Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nanya duluan
Bel istirahat kedua berbunyi.
Suasana sekolah langsung berubah lebih hidup, kursi bergeser, suara tawa memenuhi koridor.
Di kelas X-1, zea masih duduk beberapa detik lebih lama, tangannya memijat pelipisnya pelan.
"Pusing?" tanya chacha, kali ini tanpa nada bercanda.
"Enggak… cuma kayak kepikiran sesuatu, tapi nggak tahu apa." jawab zea pelan.
Angel berdiri. "Ke kantin nggak?"
Zea ragu sebentar, dokter bilang jangan capek, papa juga sudah wanti-wanti.
"Turun bentar aja deh." katanya akhirnya.
Di lantai dua, leo berdiri di depan vending machine, memasukkan uang tapi matanya tampak tidak fokus, digo bersandar di tembok di sampingnya.
"Lo tuh ya." digo menggeleng pelan. "Kalo mau nanya kabarnya, tinggal nanya, nggak usah kayak intel."
Leo menekan tombol minuman terlalu keras, kalengnya jatuh dengan bunyi keras.
"Siapa yang mau nanya?" balasnya datar.
Digo mengangkat alis. "Oke."
Mereka berjalan ke arah tangga.
Dan seperti skenario klise yang sulit dihindari, zea muncul dari bawah bersama chacha dan angel.
Langkah zea melambat sepersekian detik.
Angel langsung sadar ada tensi tipis di udara. "Eh, kak." sapanya santai ke leo.
Leo mengangguk kecil. "Udah masuk?"
Zea menatapnya, dua hari lalu ia bahkan tidak tahu leo memperhatikan kursinya yang kosong atau tidak. Sekarang, pertanyaan sederhana itu terasa… lebih.
"Udah."jawab zea singkat.
Hening.
Digo menyikut lengan leo pelan. "Tanya sekalian."
Leo mendesah pelan. "Demamnya udah turun?"
Zea sedikit terkejut. "Tau dari mana gue demam?"
Leo terdiam sepersekian detik terlalu lama, tatapan zea belum lepas darinya.
Akhirnya leo menjawab singkat, sedikit lebih cepat dari biasanya. "Dari angel."
Zea langsung menoleh ke angel. "Angel?"
Angel mengangkat bahu santai. "Dia nanya terus kemarin."
"Nanya?" ulang zea pelan, jelas tidak menyangka.
Leo berdeham kecil, tangannya yang tadi di saku kini keluar sebentar, lalu masuk lagi, seperti tidak tahu harus diletakkan di mana.
Digo meliriknya dengan senyum tipis yang hampir terbaca tanpa menunggu respon siapa pun, leo langsung berjalan melewati mereka, langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
Digo tertawa kecil sebelum ikut menyusul. "Pelan, woy."
Leo tidak menjawab, namun saat hampir sampai tangga, ia sempat berhenti setengah detik tanpa menoleh, ia berkata singkat.
"Jangan capek."
Lalu turun begitu saja, zea berdiri diam beberapa saat.
"Dia salah tingkah." bisik chacha pelan.
Angel menahan senyum. "Banget."
Zea menatap arah tangga itu, masih mencoba mencerna, suara koridor kembali normal, tapi di kepalanya semuanya terasa sedikit lebih pelan.
"Dia nanya duluan?" tanya zea akhirnya, suaranya rendah.
Angel mengangguk santai. "Iya, tiba-tiba aja, ‘Zea kenapa nggak masuk?’ gitu."
Chacha langsung menyeringai. "Spesifik banget ya namanya."
"Ya masa gue bilang ‘anak X-1 yang duduk dekat jendela'." balas angel cuek.
Zea memalingkan wajah, berusaha terlihat biasa saja. "Ya mungkin cuma nanya doang."
Chacha mendekat sedikit. "Iya, tapi kenapa pas lo tanya balik, dia kabur?"
Zea terdiam, itu juga yang mengganggunya, leo tadi tetap terlihat cuek, jawabannya singkat, ekspresinya datar. Tapi caranya pergi… terlalu cepat, seperti orang yang takut kalau berdiri lebih lama, sesuatu di wajahnya bakal kebaca.
"Udah ah, ke kantin jadi nggak?" tanya angel akhirnya.
Zea mengangguk kecil. "Jadi."
****
Di sisi lain tangga, leo sudah sampai di lantai bawah, digo menyusul di belakangnya.
"Lo tuh ya....kalo mau peduli, sekalian aja." kata digo pelan.
Leo membuka kaleng minumannya, tidak menoleh. " Siapa peduli?"
Digo terkekeh. "Iya, iya."
Leo bersandar sebentar di dinding dekat tangga, pura-pura fokus ke minumannya, tapi pikirannya jelas bukan di situ.
