika mengangkat pedangnya tinggi.
“Siap, vampir galak!”
Cahaya biru di jalan menyala lebih terang.
Dan dari kegelapan di depan mereka…
sesuatu mulai bergerak.
Rune biru di lantai tiba-tiba menyusun diri membentuk lingkaran besar. Dari tengah lingkaran itu muncul tiga pilar batu, masing-masing dengan simbol berbeda: mata, pedang, dan jam pasir. Di udara, huruf-huruf cahaya melayang pelan:
> “Urutkan waktu, kehendak, dan penglihatan.”
Chika membaca keras-keras sambil menyipitkan mata.
“Urutkan… waktu… kehendak… penglihatan…?”
Selena memijat pelipis.
“Itu teka-teki klasik. Jam pasir \= waktu. Mata \= penglihatan. Pedang \= kehendak.”
Chika mengangguk sok paham.
“Jadi urutannya… pedang dulu!”
Ia langsung mendorong pilar pedang.
KRAK—
Lantai bergetar.
Tiba-tiba dari langit hitam jatuh… ember air.
PLAK!
Air menyiram kepala Chika.
Chika berdiri beku, rambutnya basah menempel di dahi.
“…Kenapa Lift Orbital punya ember?”
Selena menutup mulut menahan tawa.
“Kamu salah urut.”
“Jadi jawabannya…?”
“Waktu, penglihatan, kehendak.”
Chika berjalan ke pilar jam pasir.
“Oke… jam pasir dulu…”
Ia menekan pilar itu pelan-pelan.
DING.
Rune biru di lantai menyala satu lingkaran.
“Terus… mata…”
DING.
Lingkaran kedua menyala.
“Terakhir… pedang!”
DING!
Tiba-tiba pilar-pilar itu tenggelam ke tanah. Dari depan mereka muncul lorong baru.
Chika mengangkat tangan.
“LIHAT! Aku jenius.”
Selena menunjuk rambutnya yang masih menetes.
“Jenius basah.”
Mereka berjalan masuk lorong. Namun baru beberapa langkah—
WOOOOSH!
Lantai di bawah kaki Chika tiba-tiba berubah jadi es licin.
“SELENAAAA—!”
Chika tergelincir, meluncur seperti ikan asin, lalu menabrak dinding.
BAM!
Selena menutup mulut.
“…Aku mau ketawa, tapi ini situasi berbahaya.”
Chika bangkit dengan mata berkunang-kunang.
“Aku benci teka-teki.”
Di depan mereka muncul patung batu dengan wajah tanpa ekspresi. Tulisan baru muncul:
> “Siapa yang berjalan tanpa kaki?”
Chika mengangkat tangan.
“Ular!”
Tidak terjadi apa-apa.
“Cacing?”
Tetap diam.
Selena melipat tangan.
“…Awan.”
DING!
Patung batu bergeser membuka jalan.
Chika melongo.
“Awan… jalan?”
“Di langit,” jawab Selena datar.
---
Arena Bos Lift Orbital
Lorong itu berakhir di ruang bundar raksasa. Lantainya berupa cakram logam dengan rune biru besar di tengah. Di sekelilingnya, dinding hitam seperti langit malam.
Udara tiba-tiba berat.
DUM… DUM… DUM…
Dari tengah rune, muncul sosok besar:
seorang ksatria raksasa berlapis baja hitam, dengan mata biru menyala dari balik helm. Di dadanya terukir simbol Dewi Fil.
Pedangnya sebesar tiang pohon.
BOS LIFT ORBITAL: KESATRIA UJIAN.
Chika menelan ludah.
“Yang ini… gak ada ember, kan?”
Selena mengangkat payungnya, berubah jadi tombak darah.
“Fokus.”
Ksatria itu mengangkat pedangnya.
WUUUUUNG!
Satu tebasan menghasilkan gelombang angin biru yang menyapu lantai.
“CHIKA, KE KIRI!”
Chika mengangkat perisai Lumina.
DRAAAANG!
Ia terdorong mundur, sepatu berdecit di lantai logam.
Selena melompat ke samping, bayangannya memanjang.
Ia membentuk darah menjadi rantai.
“Crimson Bind!”
Rantai darah melilit kaki bos. Baja berdesis terkena energi darah.
Ksatria itu menggeram, menarik rantai itu hingga Selena terseret maju.
