Karya Orisinal.
Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.
Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.
“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”
Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?
Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 : Mimpi yang Terlalu Nyata.
Di balik timbunan batu, di tanah yang lembap oleh rembesan sungai, ada bekas tapak kaki. Bukan manusia. Bukan serigala. Tapi sesuatu yang lebih besar, cakar, berat, meninggalkan lubang dalam di tanah.
“Binatang buas?” tanyaku.
"Binatang iblis," koreksi Xiao Lu. Matanya menyipit. “Xue Gou pasti sedang memburunya. Atau ...”
“Atau?”
Ia tak menjawab. Tapi dari caranya memegang pedang, aku tahu ini bukan kabar baik.
Malam turun lebih cepat dari perkiraan. Kami mendirikan tenda kecil di balik singkapan batu, cukup untuk berlindung dari angin yang mulai bertiup kencang. Api unggun terpaksa dikecilkan, Xiao Lu bilang kita tak ingin menarik perhatian yang salah.
Aku duduk bersandar pada batu, Abu di sampingku. Api kecil berkedip di antara kami, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding tebing.
Xiao Lu duduk di seberang. Matanya menatap api, tapi pikirannya jauh.
“Xiao Lu,” panggilku.
Ia mengangkat wajah.
“Apa yang kau cari?”
Pertanyaan itu menggantung di antara kami. Sederhana. Tapi berat.
Ia diam lama. Lalu, dengan suara yang berbeda, lebih rendah, lebih nyata, ia berkata, “Aku tidak tahu.”
Api berderak. Abu menggeram pelan dalam tidurnya.
“Dulu aku pikir aku tahu,” lanjutnya. “Kekuatan. Pengakuan. Keluar dari bayang-bayang.” Ia tertawa pendek, tanpa humor. “Tapi semakin jauh aku berjalan, semakin aku sadar ... aku bahkan tak tahu bayangan siapa yang selama ini kuinjak.”
Aku menunggu.
“Ayahku,” katanya akhirnya. “Ia kultivator terkenal. Namanya dihormati. Tapi ia mati saat aku masih kecil. Ibu ... ia pergi lebih dulu. Aku dibesarkan oleh sekte, oleh Shifu, oleh orang-orang yang selalu punya rencana untukku.” Ia menatapku. “Kau tahu rasanya dihargai karena fungsi, bukan karena dirimu?”
Aku tak tahu harus menjawab apa. Di Jinglan, aku dihargai karena aku ada. Karena aku bagian dari desa. Karena aku Ling Feng, anak petani yang baik hati. Bukan karena apa yang bisa kulakukan untuk mereka.
“Maaf,“ kataku. “Aku tak bisa membayangkannya.”
Xiao Lu tersenyum. Kali ini, senyumnya tidak menyakitkan.
“Itu bukan maafmu.”
Api terus berderak. Keheningan kembali, tapi kali tidak canggung. Hanya ada kami, api, dan malam yang perlahan merangkak.
“Aku punya pertanyaan,” kataku.
“Apa?”
“Untuk apa hidup dijalani?”
Ia menatapku. Lama. Lalu tawa kecil keluar dari bibirnya, tapi tawa yang berbeda. Tawa yang nyata.
“Kau sungguh-sungguh?”
“Aku serius.”
Ia menghela napas, menatap api. “Aku tak tahu. Mungkin untuk bertahan. Mungkin untuk membalas. Mungkin untuk menemukan sesuatu yang membuat semua perjalanan ini layak.” Ia menoleh padaku. “Tapi kau? Apa jawabanmu?”
Aku diam. Mempertimbangkan.
“Aku tak mencari jawaban,” kataku akhirnya. “Aku mencari pertanyaan itu sendiri.”
Xiao Lu mengerutkan kening.
“Bapak Tua di desaku bilang, sering kali kita baru paham rumah setelah merasakan hujan di atap orang lain.” Aku meraih manik batu di leherku. “Mungkin sama dengan hidup. Kita tak perlu tahu tujuannya. Kita hanya perlu terus berjalan, terus bertanya, dan membiarkan pertanyaan itu sendiri yang membentuk kita, hanya saja, mungkin.”
