NovelToon NovelToon
SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Trauma masa lalu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.

Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FRAGMEN YANG TERTINGGAL DI ASIA AFRIKA

Di sisi lain kota, di dalam kamar kosannya yang sempit namun tertata rapi, Arunika duduk bersandar di tempat tidur dengan laptop yang menyala di pangkuannya. Cahaya putih dari layar memantul di kacamatanya, kontras dengan remang lampu kamar yang sengaja ia redupkan.

Jemarinya bergerak cepat, mengetikkan kata demi kata di mesin pencari.

"Kecelakaan Jalan Braga 3 tahun lalu" "Korban kecelakaan halte bus Braga" "Orang hilang Bandung 2023"

Halaman demi halaman ia telusuri. Berita tentang perampokan, kebakaran gudang, hingga berita ringan tentang festival budaya di Braga muncul satu per satu. Namun, tidak ada satu pun berita yang menyebutkan tentang seorang laki-laki yang tewas atau hilang di halte bus tiga tahun lalu secara spesifik.

Arunika menggigit bibir bawahnya, rasa penasaran yang bercampur dengan kecemasan mulai menggerogoti logikanya. Ia mencoba kata kunci yang lebih spesifik.

"Kematian laki-laki di Jalan Braga" "Tabrak lari halte Braga"

Hasilnya nihil. Memang ada beberapa berita kecelakaan kecil, tapi profil korbannya tidak ada yang cocok dengan sosok laki-laki yang tadi duduk di sampingnya. Tidak ada laki-laki muda dengan tatapan kabur bernama Senja.

Arunika menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, mengembuskan napas panjang hingga poni rambutnya terangkat. Ia menatap langit-langit kamarnya yang putih polos.

“Apa namanya bukan Senja?” pikir Arunika.

Pikiran itu menghantamnya dengan keras. Bagaimana jika 'Senja' hanyalah sebuah kata yang ia ingat karena ia selalu muncul saat matahari terbenam? Bagaimana jika itu bukan nama aslinya, melainkan hanya fragmen identitas yang ia ciptakan sendiri untuk mengisi kekosongan memorinya?

Arunika kembali menatap layar laptopnya. Ia mencoba mengetikkan inisial yang ia temukan di meja kafe tadi.

"S dan A Braga" "Inisial S A meja kafe Bandung"

Tetap tidak ada apa-apa. Dunia digital yang biasanya tahu segalanya seolah-olah tutup mulut tentang keberadaan laki-laki itu. Seolah-olah 'Senja' benar-benar tidak pernah tercatat dalam sejarah dunia manusia.

“Kalau dia nggak ada di berita, berarti dia nggak mati di sana?” gumam Arunika pada diri sendiri.

Pikirannya mulai berkelana ke kemungkinan-kemungkinan yang lebih liar. Jika tidak ada berita kematian, apakah mungkin Senja adalah seseorang yang sedang koma? Seseorang yang jiwanya sedang berkelana karena raga aslinya sedang terbaring di suatu tempat di rumah sakit?

“Tapi kenapa dia bilang ada janji yang tidak terpenuhi?”

Arunika teringat raut wajah Senja di halte tadi. Rasa sesak yang ia gambarkan terasa sangat jujur. Itu bukan rasa sakit yang dibuat-buat. Itu adalah penderitaan dari seseorang yang merasa bersalah pada waktu.

Ia mencoba mencari daftar pasien koma atau orang hilang dengan ciri-ciri fisik Senja: tinggi, rambut sedikit berantakan, mata yang indah namun redup, dan suara yang rendah. Namun, mencari seseorang tanpa nama asli di kota sebesar Bandung seperti mencari sebutir pasir di tengah gurun.

“Dia bilang dia merasa pernah ke sana,” bisik Arunika sambil menutup laptopnya pelan. “Dia merasa ada janji yang belum terpenuhi.”

Arunika mematikan lampu kamarnya, namun matanya tetap terjaga di dalam kegelapan. Ia menyadari satu hal: mencari tahu tentang Senja lewat dunia maya adalah jalan buntu. Senja bukan sekadar data atau berita. Senja adalah emosi yang tertinggal.

“Kalau namanya bukan Senja, aku harus cari tahu siapa dia sebenarnya lewat 'A' itu,” pikirnya lagi.

Siapa pun 'A' ini, dia adalah kunci. Dialah alasan Senja mengukir meja. Dialah alasan Senja menunggu di halte. Dan dialah alasan kenapa Senja merasa 'gagal'.

