Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sisa Abu di Balik Gaun Putih
"Minum, Valerie. Habiskan satu botol ini, dan Tuan Renfred mungkin akan mempertimbangkan proposal sampah milik tunanganmu itu."
Suara tawa berat itu menggema di dalam ruangan VVIP nightclub. Seorang pria tambun, salah satu petinggi perusahaan, duduk bersandar di sofa dengan angkuh. Aroma cerutu mahal dan alkohol yang menyengat memenuhi indra penciuman Valerie, membuatnya merasa mual. Namun, tatapannya justru tertuju pada pria yang duduk tenang di tengah ruangan—sang penguasa sesungguhnya: Jerome Renfred.
Jerome hanya diam. Wajahnya sedingin es, dengan rahang yang mengeras saat menatap wanita di depannya. Meskipun ia adalah paman dari Aiden—tunangan Valerie—aura Jerome jauh lebih mengintimidasi dan gelap daripada siapa pun yang pernah Valerie temui.
"Tuan Renfred, mohon..." suara Valerie bergetar. Jemarinya memeluk map kontrak milik Aiden dengan sangat erat, seolah itu adalah nyawanya. "Aiden sangat membutuhkan tanda tangan Anda. Perusahaannya dalam bahaya."
Jerome menyesap wiskinya perlahan. Matanya yang tajam menghujam Valerie dengan kilatan amarah yang sulit diartikan. "Dia mengirimmu ke tempat seperti ini hanya untuk sebuah tanda tangan?" suaranya rendah, nyaris menyerupai geraman tertahan.
Petinggi di sebelah Jerome tertawa semakin keras, merasa di atas angin. "Ayo, sayang! Jangan banyak bicara. Minum dulu, lalu duduk di pangkuanku. Jika aku senang, Jerome pasti akan luluh."
Tangan Valerie gemetar saat meraih botol di atas meja. Demi Aiden. Demi tujuh tahun cinta kami, batinnya menguatkan diri. Ia menenggak cairan panas itu hingga tenggorokannya terasa terbakar. Ia terbatuk hebat, namun tetap memaksakan diri hingga tetes terakhir.
"Pintar! Sekarang, kemari..." Pria mesum itu menarik lengan Valerie, mencoba menyeretnya ke pangkuannya dengan kasar.
BRAKK!
Suara gelas pecah seketika membungkam musik dentum di ruangan itu. Jerome berdiri tiba-tiba. Sebelum tangan kotor itu sempat menyentuh gaun Valerie, Jerome sudah menghantamkan gelas wiskinya tepat ke kepala pria tambun tersebut.
"Argh! Jerome! Apa yang kau lakukan?!" pria itu menjerit histeris sambil memegangi kepalanya yang berdarah.
"Semua keputusan ada padaku," desis Jerome. Suaranya dingin, namun mematikan. "Dan aku tidak suka melihat sampah menyentuh apa yang bukan miliknya."
Tanpa sepatah kata pun, Jerome menarik kasar lengan Valerie. Ia menyeret wanita itu keluar dari club, melewati kerumunan orang yang menatap heran, hingga sampai di mobil Rolls-Royce hitam miliknya.
Di dalam mobil yang melaju kencang, suasana terasa begitu mencekam. Jerome mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.
"Sial!" Jerome mengumpat keras, memukul setir dengan penuh emosi. "Sial! Jika aku tahu keputusanku untuk melepaskanmu dulu justru membuatmu merendahkan diri seperti ini demi pria sampah itu... aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi!"
Valerie tersentak. Ia menatap profil samping wajah Jerome yang tampak hancur, dipenuhi penyesalan yang mendalam. "Tuan Renfred, apa maksud Anda?"
Jerome tidak menjawab. Ia menginjak rem mendadak tepat di depan rumah Aiden. "Turun," perintahnya tajam tanpa sedikit pun menoleh. "Asistenku akan mengirimkan kontraknya besok pagi. Pergilah."
