Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Norah Vanderbilt
Bel sekolah akhirnya berdering nyaring, memecah suasana canggung yang menyelimuti kelas Ms. Watson. Clara segera bergegas menuju meja Greta, namun langkahnya terhenti saat Luca tiba-tiba berdiri dengan seringai jahil.
"Hey Clara, mau punya motif tambahan untuk rok mu gak?" nada Luca sambil mengarahkan bagian belakang celananya yang hitam terkena tinta ke arah Clara, seolah-olah ingin memeperkannya.
"Iiiih! Luca, jauh-jauh!" jerit Clara sambil menghindar dengan tawa kecil. Greta yang melihat tingkah konyol Luca tidak bisa menahan tawa, membuat wajahnya yang tadi pucat kini terlihat jauh lebih hidup.
Tawa mereka bertiga terasa seperti duri di telinga Norah. Ia menyambar tas mahalnya, lalu melangkah keluar kelas dengan hentakan kaki yang keras, diiringi Revelyn yang setia mengekor di belakangnya.
Norah berjalan menyusuri lorong sekolah dengan langkah yang sangat cepat, hingga suara ketukan sepatunya bergema di sepanjang koridor. Dadanya terasa sesak karena amarah yang meluap-luap. Berani-beraninya tikus kecil itu tertawa seperti itu dengan Luca? pikirnya geram. Ia melewati barisan loker dengan wajah yang begitu dingin, membuat siswa-siswa lain yang berpapasan dengannya refleks menepi untuk memberi jalan.
Ia masuk ke area kantin sebuah ruangan luas dengan atap tinggi dan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan taman sekolah yang asri. Harum aroma kopi dan makanan kelas atas menyeruak, namun Norah sama sekali tidak berselera. Ia melintasi meja-meja panjang hingga sampai di area khusus yang biasa ia tempati, sebuah meja bundar di sudut strategis yang seolah-olah sudah dipesan permanen atas namanya.
Norah menghempaskan dirinya ke kursi kulit itu dengan kasar. Tak lama kemudian, Zev datang menghampiri. Ia menarik kursi di depan Norah dengan santai, tangan kirinya memegang kantong kertas berisi kentang goreng yang terus ia kunyah.
"Muka mu kenapa? Seperti habis menelan cuka sepanci," tanya Zev dengan mulut yang masih penuh, suaranya terdengar tidak jelas karena kunyahan kentang.
"Diam..!" jawab Norah tajam, matanya menatap lurus ke depan dengan sorot yang mematikan.
Zev tersentak, kentang yang baru setengah ia gigit tertahan di udara. Ia terkejut mendengar nada bicara Norah yang lebih pedas dari biasanya. Dengan bingung, ia melirik ke arah Revelyn yang duduk di samping Norah, mencoba mencari penjelasan. Namun, Revelyn hanya membalas dengan isyarat menggelengkan kepala pelan dan mengangkat bahu, seolah memberi peringatan bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mencari gara-gara dengan sang ratu sekolah.
"Sial..! Bisa-bisanya dia tertawa seperti itu dengan Luca!" geram Norah, tangannya mencengkeram pinggiran meja kantin hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun, membayangkan kedekatan Greta dan Luca yang ia saksikan sendiri di kelas tadi.
Zev, yang masih asyik dengan kentang gorengnya, menyahut tanpa filter, "Kenapa? Kamu cemburu?"
PLAK!
"Aduh!" ringis Zev sambil memegangi kepalanya.
Revelyn dengan sigap memukul kepala Zev menggunakan kipas lipat mahalnya yang berbunyi nyaring. "Jaga mulutmu, Zev!" bisik Revelyn tajam, memberikan tatapan peringatan bahwa Norah sedang dalam mode "siaga satu".
Norah tidak membalas ucapan Zev. Ia perlahan memalingkan wajahnya, membelakangi teman-temannya dan menatap ke arah taman sekolah yang terlihat dari dinding kaca kantin. Matanya yang tajam mengunci pemandangan di luar sana, namun pikirannya sedang menyusun skenario lain.
"Zev... sepulang sekolah, kamu cari tahu di mana rumah Greta," perintah Norah tanpa mengalihkan pandangannya dari taman. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Zev yang sedang asyik menelan kentang gorengnya langsung tersedak. "K... Kenapa harus aku?".
PLAK!
Sekali lagi, kipas lipat Revelyn mendarat dengan akurat di puncak kepala Zev. "Aduhh! Iya... iya, aku lakukan!" seru Zev sambil mengusap kepalanya yang mulai terasa senut-senut.
Revelyn kemudian melipat kipasnya dengan elegan, ia mencondongkan tubuh ke arah Norah, mencoba membaca pikiran sahabatnya itu. "Lalu, apa yang ingin kamu lakukan setelah tahu tempat tinggalnya, Norah?" tanya Revelyn penuh rasa ingin tahu.