Arunika memejamkan mata, membayangkan wajah Senja yang diterangi lampu halte yang berkedip. Ada sesuatu yang sangat akrab di wajah itu, sesuatu yang membuat Arunika merasa bahwa pencariannya ini bukan hanya tentang menolong orang asing, tapi juga tentang menjawab pertanyaan di dalam dirinya sendiri.

“Kenapa aku satu-satunya yang bisa melihatmu, Senja? Atau siapa pun namamu...”

Di luar, suara gerimis mulai terdengar mengetuk jendela kosannya. Di tempat lain, di sebuah halte yang sunyi, ia tahu ada seorang laki-laki yang sedang menunggu tanpa bayangan. Dan Arunika berjanji dalam hati, besok ia tidak akan hanya datang dengan tangan kosong. Ia akan membawa jawaban, meski ia harus menggali sejarah Braga yang paling dalam sekalipun.

Pagi itu, Braga menampilkan wajah yang berbeda. Sisa hujan semalam meninggalkan aroma aspal basah yang khas, bercampur dengan wangi roti panggang dari toko-toko tua yang mulai membuka jendela. Arunika datang dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia mengenakan kerudung pashmina instan berwarna krem yang dibalut simpel—khas gaya anak muda masa kini—dipadukan dengan kemeja oversize dan celana kulot yang membuatnya tampak kasual namun rapi.

Tas selempangnya menepuk-nepuk pinggangnya seiring langkah kakinya yang terburu-buru. Matanya yang dibingkai kacamata tipis langsung menyapu halte bus, tempat terakhir ia meninggalkan laki-laki itu semalam.

Kosong.

Hanya ada seorang bapak tua yang sedang menunggu angkot dan beberapa pelajar yang asyik dengan ponsel mereka. Arunika mengerutkan kening. Ia beralih menuju kafe yang menjadi titik awal pertemuan mereka. Ia mendorong pintu kaca—ting!—dan matanya langsung tertuju pada meja nomor sembilan.

Lagi-lagi, kosong.

Arunika berdiri mematung di ambang pintu, membuat pelanggan di belakangnya harus bergeser. Ia mencari ke setiap sudut kafe, berharap melihat sosok laki-laki dengan tatapan kabur itu sedang duduk termenung atau sekadar memperhatikan lampu gantung. Namun, Senja benar-benar tidak ada di sana.

Rasa cemas yang semalam ia tekan di kamar kos, kini mencuat kembali dengan lebih hebat. Ia keluar lagi dari kafe, berjalan mondar-mandir di trotoar Braga. Ia mengecek bangku taman tempat pertama kali ia melihat laki-laki itu. Tidak ada. Ia mengecek sudut bangunan dekat museum. Nihil.

"Senja?" bisiknya pelan, seolah angin bisa menyampaikan panggilannya.

Ia mulai merasa konyol. Bagaimana mungkin ia mencari seseorang yang keberadaannya saja tidak diakui dunia? Bagaimana jika semalam adalah titik terakhir Senja bisa bertahan di dunia ini? Atau bagaimana jika, seperti dugaannya semalam, nama itu memang salah, sehingga panggilannya tidak pernah sampai?

"Apa aku telat?" gumamnya sambil menatap jam di pergelangan tangannya. "Atau... apa dia sudah benar-benar hilang karena aku meninggalkannya semalam?"

Arunika menyandarkan tubuhnya di tembok bangunan tua, napasnya sedikit memburu. Ia memandang orang-orang yang berlalu-lalang dengan wajah tanpa beban. Mereka semua tampak begitu nyata, memiliki bayangan, memiliki tujuan, dan memiliki identitas yang jelas. Berbeda dengan Senja yang seperti garis tipis di antara ada dan tiada.

Arunika tidak mau menyerah. Jika Senja tidak bisa ditemukan dengan mata, maka ia harus menemukannya lewat sejarah. Ia kembali masuk ke dalam kafe. Kali ini, ia tidak menuju meja nomor sembilan, melainkan langsung menghampiri meja barista.

"Permisi, Mas," sapa Arunika pada pelayan yang kemarin memberinya korek api kayu.

Pelayan itu menoleh, tersenyum ramah namun tampak sedikit heran melihat Arunika yang terlihat gelisah. "Iya, Kak? Mau pesan kopi hitam lagi seperti semalam?"

Arunika menggeleng cepat. "Nggak, Mas. Saya mau tanya... soal laki-laki yang Mas ceritakan kemarin. Yang suka duduk di meja nomor sembilan tiga tahun lalu."

