"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh belas
"FIRA!!"
Meira menutup mulutnya karena terkejut. Sementara Ilham hanya diam memperhatikan sembari menahan tawa. Beruntung kedalaman kolam itu hanya sebatas mata kaki, jadi tidak terlalu membasahi seluruh badan Fira. Tetapi, rok cewek itu nyaris basah sempurna.
"Dhea, Icha, tolongin gue ihh!" Fira merengek seperti anak kecil, wajahnya memerah. Malu sekaligus kesal, beberapa orang yang berada di lapangan mulai memperhatikannya sambil tertawa dan berbisik-bisik. Hal itu membuat kekesalan dan rasa malunya semakin bertambah.
"Ups! Sorry, gue gak sengaja." ucap Ilham, cowok itu tertawa meledek.
Fira yang berhasil berdiri kembali langsung mencak-mencak sebal. "Awas lo, ya!" katanya marah, kemudian meninggalkan Ilham dengan kekesalan yang kian memuncak. Ilham mengedikkan bahunya acuh saat Dhea dan Icha melotot ke arahnya.
Perhatian cowok itu berpindah pada Meira yang berdiri di depan kursi seberang kolam. Meira belum sadar kalau Ilham memperhatikannya, pandangannya terfokus ke arah Fira yang berjalan semakin menjauh.
"Hai." sapa Ilham.
Meira kembali mengalihkan pandangannya pada Ilham yang sekarang sudah berada di hadapannya.
"Kamu jahil banget, sih." Meira tertawa pelan.
Ilham menggaruk belakang kepalanya. "Abisnya mereka cuma bisa ngata-ngatain orang tanpa bukti yang jelas. Gitu tuh ciri-ciri orang munafik." cibir Ilham.
Meira memiringkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Kemudian mendudukan kembali dirinya di kursi yang sebelumnya sudah ia duduki. "Buktinya udah jelas, kok. Kan emang bener aku yang ngambil." katanya.
"Gitu, ya." Ilham mengangguk-anggukan kepalanya, ikut duduk di samping Meira. "Tapi kok aku gak percaya ya kamu yang ngelakuin itu."
Ilham menaik-turunkan alisnya melihat Meira yang menatapnya sambil terdiam. "Kamu bohong, kan?" tanya Ilham memastikan.
Meira mengalihkan tatapannya ke arah lain, kaki cewek itu sengaja ia ayunkan. "Enggak, juga."
Keadaan mendadak hening sejenak. Ilham menatap lekat Meira yang sedang menatap lurus ke arah lapangan. "Ngomong-ngomong tujuan kamu datang ke sini buat apa?" tanyanya penasaran.
Kepala Meira menengok ke arah Ilham yang menatapnya. Kedua alisnya terangkat, bersamaan dengan alis Ilham yang juga terangkat sebelah menunggu jawaban. Begitu banyak pertanyaan yang kini bersarang di kepala cowok itu. Ia sangat ingin bertanya sejelas-jelasnya mengenai semua hal yang membuat Meira harus merantau sejauh ini.
Meira kembali memalingkan wajahnya seraya menyenderkan punggungnya ke kursi. "Sebenernya aku dateng kesini buat cari Mama. Aku dulu emang lahir disini, tapi Mama nitipin aku ke Bibi di Bogor, ART ku yang dulu pernah kerja di rumah. Dia menghilang selama enam tahun setelah ninggalin aku di tempat Bibi." Meira memejamkan matanya rapat-rapat. Potongan kenangan bersama Mamanya kembali bergelut di kepalanya. "Dan tujuh tahun yang lalu, Papaku juga meninggal, dalam kebakaran yang aku pun masih belum tahu apa penyebabnya." Hatinya bergejolak hebat tiap kali mengingat insiden mengenaskan itu.
Mata Meira perlahan terbuka ketika menyadari kalau tangan Ilham kini menggenggam tangannya. Ia refleks mendongak dan langsung bertatapan langsung dengan mata hitam milik Ilham.
"Maaf, ya. Aku gak bermaksud bikin kamu sedih." Ilham tersenyum tipis ke arah Meira.
Meira membalasnya dengan sebuah senyuman kaku, kemudian melepaskan tangannya dengan gerakan perlahan. Hal itu justru membuat Ilham menjadi salah tingkah.
"Gapapa. Lagian aku seneng ada disini. Kota ini kenangan satu-satunya yang aku punya bersama Papa dan Mama. Dengan berada disini, aku jadi ngerasain keberadaan mereka. Meski aku tahu, kalau semua itu sangat mustahil buat diwujudkan lagi."