“HEY—!”
Chika berlari.
“SELENA!”
Ia melompat dan menebas sambungan lutut bos.
KLANG!
Percikan biru menyembur.
Bos mengayunkan pedang ke bawah.
Selena menarik Chika ke belakang dengan satu tangan.
BOOOM!
Pedang raksasa itu menghantam lantai, membentuk retakan bercahaya.
Chika terengah.
“Ini… serius…”
Selena berdiri di depan Chika.
“Jangan ceroboh. Polanya jelas. Dia menyerang… setelah rune di lantai menyala.”
Mata mereka mengikuti rune yang berkedip sebelum serangan berikutnya.
“Chika.”
“Hm?”
“Percaya aku.”
Chika mengangguk.
Rune berkedip.
“SEKARANG!”
Chika maju, perisai di depan, menahan tebasan berikutnya.
DRAAANG!
Selena melompat ke bahu bos, menusuk helmnya dengan tombak darah.
“Scarlet Fang!”
Retakan muncul di helm.
Bos mengaum, mengayunkan tangan, melempar Selena.
Chika melompat menangkap Selena.
“KAU RINGAN!”
“ITU KOMPLIMEN ATAU EJEKAN?!”
Bos mengangkat pedang untuk serangan terakhir.
Chika mengangkat pedang Lumina, listrik biru mengalir deras.
“SEKARANG ATAU TIDAK SAMA SEKALI!”
Selena menyatukan darahnya ke bilah pedang Chika.
Pedang itu bersinar biru-merah.
“Lumina—Crimson Break!”
Mereka berdua menebas bersamaan.
KRRRAAAASH!!!
Cahaya memenuhi ruangan.
Ketika cahaya meredup, ksatria itu retak seperti patung pecah, lalu hancur jadi partikel biru.
Sunyi.
Chika jatuh terduduk.
“…Aku hidup.”
Selena duduk di sampingnya.
“…Untuk sementara.”
Di tengah arena muncul portal baru, berputar perlahan.
Chika menatapnya.
“Jadi… kita lulus?”
Selena tersenyum kecil.
“Sepertinya begitu.”
Chika berdiri, mengangkat tangan ke atas.
“YEAY! Lift Orbital kalah sama dua orang idiot!”
Selena menepuk kepalanya.
“Kau satu-satunya idiot di sini.”
Portal itu bersinar lebih terang, seakan memanggil mereka keluar…
menuju takdir berikutnya.
...----------------...
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan labirin ketika Chika dan Selena keluar dari portal. Cahaya biru portal meredup di belakang mereka dengan suara “woooong…” lalu menghilang, seolah hutan itu menutup mulutnya sendiri.
Chika mengibaskan tangan di depan wajahnya.
“Uh… bau hutan lagi. Aku kira keluar Lift Orbital langsung dapet makan.”
Selena menepuk-nepuk roknya yang sedikit berdebu.
“Kau keluar dari tempat ujian dewa, yang kau pikirkan malah makan.”
Baru beberapa langkah mereka berjalan, suara logam bergetar terdengar dari depan.
KRIK… KRIK…
Cahaya biru pucat menyelinap di antara batang pohon.
Di tengah sebuah lapangan kecil, sebuah pedang tertancap di batu tua berlumut. Bilahnya berpendar biru muda, seolah menyimpan potongan langit di dalam baja. Di gagangnya, sebuah belah ketupat kecil bercahaya seperti permata es.
Dan di depannya…
Seorang gadis kecil berambut pirang sedang menarik pedang itu dengan seluruh tenaga.
“Uuugh… kenapa berat banget sih…!”
Chika membelalakkan mata.
“…Princes?”
“PRINCES!!”
Gadis kecil itu menoleh. Wajahnya langsung berubah. Mata bulatnya membesar, bibirnya bergetar.
“Ke… kesatria?!”
Ia melepaskan pedang itu dan berlari, tap tap tap, langsung memeluk kaki Chika sekuat tenaga.
“Aku takut…!”
Suaranya pecah. Bahunya naik-turun.
“Hutan ini jahat… banyak suara aneh… dan… dan waktu kita jatuh dekat penginapan… ada tiga goblin mau makan kita…!”
Chika kaku sesaat, lalu berlutut.
Princes menggenggam baju zirahnya.
“Aku… aku pancing mereka supaya kamu bisa kabur… Aku tahu kamu pasti nyari aku…!”
