NovelToon NovelToon
Cinta Pertama Dan Takdir Keluarga

Cinta Pertama Dan Takdir Keluarga

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sandi Wabaswara

Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 – Teror yang Kembali Menghantui

Perlahan demi perlahan, Rayhan mulai bergerak keluar dari persembunyiannya. Ia menyusuri jalan demi jalan, menyamar di balik jaket lusuh dan penutup kepala, menutupi wajah agar tak dikenali. Setiap sudut kota ia datangi, bertanya, mengintai, dan mengamati.

Langkahnya selalu hati-hati.

Ia sadar, statusnya kini adalah buronan. Sedikit saja ia lengah, maka kebebasannya akan kembali direnggut. Dan kali ini, hukuman yang menantinya jauh lebih berat.

Namun, dendam telah membutakan segalanya.

“Di mana kalian bersembunyi…” gumam Rayhan dengan rahang mengeras.

Di sisi lain, Arga merasakan firasat yang semakin kuat. Sejak kaburnya Rayhan, hidupnya tak pernah benar-benar tenang. Setiap suara, setiap bayangan, terasa seperti ancaman.

Ia menatap jalanan dengan penuh kewaspadaan, seolah setiap langkahnya sedang diawasi.

“Begitu gilanya dia…” gumam Arga dalam hati.

Napasnya terasa berat.

“Aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak boleh lengah. Aku harus melindungi keluargaku… terutama Alya.”

Bayangan wajah Alya membuat dadanya menghangat sekaligus sesak.

“Dia adalah segalanya bagiku. Aku tak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya.”

Tatapan Arga berubah tajam.

“Rayhan sudah tahu siapa aku. Ia tahu aku adalah anak dari orang yang ia hancurkan hidupnya. Dendamnya bukan lagi sekadar karena cinta, tapi juga karena kejahatannya mulai terbongkar.”

Kepalan tangannya mengeras.

“Aku tidak bisa hanya menunggu. Aku harus menemukan tempat persembunyiannya lebih dulu. Aku harus menghentikan semua ini sebelum semuanya terlambat.”

Di antara langkah-langkah sunyi kota, dua tekad besar kini saling mendekat.

Satu dilandasi dendam.

Satu dilandasi cinta.

Dan benturan itu… tinggal menunggu waktu.

Akhirnya, Rayhan berhasil mengetahui tempat tinggal Arga dan Alya. Ia tak terburu-buru melancarkan aksinya. Dengan kesabaran yang dingin, ia menunggu waktu yang tepat.

Hari demi hari berlalu dalam tekanan.

Sejak kaburnya Rayhan dari penjara, kehidupan Arga dan Alya kembali diselimuti kecemasan. Setiap langkah terasa berat, setiap malam dipenuhi rasa waswas. Trauma konflik masa lalu seakan bangkit kembali, menghantui pikiran mereka.

Sementara itu, polisi terus melakukan pengejaran, menyisir berbagai wilayah untuk menemukan persembunyian Rayhan.

Malam itu, jam menunjukkan pukul sembilan tepat.

Langit tampak gelap tanpa bintang.

Rayhan mulai menampakkan diri. Ia telah berada di sekitar rumah Arga, mengamati setiap sudut, setiap gerakan. Dari balik bayangan, ia menyusun teror pertamanya.

Tiba-tiba…

BRAKK! BRAKK! BRAKK!

Suara gedoran keras mengguncang pintu rumah.

Alya tersentak bangun.

“Ga… suara apa itu?” ucapnya panik.

“Aku juga tidak tahu. Sepertinya ada seseorang yang menggedor pintu,” jawab Arga dengan wajah tegang.

“Tunggu di sini. Aku akan mengecek,” ujar Arga sambil bangkit dari tempat tidur.

“Hati-hati, Ga…” seru Alya penuh cemas.

Orang tua Arga dan Alya pun ikut terbangun.

“Ada apa itu, Ga?” tanya ayah Arga sambil keluar kamar.

“Sepertinya ada orang yang menggedor pintu, Yah,” jawab Arga.

Arga perlahan membuka pintu dan memeriksa sekeliling rumah. Namun, tak seorang pun terlihat. Suasana kembali sunyi, hanya angin malam yang berdesir pelan.

Padahal, Rayhan tengah bersembunyi di balik pohon besar, mengamati mereka dari kejauhan.

“Akhirnya aku menemukan kalian lagi…” gumam Rayhan dengan senyum dingin.

“Kali ini, kalian tidak akan lolos.”

Saat masih memantau, tiba-tiba terdengar suara dari arah jalan.

“Siapa itu di balik pohon?” teriak seorang remaja yang sedang ronda malam.

Rayhan terkejut. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari menjauh agar tidak tertangkap.

Dalam kegelapan, Arga sempat melihat sesosok bayangan berlari.

“Siapa itu…?” gumamnya dalam hati.

“Jangan-jangan… Rayhan?”

“Ga…” suara Alya membuat Arga tersentak.

“Kamu kenapa?”

Arga menoleh, berusaha menyembunyikan kegelisahan di wajahnya.

