Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meniduri sang Ratu
WARNING! 21+ HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!
"Maksutmu anak diluar nikah?" sahut Raja dijawab oleh anggukan,
"Tidak ada istilah anak haram dalam bangsa siluman. Karena upacara pernikahan memang dilakukan setelah pasangan berhubungan intim,"
"Benarkah?" Sura tersenyum girang, entah ide apa yang ada di kepalanya.
GREP!
Sura meraih kedua tangan Raja, menarik hingga membuat tubuhnya tersentak maju, masuk ke dalam dekapan.
"A-apa yang kamu lakukan?"
"Tentu saja membantumu mendapatkan penerus..." jawabnya berbisik,
Sura mengendus lembut rambut coklat yang terurai menutupi leher.
"Hh?!"
Wanita itu terkejut mendengar pengakuannya, langsung bergerak mundur namun dicegah oleh rantai yang baru saja Sura kalungkan.
"Bukankah kamu butuh penerus? Dengan cara ini identitasmu akan tetap aman. Dan kamu bisa berganti panggilan, menjadi-"
"Yang mulia Ratu..."
Mata mereka saling menatap, begitu dekat sampai hembusan nafasnya terasa membelai kulit Sura.
"Dia benar, mau siluman ataupun manusia...nantinya anakku akan tetap menjadi setengah siluman," batin Raja mulai terbujuk.
"Bagaimana?" sekali lagi Sura bertanya,
"Tapi, aku tidak tahu bagaimana cara melakukannya..." menunduk malu,
"Eurgh..." Sura menggigit bibir, terasa berat menelan saliva.
Reaksi Raja justru semakin menggoda. Dari dekat bibir mungilnya tampak seperti kuncup bunga yang siap disirami,
"Sial! Kenapa malah aku yang terlihat membutuhkan bantuan." benak Sura merasakan ada hal yang mengeras di bawah sana,
DEG...
DEG...
DEG...
Debaran jantungya terdengar keras di tengah keheningan. Sensasi membakar membuat tubuhnya terasa panas,
Merangkul erat meski ada rantai di kedua tangannya, Sura tak mampu mengalihkan pandangan. Tanpa sadar kepalanya menunduk,
Semakin dekat hingga mendaratkan kecupan pada bibir lembut sedingin es. Tak bisa terhankan, Sura terus saja memberi lumatan yang membuat wanita itu kesulitan bernafas,
"NG!!! DUK! DUK!" Dia meronta, kepalan tangannya memukul kuat dada bidang Sura untuk menjauh.
"Hhh...hhh...hhh..." nafasnya tersenggal, suaranya terdengar lemas, dengan wajah tak berdaya menatap Sura yang masih bersemangat.
"Apa-hhh...kamu ingin membunuhku?"
"Pft...maafkan aku," Sura tertawa, "Tidak tahu kenapa, aku jadi bersemangat."
Tak mampu mengalihkan pandangan, lidahnya kelu, Sura melumat bibir bawahnya sendiri sambil mengusap lembut pipi wanita itu.
Sungguh menggoda...
Rasanya manis, mengingatkan pada rasa eskrim favoritnya.
"Sepertinya aku benar-benar tertarik pada siluman ini."
Sura menyibakkan anak rambut panjang ke samping telinga, sebelum melayangkan kecupan. "CUP!"
"Apa kamu sudah siap? Kali ini aku akan lebih berhati-hati..."
Mereka saling memejamkan mata, wanita itu diam tak menolak perlakuan Sura yang melepas ikatan kain di tubuhnya.
Tak ada lagi kain yang menghalangi, mereka berhadapan dalam keadaan telanjang bulat.
Sentuhan Sura semakin intens, ciuman kali ini berbeda, Sura memberi jeda agar wanita itu bisa bernafas.
Sura bergerak ke bawah, menekuk kaki, mencapai gundukan kenyal yang nampak indah. Menjilatinya sampai mengeras,
"Mm..." wanita itu mengepalkan tangan, mencoba menahan suara desahan yang nyaris lolos.
"Ah, geli sekali." batinnya sambil berjinjit, menggeliat pelan.
Perlahan melirik ke bawah, menatap wajah Sura yang kegirangan mengisap seperti bayi. "Eurgh!"
Sensasi menggelitik perut, membuat tangannya reflek menjambak rambut Sura. "Sudah hentikan,"
Suara itu terdengar lirih dan gemetar. Bukan menjauh Sura justru memperkuat hisapan, bahkan memberi pijatan cepat,
"Hah? Lembut sekali," batin Sura terbelalak, terkesima oleh sensasi yang membuat tangannya menari kegirangan.
