NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranti Septriharaira M.T (202130073)

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Kesempatan baru atau perangkap baru?

Setibanya di kamar kos Cika yang berantakan dan pengap, Bela terduduk lemas di pinggir kasur tipis yang tak terseprei rapi. Napasnya masih tersengal, dadanya sesak oleh sisa amarah yang belum tuntas. Sementara itu, Cika dengan cepat mengunci pintu dari dalam, jemarinya sedikit gemetar saat memutar kunci, takut amukan Bela kembali pecah dan memancing perhatian penghuni kos lain.

Cika berbalik, wajahnya dipasang sedemikian rupa agar tampak penuh sesal dan kesedihan yang mendalam. Ia menyodorkan segelas air mineral yang diterima Bela dengan tangan gemetar.

"Bel, dengerin gue dulu. Sumpah, gue juga dibohongin sama Luna!" Cika memulai aktingnya dengan nada suara yang bergetar. Ia tahu titik lemah Bela. Bela adalah sosok yang terlalu baik, gampang luluh, dan selalu punya ruang maaf yang terlalu besar. Dulu pun, Bela sering dijadikan kambing hitam dalam pertemanan mereka, namun hanya dengan satu permintaan maaf atau alasan mendesak, Bela akan kembali luluh. Sifat Bela yang senang menolong orang inilah yang kini dimanfaatkan Cika habis-habisan.

"Malam itu... lo stres berat, Bel. Gue liat lo banyak minum, gue udah nahan lo supaya nggak lanjut, tapi lo nggak dengerin," Cika mulai mengarang cerita palsu dengan sangat lancar, seolah-olah ia adalah saksi yang tak berdaya. "Terus tiba-tiba Luna narik gue paksa keluar. Dia bilang tantenya sakit parah dan dia desak gue buat anterin dia pulang saat itu juga karena dia nggak bawa motor. Gue panik, gue mau ngajak lo tapi Luna bilang biar temennya aja yang jagain lo sebentar sampai lo sadar, katanya lo cuma butuh tidur sebentar di sana."

Bela menatap Cika tajam, matanya menyipit penuh keraguan. Ingatannya yang samar tentang malam itu mencoba mencocokkan potongan cerita Cika. "Terus kenapa lo ngilang? Kenapa Luna bisa ada temen di sana?"

"Gue nggak tahu, Bel! Gue pikir itu temen Luna yang emang kebetulan lagi di sana juga. Gue bener-bener nggak tahu kalau akhirnya lo... kalau lo malah jadi korban," Cika mulai mengeluarkan air mata palsu, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Luna emang mata duitan, Bel. Gue baru sadar sekarang kalau malam itu gue juga cuma dimanfaatin sama dia buat narik lo ke sana supaya dia dapet imbalan."

Mendengar nama Luna disebut sebagai dalang utama yang tega menjualnya, kebencian Bela yang tadinya tertuju pada Cika mulai bergeser. Benih-benih percaya mulai tumbuh kembali di hati Bela yang polos. Ia memang mengenal Luna sebagai sosok yang materialistik dan sering memanfaatkan keadaan.

"Lo tahu siapa laki-laki itu, Cik? Lo tahu siapa yang ada di kamar malam itu?" tanya Bela dengan suara rendah, penuh tuntutan.

Jantung Cika berdegup kencang. Kebohongan terbesarnya ada di sini. Kenyataannya, malam itu bukan Luna pelakunya, melainkan mantan kekasih Cika sendiri yang menyeret Bela masuk ke kamar hotel. Mantan kekasihnya itu adalah seorang anggota militer, teman satu angkatan (letting) dari pria bernama Raka. Cika tahu persis siapa Raka, pria yang kini hidup dalam kemewahan perwira, namun ia tidak akan pernah membongkar itu.

"Gue nggak tahu, Bel. Sumpah. Luna yang urus semuanya sama cowok itu. Gue bener-bener buta soal siapa laki-laki itu," dusta Cika telak.

Suasana menjadi sedikit lebih tenang. Bela menghela napas panjang, kepalanya terasa mau pecah. Cika yang melihat perubahan raut wajah Bela langsung mengambil kesempatan untuk menunjukkan kepedulian yang ia buat senyata mungkin. Ia mendekat dan mengusap bahu Bela dengan lembut.

"Sekarang tujuan lo apa? Lo mau ke mana?" tanya Cika dengan nada antusias yang dibuat-buat. "Nginep di sini dulu aja, Bel. Kosan gue emang sempit, tapi setidaknya lo aman sambil cari tempat tinggal yang tepat. Gue nggak mau lo sendirian di luar sana dengan kondisi hamil begini. Gue merasa berdosa banget udah ninggalin lo sama Luna malam itu."

Bela hanya diam, menatap lantai semen yang dingin. Kebaikannya kembali mengalahkan logika sehatnya. Ia merasa Cika juga korban dari kelicikan Luna, dan saat ini, ia merasa butuh sandaran.