Pelayan itu terdiam sebentar, lalu meletakkan kain lapnya. "Oh, laki-laki yang mengukir meja itu?"

"Iya. Mas tahu namanya? Atau mungkin Mas tahu di mana dia tinggal dulu? Apa Mas pernah dengar orang-orang memanggilnya dengan nama selain... Senja?"

Pelayan itu mengerutkan kening, mencoba menggali ingatan yang sudah tertutup debu waktu selama tiga tahun. "Kalau namanya... sejujurnya saya nggak pernah dengar dia menyebutkan nama. Kami di sini cuma memanggilnya 'Mas Meja Sembilan' karena saking seringnya dia di sana. Tapi..."

Pelayan itu menggantung kalimatnya, membuat Arunika mencondongkan tubuh lebih dekat.

"Tapi apa, Mas?"

"Tapi seingat saya, dia pernah meninggalkan sebuah buku sketsa kecil yang tertinggal di laci meja itu dulu. Karena nggak ada yang ambil, kayaknya disimpan sama manajer saya di gudang belakang. Kakak mau saya tanyakan?"

Jantung Arunika berdegup kencang. "Tolong, Mas. Tolong tanyakan. Itu penting banget buat saya."

Gemini said

Langkah Arunika terhenti tepat sebelum jemari pelayan kafe itu menyentuh pintu gudang. Di tengah hiruk-pikuk suara mesin kopi dan obrolan pelanggan yang baru datang, matanya menangkap sebuah siluet yang seolah-olah terbuat dari butiran cahaya di ambang pintu masuk.

Senja berdiri di sana. Tubuhnya tampak sedikit lebih goyah dibanding semalam, namun matanya yang indah menatap Arunika dengan binar yang mendesak.

Tanpa memedulikan pelayan kafe yang masih menunggu atau orang-orang yang mungkin akan menganggapnya gila, Arunika berbalik arah. Ia berlari. Kakinya yang mengenakan sepatu kanvas putih melangkah lebar, menembus ruang di antara meja-meja kayu, mengabaikan kerudung kremnya yang sedikit tersingkap karena gerakannya yang tiba-tiba.

"Senja!" serunya, suaranya hampir menabrak kaca kafe.

Ia berhenti tepat di depan laki-laki itu. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa lega yang luar biasa meledak di dalam dirinya—rasa lega yang sama sekali tidak masuk akal untuk seseorang yang baru ia kenal selama dua malam.

Senja menatapnya, ada gurat kelelahan yang nyata di wajahnya, namun ada juga antusiasme yang aneh.

"Aku tadi jalan-jalan ke Asia Afrika," ucap Senja tiba-tiba, suaranya terdengar seperti bisikan angin yang terburu-buru. Ia menunjuk ke arah jalan raya yang membelah pusat kota itu. "Seperti ada keinginan untuk berjalan dengan seseorang di sana... tapi aku tidak tahu kenapa."

Arunika mencoba menenangkan detak jantungnya. Ia menatap Senja dengan saksama. Laki-laki itu tampak seperti seseorang yang baru saja pulang dari perjalanan ribuan mil, padahal Jalan Asia Afrika hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat mereka berdiri.

"Asia Afrika?" ulang Arunika parau. "Kamu ke sana sendirian?"

Senja mengangguk perlahan. "Tadi subuh, saat langit masih berwarna ungu, aku merasa kakiku ditarik ke sana. Aku berjalan di bawah deretan tiang lampu yang bergaya kuno itu. Aku melihat bangku-bangku kosong di sepanjang trotoar. Dan di setiap langkah, rasanya ada tangan yang seharusnya kugenggam."

Ia menatap telapak tangannya sendiri yang terbuka, seolah-olah ia sedang mencari bekas jemari seseorang yang pernah mengisi kekosongan di sana.

"Rasanya aku pernah tertawa di sana," lanjut Senja, suaranya merendah. "Tapi saat aku mencoba menoleh untuk melihat siapa yang ada di sampingku, kursinya kosong. Hanya ada aku. Selalu hanya ada aku."

Arunika terdiam. Ia bisa merasakan kesedihan Senja yang begitu nyata hingga memenuhi udara di sekitar mereka. Ia teringat riset nihilnya semalam. Nama yang mungkin bukan nama, dan sejarah yang tidak mencatat kematian laki-laki ini.

"Mungkin itu bagian dari janji yang kamu maksud semalam," bisik Arunika. "Janji untuk berjalan bersama di Asia Afrika."

