💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — LATIHAN DI DEPAN UMUM
Jam 11.47.
Alinea sudah duduk manis di restoran yang interiornya teriak "lo miskin" ke mukanya.
Lampunya temaram elegan—tipe lampu yang bikin muka kelihatan mahal tapi bikin menu susah dibaca.
Sendoknya berat banget, mungkin kalau jatuh ke kaki bisa bikin memar, dan air putihnya? Rasanya jernih banget, kayak nggak pernah punya dosa atau tunggakan paylater. Kayaknya air ini punya status sosial yang lebih tinggi dibanding gelar sarjana Alinea.
Secara visual, dia kelihatan tenang dan berkelas. Tapi di balik taplak meja yang kainnya halus itu, kakinya goyang-goyang gelisah kayak lagi ngetik kode morse.
"Jangan norak, Ne. Jangan norak," bisiknya dalam hati, sambil berusaha keras nggak melotot pas liat harga es teh manis yang setara jatah makan warteg tiga hari.
"Santai, Al. Ini cuma makan siang. Bukan sidang skripsi. Bukan lamaran. Cuma pura-pura pacaran sama CEO. Normal."
Normal apanya.
Normal itu makan mi instan di depan laptop sambil pakai daster yang bolong di ketiak. Normal itu debat sama abang ojol gara-gara titik jemput beda sepuluh meter. Pura-pura jadi pacar pria yang jam tangannya bisa buat beli satu unit rumah subsidi itu jelas-jelas masuk kategori gangguan jiwa ringan.
Alinea menyesap air mineral 'kasta tinggi' di depannya dengan gerakan yang diatur supaya nggak kelihatan gemetar,berusaha nggak chugging alias neguk brutal karena haus saraf. Dia melirik pintu masuk. Setiap kali pintu terbuka dan udara dingin AC berpapasan dengan aroma parfum mahal, jantungnya serasa mau melompat keluar dari tenggorokan.
Dia meraba tas tangannya—mencari ponsel cuma buat memastikan riasan wajahnya nggak luntur karena keringat dingin. Please, jangan sampai ada sisa cabai di gigi atau maskara yang luntur pas si Bos datang. Kalau sampai skenario ini gagal, dia nggak cuma kehilangan harga diri, tapi mungkin kehilangan kewarasan juga.
Dia ngecek HP lagi.
MR. ROBOT (FREEZER MODE):
Parkir 2 menit lagi.
Singkat. Datar. Seperti biasa.
Alinea mengembuskan napas pelan, mencoba membuang karbondioksida sekaligus rasa gugup yang nyangkut di paru-paru.
Dari pintu kaca, dia lihat Arsenio masuk.
Laki-laki itu jalan seolah dia yang punya aspal di luar sana. Kemeja abu-abu gelapnya membungkus bahu dengan pas—tipe potongan kain yang bikin Alinea sadar kalau "harga nggak pernah bohong." Lengannya digulung asal sampai sikut, memamerkan lengan bawah yang... oke, Alinea harus fokus. Jam tangan hitam di pergelangan kirinya berkilat kena lampu temaram, menambah kesan kalau tiap detik waktu Arsenio itu ada nominal rupiahnya.
Rambutnya rapi, tapi bukan gaya klimis kaku pengusaha lama. Sedikit santai, seolah dia baru aja menyisirnya pakai jari sambil jalan.
Tetap kelihatan mahal. Tetap kelihatan nggak tersentuh masalah hidup.
Melihat Arsenio, Alinea merasa masalah hidupnya—mulai dari cicilan motor sampai sisa saldo ATM yang digitnya nggak sopan—mendadak lari sembunyi karena minder. Arsenio nggak kelihatan kayak orang yang pernah ngerasain paniknya nyari promo gratis ongkir.
Saat mata Arsenio mulai menyapu ruangan mencari sosoknya, Alinea mendadak lupa cara duduk yang natural. Duh, tadi gue harusnya gimana? Pegang gelas atau pegang handphone? Atau pura-pura pingsan aja sekarang?
Beberapa kepala otomatis menoleh.
Alinea refleks nyengir tipis.
Oke. Visualnya memang tidak aman buat kesehatan mental.
Arsenio berjalan ke arahnya. Tatapannya langsung nemu Alinea tanpa perlu nyari.
“Sudah lama?” tanyanya.
“Baru lima menit,” jawab Alinea.
Bohong. Dia datang dua puluh menit lebih awal karena gugup.
Arsenio duduk di seberangnya.
Pelayan datang. Arsenio pesan tanpa lihat menu.
Alinea pura-pura ngerti isi menu padahal setengah istilahnya bikin dia mikir itu bahasa planet lain.
Begitu pelayan pergi, hening turun.
Alinea yang buka suara duluan.
“Jadi… ini latihan level apa?”
“Level observasi,” jawab Arsenio.
“Observasi apaan?”
“Kamu terlihat tegang.”
Alinea mendengus. “Ya iyalah. Ini restoran fancy. Sendoknya aja lebih berat dari harga diri gue.”
Arsenio menatapnya beberapa detik. Lalu—hal kecil tapi bikin Alinea bengong—
Dia geser gelas air ke arah Alinea.