"Gue pusing, Cik. Gue harus berhenti kerja. Kalau gue tetep di kampus, rahasia ini bakal ketahuan Mamah. Gue nggak punya siapa-siapa lagi kalau Mamah sampai tahu. Dia pasti bakal ngusir gue," curhat Bela sambil memijat pelipisnya.

Mendengar keluhan Bela, Cika langsung beraksi seolah ia adalah penyelamat. Ia ingin membuktikan bahwa dia berada di pihak Bela agar kecurigaan Bela hilang sepenuhnya.

"Tenang, Bel! Gue bantu cari info kerjaan. Gue tanya-tanya temen gue sekarang juga, ya?" Cika langsung menyambar ponselnya. Ia benar-benar membuka aplikasi chatingan dan mengetik pesan ke beberapa kenalannya secara acak.

"Bentar Bel, ini gue tanya si Andre yang kerja di admin gudang," ucap Cika sambil mengarahkan layar ponselnya ke depan wajah Bela. Di sana terlihat Cika mengetik pesan: 'Ndre, ada loker admin nggak buat temen gue? Urgent banget.'

Lalu Cika menggulir layarnya lagi, memperlihatkan pesan lain kepada teman wanitanya. "Nah, ini gue juga tanya si Sarah, siapa tahu di cafenya butuh kasir baru."

Cika melakukan itu dengan sangat meyakinkan, membuat Bela melihat deretan pesan terkirim sebagai bukti bahwa Cika benar-benar peduli. "Gue nggak bakal biarin lo susah sendirian, Bel. Kita cari bareng-bareng, ya?"

Bela hanya mengangguk pasrah, merasa sedikit lega dan benar-benar tersentuh. Ia tidak menyadari bahwa semua kebaikan Cika hanyalah upaya perlindungan diri agar pengkhianatan besarnya tidak pernah terungkap. Bela kembali masuk ke dalam dekapan hangat seseorang yang sebenarnya telah menjualnya demi uang.

Malam itu, suasana di kamar kos Cika terasa sedikit lebih manusiawi. Aroma gurih dari dua porsi Indomie telur yang baru saja matang memenuhi ruangan sempit itu. Mereka duduk lesehan di lantai, makan dari satu panci yang sama sambil mata mereka tak lepas dari layar ponsel masing-masing. Bela sesekali menyeka air matanya yang kering, mencoba menelan mie yang terasa seperti kerikil di tenggorokannya, sementara Cika sibuk scrolling dengan jemari lincah.

Tiba-tiba, Cika memekik kecil sampai tersedak kuah mie.

"Bel! Bel, gila... lihat deh!" Cika menyodorkan ponselnya ke depan wajah Bela. "Gue tadi iseng nge-DM salah satu kenalan gue, dia selebgram gitu. Awalnya gue nggak yakin bakal dibalas, eh ternyata langsung dijawab dong!"

Bela mendekatkan wajahnya ke layar. Di sana terlihat sebuah pesan singkat: 'Cik, ini ada temen gue lagi butuh asisten pribadi (PA) Bilang temen lo chat ke nomor ini aja ya buat detailnya.'

"Asisten pribadi?" gumam Bela, ada kilatan harapan di matanya. "Detailnya apa, Cik? Tugasnya ngapain aja?"

"Nah, itu dia nggak bilang. Katanya mending lo langsung tanya sendiri ke orangnya. Nih, gue share nomornya ke lo ya," Cika dengan semangat mengirimkan kontak tersebut. "Mending lo chat sekarang, atau besok pagi deh biar lebih sopan. Lumayan banget loh, PA seleb atau orang kaya biasanya gajinya gede, terus lo bisa dapet fasilitas tempat tinggal juga biasanya."

Bela mengangguk, menyimpan nomor itu dengan nama 'Loker PA'. Ia merasa sedikit lega. Setidaknya, jika ia bisa mendapatkan pekerjaan ini, ia punya alasan untuk benar-benar menghilang dari radar Mamahnya.

Malam pun semakin larut. Setelah membereskan sisa makan malam, mereka akhirnya mematikan lampu dan naik ke atas ranjang. Cika sudah mendengkur halus tak lama kemudian, namun Bela tetap terjaga. Ia menatap langit-langit kamar yang kusam dalam kegelapan, tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang masih datar. Ada ketakutan yang merayap, tapi ia mencoba menekannya demi hari esok.

Baru saja Bela mulai memejamkan mata, sebuah suara mengejutkannya.

'Tok... Tok... Tok...'

Ketukan itu tidak keras, tapi terdengar sangat konsisten dan menuntut di tengah keheningan malam. Bela tersentak, seluruh sarafnya menegang. Ia tidak bergerak sedikit pun, pura-pura masih terlelap, namun telinganya menajam.

Ia merasakan kasur di sampingnya bergerak pelan. Cika ternyata tidak sepenuhnya tidur. Temannya itu bangkit dengan gerakan yang sangat hati-hati, hampir tidak terdengar, lalu berjalan menuju pintu.

'Kreeek...'

Pintu terbuka sedikit, hanya cukup untuk melihat siapa yang datang.

1
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!