Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbangun
Ruang latihan bawah tanah kastel Phenex adalah sebuah mahakarya arsitektur sihir. Dinding-dindingnya dilapisi dengan lempengan batu obsidian yang telah diperkuat dengan segel pengalir energi, mampu menyerap dampak serangan tingkat tinggi tanpa membiarkan getarannya merusak struktur kastel di atasnya. Di tengah ruangan yang luas dan temaram itu, Riser berdiri dengan tenang, memperhatikan Ingvild yang tampak kecil di tengah arena yang luas.
Ingvild mengenakan pakaian latihan yang lebih praktis, namun wajahnya masih memancarkan keraguan. Di sekelilingnya, Riser telah menempatkan dua belas pilar kristal sensorik yang berfungsi untuk mengukur frekuensi dan kepadatan gelombang suara.
"Fokus pada pusat dadamu, Ingvild," ucap Riser, suaranya bergema halus di ruangan kedap itu. "Jangan mencoba memaksakan suara itu keluar. Biarkan ia mengalir seperti air pasang yang naik secara alami. Kau tidak sedang berteriak; kau sedang memerintah atmosfer."
Ingvild memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba mencari percikan kekuatan yang kemarin sempat meledak di gang ibukota. Namun, kali ini, kekuatan itu terasa malu-malu, bersembunyi di balik ketakutan bertahun-tahun yang ia tanam dalam dirinya.
[ Pemantauan Subjek: Ingvild Leviathan ]
[ Output Energi: 12% ]
[ Status: Hambatan Psikologis Terdeteksi ]
"Aku... aku takut jika aku melepaskannya, aku akan menyakiti kalian lagi," bisik Ingvild, suaranya bergetar.
Riser melangkah maju, mendekati Ingvild hingga ia berdiri tepat di belakang gadis itu. Ia meletakkan tangannya di bahu Ingvild, memberikan kehangatan yang stabil. "Kau tidak akan menyakitiku. Lihatlah ke depan. Pilar-pilar itu ada untuk menerima beban suaramu. Percayalah pada kendaliku, dan lebih penting lagi, percayalah pada dirimu sendiri sebagai pewaris Leviathan."
Sentuhan Riser seolah menjadi kunci pembuka. Ingvild merasakan aliran mana dari tangan Riser masuk ke dalam sirkuit energinya, memandu kekuatannya yang liar untuk mulai berputar secara teratur. Ia mulai bersenandung, sebuah nada rendah yang perlahan-lahan meningkat frekuensinya.
Hummmmmm—
Lantai obsidian di bawah kaki mereka mulai bergetar. Udara di ruangan itu tampak beriak, seperti permukaan danau yang dijatuhi batu. Pilar-pilar kristal mulai berpendar biru terang, merekam setiap getaran yang keluar dari tenggorokan Ingvild.
[ Aktivasi Skill: Sonic Dominion (Tahap Awal) ]
[ Efek Area: Resonansi Atmosfer ]
[ Analisis: Frekuensi mencapai 15.000 Hz ]
"Bagus. Sekarang, arahkan nada itu ke pilar di ujung kiri," perintah Riser.
Ingvild membuka matanya, yang kini mulai berpendar dengan warna ungu laut yang jernih. Ia memfokuskan pandangannya, dan secara instan, riak udara di depannya memadat menjadi sebuah gelombang transversal yang kasat mata.
TING!
Pilar kristal tersebut bergetar hebat sebelum akhirnya retak halus di permukaannya. Ingvild terengah-engah, namun senyum tipis mulai muncul di bibirnya. Ini adalah pertama kalinya ia merasa benar-benar memegang kemudi atas kekuatannya sendiri, bukan sekadar menjadi korban dari ledakan emosinya.
"Kau melihatnya? Itu adalah otoritasmu," ucap Riser, menarik tangannya dari bahu Ingvild. "Dengan latihan yang tepat, kau tidak hanya akan menghancurkan benda mati, tapi kau bisa melumpuhkan saraf musuh atau bahkan menyembuhkan rekanmu melalui resonansi seluler."
Sesi latihan itu berlanjut dengan tempo yang lambat namun intens. Riser dengan sabar mengoreksi setiap perubahan nada dan aliran mana Ingvild, memastikan gadis itu tidak mengalami kelelahan yang berlebihan. Bagi Riser, membangun kekuatan Ingvild adalah investasi jangka panjang yang paling krusial bagi stabilitas faksinya.
Namun, di tengah keseriusan latihan itu, Yubelluna masuk ke ruang bawah tanah dengan terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan ekspresi yang serius. Ia membawa sebuah bola kristal komunikasi yang memancarkan cahaya merah berkedip—tanda adanya pesan darurat dari jaringan informan mereka di dunia manusia.
"Tuanku, maaf mengganggu latihan Anda," ucap Yubelluna sambil membungkuk hormat. "Informan kita di Distrik Tokonosu baru saja mengirimkan laporan. Terjadi anomali spasial yang mirip dengan retakan dimensi yang membawa Ayaka-san kemarin."
