NovelToon NovelToon
BUKAN CINTA SESAAT

BUKAN CINTA SESAAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Konflik etika / Romansa
Popularitas:336
Nilai: 5
Nama Author: Anyue

Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .

"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .

Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?

ikuti kisahnya hanya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 17. BCS

Para tamu undangan sudah pulang tinggal beberapa saja yang masih bertahan, Prasasti merasa sangat lapar. Sedari pagi belum makan segera mengambil makanan di tempat prasmanan.

"Dimana suamimu, kenapa tidak makan bersama?" tanya Jesika mencari Albi.

“Mana aku tahu," jawab Prasasti cuek.

Jesika tahu kalau Prasasti tidak menyukai pernikahannya, bagaimanapun juga mereka sudah menjadi suami istri dan harus selalu bersama. Timbul ide dibenak Jesika ia mencari Bisma untuk membantu meluruskan rencananya.

Seorang pria bule datang bersama seorang perempuan cantik berjalan masuk mencari pasangan pengantin. Fabio menghampiri mereka dan menyapa dengan ramah.

“Dave, terimakasih sudah datang, mari silahkan masuk dan menikmati hidangannya," ucap Fabio berjalan masuk ke area prasmanan.

"Apa kabar, Om Fabio?" sapa Dave kepada Fabio.

"Kabar Om baik," jawab Fabio singkat.

"Dimana pasangan pengantinnya?" tanya Dave ingin tahu.

“Tidak usah dicari kami disini," kata Albi berjalan beriringan dengan Prasasti sambil menggandeng tangannya dengan mesra.

"Pasti Albi yang mengundangnya kemari, kenapa juga mengundang pria brengksek segala, merusak pemandangan saja,"batin Prasasti melirik Dave.

Albi menjabat tangan Dave dan perempuan yang menemaninya. Albi menyenggol mencubit pinggang Prasasti agar menyambut Dave dengan baik namun Prasasti enggan mengulurkan tangannya justru menangkupkan kedua tangannya membuat mereka merasa heran.

Beda dengan Jesika dan beberapa orang yang yang paham dengan tindakan Prasasti merasa kagum. Jesika mengacungkan jempol kearah Prasasti. Membuat Prasasti yang tidak tahu menaikkan bahunya.

"Selamat ya buat kalian berdua, semoga bahagia selalu dan sejahtera bersama," ucap Dave.

"Terimakasih banyak, bagaimana kerja samanya, apakah menguntungkan?“ tanya Albi sambil melirik istrinya.

"Lancar dan sangat menguntungkan, anda benar-benar hebat selain bisa diandalkan juga pintar menaklukkan perempuan," kata Dave melirik Prasasti.

Albi tertawa mendengarnya, Fabio sudah meninggalkan mereka sejak tadi tidak mau ikut campur urusan mereka. Prasasti terlihat cuek dengan keberadaan Dave.

"Sayang, aku kesana dulu ya. Mau mengambil minum,” Prasasti pamit kepada Albi melepaskan tangan Albi.

Albi terkejut mendengar Prasasti memanggilnya dengan sebutan sayang merasa hatinya berdesir. Albi menyadari kalau Prasasti hanya berpura-pura mesra dihadapan Dave.

”Aku ikuti permainanmu, Sayang," batin Albi.

”Jangan jauh-jauh nanti aku sulit mencari mu," sahut Albi ambil mengerlingkan matanya membuat Prasasti salah tingkah.

"Sepertinya anda benar-benar membuat Prasasti jatuh cinta kepada anda, semoga anda tidak menyesal memilih dia menjadi istri anda," kata Dave seolah meremehkan Albi.

”Justru anda yang akan menyesal karena mengkhianatinya," sahut Albi tersenyum senang.

”Oh iya, buat kamu maaf aku tidak tahu nama kamu siapa..." katanya lagi mencoba mengingat nama perempuan disamping Dave

"Mora," jawab Mora dengan nada tegas.

"Jadilah wanita berkelas dan tidak terperdaya oleh lelaki model seperti... Kamu lihat sendiri bisa kan!" kata Albi sebelum meninggalkan mereka.

Dave mengepalkan tangannya kuat, senyumnya terkesan mengajak perlawanan. Dave merasa harga dirinya ternoda oleh ucapan Albi yang terkesan meremehkannya. Niat Dave ingin menjatuhkan Albi gagal dan justru ia yang merasa dipermalukan.

"Sayang tidak perlu kita melawan pria itu, lebih baik kita pergi dari sini sebelum keadaan memburuk, kita juga yang akan malu," ajak Mora kekasihnya.

”Aku ingin mengacaukan pernikahan mereka, karena sudah mempermalukan ku," Dave berdiri tegap mantap Albi.

