NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Buatkan Minum

Di jalan raya yang mulai lengang, mobil Dirga melaju lebih cepat dari biasanya. Tangannya mencengkeram setir dengan kuat.

Lampu-lampu kota berpendar samar di kaca depan, tapi pikirannya jauh lebih bising dari suara mesin mobil. Sebagai seorang suami, dia merasa, tidak lagi menjadi prioritas.

Celine selalu sibuk dengan agenda meeting, membuat proposal, target kerja sama, dan kegiatan lainnya.

Setiap kali Dirga mencoba mendekat, selalu ada alasan, lelah, dan banyak kerjaan.

Dirga mengembuskan napas kasar. Sudah dua bulan mereka tidak benar-benar menjadi suami istri, meski tinggal di bawah satu atap yang sama. Bukan hanya soal kebutuhan fisik, tapi juga soal kedekatan.

Dirga memukul setir pelan dengan telapak tangannya.

“Kenapa jadi begini?” gumamnya.

Namun rasa kecewa yang menumpuk membuat pikirannya tak lagi jernih.

Napasnya masih berat. Dadanya sesak oleh campuran kecewa, marah, dan rasa kosong yang tak bisa dijelaskan. Tiba-tiba, tanpa benar-benar berpikir panjang, dia membelokkan setir.

Mobil berhenti di depan sebuah club malam yang sudah mulai ramai. Lampu neon berpendar, musik berdentum samar terdengar bahkan dari luar.

Dirga menatap papan nama itu beberapa detik. Dia jarang ke tempat seperti ini, karena Dirga tipe laki-laki dengan gaya hidup sehat. Jadi, dunia malam sebenarnya bukan tipenya. Namun malam ini dia tak ingin pulang.

Dirga keluar dari mobil, menyerahkan kunci pada valet, lalu melangkah masuk.

Suasana di dalam kontras dengan rumahnya yang sunyi. Lampu temaram, musik keras, orang-orang tertawa, berdansa, dan minum tanpa beban.

Dirga menuju bar dan duduk.

“Whiskey,” ucapnya singkat.

Gelas pertama datang. Dia meneguknya perlahan. Hangatnya alkohol menjalar di tenggorokan. Namun tidak menghangatkan hatinya.

Dia menatap kosong ke arah lantai dansa. Pikirannya tetap kembali pada satu hal, rumah.

Dirga menutup mata sejenak, merasa marah, kehilangan sesuatu yang bahkan belum tentu benar-benar hilang.

Musik semakin keras. Seorang wanita sempat mendekat, tersenyum, mencoba membuka percakapan. Dirga hanya membalas dengan sopan, tapi dingin. Malam ini bukan tentang mencari orang lain, malam ini hanya tentang melarikan diri, dari rasa tidak dianggap.

Dirga memesan satu gelas lagi, seolah ingin membiarkan dirinya tenggelam dalam kebisingan, berharap pikirannya ikut membisu.

Beberapa wanita silih berganti mendekat. Gaun-gaun ketat, tawa dibuat-buat, sentuhan ringan di lengan yang seolah tak sengaja.

“Sendirian aja, Mas?” salah satu dari mereka berbisik manja.

Dirga hanya menoleh sekilas. Tatapannya turun dari wajah wanita itu ke pakaian minim yang dikenakannya, lalu kembali naik tanpa ekspresi. Dirga berdecak pelan. Bukan tertarik, bukan juga tergoda, tapi enggan.

Wanita itu mencoba lagi, menyentuh bahunya. Dirga menggeser tangannya perlahan.

“Maaf,” ucapnya singkat.

Nada suaranya dingin, seolah tak ingin memberi celah. Beberapa menit kemudian, dia berdiri dari kursinya.

Gelas di depannya sudah kosong. Kepalanya sedikit ringan karena alkohol, tapi pikirannya justru semakin jelas, ini bukan tempatnya.

Dirga merogoh dompet, membayar minumannya, lalu melangkah keluar dari club. Udara malam menyambutnya lebih segar dibandingkan hawa pengap di dalam.

Dia menarik napas panjang. Meski ada pengaruh alkohol, kesadarannya masih cukup utuh. Dirga kemudian memutuskan pulang. Mobilnya kembali melaju di jalanan kota yang mulai lengang.

Lampu-lampu jalan berderet seperti garis tak berujung. Hujan mulai turun, awalnya rintik tipis. Lalu semakin deras, memburamkan kaca depan mobil.

Dirga menyalakan wiper dengan gerakan sedikit tergesa. Kepalanya terasa hangat, pandangannya tak setajam biasanya.

Alkohol memang tidak membuatnya mabuk berat, tapi cukup untuk memperlambat refleks. Dia menarik napas panjang, mencoba fokus. Namun pikirannya tetap riuh.

Di saat itulah, klakson keras tiba-tiba membelah hujan.

TINNNN!

Dirga tersentak. Sebuah mobil dari arah samping hampir saja menyerempetnya karena dia terlambat mengerem di persimpangan.

Refleksnya bekerja sepersekian detik terakhir. Dirga membanting setir sedikit dan menginjak rem dalam.

Ban berdecit di aspal basah. Mobilnya berhenti nyaris menyentuh kendaraan di depannya. Jantungnya berdetak keras.

Mobil lain itu melaju pergi sambil membunyikan klakson panjang. Dirga terdiam beberapa detik, napasnya memburu.

Hujan menghantam kaca lebih deras. Tangannya masih mencengkeram setir. Baru saja, dia hampir membuat kesalahan fatal.

Dirga mengusap wajahnya kasar.

