Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
setelah dinner
Setelah malam yang panjang bersama Moses, aku pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, aku merasa senang karena malam itu benar-benar berbeda dari pengalaman yang biasa kualami. Di sisi lain, aku sadar bahwa perasaan baru mulai muncul—perasaan yang tidak mudah dijelaskan.
Aku menaruh tas dan sepatu, duduk sebentar di sofa, dan menarik napas panjang. Teleponku bergetar. Ternyata Moses mengirim pesan:
Moses: “Hey, did you get home safely?”
Nanas: “Yes… I’m home. Thank you for tonight. It was really nice.”
Moses: “I’m glad. I had a great time too. You looked amazing.”
Aku tersenyum membaca pesan itu. Sekalipun hanya kata-kata sederhana, ada kehangatan yang kurasakan dari cara dia menulis. Perasaan itu berbeda dari Yeye. Moses tidak terlalu intens, tapi kehadirannya membuatku merasa dihargai dan diperhatikan.
Beberapa jam kemudian, aku melihat-lihat foto-foto malam itu yang sempat diambil Moses. Aku tertawa sendiri melihat ekspresi wajahku saat menari dan sedikit mabuk. Rasa nyaman itu membuatku berpikir, mungkin aku bisa belajar membuka diri sedikit lagi. Tidak semua pengalaman harus menimbulkan rasa cemas atau takut.
Aku mulai memikirkan sesuatu. Dinner di klub memang menyenangkan, tapi aku ingin membuat pengalaman yang lebih pribadi dan berkesan untuknya. “Mungkin aku bisa masak untuknya sendiri,” pikirku.
Aku membayangkan memasak makanan yang sederhana tapi istimewa, menyajikannya dengan cara yang hangat, dan membuat Moses merasa diperhatikan dengan usaha kecilku sendiri. Malam itu, aku sadar bahwa perhatian kecil, usaha pribadi, dan gestur sederhana bisa meninggalkan kesan yang jauh lebih mendalam dibandingkan makan di tempat ramai.
Keesokan paginya, teleponku berdering. Moses menelepon.
Moses: “Good morning, Nanas! How are you feeling today?”
Nanas: “Morning! I’m okay… still a little tired from last night, though.”
Moses: “Yeah, I know… we danced a lot. Did you sleep well?”
Nanas: “I slept… okay. Thanks for asking.”
Obrolan kami mengalir ringan. Kami membicarakan hal-hal kecil: rencana hari ini, pekerjaan, bahkan musik yang diputar malam sebelumnya. Tidak ada tekanan, tidak ada rasa terburu-buru. Aku merasa nyaman hanya mendengar suaranya, merasakan cara dia tertawa dan bercanda.
Kemudian, Moses bertanya sesuatu yang membuatku sedikit terkejut:
Moses: “Would you like to meet again this weekend? Maybe dinner or something else you like?”
Aku tersenyum, hati berdebar. Aku tidak menyangka malam itu akan berlanjut dengan rencana lain, tapi aku merasa senang.
Nanas: “Sure… I’d like that. Where do you want to go?”
Moses: “I’ll plan it. Just be ready for another fun night.”
Aku menutup telepon dengan senyum. Rasanya aneh, tapi menyenangkan. Aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda—campuran antara nyaman, tertarik, dan sedikit penasaran. Moses membuatku merasa dihargai tanpa harus memaksakan apa pun. Tidak ada ketegangan, tidak ada drama, hanya kehangatan sederhana dari perhatian dan gestur kecilnya.
Sepanjang hari itu, aku terus memikirkan malam sebelumnya. Aku menyadari satu hal: mungkin inilah arti perasaan baru yang sebenarnya.
Perasaan yang membuat seseorang ingin berada dekat tanpa harus cemas atau takut. Aku belajar bahwa hubungan tidak selalu harus intens dan penuh tekanan; kadang, ketulusan kecil bisa menjadi dasar yang jauh lebih kuat. Malam itu, aku pun memutuskan bahwa untuk pertemuan berikutnya, aku akan mencoba memasak sendiri untuknya—memberikan pengalaman berbeda yang lebih pribadi, hangat, dan meninggalkan kesan.
Aku menutup mata sambil tersenyum, merasa damai. Malam ini, aku tahu satu hal: aku sedang belajar membuka hati lagi, sedikit demi sedikit, dan itu terasa menyenangkan.