Sebelum berbicara Prasasti berjalan mendekati Dave. "Apakah kamu belum puas sudah membuatku bertekuk lutut dengan kelakuanmu. Bahkan kamu menganggap ku hanya boneka yang sesuka hati kamu mainkan?"

Dave tercekat mendekat ungkapan Prasasti. Ia diam tidak berani melawan kata-kata yang dilontarkan Prasasti padanya.

"Hai, Nona. Asal kamu tahu Dave menjalin hubungan denganmu karena Dave ingin melihat keseriusanmu, tapi apa yang terjadi dan lihat ini," Mora memperlihatkan cincin pernikahan mereka kepada Prasasti.

Mata Prasasti terasa panas melihat benda dijari manis Mora. Tatapannya beralih Dave yng sedang tersenyum manis.

"Maaf, bukannya aku mengkhianatimu tapi kami sudah menikah sebelum aku mengenalmu," Dave mencium pipi Mora dengan mesra.

Kata-kata Dave membuat darah Prasasti mendidih hendak keluar. Albi sedang meneguk minuman tersedak mendengar percekcokan antara mereka bertiga.

Albi berjalan mendekati mereka kemudian mencium bibir Prasasti didepan Dave dan Mora. Prasasti yang belum siap terkejut mendapat ciuman dari Albi sempat menolak, setelah menyadari kalau ada Dave dengan terpaksa membalas ciuman Albi.

Albi terkejut Prasasti menyambut ciumannya tersenyum senang. Ia berpikir kalau Prasasti menyukai ciumannya. Mereka melepaskan ciuman dan saling pandang.

Mata keduanya beradu, degup jantungnya keduanya sangat cepat. Dave sempat melongo begitu pun Mora.

"Kalian sama sekali tidak cocok ," kata Dave mencebik.

"Kalian tidak pantas menjadi pasangan pengantin," sahut Mora meremehkan Albi dan Prasasti.

"Aku sudah membuang waktuku melihat adegan sinetron, lebih baik kita pergi saja, ayo sayang," ajak Dave menggandeng tangan Mora meninggalkan pasangan pengantin.

Albi dan Prasasti menjadi canggung setelah melakukan ciuman dadakan. Prasasti menjauh pergi ke kamarnya sedangkan Albi tertegun setelah apa yang ia lakukan.

Teman-temannya melihat kelakuan Albi yang berani merasa kagum. Mereka menghampiri Albi sedang melamun.

"Bagaimana rasanya?" tanya Bisma merangkul bahu Albi.

"Lihat ada bekas lipstik tertinggal dibibirnya,"celetuk Jesika melihat ada lipstik dibibir Albi.

Pandangan mereka langsung tertuju pada bibir Albi, gelak tawa mereka memenuhi ruangan. Beberapa orang melihat ke arah mereka geleng-geleng kepala.

"Enak, kan!" kat Abas diselingi tawa senang.

"Sial, kalian semua," umpat Albi sambil mengusap bibirnya yang katanya ada bekas lipstik.

Tiba-tiba terlintas dibenak Albi tentang malam pertama, ada rasa penasaran, ada juga rasa khawatir, dan benci menyelinap direlung hatinya.

"Nanti malam pasti langsung gercep nih," sahut Dasa.

"Apakah kalian tahu dimana, Kak Prasasti?" tanya Syahira kepada mereka.

Mereka berlima saling pandang sambil mengangkat bahu. Syahira menatap kakaknya dengan rasa marah. " Ini pasti ulah Kak Albi yng bikin Kak Prasasti pergi, awas kalau kak Prasasti kenapa-kenapa,"

Syahira memutuskan pergi meninggalkan kakak dan teman-temannya, mencari Prasasti ke dalam kamar.

”Selamat ya buat pengantin baru, loh kemana pengantin wanitanya?" sapa Ria bergabung dengan mereka.

”Sayang, aku cari dari tadi kemana saja sih?" tanya Dasa suaminya.

"Maaf, aku tadi kebelet tidak bisa menahan," jawab Ria berbisik ditelinga Dasa.

Dasa menatap wajah istrinya merasa ada yang beda membuat Ria salah tingkah sambil merapikan rambutnya.

"Kok lihat aku seperti lihat apa saja," kata Ria merasa tidak nyaman diperhatikan Dasa suaminya sendiri.

Dasa mengalihkan perhatiannya kepada teman-temannya dan tidak membahasnya takut Ria marah.

"Aku disini," jawab Prasasti berdiri tak jauh dari jara mereka.

Semua menoleh ke sumber suara melihat Prasasti berdiri bersama Syahira.

1
sakura
.....
Anyue: kenapa titik-titik
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!