Norah tidak langsung menjawab. Ia hanya terus menatap keluar jendela, melihat dedaunan musim gugur yang berguguran ditiup angin. Senyum dinginnya semakin lebar, menciptakan aura yang membuat Zev dan Revelyn merasa merinding meskipun cuaca di dalam kantin cukup hangat.
"Aku hanya ingin tahu... sejauh mana 'sangkar' kumuhnya bisa melindunginya dariku," bisik Norah penuh arti.
Sementara itu, jauh dari ketegangan di meja Norah, Greta dan Clara duduk bersantai di sebuah bangku kayu di sudut taman sekolah yang lebih tenang. Sinar matahari yang malu-malu di balik awan kelabu Kanada menerangi tempat itu.
Greta membuka kotak makanannya yang sangat sederhana hanya nasi putih dengan tamagoyaki (telur dadar gulung) dan sedikit tumis sayuran yang ia siapkan terburu-buru tadi pagi. Sangat kontras dengan Clara yang membawa kotak salad premium dan jus segar yang baru saja dibelinya dari kantin sekolah.
Melihat isi kotak makan Greta, mata Clara berbinar penasaran. "Apa itu, Greta? Kelihatannya unik... aku boleh nyobain tidak?"
Greta sedikit ragu, merasa makanannya terlalu biasa untuk selera murid di sini, namun ia tetap menyodorkan kotak makanannya dengan tulus. "Tentu, silakan."
Clara mengambil sepotong telur gulung dengan sumpitnya dan mengunyahnya pelan. "Hmmm! Enak sekali!" serunya dengan tulus. "Rasanya beda dengan makanan kantin yang sering terasa hambar. Kamu bikin sendiri?"
Greta mengangguk kecil, sebuah senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya. "Iya, aku masak sendiri sebelum berangkat tadi."
"Wah, kamu hebat! Selain jenius di kelas, ternyata kamu juga jago masak," puji Clara sambil kembali menyuap nasi Greta.
Di tengah obrolan hangat itu, Greta merasa sedikit lega. Setidaknya, bersama Clara, ia tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.
Setelah kotak bekal mereka kosong, Greta dan Clara berjalan kembali menyusuri lorong sekolah yang megah. Namun, langkah Clara melambat saat mereka mendekati area kantor staf.
"Greta, kamu duluan saja ke kelas," ucap Clara sambil menoleh. "Di kelas berikutnya, Mr. John tidak bisa hadir. Sebagai sekretaris kelas, aku harus mengambil materi pelajaran dan menyiapkan tugas untuk ditulis di papan tulis nanti."
"Aku tunggu di sini saja," jawab Greta menawarkan diri, merasa tidak enak jika harus meninggalkan temannya sendirian.
Clara menggeleng cepat sambil tersenyum. "Tidak usah, sepertinya akan lama karena aku harus koordinasi dulu dengan bagian kurikulum. Pergilah duluan."
Greta pun mengangguk kecil, membiarkan Clara masuk ke dalam ruangan guru sendirian. Ia pun melanjutkan langkahnya di lorong yang kini mulai sunyi karena sebagian besar siswa masih berada di kantin.
Setibanya di depan pintu kelas, Greta melangkah masuk dengan pelan. Keadaan kelas hampir kosong, hanya menyisakan beberapa tas di atas meja. Namun, pemandangan di tengah ruangan langsung mencuri perhatiannya.
Di sana, di meja yang masih memiliki sisa-sisa noda tinta yang sudah mengering di pinggirannya, Luca sedang tertidur lelap. Kepalanya bertumpu pada lengannya yang terlipat, wajahnya menghadap ke arah bangku kosong di sebelahnya bangku tempat Greta duduk.
Greta berdiri mematung di ambang pintu, ragu apakah ia harus masuk dan duduk di sana atau tetap tinggal di luar agar tidak mengganggu tidur laki-laki yang sudah membelanya tadi pagi.
Greta melangkah dengan sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil pun di atas lantai kayu kelas. Ia berhasil mencapai mejanya dan meraih tasnya dengan gerakan perlahan. Dari dalam tas, ia mengeluarkan sebuah botol obat kecil tanpa label yang terlihat mencolok.
Baru saja ia hendak membuka tutup botolnya, sebuah suara serak khas orang bangun tidur memecah kesunyian.
"Apa itu?"
Greta tersentak, hampir menjatuhkan botol obatnya. Luca ternyata sudah terjaga. Ia tidak benar-benar bangun, hanya menyandarkan pipinya di atas lipatan tangan sambil menatap Greta dengan mata yang masih setengah tertutup.
"Ah... ini... obatku," jawab Greta terbata, mencoba menenangkan detak jantungnya yang melonjak karena kaget.