Untuk waktu yang lama, Xiao Lu hanya menatapku. Matanya yang biasanya penuh perhitungan, kini kosong. Atau mungkin penuh oleh sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan.
“Kau aneh,” katanya akhirnya.
“Aku tahu.”
Tapi sudut bibirnya terangkat. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Xiao Lu tersenyum tanpa menyembunyikan apa pun di baliknya.
Malam semakin larut. Api tinggal bara. Xiao Lu tertidur, benar-benar tidur kali ini, dengan punggung bersandar pada batu. Napasnya teratur. Wajahnya tenang.
Abu mendengkur pelan di sampingku.
Aku menatap langit. Bintang-bintang berkelip, sama seperti di Jinglan. Tapi di sini, rasanya berbeda. Lebih dekat. Atau mungkin aku yang lebih siap menerima mereka.
Tanganku meraih manik batu. Dingin. Tapi di balik dingin itu, ada getaran samar. Seperti sesuatu yang menunggu.
Siapa aku sebenarnya?
Pertanyaan itu tak lagi menakutkan. Ia hanya ada, seperti bintang-bintang di atas, seperti napas Abu di sampingku, seperti Xiao Lu yang akhirnya berhenti berpura-pura.
Di kejauhan, dari arah lembah, terdengar lolongan panjang.
Abu bangun. Telinganya tegak. Tapi ia tak menjawab. Ia hanya menatap ke arah suara, lalu kembali meringkuk di sampingku.
Peringatan? Atau undangan?
Aku tak tahu.
Tapi satu hal yang pasti, besok, kami akan terus berjalan. Menelusuri jejak Xue Gou. Menghadapi apa pun yang menanti.
Dan di ujung perjalanan itu, mungkin, hanya mungkin, aku akan menemukan bukan jawaban, tapi pertanyaan baru yang lebih dalam.
Untuk apa hidup dijalani?
Mungkin ... untuk ini. Untuk malam-malam seperti ini. Untuk keheningan yang tak lagi terasa sepi. Untuk kehadiran makhluk-makhluk yang ... tanpa kata, memilih untuk tetap di sisimu.
Aku memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Jinglan, aku tidur tanpa mimpi buruk.
[PoV Xiao Lu]
Aku tidak benar-benar tidur.
Atau mungkin aku tidur, tapi tubuhku terlalu terbiasa waspada untuk benar-benar terlelap. Yang kuingat hanyalah suara napas Ling Feng yang teratur, dengkuran serigala itu, dan api yang perlahan mati.
Lalu suara itu datang.
Bukan suara fisik. Bukan lolongan serigala atau derap langkah. Tapi sesuatu yang menusuk langsung ke dalam kesadaran, seperti bisikan yang tak bisa ditolak.
Xiao Lu.
Mataku terbuka.
Api sudah mati. Ling Feng masih tidur. Serigala itu—Abu—terjaga. Matanya menatapku dari kegelapan.
Dengar.
Bukan dari arah tertentu. Suara itu datang dari dalam. Dari sesuatu yang selama ini terkubur di dadaku.
Aku bangkit. Pelan. Agar tak membangunkan yang lain.
Di luar tenda, malam begitu pekat. Bintang-bintang seperti titik-titik perak di kain beludru hitam. Tapi di kejauhan, di ujung lembah, ada cahaya. Samar. Biru pucat.
Seperti warna manik batu Ling Feng.
Kakiku bergerak sendiri.
Aku berjalan meninggalkan perkemahan, menyusuri tepi sungai, mendekati sumber cahaya itu. Tanah di bawah kakiku terasa aneh—seperti berdenyut, seperti hidup. Semakin dekat, semakin kuat denyutnya.
Dan di balik singkapan batu, aku melihatnya.
Sebuah lingkaran cahaya biru, bersinar di atas tanah. Ukiran-ukiran kuno, pola yang mirip dengan manik batu Ling Feng, berkilauan di permukaannya. Lingkaran itu berdenyut, seperti jantung, seperti napas, seperti sesuatu yang menunggu.
Akhirnya kau datang.
Suara itu. Lembut. Tua.
Aku berlutut. Tanganku gemetar menyentuh lingkaran itu. Saat jemariku bersentuhan dengan cahaya.
Dunia menghilang.
Aku membuka mata.
