Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Setelah Zion bangkit dengan langkah gontai dan menghilang di balik pintu lift menuju kamarnya, ruang makan yang megah itu kembali terjebak dalam kesunyian yang mencekam. Hanya suara detak jam besar di lorong yang terdengar, seolah menghitung setiap tetes air mata yang baru saja tumpah.
Mommy Lopez duduk perlahan, tangannya masih gemetar saat mencoba merapikan taplak meja yang sedikit berantakan karena pukulan frustrasi Zion. Wajahnya yang biasanya selalu terlihat awet muda kini tampak guram.
"Aku belum pernah melihatnya sehancur itu," bisik Mommy, lebih kepada dirinya sendiri. "Sepuluh tahun dia balapan, gonta-ganti pasangan, dan bersikap seolah tidak punya hati... ternyata dia hanya sedang membalut luka yang sangat lebar."
Laxia mengusap air matanya dengan tisu, hidungnya memerah. "Mom, aku merasa sangat jahat karena selama ini kita selalu menggodanya tentang Cassie. Kita pikir itu hanya obsesi masa SMA yang belum selesai. Ternyata Kak Zion benar-benar menganggap Cassie sebagai masa depannya."
Lionel, yang biasanya paling rasional, hanya menatap piring sarapannya yang sudah dingin. "Yang membuatku sesak adalah fakta bahwa Cassie sudah punya anak. Itu adalah garis mati bagi pria seperti Kak Zion. Dia bisa bersaing dengan pria lain untuk mendapatkan hati seorang wanita, tapi dia tidak akan pernah bisa bersaing dengan sebuah keluarga yang utuh."
Mommy menarik napas panjang, mencoba mendapatkan kembali ketenangannya. "Kira-kira... siapa suaminya? Jika Cassie kembali ke Chicago sebagai arsitek hebat, suaminya pasti bukan orang sembarangan. Mungkin rekan sesama arsitek saat dia menghilang dulu?"
"Mungkin pria dari London atau Eropa," sahut Laxia sambil mencoba menebak-nebak. "Kalian dengar sendiri kan, dia menghilang tanpa jejak. Bisa saja dia bertemu pria mapan yang membantunya bangkit dari keterpurukan, menikah, dan punya bayi itu. Bayi berusia satu tahun... itu artinya Cassie baru saja memulai hidup barunya yang bahagia tepat saat dia memutuskan kembali ke sini."
Lionel mengangguk setuju. "Itu masuk akal. Mungkin suaminya masih di luar negeri atau sedang mengurus kepindahan mereka ke Chicago. Tapi yang jelas, pria itu pasti sangat mencintai Cassie hingga bisa meluluhkan hati Gadis Es itu. Pria itu pasti sosok yang stabil, bukan pria penuh drama seperti Kak Zion."
"miris sekali Kak Zion," gumam Laxia. "Dia baru mau memulai, tapi ternyata garis finish-nya sudah ditempati orang lain. Dan bayi itu... Kak Zion pasti merasa sangat terpukul karena dia yang dulu paling ingin menjaga Cassie, tapi justru pria lain yang memberikan Cassie seorang anak."
Mommy Lopez terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah pintu. "Tadi Zion bilang bayinya sangat tampan. Dia sampai menangis hanya karena melihat foto itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Cassie sekarang. Dia pasti sangat membenci Zion hingga tidak ingin memberi tahu siapa suaminya, atau mungkin dia sengaja menunjukkan foto itu agar Zion menjauh."
"Ya, itu strategi yang bagus," Lionel menimpali. "Menunjukkan anak adalah cara paling ampuh untuk mengusir mantan kekasih yang masih mengejar. Cassie pintar, dia tahu itu akan membunuh harapan Kak Zion seketika."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Laxia cemas. "Kita tidak mungkin membiarkan Kak Zion terus-menerus mabuk. Dad tadi sudah memberi peringatan keras. Jika proyek ini berantakan, Dad benar-benar akan membuang Kak Zion dari perusahaan."
Mommy Lopez memegang tangan Laxia. "Kita harus tetap menjadi CCTV seperti biasa, tapi kali ini bukan untuk melaporkan kesalahannya. Kita harus memastikan dia tetap bisa berdiri tegak di depan Cassie. Jangan biarkan dia terlihat menyedihkan di depan wanita itu. Jika dia tidak bisa memiliki hatinya, setidaknya dia harus memiliki harga dirinya kembali."
Lionel menghela napas. "Sulit, Mom. Kak Zion tadi pagi saja sudah kehilangan harga dirinya di depan kita semua. Dia benar-benar hancur. Tapi aku akan mencoba mengawasinya di kantor. Aku akan memastikan dia tidak membawa botol alkohol ke ruang rapat."
"Aku juga," tambah Laxia. "Aku akan mencoba mendekati Cassie secara personal sebagai sesama wanita. Bukan untuk memata-matai suaminya, tapi untuk melihat apakah ada celah agar mereka bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan secara emosional."
Mommy Lopez mengangguk lemah. "Lakukanlah. Tapi ingat, jangan pernah bertanya terlalu jauh tentang suaminya atau anaknya jika dia tidak bercerita. Kita harus menghormati privasinya. Kita sudah cukup banyak menghancurkan hidupnya sepuluh tahun lalu melalui tindakan bodoh kakakmu."
"Kami mengerti, Mom," jawab si kembar serempak.
Mereka bertiga terus berbincang, menebak-nebak latar belakang suami Cassie yang misterius. Mereka membayangkan pria itu sebagai sosok bangsawan Inggris atau pengusaha sukses di London. Tidak ada satu pun dari mereka, bahkan Mommy yang sangat teliti sekalipun yang menaruh kecurigaan bahwa bayi di foto itu tidak berusia satu tahun.
Mereka tidak menyadari bahwa sudut pandang Zion yang sedang mabuk telah mengaburkan penilaiannya. Zion melihat foto bayi yang mungil dan menyimpulkan itu bayi baru lahir, sementara sebenarnya itu hanyalah foto masa kecil Logan yang masih disimpan Cassie dengan sangat rapi di ponselnya sebagai pengingat akan perjuangannya.
Keluarga Lopez benar-benar terjebak dalam narasi yang mereka buat sendiri: Bahwa Cassie sudah milik orang lain dan Zion adalah pihak ketiga yang malang.
"Setidaknya," ucap Laxia sebelum bangkit dari meja makan, "anak itu membuat Cassie bahagia. Itu sudah cukup sebagai penebusan dosa keluarga kita, kan?"
Mommy hanya tersenyum getir, tidak tahu bahwa penebusan yang sesungguhnya akan jauh lebih mengejutkan daripada yang bisa mereka bayangkan.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.