Ilham kembali menormalkan sikapnya. "Ternyata hidup kita terbalik, Mei." ucapannya terjeda. "Orangtuaku lengkap. Aku milih tinggal jauh dari mereka dan pengen hidup sendiri. Sedangkan kamu sendirian dan harus melakukan perjalanan jauh kesini buat nemuin Mama mu. Aku salut sama kamu, Mei."
Meira menanggapi senyuman Ilham. Ia mengangkat kepalanya menatap ke arah langit yang berwarna putih dengan matahari yang sangat menyengat kulit.
"Kamu pasti bakal sadar betapa kesepiannya hidup tanpa mereka, kalau suatu saat mereka udah pergi." kata Meira tenang.
Ilham tertegun. Lidahnya kini seolah tercekat. Ia tidak bisa berkata-kata lagi setelahnya. Sampai akhirnya, cowok itu berdehem sekali sekedar menghilangkan kegugupan.
"Jadi, apa yang bisa aku lakuin buat bantu kamu?" Ilham kembali memaksakan senyumannya.
"Sebelumnya, makasih, Ham. Tapi, aku gak mau ngerepotin orang lain. Aku bisa cari Mama ku sendiri." senyuman lebar mengembang di wajah Meira menampilkan sepasang lesung pipi nya yang sangat manis.
Tak mau terlalu lama bertatapan dengan Ilham, Meira mengalihkan perhatian ke arah Bu Resma yang berjalan mendekat ke arah mereka. Meira sama sekali tidak menyadari seberapa besar pengaruh senyuman singkatnya yang ia berikan pada Ilham tadi. Ilham kini terpaku menatap Meira. Ilham hampir tidak percaya Meira baru saja tersenyum sangat manis padanya. Hal itu justru membuatnya kembali mengingat sosok Lyra di masa lalu.
"Ilham, ikut Ibu ke ruangan sekarang!"
Suara seseorang dari arah lapangan membuat Meira dan Ilham menoleh kompak. Bu Resma yang baru saja bersuara, kini sudah berdiri di hadapan mereka.
...\~\~\~...
Ayara membuka tirai panjang yang langsung menampilkan sebuah pintu kaca di belakang rumahnya. Ini kali pertamanya lagi ia datang ke halaman belakang rumah Neneknya, setelah tujuh tahun ia pindah ke Bogor. Halaman itu tidak terlalu luas, terdapat sebuah kolam renang yang tingginya dua meter di sana. Kolam yang menjadi saksi bisu dirinya dan keluarganya dulu. Kolam ini pula yang memisahkan ia dengan Ibunya.
Kriet!
Kursi kayu di pinggir kolam seketika terdengar ngilu di telinga ketika Ayara mendudukan dirinya disana. Kayu yang berbentuk kursi panjang itu tampaknya sudah mulai rapuh, akibat terlalu lama tidak diurus. Ayara meraba serpihan debu di atas kursi itu, mengusapnya dengan gerakan pelan. Sepertinya Pak Hari tidak pernah membersihkan area ini.
"Ara kangen, Bun." gumamnya lirih.
Pandangan Ayara teralih pada kolam di depannya. Kolam itu kosong, tidak ada air di dalamnya. Hanya dipenuhi oleh sampah dedaunan kering yang bercampur dengan debu tebal. Warna keramiknya hampir luntur, terkikis oleh air hujan yang turun dan kering kembali oleh terik matahari.
"Ara kangen Bunda yang selalu sabar ngajarin Ara renang." helaan napasnya terasa berat usai mengatakannya.
Ayara bangkit dari duduknya, beralih duduk di tepi kolam. Ia membiarkan kakinya menjuntai masuk ke dalam kolam yang kering itu. Dinginnya keramik di pinggiran kolam terasa menembus kulitnya, seolah membawa memori lama merayap kembali ke permukaan. Delapan tahun yang lalu, di tempat ini, tawa Bunda adalah melodi favoritnya. Namun sekarang, hanya ada keheningan yang menyesakkan dada.
"Kalau aja waktu itu Bunda nggak pergi..." Kalimatnya menggantung di udara. Ayara menunduk, menatap dasar kolam yang kusam. "Aku pengen Bunda angkat Meira jadi anak Bunda. Biar dia gak ngerasain sendirian kayak sekarang."
Pikiran Ayara kembali pada kejadian di kelas tadi. Rasa kesalnya pada Meira sebenarnya bukan karena ia percaya sahabatnya itu mencuri. Ia kesal karena Meira terlalu bodoh untuk menjadi terlalu baik. Meira mengorbankan segalanya untuk orang yang bahkan tidak membelanya sejak awal.
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