“Minum.”
Nada suaranya nggak memerintah. Lebih kayak… perhatian yang ditahan.
Alinea berhenti bercanda sebentar.
Dia minum.
“Terima kasih,” gumamnya pelan.
Arsenio mengangguk tipis.
Sepuluh menit pertama masih aman.
Mereka ngobrol ringan—kerjaan, timeline proyek, hal random.
Tapi begitu makanan datang, Arsenio tiba-tiba berdiri.
Alinea otomatis ikut berdiri.
“Kenapa?”
“Pindah.”
“Kenapa pindah?”
“Karena kamu duduk terlalu jauh.”
Alinea melotot. “Hah?”
Arsenio menunjuk kursi di sebelahnya.
“Kalau ibu saya kebetulan punya kenalan di sini, atau ada yang memotret, jarak ini tidak meyakinkan.”
Oke. Masuk akal.
Tapi tetap aja.
Alinea pindah duduk di sebelahnya.
Dan begitu dia duduk…
Bahu mereka bersentuhan.
Tipis.
Nggak sengaja.
Tapi cukup.
Tubuh Alinea otomatis tegang.
Oke. Ini cuma bahu. Bahu manusia. Santai.
Arsenio menyadarinya.
“Kamu kaku lagi.”
“Ya BAPAK deket banget.”
“Kita harus terlihat nyaman.”
Alinea menoleh. “Nyaman tuh relatif.”
Arsenio menarik napas pelan. Lalu, tanpa banyak aba-aba—
Tangannya naik.
Dan jatuh pelan di punggung kursi Alinea.
Bukan memeluk.
Bukan menyentuh langsung.
Tapi cukup dekat untuk terasa.
Alinea berhenti bernapas satu detik.
Aroma parfum Arsenio tercium jelas sekarang clean, sedikit woody, dan nggak nyegrak sama sekali. Tipe wangi yang nggak perlu teriak tapi semua orang tahu kalau itu mahal. Beda jauh sama parfum cowok alay yang aromanya bisa bikin satu gerbong KRL sesak napas atau bau parfum isi ulang yang sekali semprot langsung kecium sampai radius dua kilometer.
“Lihat depan,” bisik Arsenio pelan.
Alinea nurut.
“Bayangkan kamu memang nyaman.”
Masalahnya bukan bayangan, Pak. Jantung gue yang nggak diajak kompromi.
Pelayan yang lewat sempat melirik mereka, mungkin sambil membatin betapa serasinya pasangan ini yang satu kaku mahal, yang satu lagi... yah, Alinea.
Dan refleks—murni refleks—Alinea tertawa kecil. Suaranya pecah begitu saja, renyah dan jujur, karena melihat pemandangan langka. Seorang Arsenio yang mahatahu itu ternyata sempat ragu dan salah pegang sendok.
Tangan Alinea spontan menyentuh pergelangan tangan Arsenio. Kulit mereka bersentuhan, dan untuk sedetik, Alinea lupa kalau tangannya tadi sedingin es.
“Yang itu buat dessert nanti, Pak Robot,” bisik Alinea, masih dengan sisa tawa di matanya.
Sentuhan itu cuma dua detik.
Tapi Arsenio membeku.
Napasnya berubah tipis.
Alinea sadar.
Dan mereka saling menatap.
Dekat.
Terlalu dekat.
Suara restoran mendadak seperti jauh.
Jantung Alinea berdetak nggak sopan. Bunyinya kayak genderang mau perang, kencang banget sampai dia takut Arsenio bisa dengar dari jarak sedekat ini.
Mata Arsenio turun sebentar ke bibir Alinea. Cuma sedetik. Mungkin kurang. Tapi efeknya lebih dahsyat daripada pengumuman flash sale diskon 90 persen. Alinea mendadak lupa cara nelan ludah.
Oh tidak. Jangan. Jangan di sini, jangan sekarang, dan jangan sama gue yang saldonya belum pulih ini, batinnya meronta.
Arsenio langsung menarik tangannya pelan.
“Kita terlalu meyakinkan,” katanya datar.
Alinea berusaha ketawa. “Iya. Kebangetan naturalnya.”
Tapi pipinya hangat.
Dan tepat saat suasana mulai terlalu sunyi—
Suara heels terdengar.
Pelan. Tegas. Terlatih.
Alinea menoleh.
Seorang perempuan elegan berdiri tidak jauh dari meja mereka. Penampilannya effortless tapi mahal—blazer yang potongannya tajam banget sampai mungkin bisa buat motong tempe, rambut rapi tanpa ada satu helai pun yang berani keluar jalur, dan senyum tipis yang jenisnya... yah, jenis senyum yang nggak benar-benar hangat. Tipe senyum yang cuma nempel di bibir tapi nggak sampai ke mata.
Matanya langsung tertuju pada Arsenio.
Lalu ke Alinea.
“Sen,” katanya lembut.
Arsenio kaku.
Bukan kaku biasa.
Ini beda.
“Ibu.”
Alinea membeku.
Oke. Ini dia bos terakhir.