Seperti memeras santan, Sura terus menekan dan memainkan, mengguncang ke segala sisi sampai merasa puas.
"Sudah, cukup!" pinta Raja meninggikan suara,
Mendorong kuat bahu Sura ke belakang. Wanita itu terkulai duduk, kakinya terasa lemas, "Aku tidak bisa..."
"Ini sangat memalukan," reflek menutupi wajah.
"Imutnya..." gumam Sura malah terhanyut dalam perasaan,
Mengusap ujung kepala lalu meraih dagu wanita itu, menatap raut yang tersipu malu. Setelah dilihat lebih lama, wajah Raja dalam wujud manusia mirip sekali seperti boneka,
Hidung mancung dan bibir tipisnya berukuran mungil, namun memiliki mata besar.
"Berhenti menatapku," lugasnya menekuk bibir.
"Baiklah. Kalau kamu malu---tutup saja matamu," menyapu kelopak matanya agar terpejam.
Meraih robekan kain, melingkarkan lalu mengikat tak terlalu erat.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Menutupi matamu. Dengan begini kamu tidak bisa melihat apa yang terjadi,"
"Tapi aku masih bisa merasakannya!"
"Kalau begitu nikmati saja..." sahut Sura berbisik manja,
Sura mendorong lembut sambil melindungi belakang kepala wanita di depannya. Membuat tubuh itu terbaring di atas lantai,
"Ng!!" Raja mengernyit menggigit bibir bawah,
Bau anyir yang masih tercium, bekas darah siluman tadi menggenang bercampur air. Anehnya tubuh itu tak merasa dingin sedikitpun,
Merasakan tubuh pria yang berbaring ambang di atas.
"His..." berdesis geli, saat bibir Sura mencumbu tubuhnya.
"Mm..." Sura memejamkan mata, merasakan aroma tubuh yang begitu menenangkan.
Tak ragu dia meninggalkan beberapa bekas merah di sana. Kakinya tergerak membuka sela di antara paha,
"Tunggu! Apa itu? Apa yang sedang kamu lakukan?"
Wanita itu mengernyit penasaran, merasakan tombak keras yang menabrak kulit. Berpikir kalau Sura baru saja mengeluarkan benda semacam bambu,
"Smirk..." Sura menyeringai melihat tingkah polos wanita setengah siluman yang sebentar lagi akan mengandung anaknya.
"Kenapa diam saja? Cepat jawab!"
"Kalau penasaran coba pegang saja,"
Sura sengaja menantang mengarahkan diri pada telapak wanita yang telah bergerak mencari.
"Hh!" Dia tersentak, saat ujung jemarinya menyentuh kepala mulus tanpa bulu yang terasa lembut.
Dengan ragu-ragu menggunakan telunjuknya, menekan singkat sebelum membelai ke bawah, mendapati batang keras panjang dengan rambut tipis.
"A-apa ini?!" sedikit panik, sebenarnya dia tahu benda apa itu.
Namun apa salahnya memastikan?
"Ini tongkat sihirku," jawab Sura meledek.
"Yang benar saja! Apa benda itu yang akan kamu masukkan?"
"Oh? Ternyata kamu tahu bagaimana caranya berhubungan..."
"Tentu saja! Aku tidak sepolos itu," menggerutu kesal, merasa diremehkan.
Dalam bangsa siluman, setelah naik tahta, Raja wajib mempelajari ilmu soal pernikahan dan urusan ranjang guna mendapatkan penerus.
Dulu Raja berpikir takkan pernah menikah apalagi melanjutkan keturunan, jadi dia hanya belajar sekilas dan tak paham secara keseluruhan bagaimana proses pembuahan sebenarnya.
"Baguslah kalau sudah tahu. Jadi aku tidak perlu menjelaskan,"
"Kalau gitu langsung saja aku---"
"Tunggu!" sanggah Raja menggenggam erat batang keras yang hendak Sura alihkan.
"Ada apa? Kamu masih mau memegangnya?"
"B-bukan. Anu---bisakah kamu memasukkannya dengan pelan? Tubuh ini sangat kecil dan lemah, berbeda dari tubuh silumanku..."
"Aku tidak yakin, apakah benda sepanjang ini bisa masuk."
Sura terdiam dengan senyum puas di wajahnya, ucapan itu terdengar seperti pujian. Mendapat pengakuan dari wanita yang menyadari betapa gagah tombak miliknya,
"Baiklah, akanku masukkan pelan-pelan."
Dia mengangguk patuh, membuka genggaman.
Telapak kekar Sura bergerak menahan paha, sebelum menunduk membasahi jemari tengah yang akan dijadikan bahan percobaan.
Menyusup masuk ke dalam lubang yang terasa sangat sempit,