NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:26.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22

Sore itu, suasana di apartemen terasa berbeda. Leonor melangkah masuk dengan bahu yang merosot dan wajah yang seputih kapas. Tidak ada sapaan galak atau senyum tipis untuk Edgar yang sudah menunggunya. Ia langsung menjatuhkan tas sketsanya di lantai dan berjalan tertatih menuju sofa, meringkuk di sana dengan posisi janin sambil memegangi perut bawahnya.

Edgar yang tadinya ingin pamer tentang keberhasilannya mengelabui Ethan di kantin tadi, langsung terdiam. Ia menghampiri Leonor dengan gurat kecemasan yang nyata.

"Leo? Ada apa? Kau mual lagi? Apa kau sakit lagi?" Edgar berlutut di samping sofa, menyentuh kening Leonor yang terasa dingin dan berkeringat.

"Pinggangku... rasanya seperti dipatahkan jadi dua, Edgar," rintih Leonor, giginya bergeletuk menahan nyeri yang menusuk hingga ke tulang belakang.

"Ini hari pertama... menstruasiku. Dan sepertinya karena aku terlalu capek seminggu ini, rasanya sepuluh kali lebih sakit."

Edgar tertegun. Sebagai pria yang tumbuh di lingkungan maskulin dan hanya tahu soal angka, ini adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan realitas biologis wanita sesakit ini. Ia mengira menstruasi hanyalah "suasana hati yang buruk", namun melihat Leonor yang biasanya sekuat baja kini melintir kesakitan, hatinya mencelos.

Edgar segera bergerak. Ia mencari informasi di internet dengan panik, lalu dengan sigap ia menyiapkan botol berisi air hangat yang dibalut handuk lembut. Ia kembali ke sofa, dengan hati-hati mengangkat sedikit kaos Leonor dan menempelkan kompres itu di perut bawahnya.

"Ssshh... diamlah di sini, Istriku," bisik Edgar lembut. Ia duduk di lantai, menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Leonor, sementara tangannya yang bebas mulai memijat pinggang Leonor dengan gerakan memutar yang sangat hati-hati.

Melihat Leonor yang masih memejamkan mata menahan sakit, mode alay Edgar kembali aktif kali ini tujuannya murni untuk mengalihkan perhatian Leonor dari rasa nyerinya.

"Dengar ya, anak-anak di dalam sana," Edgar bicara pada perut Leonor dengan nada mengancam yang dibuat-buat. "Kenapa kalian nakal sekali hari ini? Kenapa kalian menyakiti Mommy sampai pucat begini? Daddy tidak suka ya. Kalau kalian tidak tenang, Daddy tidak akan kasih stok es krim besok!"

Leonor yang tadinya ingin mengerang, malah mengeluarkan tawa kecil yang lemah. Ia membuka matanya sedikit, menatap wajah Edgar yang tampak sangat serius memarahi perutnya.

"Mereka tidak mendengarmu, Edgar... mereka sedang protes karena Daddy-nya terlalu berisik," sahut Leonor, mencoba mengikuti irama candaan Edgar untuk mengalihkan rasa sakit yang meremas perutnya.

"Oh, jadi mereka bersekongkol denganmu untuk menyiksa Daddy?" Edgar terkekeh, namun sedetik kemudian wajahnya kembali cemas saat Leonor memekik pelan karena kram yang datang tiba-tiba. "Leo, kita ke dokter saja ya, Sayang? Kumohon... aku sangat khawatir melihatmu sepucat ini. Bagaimana jika terjadi sesuatu?"

"Tidak perlu, Edgar. Ini biasa... hanya butuh istirahat," jawab Leonor sambil menggenggam tangan Edgar erat.

Malam pun larut. Edgar bersikeras tidur di samping Leonor tanpa guling pembatas, berjaga-jaga jika Leonor butuh sesuatu.

Sekitar pukul dua pagi, Edgar terbangun untuk ke kamar mandi. Saat kembali dan menyalakan lampu tidur yang remang, matanya menangkap sesuatu di atas sprei putih bersih milik apartemennya.

Ada noda merah yang cukup jelas merembes di balik celana tidur tipis yang dipakai Leonor.

Edgar mematung sejenak, namun bukan karena jijik. Ia justru merasa bersalah karena membiarkan Leonor tertidur dalam posisi yang tidak nyaman. Ia mendekat, lalu dengan sangat hati-hati menepuk bahu Leonor.

"Sayang... bangun dulu sebentar," bisik Edgar di telinga Leonor.

Leonor mengerang, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. "Hm? Kenapa Edgar? Masih sakit..."

"Bangun dulu, Sayang. Biar aku rapikan tempat tidur kita. Ayo, biar kuantar ke kamar mandi," Edgar membantu Leonor duduk. "Ganti celanamu juga ya, sepertinya... ada yang tembus."

Seketika, kantuk Leonor hilang total. Wajahnya yang pucat kini berubah merah padam karena malu yang luar biasa. Ia menoleh ke belakang dan melihat noda itu. "Astaga... Edgar, aku... aku minta maaf. Spreinya jadi kotor. Aku benar-benar malu..."

"Sssttt, untuk apa malu? Aku ini suamimu, ingat?" Edgar tersenyum menenangkan, seolah noda darah itu hanyalah tumpahan kopi biasa. "Ayo, berdiri."

Edgar membantu Leonor berdiri dan menuntunnya ke kamar mandi. Sementara Leonor membersihkan diri, Edgar dengan cekatan menarik sprei yang kotor, menggantinya dengan yang baru dari lemari, dan membereskan semuanya tanpa sisa.

Saat Leonor keluar dari kamar mandi dengan celana ganti dan wajah yang masih tertunduk malu, Edgar sudah menunggu di depan pintu. Ia langsung menggendong Leonor kembali ke tempat tidur yang sudah bersih dan harum.

"Jangan dipikirkan. Itu hal manusiawi," ucap Edgar sambil merebahkan Leonor.

Ia ikut berbaring, namun kali ini ia memosisikan dirinya di belakang Leonor. Tangannya yang hangat kembali menyusup ke dalam selimut, satu tangan mengelus perut bawah Leonor dengan lembut, sementara tangan lainnya memijat tulang ekor dan pinggang Leonor yang terasa pegal luar biasa.

"Masih sakit?" tanya Edgar pelan, napasnya terasa hangat di tengkuk Leonor.

"Sudah lebih baik... terima kasih, Edgar. Kau benar-benar... luar biasa. Aku tidak menyangka pria sepertimu mau melakukan ini," gumam Leonor, matanya mulai terasa berat kembali.

Edgar mengeratkan pelukannya, mencium pundak Leonor dengan penuh kasih. "Aku juga tidak menyangka akan menjadi pria yang mencuci sprei berdarah di jam dua pagi. Tapi kalau itu untukmu, aku tidak keberatan melakukannya selamanya."

Leonor tersenyum di dalam kegelapan. Rasa sakit di pinggang dan perutnya memang belum hilang sepenuhnya, namun rasa dicintai yang diberikan Edgar jauh lebih kuat daripada rasa nyeri itu.

Malam itu, di bawah remang lampu kamar, Leonor menyadari bahwa Edgar bukan hanya kekasih yang manis saat ia cantik di kampus, tapi juga pria yang paling bisa diandalkan saat ia sedang berada di titik paling rapuh dan berantakan

"Tidurlah, Istriku. Daddy dan anak-anak akan menjagamu sampai pagi," bisik Edgar terakhir kalinya sebelum mereka berdua tenggelam dalam mimpi yang sama.

🌷🌷🌷🌷

happy reading dear 🥰

1
Endang Sulistia
mampir
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!