Bukan tenda. Bukan hutan. Bukan sungai.
Aku berada di sebuah rumah kecil. Sederhana. Dinding bambu. Atap rumbia. Cahaya matahari sore masuk melalui celah-celah dinding, menari-nari di lantai tanah yang dipadatkan.
Wangi masakan tercium dari suatu tempat. Sayur bening. Ikan bakar. Aroma yang asing tapi entah kenapa membuat perutku keroncongan.
“Ayo makan!”
Suara itu.
Aku menoleh.
Ling Feng berdiri di ambang pintu belakang, mengenakan pakaian sederhana, kaus oblong longgar, celana selutut, kaki telanjang. Rambutnya agak basah, seperti baru selesai mandi di sumur. Wajahnya berseri, tersenyum lebar.
Tapi ini bukan Ling Feng yang kukenal.
Ini Ling Feng yang lebih tua. Mungkin lima atau enam tahun dari sekarang. Lebih dewasa. Lebih tenang. Matanya sama, cokelat seperti tanah basah, menatapku dengan kehangatan yang membuat dadaku sesak.
“Kau melamun lagi,” katanya, berjalan mendekat. Ia duduk di sampingku, meraih tanganku. Jemarinya mengait di sela-sela jariku, alami, tanpa canggung. “Apa yang kau pikirkan?”
Aku menatap tangan kami yang tergenggam.
Kulitnya hangat. Telapaknya kasar, kapalan petani, kataku dalam hati. Tapi genggamannya lembut.
“Aku ...” Suaraku asing. Lebih lembut. Lebih tenang. “Aku hanya ... menikmati.”
Ia tersenyum. Senyum itu, sialan, senyum itu bisa membuat gunung meleleh.
Lalu ia mengecup punggung tanganku. Pelan. Hangat.
“Makan dulu,” katanya. “Nanti dingin.”
Kami makan bersama di beranda belakang, menghadap ke sawah yang membentang hijau. Sore itu sempurna, angin sepoi, burung-burung pulang ke sarang, dan di kejauhan, anak-anak desa bermain di sungai.
Ling Feng menyendokkan nasi ke piringku, meNgambil ikan, memastikan aku mendapat bagian terbaik.
“Kau terlalu baik,” protesku setengah hati.
“Kau istriku,” jawabnya sederhana. “Sudah tugasku.”
Istri.
Kata itu mengalir di dadaku seperti madu.
Sore berganti senja. Kami duduk di beranda, kakiku di pangkuannya, tangannya mengelus betisku dengan gerakan malas. Kami tak banyak bicara. Hanya ada suara jangkrik mulai bersahutan, dan sesekali tawanya saat kakiku bergerak menggelitik perutnya.
“Xiao Lu.”
“Mm?”
“Kau tahu, kadang aku masih tak percaya."
Aku menoleh. "Percaya apa?”
Ia menatapku. Matanya serius, tapi lembut.
“Bahwa kau memilihku.”
Dadaku berhenti.
"Ling Feng—"
“Aku hanya petani,” lanjutnya. “Dari desa kecil. Tak punya kekuatan. Tak punya nama. Tapi kau—” Ia menggeleng, tersenyum. “Kau memilih tetap di sini. Bersamaku.”
Aku duduk, meraih wajahnya dengan kedua tangan.
“Dengarkan aku,” kataku pelan. “Aku tak peduli kau petani atau apa. Aku tak peduli dunia luar, sekte, kekuatan, semua itu.” Aku menatap matanya. “Yang aku pedulikan hanya kau. Hanya ini. Hanya kita.”
Ia menatapku lama.
Lalu tangannya naik, menutup tanganku yang di pipinya.
“Xiao Lu.”
“Ya?”
“Aku mencintaimu.”
Satu kalimat ... sederhana ... terdengar tulus.
Duniaku terasa berhenti.
Aku tak tahu siapa yang bergerak lebih dulu. Yang kutahu, bibirku sudah bertemu bibirnya.
Ciuman pertama itu lembut. Hanya bersentuhan, saling merasakan hangat. Lalu ia menarik sedikit, menatapku, seolah meminta izin. Aku mengangguk, hampir tak terlihat.
Ciuman kedua lebih dalam.
