Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemana Uangnya?
"Bukannya jatah Achel itu seratus juta setiap bulannya? Itu yang selalu kamu katakan lho, Mas. Kok jadi cuma 10 juta sih, Mas? Kamu kemanakan itu sisanya?" tanya Chiara dengan tatapan menyelidik.
"Buat kasih jatah ani-ani kali itu, Ma." ucap Ronand membuat Julian memelototkan matanya.
"Kalau ngomong..."
"Suka bener gitu, maksudnya?" sela Chiara saat Julian ingin menyanggah ucapan Ronand.
Ronand tampak menahan tawanya saat Julian dimarahi oleh Chiara. Padahal ia tahu jika Julian tak memberikan uang bulanan Rachel secara utuh itu untuk apa. Namun ia ingin menjahili Papanya karena rasa kesal. Julian itu selalu lemot dan asal saat dalam keadaan genting. Dia tidak bisa berpikir secara jernih, padahal keputusannya sangat berarti terutama bagi keluarga. Jika sampai terlambat melakukan sesuatu, akan sangat berbahaya.
Sedangkan Julian, diam-diam mengumpati Ronand yang bisa-bisanya membuat dia dimarahi oleh istrinya. Padahal dia punya sesuatu yang baik untuk anaknya itu daripada memberikan uang bulanan untuk Rachel senilai ratusan juta. Julian juga merasa bahwa uang bulanan dari Papa Fabio dan Ronand kepada Rachel sudah cukup banyak.
"Nggak gitu, Sayang. Anakmu ini sangat menyebalkan dan sembarangan ngomong. Dia itu kan seakan menganggap aku ini musuhnya sejak dulu. Papa nggak mungkin punya ani-ani. Ya kali istriku yang cantik ini dibandingkan sama ani-ani. Lagian mana berani? Ada Ronand dan Papa yang bisa habisi aku kalau sampai macam-macam di belakang kamu," ucap Julian menjelaskan panjang lebar. Bahkan ada sedikit rengekan manja agar Chiara percaya padanya.
"Keluar sana. Aku mau tidur sama Achel,"
"Kamu tidur aja sama Onand," usir Chiara yang kemudian naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Rachel. Ia sudah tidak mau mendengarkan penjelasan Julian.
"Ogah lah, Sayang. Masa tidur sama dia. Yang ada, aku disuruh tidur di lantai. Anakmu itu kalau sama aku, sangat jahat." ucap Julian sambil menunjuk ke arah Ronand.
"Onand juga nggak mau kali tidur sama Papa, Ma. Kan Onand udah ada istri, jadi tidurnya pelukan sama Ucan lah. Kalau pelukan sama Papa, bau ketek." ledek Ronand seakan tengah memamerkan hubungannya dengan Susan yang harmonis.
Perdebatan keduanya membuat Chiara sangat pusing. Padahal ia ingin Rachel istirahat dengan tenang, tanpa gangguan dari Julian dan Ronand. Namun keduanya sudah seperti anak kecil yang terus mengadu pada Ibunya.
Pergi sana, Mas. Di sini juga ngapain? Dari tadi cuma mondar-mandir nggak jelas dan makan apel.
Padahal anaknya lagi demam begini. Cari cara gimana gitu biar anaknya sembuh. Ini malah...
Hiihhh...
Nggak jelas kan suamimu itu, Ma? Ganti aja udah. Nanti Onand carikan,
Ronand...
Hahaha...
***
Weekend tiba, Ronand menarik tangan Julian agar tetap masuk ke kantor. Hari ini ada rapat pemegang saham dan launching produk robot baru buatan Ronand. Namun Julian ingin Ronand dan Gema sendiri yang menyiapkan segala sesuatunya. Pasalnya perusahaan itu sudah dia putuskan untuk dipegang oleh Ronand. Namun Ronand hanya menganggap bahwa bekerja di perusahaan itu hanya pekerjaan sampingan saja.
"Aku hancurin ya itu perusahaan kalau Papa nggak mau rapat. Nanti ada Gema juga yang bantu Papa. Om John kan sebentar lagi pensiun. Setidaknya ajari Gema dulu," ucap Ronand dengan tegasnya. Bahkan Ronand mengancam untuk menghancurkan perusahaan milik Julian itu.