Di belakang mereka, beberapa pelanggan kafe mulai berbisik-bisik. Mereka melihat seorang gadis muda dengan kerudung yang rapi sedang berdiri menghadap pintu kosong, berbicara dengan penuh perasaan pada udara hampa. Pelayan yang tadi hendak ke gudang pun tertegun di depan kasir, menatap Arunika dengan tatapan kasihan.

Arunika menyadari itu. Ia tahu ia sedang menjadi pusat perhatian yang memalukan. Namun, ia teringat prinsip yang ia tanamkan pada Senja: "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin."

Arunika tidak peduli. Ia justru melangkah satu sentimeter lebih dekat ke arah Senja, memperkecil jarak antara dunia manusia dan dunia bayangan.

"Aku akan temani kamu ke sana," ucap Arunika mantap. "Nanti, atau sekarang juga kalau kamu mau. Kalau memori kamu bilang ada seseorang yang seharusnya jalan sama kamu di Asia Afrika, maka hari ini orang itu adalah aku."

Senja mendongak, matanya bertemu dengan mata Arunika. "Tapi kamu harus bekerja, kan? Kamu punya hidup yang harus kamu jalani, Arunika. Jangan biarkan orang yang 'tidak ada' ini mengacaukan harimu."

Arunika tersenyum kecil, sebuah senyum yang lebih berani dari sebelumnya. "Hidupku yang 'normal' itu membosankan, Senja. Penuh dengan angka dan laporan yang orang-orangnya pun tidak benar-benar menganggap aku hidup. Justru di sini, bareng kamu, aku ngerasa lebih bermakna."

Senja tampak ragu sejenak, namun ia mengulurkan tangannya ke arah Arunika. Ia tidak menyentuhnya, hanya membiarkan tangannya menggantung di udara, memberikan pilihan bagi Arunika untuk menyambutnya.

"Aku merasa... kalau aku ke sana lagi bersamamu, kabut di kepalaku mungkin akan sedikit menipis," ucap Senja. "Tadi aku melihat sebuah gedung besar dengan pilar-pilar putih. Di depannya ada tulisan besar tentang konferensi. Di sana, rasa sesaknya paling kuat."

"Gedung Merdeka," gumam Arunika.

Ia menyadari sesuatu. Jika Senja merasa ditarik ke Asia Afrika, itu berarti memorinya bukan hanya tentang perpisahan di halte, tapi tentang perjalanan menuju ke sana. Mungkin halte bus itu adalah titik di mana janji itu seharusnya dimulai, atau justru tempat segalanya berakhir sebelum mereka sampai ke gedung itu.

"Tunggu sebentar," kata Arunika. Ia teringat kembali soal buku sketsa yang disebutkan pelayan tadi. "Ada sesuatu yang tertinggal di sini. Milik seseorang yang duduk di meja nomor sembilan tiga tahun lalu. Kamu mau lihat?"

Senja menoleh ke arah meja nomor sembilan. Ia menatap ukiran S & A itu dari kejauhan. "Buku?"

"Iya. Pelayan bilang ada buku sketsa."

Arunika kembali menghampiri pelayan kafe itu. "Mas, boleh saya lihat buku sketsanya sekarang? Teman saya... saya butuh buku itu."

Pelayan itu menatap Arunika dengan cemas, lalu menatap kursi kosong di samping Arunika. "Kak... Kakak benar-benar nggak apa-apa?"

Arunika hanya mengangguk tegas. "Tolong, Mas."

Saat pelayan itu masuk ke gudang, Arunika kembali pada Senja. Mereka berdiri di antara masa lalu dan masa kini. Di luar, Jalan Braga mulai bising, namun di dalam diri mereka, ada sebuah keheningan yang menanti untuk diisi oleh suara-suara dari masa tiga tahun yang lalu.

"Kalau 'A' itu benar-benar bukan aku," bisik Arunika pada Senja saat mereka menunggu, "aku harap buku itu bisa kasih tahu kita ke mana dia pergi. Supaya kamu nggak perlu jalan di Asia Afrika sendirian lagi."

Senja hanya menatap pintu gudang itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia merasa seolah-olah rahasia besar akan segera terkuak, dan ia tidak yakin apakah jiwanya yang rapuh sanggup menanggung kebenaran yang tersembunyi di balik lembaran kertas itu.

1
Ira Indrayani
/Rose//Heart/
Dinaneka
Ceritanya bagus..
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya kak dina, siap meluncur
total 1 replies
Ros Ani
mampir lagi Thor karya barumu,semangat berkarya & sukses 💪
Dinna Wullan: terimakasih kak semoga suka, itunggu kritik dan sarannya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!