Valerie membungkuk, mengucapkan terima kasih dengan tulus sebelum berlari masuk ke rumah dengan perasaan lega. Ia tidak menyadari bahwa di belakangnya, Jerome masih terpaku di dalam mobil. Pria itu menangis pilu, memukul-mukul jok depan dengan keputusasaan yang nyata, sebelum akhirnya menginjak gas dan menghilang di kegelapan malam.
Valerie melangkah masuk ke rumah dengan senyum lebar, ingin segera membagikan kabar baik itu. Namun, pemandangan di ruang tengah seketika menghentikan detak jantungnya.
Serena, kakak tirinya, duduk di pangkuan Aiden hanya dengan mengenakan jubah mandi transparan. Di atas meja, berserakan foto-foto dan dokumen yang menghancurkan seluruh dunianya.
"Aiden? Serena? Apa ini?" suara Valerie nyaris hilang di tenggorokan.
Aiden menoleh, namun tidak ada setitik pun rasa bersalah di matanya yang dingin. "Oh, kau sudah kembali? Baguslah jika kontraknya sudah selesai. Kami tidak membutuhkanmu lagi, Valerie."
Serena tertawa melengking, wajah cantiknya kini tampak seperti iblis di mata Valerie. Ia menyodorkan ponselnya, menunjukkan foto seorang anak laki-laki kecil yang sedang merayakan ulang tahun.
"Kau pikir Aiden setia padamu selama tujuh tahun ini? Bodoh!" Serena mencibir. "Kenalkan, ini Hiro. Putra kandung Aiden yang akan segera masuk TK. Kami sudah membangun keluarga di belakangmu bahkan sebelum kau bermimpi mengenakan gaun pengantin."
Aiden justru merangkul pinggang Serena semakin erat. "Warisan ibumu sudah jatuh ke tanganku, Valerie. Aku tidak butuh kamu lagi. Hiro butuh ibu dengan status sosial tinggi, bukan wanita naif yang mudah ditipu sepertimu."
"Kalian... iblis!" Valerie berteriak histeris, mencoba menyerang Serena. Namun, Aiden bergerak lebih cepat. Ia menghantam kepala Valerie dengan vas bunga besar di dekatnya.
BUGH!
Dunia Valerie berputar hebat. Kegelapan segera merenggut kesadarannya.
Saat terbangun, bau bensin menyengat tajam menusuk hidung. Valerie mendapati dirinya terikat di sebuah kursi di dalam gudang tua yang pengap. Di hadapannya, berdiri Aiden, Serena, dan... ayah kandungnya sendiri.
"Ayah? Tolong aku..." rintih Valerie dengan sisa kekuatannya.
Pria yang ia panggil Ayah itu menatapnya dengan pandangan jijik. "Tanda tangani surat penyerahan warisan ini, Valerie. Ibumu mati di tanganku karena dia terlalu keras kepala. Jangan buat aku melakukan hal yang sama padamu."
"Aku tidak akan pernah menandatangani apa pun!" teriak Valerie histeris.
Aiden menjambak rambut Valerie, memaksanya menatap api yang menyala dari sebuah korek gas. "Kalau begitu, matilah bersama kenangan bodohmu."
Korek itu dilemparkan ke genangan bensin. Api menjalar dengan ganas, melahap gaun putih Valerie dan merayap ke kulitnya. Valerie menjerit sekuat tenaga, namun hanya tawa mereka yang terdengar di balik pintu yang terkunci rapat.
Di ambang kematian, satu bayangan muncul di benak Valerie: Jerome. Pria yang menangis di mobil tadi. Pria yang selama ini bersikap galak padanya ternyata adalah satu-satunya orang yang tidak menginginkannya mati.
Jika Tuhan memberiku kesempatan lagi... aku akan merangkak padanya, bukan pada iblis-iblis ini.
...****************...