“Tidak… tidak ada apa-apa,” jawabnya singkat.

Namun di dalam hatinya, firasat buruk semakin menguat.

Teror itu… baru saja dimulai.

Rayhan segera menjauh dari lokasi. Saat berada di jalan raya, tanpa disadari, keberadaannya terpergok oleh patroli polisi yang tengah berkeliling.

“Itu Rayhan!” seru seorang polisi sambil menunjuk ke arahnya.

“Kejar!” teriak komandan dengan suara tegas.

Rayhan terkejut. Tanpa ragu, ia langsung melompat ke atas motornya dan memacu kendaraan sekuat tenaga. Kejar-kejaran pun tak terhindarkan. Suara sirene meraung memecah kesunyian malam.

Namun, kelincahan Rayhan dan kepiawaiannya membaca situasi membuatnya kembali lolos. Dalam hitungan menit, ia menghilang di antara padatnya jalanan kota.

Polisi pun segera menyebar, memperluas pencarian untuk melacak kembali keberadaannya.

Pagi pun tiba.

Sinar matahari menyelinap melalui celah jendela rumah Arga. Di meja makan, Arga, Alya, dan kedua orang tua mereka duduk bersama menikmati sarapan. Namun suasana terasa berbeda. Keheningan menyelimuti mereka.

Tiba-tiba Alya memecah kesunyian.

“Ga… yang semalam di balik pohon itu siapa?” tanyanya pelan.

Arga terhenti sejenak. Sendok di tangannya berhenti bergerak.

“Kamu… melihatnya juga, Al?” ucap Arga dengan nada terkejut.

Alya mengangguk pelan.

“Iya. Aku melihat bayangannya. Aku yakin, ada seseorang yang mengintai rumah kita.”

Arga menarik napas dalam.

“Apa… orang itu Rayhan, Ga?” tanya Alya dengan suara bergetar.

Pertanyaan itu membuat suasana seketika membeku.

Tak ada satu pun yang bersuara.

Kecemasan tergambar jelas di wajah mereka.

Arga menatap Alya dalam-dalam, mencoba menenangkan, meski di hatinya sendiri, rasa takut semakin kuat.

“Entah… tapi firasatku mengatakan, iya.”

Alya menggenggam tangan Arga erat.

Jika benar itu Rayhan, maka ancaman mereka kini bukan lagi bayangan—melainkan nyata.

Seminggu setelah kejadian malam itu, keadaan bukannya membaik. Justru Rayhan semakin tak terkendali. Dendam yang membara membuatnya nekat melakukan serangan secara langsung.

Pagi itu, Rayhan mulai mengikuti Arga sejak ia berangkat menuju kantor. Dengan jarak aman, ia membuntuti mobil Arga, menyusuri jalan demi jalan.

Di tengah perjalanan, Arga merasakan firasat aneh. Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Ia melirik spion.

Dadanya seketika menegang.

“Rayhan…” gumamnya lirih.

Ternyata benar. Sosok yang sedari tadi mengikutinya adalah Rayhan.

“Masih belum kapok juga dia…” gumam Arga dalam hati.

Arga mempercepat laju mobilnya. Rayhan pun tak tinggal diam, ia semakin agresif mengejar.

Hingga akhirnya, di sebuah jalan sepi, Rayhan memotong jalur dan memaksa Arga berhenti.

“Berhenti kamu!” teriak Rayhan penuh amarah.

Arga menghentikan mobilnya dan turun perlahan. Tatapan mereka saling bertabrakan, penuh kebencian.

“Apa lagi yang kau mau? Belum cukup semua kerusakan yang kau buat satu bulan lalu?” bentak Arga.

“Selama aku belum mendapatkan apa yang kuinginkan, aku tidak akan pernah berhenti!” balas Rayhan geram.

“Dasar tidak tahu malu! Sudah ditolak, masih juga mengejar!” seru Arga.

Ucapan itu membuat Rayhan semakin terbakar emosi.

Tanpa pikir panjang, Rayhan melayangkan pukulan. Namun Arga berhasil menghindar. Perkelahian pun tak terelakkan.

Tinjulan dan tendangan saling beradu. Namun kali ini, Rayhan kalah telak. Dalam hitungan menit, ia terkapar, napasnya memburu, tubuhnya gemetar menahan sakit.

Menyadari dirinya terdesak, Rayhan segera bangkit, meraih motornya, lalu melarikan diri.

“Ini belum selesai! Aku akan kembali!” teriak Rayhan sebelum menghilang di tikungan.

Arga berdiri terpaku.

“Arg… sial… seharusnya aku bisa melumpuhkannya dan menyerahkannya kembali ke polisi,” gumamnya penuh penyesalan.

Dengan napas berat, Arga kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke kantor. Namun pikirannya tak lagi fokus.

Bayangan wajah Alya dan kedua orang tua mereka terus menghantui.

“Bagaimana jika dia menyerang Alya…?”

Ketakutan itu membuat dadanya terasa sesak.

Arga sadar, selama Rayhan masih bebas, hidup mereka tidak akan pernah benar-benar aman.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Maulana Hasanudin
cerita sangat menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!