"Astaga... Nasib kali punya anak yang jauh lebih cerdas dan licik. Kalau permintaannya tidak dituruti, pasti perusahaan dibuat goyah. Dasar menyebalkan dan nggak ada akhlak itu si Ronand," gerutu Julian saat tahu siasat seperti apa yang digunakan Ronand nanti. Hal itu sudah beberapa kali terjadi dan pernah harga saham turun gara-gara ulah Ronand.
"Kamu juga harus ikut, Ronand. Itu perusahaan sudah jadi milikmu. Papa ini hanya pemegang saham 20 persen saja," ucapnya sambil menghela nafasnya pelan.
"Onand ingin jadi dokter, Pa. Membuat robot dan alat-alat lain itu cuma hobby aja. Aku kan udah bilang dari awal kalau tidak mau menjadi pemimpin di perusahaan. Aku tidak mau terjun seratus persen di perusahaan," ucap Ronand tak mau kalah.
Julian ini terlalu memaksakan kehendaknya. Julian ingin anaknya mengurus dan membuat maju perusahaan yang dulu didirikannya dengan susah payah sampai kehilangan istrinya. Namun Ronand dan Rachel sama sekali tak mau ikut campur tentang perusahaan itu. Sedangkan Chiara, ia tak menuntut apapun tentang masa depan Rachel dan Chiara.
"Terus siapa yang akan mengurus perusahaan dengan ribuan karyawan itu? Umur Papa sudah tua, otak nggak fresh seperti dulu untuk berpikir. Sedangkan perusahaan butuh penerus dan inovasi produk," Julian tampak mengacak rambutnya frustasi. Padahal apa yang dilakukan oleh anaknya itu sama dengan saat ia memberontak tak ingin mengurus perusahaan Papa Fabio. Namun Julian tak menyadari itu.
"Aku akan mengurusnya, tapi tidak bisa selalu full time. Pekerjaan di perusahaan, hanya sebagai sampinganku saja. Makanya aku butuh dua sekretaris lagi selain Gema," ucap Ronand sambil menghela nafasnya kasar.
"Biar nanti mereka yang ikut rapat dan lain-lain. Aku akan bekerja di balik layar. Tolong mengerti, Pa." lanjutnya.
Terserah kamu saja lah. Bangkrut sekalian ya udah,
Julian pun pergi dari hadapan Ronand dengan raut wajah kesal dan kecewa. Ronand yang dirinya gadang-gadang sebagai penerusnya malah tidak mau mengurus perusahaan secara full time. Chiara yang mendengar perdebatan antara anaknya dan Julian hanya bisa mengelus dada. Keduanya sama-sama keras kepala dan punya prinsip sendiri, sehingga susah jika disatukan.
"Papamu hanya capek saja itu, Onand. Jangan diambil hati ucapan ketusnya," ucap Chiara yang kemudian mendekati Ronand dan merangkul bahunya.
"Nggak aku ambil hati kok, Ma. Dari dulu kan emang Papa sensitif banget kalau tentang penerus perusahaan," ucap Ronand sambil terkekeh pelan.
"Demam Achel udah turun, Ma? Kalau belum, biar Onand bawa Achel ke rumah sakit." tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Udah turun kok. Di dalam sana udah cerewet banget, apalagi sama Mika tidak dibiarkan diam." ucap Chiara sambil terkekeh pelan.
"Syukur lah. Onand pergi dulu ke kantor kalau begitu, Ma." pamit Ronand setelah memastikan kondisi Rachel baik-baik saja.
"Hati-hati. Pamit sama istrimu juga, Onand."
Ronand menganggukkan kepalanya mengerti. Ronand sudah berpamitan pada istrinya tadi sebelum menyeret tangan Julian. Ronand pun segera pergi dari rumah untuk ke kantor. Hanya memantau jalannya rapat saja, tidak mengikutinya langsung. Sedangkan Julian, Ronand tak tahu kemana perginya. Tadi Julian malah masuk ke dalam rumah.
Sepertinya aku harus bicara dengan Mas Julian agar tidak memaksakan keinginan anak-anak,
Selama keinginan itu positif, seharusnya sebagai orangtua wajib mendukung.