Riser menghentikan latihannya, menoleh ke arah Yubelluna. "Retakan baru? Di lokasi yang sama?"
"Tidak, ini di area yang berbeda, namun polanya serupa. Dan ada satu detail penting," Yubelluna mengaktifkan proyeksi gambar dari bola kristal tersebut. "Seorang gadis dengan rambut oranye kecokelatan terlihat sedang bertarung melawan makhluk-makhluk yang tampak seperti mayat hidup di pusat kota. Kekuatan fisiknya luar biasa untuk ukuran manusia, dan dia menggunakan tombak dengan teknik yang sangat efisien."
Riser menyipitkan matanya menatap proyeksi tersebut. Seorang gadis dengan seragam sekolah yang robek, bertarung dengan kemarahan yang tertahan dan teknik tombak yang ia kenali.
[ Identifikasi Target: Rei Miyamoto ]
[ Status: Terancam (Dunia Manusia/Zona Anomali) ]
[ Hubungan: Kandidat Knight ]
"Rei Miyamoto..." gumam Riser. Sifatnya yang analitis langsung bekerja, menghitung segala kemungkinan. Jika Rei muncul sekarang, itu berarti retakan dimensi mulai menarik jiwa-jiwa kuat dari garis waktu yang berbeda ke dunianya.
"Siapkan tim," perintah Riser, suaranya kembali menjadi dingin dan penuh otoritas. "Saeko harus ikut. Dia memiliki koneksi emosional yang mungkin bisa membantu menenangkan gadis itu. Kita akan menjemput anggota baru kita sebelum faksi lain menyadari keberadaannya."
Ingvild menatap Riser dengan rasa ingin tahu dan kagum. Ia melihat bagaimana pria ini beralih dari seorang guru yang lembut menjadi pemimpin yang siap berperang dalam hitungan detik. Ia pun mengepalkan tangannya, bertekad untuk segera menguasai suaranya agar bisa berguna dalam misi-misi mendatang.
Udara di dimensi manusia terasa sangat berbeda bagi mereka yang terbiasa dengan kepekatan mana di Underworld. Begitu lingkaran sihir pemindahan Riser memudar di sebuah atap gedung tinggi di Distrik Tokonosu, sensasi pertama yang menyerang adalah bau amis darah dan bau busuk dari daging yang membusuk. Kota yang seharusnya ramai dengan aktivitas manusia ini kini hanya menyisakan sunyi yang mencekam, sesekali dipecah oleh geraman rendah yang tidak terdengar seperti suara makhluk hidup.
Riser berdiri di tepi gedung, jubah hitamnya berkibar pelan. Di sampingnya, Saeko Busujima menggenggam gagang Muramasa dengan erat. Tatapannya tajam, menyisir jalanan di bawah yang dipenuhi oleh bangkai kendaraan dan sosok-sosok berjalan limbung yang dikenal sebagai 'Mereka'.
"Dunia ini... sudah jatuh sedalam ini dalam waktu singkat," gumam Saeko. Ada kilatan emosi yang melintas di matanya saat melihat pemandangan sekolah yang terbakar di kejauhan.
Riser melirik ksatria di sampingnya. Ia tidak perlu bertanya apa yang dirasakan Saeko. Sebagai seseorang yang berasal dari realitas yang serupa, melihat pemandangan ini tentu membangkitkan memori yang pahit.
"Kita di sini bukan untuk meratapi kehancuran, Saeko," ucap Riser datar. "Kita di sini untuk mengambil variabel yang paling berharga sebelum retakan ini menutup kembali."
[ Pemindaian Sektoral: Aktif ]
[ Target Terdeteksi: 800 Meter ke arah Barat Daya ]
[ Status: Pertempuran Aktif ]
[ Tingkat Ancaman: Rendah (Massa) ]
Riser melompat dari gedung setinggi sepuluh lantai itu tanpa ragu. Ia tidak menggunakan sayap api; ia membiarkan gravitasi membawanya turun, sebelum menggunakan Pengendalian Energi [Master] untuk menciptakan bantalan udara tepat sebelum kakinya menyentuh aspal. Saeko mengikuti dengan kelincahan seorang predator, mendarat dengan suara yang hampir tak terdengar di samping Riser.
Mereka berlari melintasi jalan raya yang berantakan. Riser bergerak dengan efisiensi yang menakutkan, setiap kali ada zombi yang menghalangi jalannya, ia tidak berhenti. Hanya dengan lambaian tangan kecil, tekanan udara di depan kakinya meledakkan kepala makhluk-makhluk itu tanpa sisa.
Di persimpangan jalan menuju stasiun, mereka akhirnya melihatnya.
Seorang gadis dengan rambut oranye kecokelatan yang dikuncir kuda sedang berdiri di atas kap sebuah bus yang terbalik. Ia mengenakan seragam sekolah yang sudah compang-camping dan ternoda darah hitam. Tangannya menggenggam sebuah tombak darurat yang terbuat dari pipa baja dengan bilah pisau yang diikat kuat di ujungnya.
Rei Miyamoto.
