Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekecewaan
Mendengar ucapan itu langsung membuat Nia gemetaran, entah kenapa dirinya disuruh untuk menjemput Indira dalam keadaan seperti ini. Dirinya lalu mengirimkan begitu banyak pesan kepada Indira, dan tak lama kemudian Indira pun keluar dari rumah untuk menemui Nia yang tengah berada diluar rumah.
"Ayo berangkat, nggak usah pedulikan mereka," Ucap Indira sambil menyeka air matanya yang hampir jatuh, dan sudah sedari tadi dirinya berusaha untuk mencegahnya jatuh.
"Pamitan dulu sama mereka," Ucap Nia.
"Nggak usah, langsung pergi aja," Indira lalu menarik tangan Nia untuk mengajaknya pergi dari sana.
"Baiklah."
Indira tidak mau memakai motornya sendiri karena sudah sangat malas dengan orang orang seperti itu, tidak tau salah dan benar, yang jelas disana sama sekali tidak ada yang membela Indira. Semuanya menyalahkan Indira atas hal yang telah dilakukan oleh Indira, Indira sendiri juga kesal dengan kelakuan dari Pamannya tapi justru didukung oleh Neneknya.
Nia langsung naik ke motornya dan langsung disusul oleh Indira yang naik di boncengan nya, tanpa berpamitan keduanya langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Indira juga mendengar mereka tengah memarahinya namun suaranya itu lama lama terpendam karena jarak, dan akhirnya Indira bisa tenang.
"Maaf ya Nia, udah ngerepotin dirimu," Ucap Indira yang merasa tidak enak dengan Nia karena ucapan kedua orang tadi.
"Halah kayak sama siapa aja kamu, Dira. Sudah seharusnya sebagai teman saling membantu satu sama lain, kita juga berteman tidak hanya setahun dua tahun saja," Jawab Nia.
"Tapi aku sudah sering ngerepotin kamu, ternyata aku yang sering ngerepotin dirimu daripada dirimu yang ngerepotin aku. Tadi memang Bunda yang nyuruh kamu jemput aku,"
"Emang ada masalah apa sih?"
"Masalahnya panjang banget,"
Indira lalu menceritakan apa yang tengah dirinya rasakan kepada Nia, mungkin hanya Nia saja teman yang sangat akrab dengannya dan hanya Nia saja tempat dimana dirinya bisa mengeluh tanpa harus disebarkan kepada orang lain. Nia yang mendengarkan cerita Indira juga merasa sangat kesal, bagaimana ada Paman yang seperti itu kepada keponakannya, apalagi ada Nenek yang seperti itu membela Pamannya yang bersalah.
"Terus rencanamu habis ini ngapain?"
"Nyari orang yang bisa bantu buat boyongan, nanti pulang kerja ikut aku ke rumah Budeku ya,"
"Baiklah."
******
Indira bekerja dan bertemu dengan teman temannya disana, dirinya pun bertanya kepada mereka tetang apakah mereka memiliki saudara yang bisa diajak pindahan atau tidaknya. Rasanya dirinya sangat lelah apabila harus tetap berada dirumah Neneknya, yang dimana bisa dipastikan bahwa Neneknya akan terus mengomelinya karena masalah ini.
"Aku ada sih saudaraku yang bisa, tapi entah hari ini dirinya bisa atau tidaknya," Ucap Rania, teman kerja Indira dan juga teman sekolahnya dahulu.
"Bisa beneran ta? Hari ini langsung loh," Tanya Indira sambil memastikan.
"Nggak tau, bentar tak tanya dia dulu,"
"Oke aku tunggu. Kalo bisa langsung kabari ya, soalnya aku butuh banget hari ini,"
"Iya."
Rania lalu mengeluarkan ponselnya diam diam agar tidak diketahui oleh atasan mereka, ia lalu menelpon seseorang dan mengobrol cukup lama dengan mereka. Indira sendiri hanya bisa berharap bahwa mereka bisa membantunya saat ini, soal biaya itu hal mudah bagi Indira dan bisa diusahakan olehnya.
"Gimana?" Tanya Indira ketika Rania memutuskan sambungan telponnya.
"Mereka bisa kok, tapi mereka kurang yakin kalo ini beneran atau bohongan. Kamu beneran kan butuh jasa untuk pindahan?"