Baru saja leo hendak melangkah ke kantin, dua suara lain terdengar dari arah tangga.
"Woii!"
Sony muncul duluan, dani menyusul di belakangnya, keduanya langsung berhenti di depan leo dan digo.
Dani memperhatikan leo beberapa detik. "Kenapa lo?"
"Biasa aja." jawab leo singkat.
Sony menyipitkan mata. "Abis ketemu siapa?"
Digo langsung nyengir. "Tadi ketemu zea."
"Ohhh…." dani memanjangin nada.
Leo langsung melirik tajam.
Sony menyenggol bahu leo pelan. "Terus?"
"Nggak ada." jawab leo cepat.
Dani tertawa kecil. "Terus....langsung cabut?"
Leo mendecak pelan. "Ribet."
Sony ketawa. "Yang ribet situasi atau lo sendiri?"
Leo nggak jawab, tatapannya tanpa sadar naik ke arah tangga, di atas sana zea baru turun bareng angel dan chacha. Refleksnya terlalu cepat, leo langsung buang muka duluan, digo memperhatikan itu dan cuma senyum tipis.
Zea menatap lantai sambil berjalan ke kantin, hatinya campur aduk, aneh tapi hangat, ia baru sadar, perhatian sekecil itu bisa bikin hati berdebar.
Chacha menyenggol lengannya. "Kenapa lo diem aja?"
Zea tersenyum tipis, menoleh ke chacha dan angel. "Entahlah, cuma….rasanya aneh aja."
Angel menatapnya penuh arti. "Aneh yang enak kan?"
Zea hanya tersenyum, ia tenggelam dalam perasaannya sendiri. Sadar, sejak pertemuan sebentar tadi di tangga, hal kecil yang dilakukan leo sekadar menanyakan demamnya bisa membuat hatinya campur aduk.
****
Bel pulang akhirnya berbunyi.
Suara riuh kembali memenuhi sekolah, kursi ditarik, tas disandang, dan langkah kaki berderap menuju gerbang.
Di kelas X-1, zea menutup bukunya pelan, ia tidak banyak bicara sejak istirahat tadi, entah kenapa, suasana hatinya masih terasa berbeda.
"Langsung pulang, kan?" tanya chacha sambil berdiri.
"Iya." jawab zea singkat.
Angel menatapnya sekilas. "Capek?"
"Enggak kok, cuma pengen cepet nyampe rumah aja." zea tersenyum kecil.
Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor yang mulai lengang. Sinar matahari sore masuk lewat jendela, memantul hangat di lantai.
Saat sampai di dekat parkiran sekolah, zea memperlambat langkahnya. Disana, tepat beberapa meter dari parkiran, leo berdiri bersama digo, sony, dan dani. Mereka tampak sedang bercanda ringan, tas sudah tersampir di bahu.
Chacha langsung sadar. "Kak leo ze."
Angel melirik ke arah yang sama, lalu kembali menatap zea, namun zea berusaha terlihat biasa saja tangannya sedikit mengerat di tali tasnya.
Digo yang pertama menyadari mereka, sikutnya pelan menyenggol leo.
Leo menoleh, dan untuk sepersekian detik tatapan mereka bertemu namun hanya sebentar, zea yang pertama mengalihkan pandangan, ia tidak menyapa, tidak berhenti, tidak melambat lagi, ia hanya berjalan lurus melewati mereka, chacha dan angel mengikuti di kanan-kirinya.
Saat zea sudah hampir melewati mereka, tanpa sadar tatapannya mengikuti langkah gadis itu.
Zea merasakannya, ia tidak menoleh, tidak berbicara tapi jantungnya kembali berdetak sedikit lebih cepat. Angin sore meniup pelan rambutnya saat mereka sampai didepan gerbang sekolah.
Di belakang mereka, leo masih berdiri di tempatnya.
Sony meliriknya. "Gua perhatiin, sejak dari kantin waktu itu, zea kayak ngehindar dari lo le."
"Lo benar." jawab digo.
"Kenapa?" tanya dani.
"Nggak tau." kata digo sambil mengangkat bahunya.
"Mungkin dia capek ngejar manusia es kayak leo." ujar sony.
Leo menatap tajam ke arah sony.
"Hehehe, sorry nih baru prediksi gua aja."
"Kenapa nggak lo tanyain aja tadi." ujar dani.
Leo memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Ngapain?"
Sony terkekeh. "Ya tanya, kenapa dia ngehindarin lo."
"Nggak perduli gua." leo berdecak pelan.
Tapi matanya masih sempat mengikuti bayangan zea yang sudah menjauh dari parkiran sekolah.
Digo tersenyum tipis. "Iya nggak peduli, kok diliatin terus."
Leo beralih manatap digo dengan tajam.
Bersambung