Gadis itu terengah-engah, peluh membasahi keningnya. Di bawahnya, puluhan zombi mencoba menggapai kakinya, sementara dari arah gang gelap, beberapa sosok aneh—Malaikat Jatuh kelas bawah yang tampak sedang bermain-main dengan situasi ini—mengawasi sambil tertawa.
"Ayo, Manusia! Tunjukkan seberapa lama kau bisa bertahan sebelum mereka mengoyak lehermu!" teriak salah satu Malaikat Jatuh sambil melepaskan tombak cahaya kecil ke arah kaki Rei, memaksanya melompat dan hampir terjatuh ke kerumunan zombi.
Rei tidak berteriak minta tolong. Ia hanya menggertakkan gigi, menusukkan tombaknya ke arah mata zombi terdekat dengan presisi yang lahir dari keputusasaan. "Pergi... kalian semua... pergi!"
Saeko hendak melesat maju, namun tangan Riser menahannya.
"Tunggu, Saeko. Biarkan dia menunjukkan batas kemampuannya," bisik Riser. "Aku ingin melihat apakah api di dalam jiwanya cukup layak untuk menerima Valkyrie Lineage."
Di bawah sana, situasi semakin kritis. Rei terpeleset saat kap bus yang licin oleh darah membuatnya kehilangan keseimbangan. Pada saat yang sama, Malaikat Jatuh itu menyiapkan tombak cahaya yang lebih besar, berniat untuk menyelesaikan 'permainan' mereka.
"Selamat tinggal, Gadis Manis!"
Tepat saat tombak cahaya itu dilepaskan, Riser bergerak. Bukan dengan serangan energi, melainkan dengan Renewal Taekwondo.
BUM!
Riser muncul di udara, tepat di jalur tombak cahaya tersebut. Dengan satu tendangan melingkar yang sempurna—Hwechook—ia tidak hanya mematahkan tombak cahaya itu, tetapi juga menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan semua zombi di radius lima meter di sekitar bus Rei.
Rei terbelalak, menatap sosok pria yang tiba-tiba berdiri di depannya. Di bawah cahaya bulan yang merah, Riser tampak seperti dewa kematian yang turun dari langit.
"Siapa...?" Rei bergumam, suaranya gemetar.
Riser mendarat dengan tenang di atas kap bus, membelakangi Rei. Ia menatap dua Malaikat Jatuh yang kini gemetar melihat keberadaannya. "Kalian mengganggu waktu rekrutmenku," ucap Riser dingin.
[ Status Target: Rei Miyamoto ]
[ Kondisi: Kelelahan Ekstrem ]
[ Resonansi Jiwa: Sinkronisasi Awal Terdeteksi ]
Saeko mendarat di samping Rei, menyarungkan katananya dengan bunyi klik yang tajam. "Lama tidak jumpa, Rei. Sepertinya kau masih kesulitan dengan manajemen emosimu saat bertarung."
Rei membeku. Matanya melebar saat mengenali wajah yang sangat ia kenal, namun terasa berbeda. "Saeko-senpai? Bagaimana... bagaimana Anda bisa ada di sini?"
"Simpan pertanyaanmu untuk nanti," potong Riser tanpa menoleh. Ia mengangkat tangan kanannya, dan api biru Phenex mulai berderak di ujung jarinya, bukan sebagai bola api, melainkan sebagai garis-garis energi yang tajam. "Sekarang, kita harus membersihkan tempat ini."
Dua Malaikat Jatuh itu mencoba terbang melarikan diri, namun Riser tidak membiarkannya. Dengan satu gerakan tangan, ia melepaskan jaring api yang mengunci ruang di sekitar mereka.
"Saeko, berikan dia sesuatu untuk dilihat," perintah Riser.
Saeko tersenyum tipis. Ia melesat seperti bayangan ungu, dan dalam satu tarikan pedang yang bersih, kedua Malaikat Jatuh itu jatuh ke tanah tanpa sempat berteriak. Kecepatan dan kekejaman itu membuat Rei gemetar, namun di saat yang sama, ia merasakan sebuah tarikan aneh di dalam dadanya—sebuah kerinduan akan kekuatan yang sama.
Riser berbalik, menatap Rei yang masih terduduk lemas. Ia mengulurkan tangannya, sebuah gestur yang kini menjadi ciri khasnya saat menjemput anggota baru.
"Namaku Riser Phenex. Dunia yang kau kenal sudah berakhir, Rei Miyamoto. Tapi aku bisa memberimu dunia di mana kau tidak perlu lagi takut pada kematian," ucap Riser.
Rei menatap tangan Riser, lalu menatap Saeko yang berdiri dengan tenang di belakang pria itu. Ia tahu ini adalah taruhan berbahaya, namun melihat kehancuran di sekelilingnya, ia tidak punya pilihan lain. Ia meraih tangan Riser, dan saat kulit mereka bersentuhan, sebuah sensasi listrik mengalir ke seluruh tubuhnya.
[ Inisialisasi: Kontrak Ksatria ]
[ Kompatibilitas: 95% ]
[ Status: Pengikatan Jiwa Dimulai ]