“Bodoh!" sentaknya pada diri sendiri.

Dirga sadar, saat ini, bukan saatnya untuk emosi. Dia bisa saja celaka. Atau mencelakai orang lain.

Dirga menyandarkan kepalanya sebentar ke sandaran kursi, menenangkan diri. Lalu dia kembali menyalakan mesin yang sempat mati karena pengereman mendadak. Mobil pun mulai melaju, dan kali ini, Dirga lebih hati-hati.

***

Jam dinding di kamar Amira menunjukkan pukul 23.30.

Rumah sudah lama sunyi. Hujan masih turun, meski tak sederas tadi.

Amira belum juga tidur. Tablet kecil pemberian Celine masih tergeletak di atas nakas. Sejak tadi dia hanya menatap benda itu berulang kali.

Tiba-tiba, suara mesin mobil memasuki halaman. Amira tersentak, jantungnya langsung berdegup kencang.

Dirga pulang, sontak Amira berdiri dari ranjang tanpa sadar, berjalan pelan ke arah jendela, mengintip sedikit dari balik tirai.

Beberapa detik kemudian, mesin dimatikan. Pintu mobil terbuka. Dirga turun, lalu langkah kaki terdengar di teras. Amira menggenggam tablet itu tanpa sadar.

Beberapa saat kemudian, dia akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar. Langkahnya pelan menyusuri lorong yang remang.

Begitu sampai di ruang tengah, Amira melihat Dirga duduk di sofa. Penampilannya berantakan, kemejanya kusut dan basah, mungkin terkena hujan. Rambutnya sedikit acak, beberapa helai menempel di keningnya yang lembap. Rasa iba seketika menyeruak di dalam dada Amira.

"Kasihan sekali Pak Dirga," gumamnya lirih.

Sementara Dirga, kini duduk sembari membungkuk, sikunya bertumpu di lutut, sedangkan satu tangan memijat pelipisnya. Lampu ruang tengah yang redup membuat bayangan wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.

“Pak …?” panggil Amira pada akhirnya. Dirga mengangkat kepala perlahan. Tatapannya sedikit berat, tapi masih sadar.

“Amira? Kamu belum tidur?”

Amira melangkah mendekat.

“Belum, Bapak kehujanan?” tanyanya hati-hati.

Dirga tersenyum miring. “Sedikit.”

Aroma alkohol samar tercium saat Amira berdiri lebih dekat. Dia melihat kemeja Dirga benar-benar basah di bagian bahu dan dada.

“Bapak sebaiknya ganti baju dulu. Nanti masuk angin.”

Dirga menatapnya beberapa detik, seolah baru benar-benar menyadari keberadaannya di situ.

“Kamu kenapa belum tidur?”

Amira menggeleng pelan. “Belum ngantuk.”

Hening sesaat, hujan masih terdengar di luar. Dirga bersandar ke sofa, menatap langit-langit.

“Kamu lagi bantuin Celine?"

"Nggak, Pak."

Dirga kembali menatapnya.

“Apa Celine udah tidur?”

Amira menelan ludah.

“Bu Celine, tadi ke hotel. Katanya ada meeting pagi.”

Tatapan Dirga berubah. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan melintas di matanya saat mendengar penuturan Amira.

Amira menatap Dirga dalam diam, dada laki-laki itu, naik turun tidak teratur, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.

Otak Dirga terasa makin riuh, dia pikir, keadaan rumah jauh lebih baik setengah dirinya pergi. Dirga pikir, Celine merasa menyesal, karena dia marah. Setidaknya, Celine bisa lebih peduli.

Apalagi, sebagai seorang suami, Dirga tak pernah menuntut berlebihan, setidaknya begitu menurutnya. Namun yang dia dapat, selalu saja kekecewaan.

Malam ini, alih-alih menyelesaikan pertengkaran, Celine justru memilih pergi ke hotel. Meninggalkannya sendirian di rumah yang terasa semakin luas dan dingin.

Seolah kehadirannya tidak lagi penting.

Seolah keberadaannya bisa digantikan jadwal meeting dan file pekerjaan.

Dirga tertawa kecil, tawa yang hambar.

“Aku ini apa sebenarnya?" gumamnya lirih.

Dia menatap langit-langit, mencoba menahan sesuatu yang terasa sesak di dada.

Dirga mengepalkan tangannya. Dia merasa bukan sekadar tidak diprioritaskan, tapi tidak dibutuhkan, dan perasaan itu, jauh lebih menyakitkan daripada amarah.

“Pak, saya buatkan minuman hangat ya?” tanya Amira dengan nada berhati-hati.

Dirga yang masih bersandar di sofa, tersentak, menoleh sebentar lalu mengangguk, tanpa berkata sepatah kata pun.

“Iya, boleh.”

Suaranya terdengar lirih, tapi penuh penekanan, seperti sedang menahan amarah.

Amira pun segera menuju dapur. Tangannya bergerak otomatis, merebus air, memotong lemon, menuangkan teh ke dalam cangkir. Hingga aroma lemon hangat perlahan memenuhi dapur.

Seteleh itu, Almira melihat ke bawah, tablet kecil itu kini berada di telapak tangannya. Dia mengeluarkannya perlahan dari saku.

“Ini vitamin khusus buat Dirga. Campurkan ke minuman ya."

Suara Celine kembali terngiang di kepalanya. Amira menatap cangkir teh lemon yang masih mengepul, tangannya sedikit gemetar.

"Masukkin nggak ya? Tapi kenapa perasaanku jadi nggak enak gini?"

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!