"Beneran, ngapain aku bohong. Nanti suruh saja mereka datang kerumah Nenekku, kamu pernah kesana kan dulu? Nah dirumah itu,"
"Oh oke nanti aku suruh mereka kesana, eh iya nomermu aku kasihkan ke saudaraku itu ya, supaya nanti gampang ngehubungi nya."
"Saudara yang mana?"
"Kamu kenal Riki kan? Nanti yang bantuin kamu pindahan itu Riki dan teman temannya kok. Dia bisa hari ini, tinggal nunggu kabar darimu saja jadi atau tidaknya,"
"Okelah. Nanti aku sherlok ke dia,"
Akhirnya Indira bisa merasa lega karena sudah menemukan seseorang yang bisa membantunya untuk pindahan, tinggal dirinya yang harus bilang ke Budenya kalo dia mau tinggal bersamanya karena sudah tidak tahan jika tinggal bersama dengan Neneknya dirumah seperti itu.
Indira sendiri juga belum bilang ke Bude nya kalo dirinya setuju untuk diajak tinggal bersamanya, ini adalah keputusan yang sangat mendadak baginya yang tiba tiba langsung pindahan. Indira memiliki rencana bahwa dirinya pulang kerja langsung kerumah Bude nya untuk memberitahukan hal ini kepadanya, dan langsung mengajak saudara Rania boyongan setelahnya.
Jam pulang kerja pun telah tiba, Indira langsung bergegas mengambil ponselnya untuk mengubungi seseorang, namun dirinya melihat bahwa begitu banyak pesan yang dikirimkan oleh Ibunya kepadanya. Indira lalu membuka pesan itu dan membacanya perlahan lahan, dan ada belasan pesan yang disampaikan oleh Ibunya.
"Dira, habis ini jadi ta?" Tanya Nia yang melihat Indira tengah sibuk dengan ponselnya.
"Nggak usah, kita pulang saja kerumah Nenek nanti. Bunda ada disana kok sekarang," Ucap Indira ketika selesai membaca pesan yang dikirimkan oleh Ibunya.
"Kamu beneran pulang?"
"Tenang saja, Bunda ada disana sekarang. Nih dia kirim pesan kepadaku buat ngasih tau kalo nyuruh langsung pulang,"
"Aku agak takut sih,"
"Nanti kamu turunin aku di gang saja, biar kamu tidak terlibat dalam masalahku. Tenang, disana sudah ada Bunda kok,"
"Baiklah."
Indira dan Nia langsung bergegas untuk pulang menuju ke rumah Neneknya Indira, disana sudah ada Ibu dari Indira yang tengah menunggu kepulangan dari Anaknya. Yanti sudah sejak tadi berada dirumah Ibunya untuk menunggu kedatangan dari putrinya, Yanti adalah Ibu dari Indira.
Setelah melakukan perjalanan pulang, akhirnya keduanya telah sampai dirumah Neneknya Indira, dan disana Indira langsung turun dari motor Nia lalu menyuruh Nia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Indira tidak mau apabila Nia harus terlibat dalam masalahnya, apalagi tadi pagi Nia sempat dimarahi oleh Paman dan Neneknya lantaran menjemputnya dirumah.
Indira menatap kearah rumah itu yang tengah sepi saat ini, dirinya berharap bahwa semuanya akan baik baik saja. Ia memberanikan diri untuk masuk kedalam rumah tersebut, meskipun ia sudah yakin bahwa Ibunya berada disana, akan tetapi dirinya sempat takut bahwa ia akan mengulang lagi kejadian sebelumnya.
"Dira sudah pulang," Ucap Neneknya disaat melihat Indira pulang.
"Bunda mana?" Tanya Indira langsung.
"Didalam," Jawab Neneknya.
Indira langsung masuk kedalam rumah untuk menemui Ibunya yang sudah sejak tadi menunggu kedatangan darinya, ia langsung mendatangi Ibunya dan langsung memeluk tubuh Ibunya dengan sangat eratnya. Ia pun menangis didalam pelukan Ibunya, Indira masih merasa sakit hati mendengar ucapan dari Nenek dan Pamannya sebelumnya.
Meskipun kejadian itu sudah berlalu beberapa jam sebelumnya, namun rasa sakit hati itu tak kunjung hilang juga dalam hati kecilnya. Bahkan ketika bekerja saja dirinya tidak bisa fokus untuk bekerja, hingga membuatnya merasa sangat tidak tenang dalam bekerja dan ingin segera pulang untuk menemui Ibunya.