Tangannya merayap ke pinggangku, menarikku lebih dekat. Tanganku melingkar di lehernya, jemariku menyusup ke rambutnya yang masih sedikit basah. Aroma khasnya memenuhi indraku, bumi, hujan, kejujuran, dan aku tenggelam.
Kami berciuman di beranda, di bawah langit senja yang perlahan memerah. Dunia luar lenyap. Hanya ada dia. Hanya aku. Hanya kita.
“Aku mau kita punya anak,” bisiknya di sela ciuman.
Aku tertawa, napas tersengal. “Kau gila.”
“Iya.” Ia mencium sudut bibirku. “Gila karenamu.”
Aku memukul dadanya pelan, tapi ia menangkap tanganku, menciumi buku-buku jariku satu per satu.
“Ling Feng ...”
“Mm?”
“Kau benar-benar pria sempurna.”
Ia berhenti. Menatapku. Lalu tertawa.
“Aku? Sempurna?” Ia menggeleng. “Aku jauh dari sempurna, Xiao Lu. Aku keras kepala. Kadang bodoh. Sering terlalu percaya orang. Dan—”
Kututup mulutnya dengan ciuman.
“Diam,” kataku di antara bibirnya. “Biarkan aku menganggapmu sempurna. Setidaknya untuk hari ini.”
Ia tersenyum di dalam ciuman.
Dan kami berciuman lagi. Lebih lama. Lebih dalam. Sampai langit benar-benar gelap dan bintang-bintang mulai bermunculan.
“Xiao Lu.”
“Mm?”
“Aku janji.”
“Janji apa?”
“Janji akan selalu di sini. Sampai tua. Sampai rambut kita putih semua. Sampai kita tak bisa jalan tanpa tongkat.”
Aku menatapnya.
Di matanya, ada ketulusan yang tak pernah kulihat pada pria mana pun.
“Bohong,” bisikku.
“Jika ingkar, aku rela dipukul pakai sandal.”
Aku tertawa. Tertawa lepas, seperti tak pernah tertawa sebelumnya.
Lalu ia meraihku, memelukku erat.
Dan di pelukannya, dunia terasa aman.
Lalu ...
Xiao Lu.
Suara itu lagi. Tapi berbeda. Lebih jauh. Lebih samar.
Xiao Lu, bangun.
Aku mengerjapkan mata.
Ling Feng masih di depanku, tersenyum. Tapi wajahnya mulai kabur. Pinggirannya buram, seperti gambar yang luntur terkena air.
“Tidak,” bisikku. “Tidak, jangan—”
“Xiao Lu!”
Ling Feng tersenyum sedih. Ia mengangkat tangan, menyentuh pipiku. Hangat. Tapi tangannya mulai transparan.
“Kembalilah,” bisiknya. “Kau mulai menyebalkan.”
“Aku tak mau—”
“Xiao Lu, bangun!”
Aku tersentak.
Mata terbuka.
Di atasku, bukan langit senja, tapi kain tenda yang diterangi cahaya pagi samar. Di sampingku, bukan Ling Feng yang lebih tua dengan senyum hangat, tapi ...
Ling Feng.
Yang sekarang.
Yang lebih muda. Yang lebih kikuk. Yang rambutnya berantakan dan matanya masih setengah tidur karena baru bangun.
“Kau berteriak,” katanya, suara serak. Suara itu, suara yang sama dengan mimpi. Tapi berbeda. Lebih muda. Lebih mentah. “Mimpi buruk?”
Aku menatapnya.
Wajahnya. Matanya. Bibirnya yang sedikit terbuka.
Dan tiba-tiba, aku teringat ciuman itu. Hangatnya. Rasanya.
Aku memalingkan muka, jantung berdebar kencang.
“Bukan mimpi buruk,” gumamku.
“Hah?”
“Tidak apa.” Aku duduk, menarik napas dalam-dalam. “Aku baik-baik saja.”
Ling Feng menatapku ragu. Tapi seperti biasa, ia tak memaksa.
“Baiklah. Aku mau ke sungai dulu.” Ia berdiri, meregangkan tubuh. “Kau mau ikut? Airnya dingin, segar.”
Kau mau ikut?
Kalimat yang sama. Persis seperti di mimpi.