Chika menelan ludah.
“…Princes…”
Ia menepuk kepala gadis kecil itu dengan tangan gemetar.
“Terima kasih… aku senang… akhirnya ketemu kamu lagi.”
Selena berdiri beberapa langkah di belakang, memperhatikan dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu ia mengalihkan pandangan ke pedang di batu.
“…Itu.”
Chika menoleh.
“Pedang itu?”
Selena berjalan mendekat, payung merahnya menempel di bahu.
“Kalau aku tidak salah… itu Hero Sword.”
Princes menyeka air mata dengan lengan.
“Pedangnya… bersinar waktu aku mendekat…”
Selena mengangguk.
“Hero Sword bukan pedang biasa. Ia hanya bisa dicabut oleh orang yang dipanggil takdir. Banyak kesatria mencoba… dan gagal.”
Chika melirik batu itu.
“Jadi… ini kayak… pedang spesial yang pilih pemilik?”
“Kurang lebih,” jawab Selena. “Pedang itu juga bisa… berbicara.”
Chika dan Princes saling pandang.
“Bisa ngomong?”
“Kayak kamu?”
“Eh?!”
Mereka mendekat ke batu itu. Cahaya biru semakin kuat, menyinari wajah mereka.
Chika menggenggam gagang pedang.
“Berat…”
Princes ikut memegang, tangannya kecil di atas tangan Chika.
“Bareng ya, Kesatria.”
Mereka menarik bersama.
KRIK… KRAAAAK…
Tanah di sekitar batu bergetar. Daun-daun beterbangan. Cahaya biru memancar ke langit seperti pilar tipis.
“UUUUGH!”
Chika hampir terpeleset.
“JANGAN LEPAS!” teriak Selena.
Dengan satu tarikan terakhir—
KLANG!
Pedang itu tercabut.
Udara berhenti sejenak.
Lalu suara bergema dari bilah pedang itu sendiri, dalam dan jernih:
“Pewarisku telah tiba.”
Princes tersentak.
“PEDANGNYA NGOMONG?!”
Chika refleks mengangkat pedang itu seperti orang mengangkat ikan besar.
“Eh… halo?”
“Wahai yang memegangku… Takdirmu terikat pada cahaya dan kehendak.”
Cahaya dari pedang itu menyelimuti Chika dan Princes.
“Tujuanmu kini jelas. Carilah enam belas Hero dari penjuru dunia.”
Selena membelalakkan mata.
“Enam… belas?”
“Mereka yang dipilih untuk berdiri melawan Dewa Invader.”
Princes menggenggam baju Chika.
“Kesatria… kita… kita jadi pahlawan?”
Chika menelan ludah.
“…Kayaknya… iya.”
Tiba-tiba—
WOOOOSH!
Cahaya biru muncul di dada Selena. Ia terhuyung ke belakang.
“Apa—?!”
Cahaya itu keluar dari tubuhnya seperti serpihan roh, melayang ke Hero Sword.
Pedang itu bersinar lebih terang.
“Satu Hero telah ditemukan.”
Chika menoleh ke Selena.
“…SELENA?”
Selena menatap dadanya sendiri.
“…Jadi… aku termasuk?”
Pedang itu berdengung lembut.
“Vampir darah malam. Takdir membawamu ke sisi mereka.”
Princes menunjuk Selena.
“Selena juga Hero?!”
Selena memalingkan wajah, pipinya sedikit merah.
“Jangan lihat aku begitu…”
Chika tertawa kecil.
“Party kita… tambah kuat, ya.”
Princes mengangkat tangan.
“Kita bertiga melawan Dewa Invader!”
Selena mendesah.
“…Kalian berdua terlalu ceria untuk urusan dewa.”
Pedang itu meredup, kembali seperti pedang biasa—namun aura birunya masih berdenyut pelan.
Hutan labirin terasa lebih sunyi sekarang.
Angin berdesir, membawa daun kering berputar.
Chika menyarungkan Hero Sword di punggungnya.
“Baiklah… misi baru: cari enam belas Hero.”
Princes mengangguk penuh semangat.
“Dan pulangin kerajaan!”
Selena melirik ke arah pepohonan gelap.
“…Dan semoga… kita tidak ketemu hantu lagi.”
Chika langsung pindah berdiri di belakang Selena.
“Setuju.”