Rencananya dirinya sebelumnya mau pergi mendatangi Budenya untuk membicarakan hal ini, karena dahulunya Bude dan Pakdenya pernah mengatakan bahwa menyuruhnya untuk tinggal bersama mereka. Oleh karena itu, dirinya ingin memberitahukan hal ini kepada Budenya, namun hal itu sudah didahului oleh Ibunya yang sebelumnya telah mendatangi tempat tinggal Budenya.
"Aku tadi mau ke Bude dulu," Ucap Indira ketika sudah merasa sedikit tenang setelah memeluk Ibunya.
"Bude udah tak kasih tau kok, kalo setuju kita tinggal nunggu tetangga Bude datang buat boyongan." Ucap Yanti.
"Mereka sudah menyediakan mobil?"
"Sudah, Bunda tadi habis dari sana dan tetangganya bilang kalo ada mobil yang bisa dipake buat boyongan. Nih aja tinggal nunggu dirimu pulang,"
"Bunda, tapi aku sudah nyari orang buat bantuin boyongan. Sebentar lagi mereka juga akan datang kesini, nih dia ngabarin kalo sudah ada diperjalanan kemari,"
"Loh sudah nyari sendiri?"
"Iya. Tinggal nunggu mereka datang saja,"
"Baiklah kalo begitu, kita tunggu mereka saja."
"Iya Bunda."
Yanti berpikir bahwa luka yang diciptakan oleh orang tuanya sangatlah besar kepada Indira, sehingga anaknya tanpa berpikir panjang langsung mencari orang untuk membantunya pindahan. Andai luka itu tidak begitu parah, mungkin Indira tidak akan pernah melakukan hal ini hingga bahkan mencari orang buat membantunya pindahan.
Didalam rumah itu Yanti benar benar tidak membiarkan Indira sendirian, apalagi dirinya takut apabila Indira diintimidasi oleh keluarganya tanpa sepengetahuan dirinya. Dapat terlihat bahwa Ibunya tengah berusaha untuk mendekati Indira, namun dirinya sama sekali tidak membiarkan Indira untuk dekat dengan Ibunya karena ucapan Ibunya tidak dapat ia prediksi seberapa menyakitkannya.
Indira berdiri didepan jendela kamar yang sebelumnya dirinya tempati itu, ia menunggu kedatangan dari orang suruhannya. Ia pun terus mengirimi pesan kepada temannya tentang keberadaan dari saudara saudaranya itu, kenapa mereka belum sampai juga sampai saat ini.
Tak lama kemudian dirinya melihat mobil itu lewat depan rumahnya, mungkin mereka tidak tau lebih tepatnya lokasi rumahnya. Indira langsung mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang sebelumnya diberikan oleh Rania kepadanya, dan telpon itu langsung diangkat oleh mereka.
"Kalian dimana?" Tanya Indira setelah telpon itu terhubung.
"Ini sudah berada di sherlok an, kamu dimana?" Jawab Riki dari seberang telpon.
"Rumahnya kelewatan bre, bentar tak keluar rumah,"
"Cepet."
"Oke oke."
Indira langsung bergegas untuk keluar dari rumah itu untuk memberitahu kepada mereka, dan dirinya pun melihat sebuah mobil pickup yang tengah berhenti di kejauhan. Indira langsung melambaikan tangannya kepada mereka yang ada disana, untuk memberitahukan bahwa dirinya berada di tempat itu sekarang.
"Halo halo! Kamu dimana? Nih orang kampung kagak ada yang kenal dengan namamu," Tanya Riki kebingungan.
"Hei lihat kebelakang pe'ak," Ucap Indira sangking kesalnya.
"Anjay, jauh juga,"
Riki langsung menutup sambungan telepon itu setelah mengetahui bahwa ada yang tengah melambaikan tangannya kepada dirinya, ia langsung menggerakkan mobilnya untuk mundur menuju ke lokasi dimana Indira berada. Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai juga di lokasi setelah mundur cukup jauh, dan mereka langsung memarkirkan mobil pick up itu langsung didepan rumah Neneknya Indira.
"Kalian teman temannya Indira ya?" Tanya Yanti ketika melihat bahwa mereka masih sepantaran.
"Ini saudaranya temenku Bun, yang namanya Rania itu loh," Ucap Indira memperkenalkan mereka.
"Oalah yang itu toh,"
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.