Perempuan itu melangkah mendekat. Setiap ketukan sepatunya di lantai marmer kayak bunyi hitung mundur bom waktu buat Alinea.
Tatapannya menilai dari atas sampai bawah. Alinea bisa ngerasain tatapan itu berhenti sedetik di tas tangannya, lalu di sepatunya, dan akhirnya mendarat di wajahnya dengan ekspresi yang susah dibaca antara meremehkan atau sekadar penasaran.
“Jadi ini?” tanyanya.
Arsenio berdiri. “Iya.”
Alinea ikut berdiri. Senyum profesional aktif.
“Halo, Tante,” katanya sopan.
Ibu Arsenio tersenyum kecil. Bukan senyum tulus. Lebih ke senyum audit.
“Kamu Alinea?”
“Iya, Tante.”
Hening tiga detik yang rasanya kayak tiga jam.
Lalu—
Ibu Arsenio tiba-tiba mendekat dan memeluk Alinea.
Alinea kaget, tapi balas pelukan itu.
Pelukan itu lepas.
Alinea bisa merasakan sisa kehangatan yang mendadak hilang, digantikan oleh udara dingin restoran yang seolah menusuk kulitnya. Dia berdiri mematung, berusaha mengatur napasnya yang berantakan.
Dan dari balik bahu wanita itu, dia lihat Arsenio menatap mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Bukan marah.
Tapi... khawatir.
“Kamu terlihat manis,” kata ibunya.
“Terima kasih, Tante.”
“Kalian terlihat… dekat.”
Alinea hampir keselek napas.
Dan sebelum dia bisa mikir panjang—
Tangan Arsenio tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
Halus. Tapi jelas.
Alinea membeku.
Sentuhan itu bukan latihan lagi.
Itu pernyataan.
“Kami memang dekat,” kata Arsenio tenang.
Suaranya stabil.
Tangannya hangat di pinggang Alinea.
Jarak mereka sekarang nol.
Dan detik itu juga, detak jantung Alinea kehilangan ritmenya. Berantakan, saling berkejaran, seolah-olah paru-parunya lupa cara menampung udara.
Ibu Arsenio mengamati.
Lama.
“Bagus,” katanya akhirnya. “Akhirnya kamu belajar juga.”
Belajar apa?
Belajar punya perasaan?
Belajar pura-pura?
Alinea nggak tahu.
Yang dia tahu cuma satu.
tangan di pinggangnya nggak juga dilepas.
Dan entah kenapa…
dia nggak ingin itu dilepas.
Beberapa menit kemudian, ibu Arsenio pamit.
Begitu wanita itu pergi, Arsenio langsung menjauh setengah langkah.
Sentuhannya hilang.
Udara terasa lebih dingin.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Alinea mengangguk cepat. “Santai. Gue tahan pelukan tante-tante.”
Arsenio menatapnya.
“Tadi… kamu tidak keberatan?”
Alinea pura-pura minum air lagi.
“Keberatan apa?”
“Dengan sentuhan saya.”
Hening.
Alinea menurunkan gelasnya pelan.
“Ini kan kontrak,” katanya ringan.
“Profesional.”
Tapi matanya nggak sepenuhnya bohong.
Ada kilat di sana yang bikin Alinea sadar kalau "khawatir" itu bukan bagian dari naskah. Itu asli. Arsenio mengangguk pelan, sebuah konfirmasi tanpa kata yang bikin bulu kuduk Alinea meremang. Seolah dia baru saja resmi menandatangani kontrak kerja sama dengan iblis paling ganteng sedunia.
Namun sebelum mereka bisa lanjut sebelum Alinea sempat menanyakan apa yang sebenarnya terjadi—ponsel Arsenio berbunyi.
Arsenio melirik layar ponselnya, dan detik itu juga, Alinea melihat perubahan drastis.
Rahang Arsenio mengeras. Urat di sekitar pelipisnya menegang, dan aura "Pak Robot" yang tadi sempat mencair, mendadak membeku jadi bongkahan es yang jauh lebih tajam.
Alinea sempat melirik.
Nadia.
Arsenio berdiri menjauh sedikit untuk angkat telepon.
“Ya?”
Nada suaranya berubah. Lebih formal. Lebih kaku.
Alinea menatap meja.
Nadia siapa?
Beberapa detik kemudian Arsenio menutup telepon.
“Kita harus pergi,” katanya.
“Kenapa?”
“Calon yang dijodohkan ibu saya… sedang menuju ke sini.”
Alinea membeku.
“Hah?!”
Arsenio menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak awal makan siang—
Dia terlihat tidak sepenuhnya siap.
“Kita butuh level berikutnya.”
“Level apalagi?!”
Arsenio menatap pintu restoran.
“He’s not coming alone.”
Dan di ambang pintu—
Seorang perempuan tinggi, elegan, dan terlalu percaya diri baru saja masuk. Dia tipe perempuan yang kalau jalan, orang-orang otomatis bakal minggir tanpa diminta. Matanya langsung menemukan Arsenio kayak radar yang sudah terkunci pada targetnya.
Lalu, tatapan itu turun ke arah Alinea.
Dan dia tersenyum,Senyum yang jelas bukan ramah.
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