Tapi di sini, ia tak tersenyum hangat seperti di mimpi. Ia hanya Ling Feng—petani kikuk yang tak tahu cara memegang kuda dengan benar, yang rambutnya selalu berantakan, yang matanya terlalu jujur untuk dunia ini.
Bukan pria sempurna dari mimpiku. Tapi, Mengapa hatiku berdebar sama kerasnya?
"Aku ... nanti saja," jawabku.
Ia mengangguk, lalu pergi dengan serigalanya mengikuti.
Aku memandang punggungnya hingga menghilang di balik semak.
Lalu kurebahkan diri lagi, menatap langit-langit tenda.
Mimpi.
Hanya mimpi.
Tapi mengapa rasanya begitu nyata? Mengapa aku masih bisa merasakan bibirnya di bibirku? Mengapa hangat pelukannya masih melekat di kulitku?
Kau gila, Xiao Lu. Benar-benar gila.
Aku memejamkan mata, berusaha mengusir bayangan itu.
Tapi yang muncul justru wajahnya, wajah Ling Feng yang lebih tua, yang tersenyum padaku dengan penuh cinta, yang berkata "Aku mencintaimu" dengan suara yang begitu tulus.
Aku mencintaimu.
Satu kalimat.
Hanya satu kalimat sederhana.
Tapi kata-kata itu kini bergema di dadaku, menolak pergi.
Aku duduk lagi, tak bisa tidur.
Tanganku meraba bibirku sendiri. Masih terasa. Atau mungkin hanya ingatan yang terlalu kuat.
“Xiao Lu, kau benar-benar gila,” bisikku sendiri.
Tapi di sudut hati, ada suara kecil bertanya: Tapi andai itu nyata? Andai suatu hari nanti ...?
Kusuruh suara itu diam.
Atau setidaknya, kubisikkan padanya: Nanti. Jangan sekarang. Aku belum siap.
Tapi saat Ling Feng kembali dari sungai—dengan rambut basah, wajah segar, senyum polos itu—aku tak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya lebih lama.
Dan saat ia tersenyum padaku, tanpa tahu apa yang baru saja kualami dalam mimpi.
Hatiku meleleh.
Sedikit.
Hanya sedikit.
Tapi cukup untuk membuatku sadar. Aku dalam masalah besar.
Malam ... masih sangat panjang.
Aku kembali tidur. Namun, mimpi tak sudi meminjam wajahnya lagi.
***
[PoV Ling Feng]
Aku terbangun oleh dinginnya pagi.
Api sudah mati. Xiao Lu duduk di tempatnya, memandangiku dengan mata yang berbeda. Entah kenapa, tatapannya hari ini terasa ... lebih berat. Seperti ada sesuatu yang berubah semalaman.
“Ada apa?” tanyaku.
Ia menggeleng. Terlalu cepat.
“Tidak ada. Ayo bersiap. Kita harus segera pergi.”
Aku ragu, tapi tak bertanya lebih lanjut. Ada batas antara kami, dan aku belum tahu di mana letaknya.
Tapi saat kami mulai berjalan, meninggalkan lembah itu, aku merasakan sesuatu yang aneh. Xiao Lu berjalan lebih dekat darinya kemarin. Sesekali bahunya hampir menyentuh lenganku. Dan saat jalannya menanjak, tanpa diminta, ia meraih tanganku, membantuku melewati batu-batu licin.
“Xiao Lu?”
“Kau akan jatuh,” katanya datar. Tapi tangannya tak lepas.
Dan di balik rambutnya yang tergerai, kusangka kulihat sesuatu di sudut matanya. Basah. Samar.
Tapi mungkin hanya embun pagi.
Mungkin.
Di kejauhan, di balik bukit timur, asap tipis mulai membubung. Tanda kehidupan. Tanda peradaban. Tanda bahwa kami semakin dekat dengan dunia yang lebih besar.
Tapi di dalam dadaku, ada firasat yang tak bisa kujelaskan.
Perjalanan ini baru dimulai.
Dan rahasia terbesar, tentang diriku, tentang orang tuaku, tentang Xiao Lu, masih menunggu di depan, siap membuka tabirnya satu per satu.
Abu melolong pelan.
Langkah kami terus maju.