"Obat..?" Luca mengernyitkan dahi. Rasa kantuknya menghilang seketika, digantikan oleh rasa ingin tahu yang tajam. "Obat apa?"
"Tidak apa... aku harus rutin meminum obat ini sekali sehari sehabis makan," ucap Greta pelan. Ia merogoh botol minum dari tasnya, lalu menelan satu butir pil kecil itu dengan cepat, seolah ingin segera mengakhiri pembicaraan.
Luca menegakkan badannya sepenuhnya. Ia duduk tegak dan menatap Greta dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. "Apakah kamu sakit?" tanyanya dengan nada yang terdengar lebih serius, tidak ada lagi nada jahil di sana.
Greta memasukkan kembali botol obat dan minumannya ke dalam tas. Ia terdiam sejenak, menatap meja yang masih menyisakan sedikit noda hitam itu.
"Ceritanya panjang..." Greta menghela napas lembut. "Aku hanya diberitahukan oleh dokter yang merawatku untuk selalu meminum obat ini sekali sehari sehabis makan siang. Katanya, ini untuk membantuku... agar ingatanku tidak memburuk."
"Ingatan..? Apa maksudmu?" Luca mengulangi kata itu dengan kening berkerut dalam. Ia sudah hampir mengejar jawaban Greta lebih jauh, namun kalimatnya terputus secara brutal.
TENGGG... TENGGG!
Bel sekolah berbunyi sangat keras, menggema di sepanjang lorong dan meruntuhkan suasana privat di antara mereka dalam sekejap. Pintu kelas terbuka lebar, dan gelombang murid mulai membanjiri ruangan dengan suara bising yang memekakkan telinga.
Greta tidak menjawab pertanyaan Luca. Ia hanya memberikan senyum tipis jenis senyum yang menyembunyikan terlalu banyak beban lalu segera memperbaiki posisi duduknya dan menunduk menatap buku catatan.
Tak lama kemudian, Norah melangkah masuk dengan gaya angkuhnya, diikuti oleh Revelyn di belakangnya. Langkah Norah mendadak melambat saat matanya menangkap pemandangan yang paling tidak ingin ia lihat: Luca sedang duduk tegak, tubuhnya condong ke arah Greta.
"Lagi-lagi mereka..." desis Norah.
Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kukunya yang terawat rapi menekan telapak tangannya sendiri. Rasa geram itu kini bukan lagi sekadar kekesalan, melainkan api yang membakar harga dirinya. Ia merasa seperti ada dinding tak kasat mata yang dibangun Luca dan Greta, sebuah dinding yang membuat siapa pun termasuk dirinya menjadi orang asing.
Norah melempar tasnya ke atas meja dengan suara dentuman keras, sengaja untuk menarik perhatian. Ia melirik tajam ke arah Greta, lalu beralih ke Luca dengan pandangan menuntut penjelasan, namun Luca justru membuang muka dan kembali memutar-mutar bola basket di bawah meja dengan raut wajah yang masih memikirkan kata "ingatan" tadi.
Zev tiba-tiba muncul di ambang pintu kelas yang riuh. Ia tidak masuk sepenuhnya, melainkan hanya bergegas menuju meja Norah dengan langkah seribu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia meletakkan secarik kertas kecil yang terlipat rapi di hadapan Norah, memberikan kode lewat tatapan matanya yang sedikit gelisah, lalu segera berbalik keluar mengingat bel pelajaran berikutnya sudah hampir berbunyi.
Norah mengambil kertas itu dengan jemari yang gemetar karena rasa penasaran.
Matanya menyapu tulisan tangan Zev yang terburu-buru. Seketika, senyum dingin yang sebelumnya menghilang kini kembali merekah di bibir Norah kali ini jauh lebih tajam dan penuh kemenangan. Ia melirik ke arah punggung Greta yang duduk di pojok belakang dengan tatapan predator yang telah menemukan titik mati mangsanya.
Norah meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalan tangannya yang gemetar karena amarah yang memuap. Ia melirik punggung Greta yang duduk diam di barisan depan dengan tatapan yang sangat merendahkan, seolah-olah ia baru saja melihat kotoran di sepatu mahalnya.
Dengan suara yang sangat rendah namun sarat akan intimidasi, Norah berbisik di balik punggung Revelyn:
"Ternyata hanya seekor tikus got yang menyamar jadi bangsawan? Berani-beraninya kamu menyentuh apa yang menjadi milikku dengan tangan kotormu itu. Aku akan memastikan semua orang tahu bahwa kamu hanya sampah yang seharusnya tetap tinggal di tempat sampah."
Norah kemudian menyeringai puas, melempar gumpalan kertas kecil itu ke lantai dan menginjaknya dengan tumit sepatunya yang runcing, seolah ia sedang menginjak harga diri Greta di bawah kakinya.
oke lanjut thor.. seru ceita nya